DIJUAL SEBAGAI PELUNAS HUTANG.
SEKARANG DIA YANG MENENTUKAN HARGA NYAWA MEREKA.
Lima tahun lalu Zara diinjak harga dirinya oleh keluarga sendiri.
Hari ini, dia kembali sebagai Zevana Ardhani.
Bukan korban lagi. Tapi sang mafia wanita yang ditakuti di dunia korporat.
Misinya satu: BALAS DENDAM.
Sampai Arka muncul.
Putra dari guru Mafianya sendiri.
Polos. Tulus. Satu-satunya yang melihat Zevana sebagai manusia, bukan monster.
Antara nyawa, racun, dan cinta.
Zevana harus memilih: Menenggelamkan mereka semua dalam kebencian,
atau hancur karena satu-satunya pria yang bisa meluluhkan hatinya?
[MAFIA WANITA] [BALAS DENDAM] [DARK ROMANCE]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Key Kastara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengkhianaan Terbesar
Dilemparnya ponsel itu oleh Hardi ke dinding hingga terbelah dan pecah menjadi beberapa bagian.
Deg!
Sontak Zara tersentak kaget melihat hal itu, ia pun beringsut mundur. Ekspresinya seolah tak percaya akan apa yang baru saja ia lihat.
"O-om?" gagap Zara ketakutan.
Prang!
Mangkuk bubur yang sejak tadi masih digenggamannya pun terjatuh dari genggamannya hingga pecah.
"Hah ... muak banget harus berlagak idiot di depan idiot," desah Hardi dengan riak wajah berubah seketika.
Melihat sikap Hardi yang berubah total, Zara menolak untuk percaya, namun mendengar umpatannya itu, seketika instingnya langsung menyadari bahwa itu adalah wajah asli Hardi, sang paman.
Gedubrak!
Hardi pun menoleh, terlihat Zara yang sepertinya hendak kabur, jatuh tersungkur.
"Mau kemana?" tanya Hardi dengan nada menusuk.
Sruk!
Dengan kasar Hardi melonggarkan kerah bajunya.
"Hah ...." desahnya frustasi.
"Reno bedebah itu emang harus dihukum! Beraninya mengambil keputusan sendiri. Susi si wanita bodoh itu juga bener-bener gak sabaran. Harusnya tunggu sampai anak dungu ini 17 tahun, baru bebas lakuin apapun. Mau dibuang, dijual juga terserah!" teriak Hardi murka.
Sret! Sret!
Sementara Hardi terus membuntutinya dengan langkah perlahan, Zara merangkak menuju pintu keluar. Pandangannya memburam, kantuk menguasai penglihatannya. Tak hanya itu, ia juga merasakan ada sensasi aneh yang menjalar di seluruh tubuhnya. Desiran hangat, dan degupan jantungnya berdetak cepat seperti ritme bom sebelum meledak.
"Ugh!” rintihnya.
“Apa yang aku makan? Ah! Tehnya. Ada sesuatu di tehnya! Aromanya aneh!" batin Zara sembari memegangi lehernya sendiri lantaran tenggorokannya terasa begitu kering.
"Kenapa? Mau apa? Hahaha! Lucu sekali. Reaksimu sama kayak Ibumu dulu," gelak Hardi menertawakan Zara yang sedang memasukkan jarinya sendiri ke dalam mulut–mencoba untuk memuntahkan isi perutnya, namun itu sia-sia.
Tep! Tep!
Sruk!
Hardi menekuk sebelah lutut, lalu terduduk di depan Zara yang kini meringkuk pasrah.
"Dengar baik-baik ya, anaknya adikku yang malang. Ayahmu itu terlalu menjunjung tinggi harga diri dan kebaikan. Lalu Ibumu, terlalu pemberontak untuk dianggap seorang perempuan. Mereka berdua pasangan yang terlalu serasi sampai-sampai mudah untuk dikuasai. Cukup menjatuhkan yang satu, yang lainnya ikut musnah tanpa perlu menguras tenaga," celoteh Hardi sembari memintal-mintal rambut panjang Zara.
"Tidak. Ayah, Bunda? Tidak mungkin mereka oleh Om Hardi?" batin Zara mencoba berteriak, namun mulutnya membisu seolah tercekat.
"Jadi saran Pamanmu ini, sebaiknya jangan ikuti jejak mereka ya. Mereka itu terlalu baik. Terlalu baik itu setara dengan bodoh, dan kebodohan adalah kejahatan, paham?" bisik Hardi tepat di depan wajah Zara.
"Diam sebentar, kemarikan tanganmu. Coba kamu mau tandatangani surat ini baik-baik, mungkin hal ini gak akan terjadi," ucap Hardi sembari menekan ibu jari Zara ke atas selembar kertas sebelum akhirnya ia kehilangan kesadaran sepenuhnya.
Gelap, sunyi. Tak satupun benda terlihat, tak ada suara sama sekali, bahkan desiran angin atau sekedar suara napas pun tak terdengar sama sekali.
"Apa, aku mati?" monolog Zara dalam keputusasaan.
"Di mana ini?" tanyanya, namun tak ada jawaban.
"Za ... Ra...." bisik seseorang dengan suara menggema.
Suaranya memantul di seluruh penjuru hingga membuatnya merinding. Ketakutan seketika menguasai dirinya. Zara beringsut memeluk diri. Dingin, gelap, dan menakutkan. Semua perasaan itu membuatnya tak berani melangkah maupun bergerak sedikitpun.
Saat ia memikirkan semua kemungkinan menakutkan di sekitarnya, tiba-tiba riuh redam suara geraman dan desahan seolah mengelilingi dirinya.
"Bangun Zara ... Kemarilah," ulang suara itu kini dengan perintah.
Namun Zara tetap diam. Ia tetap bergeming di tempatnya. Seolah jika ia bergerak sedikit saja, sesuatu yang mengerikan akan menyentuh dan menyakitinya.
"Siapa yang bisa kupercaya? Siapa yang kuharapkan datang menolong? Bahkan Ayah dan Bunda yang wajahnya tak kuingat itu ... juga meninggalkanku sendirian," lirih Zara.
Saat ia mulai putus asa, memeluk diri dan siap menyerahkan dirinya begitu saja pada suara-suara mengerikan itu, tiba-tiba secercah cahaya muncul membuatnya memejamkan matanya karena silau.
"Bangun. Kemarilah," titah suara itu, yang ternyata itu adalah sosok serigala cantik dengan bulu hitam dan sedikit corak putih di wajahnya. Tatapannya tajam, membuat semua makhluk dengan suara mengerikan di sekeliling Zara lenyap seketika.
Zara pun bertekuk lutut, menopang diri hendak bangkit mengikuti hewan cantik bermata tajam itu, lalu....
Drrt! Drrt!
Suara getaran membangunkan seluruh kesadarannya seketika.
Drrt! Drrt!
Getaran itu terus berbunyi hingga membuatnya mengedarkan pandangannya. Zara pun terduduk, lalu saat ia menoleh ke belakangnya ia mendapati bahwa ponsel yang sebelumnya dilemparkan oleh Hardi bergetar. Ia pun merangkak untuk segera mengambilnya.
Meski sudah terbelah dan layarnya pecah, namun ponsel itu masih menyala. Gegas ia membuka penutup belakangnya, lalu mengambil kartu memori di dalamnya. Saat ia melirik ke arah TV besar di sampingnya, terlihat secarik kertas teronggok di sana, seolah ingin terlihat oleh Zara.
[Jangan coba-coba kabur. Hidup kamu ada di tangan saya!]
Jelas itu adalah tulisan tangan Hardi.
"Bajingan, terkutuk," desis Zara sembari menggenggam memori ponselnya, lalu merobek kertas itu lantas melemparnya sembarangan.
Lalu ketika ia menoleh ke bawah kakinya, ternyata ia diikat dengan begitu kuat. Namun tangannya tidak, sepertinya Hardi buru-buru keluar sebelum selesai mengikat tangan Zara, terlihat sehelai tali teronggok di dekatnya.
Sementara itu di kediaman Susi, Hardi yang datang dengan wajah murka, langsung membabi buta melempar segala barang yang ia lihat.
Brakh!
Prang!