Aulia dipaksa ayah & ibu tirinya dijual ke Alexandra, mafia kejam seharga 1 miliar. Terperangkap di dunia gelap sang penguasa, bisakah cinta tumbuh di tengah rantai, bahaya, dan obsesi gila itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana L., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu Buta
Seminggu setelah pengumuman resmi, nama Aulia melesat tajam di kalangan elit. Bukan lagi sebagai gadis belian, tapi Pasangan Resmi Alexandra Surya dan Kepala Desain Surya Corp. Undangan kolaborasi berdatangan, namun satu yang paling besar: Kerjasama Merek Mode Italia, Maison Rossi, untuk Fashion Week Milan.
Pagi itu di ruang rapat VIP, udara tegang. Di meja duduk Alex, Aulia, Brian, dan dua delegasi Italia Direktur Utama Luca Rossi, pria paruh baya karismatik, serta perancang utamanya, Elena.
Luca menatap Aulia dari ujung kepala sampai kaki, tatapan tak disembunyikan, penuh kekaguman dan ketertarikan. “Saya tak menyangka Tuan Surya menyembunyikan permata seindah dan sebakat ini. Nona Aulia, karya Anda jenius. Dan… Anda sendiri, jauh lebih mempesona daripada di foto.”
Luca tersenyum genit, bahkan berani menyentuh punggung tangan Aulia saat menyerahkan dokumen.
BRAK!
Alex menepuk meja keras, aura dinginnya meledak seketika. Mata elangnya menatap tangan Luca yang menyentuh Aulia seolah ingin membakarnya hidup-hidup. Suhu ruangan turun drastis. Brian dan pengawal langsung merapat, tangan di pinggang.
“Taruh tanganmu, Luca,” ucap Alex rendah, nadanya bergetar ancaman maut. “Ingat posisimu. Kamu di sini sebagai mitra, bukan tamu istimewa. Dan wanita yang ada di sampingku… terlarang bagi siapa pun kecuali aku. Satu sentuhan lagi, atau satu kalimat genit keluar mulutmu… aku pastikan pesawatmu pulang membawa peti mati.”
Wajah Luca pucat. Ia tahu siapa Alex. Ini bukan sekadar pengusaha, tapi raja bawah tanah yang bisa melenyapkan siapa saja dalam sekejap. Luca buru-buru menarik tangannya, keringat dingin menetes. “M-maafkan, Tuan Surya. Saya hanya… mengapresiasi.”
“Apresiasi cukup lewat karyanya, bukan tubuhnya,” potong Alex tajam, mencengkeram pinggang Aulia erat, menandai wilayahnya.
Aulia menghela napas. Ia kenal Alex. Pria ini posesif setengah mati, cemburuan, dan tidak mentoleransi sedikit pun orang yang mendekatinya. Tapi di balik itu, ia tahu Alex hanya takut kehilangan.
“Tuan Rossi,” Aulia bicara tenang, mengalihkan fokus, suaranya lembut namun berwibawa. “Mari kita bahas desain koleksi kolaborasi. Saya menggabungkan kemewahan klasik Italia dengan kekuatan budaya lokal kita. Konsep ‘Eternal Empire’. Ini sketsanya.”
Aulia membentangkan kertas. Garis halus, motif ukiran emas, potongan elegan namun tegas. Gabungan budaya Timur dan Barat yang harmonis.
Mata Elena membelalak kagum. Luca yang tadi terpukau wajah Aulia, kini terpaku pada karya gadis itu. Brilian. Unik. Tak tertandingi.
“Ini… luar biasa!” seru Elena tak percaya. “Jauh melampaui harapan kami! Konsep ini akan mendominasi panggung Milan!”
Luca menatap Alex dengan hormat sejati kali ini. “Anda benar, Tuan Surya. Anda tidak hanya memiliki wanita tercantik, tapi juga otak paling brilian di industri ini. Kesepakatan kita… Resmi. Kita luncurkan bersama bulan depan.”
Tangan keduanya berjabat. Kesepakatan bisnis bernilai ratusan miliar rupiah tercapai, berkat kecerdasan dan bakat Aulia.
Rapat bubar. Saat delegasi keluar, Alex langsung menarik lengan Aulia masuk ke ruang pribadi, mengunci pintu. Dalam sekejap, tubuh kecil Aulia sudah terpojok di dinding, terkurung di antara kedua lengan kekar Alex. Wajah pria itu dekat sekali, napasnya panas dan berat, matanya gelap penuh badai cemburu.
“Kau diam saja saat dia menatapmu seperti barang pameran?” desis Alex, jari jempolnya kasar namun lembut mengusap bibir Aulia. “Dia berani menyentuhmu, memujimu… kau senang, hm?”
Aulia menatap balik berani, jantungnya berdebar campuran takut dan gemas. Ia tahu Alex marah, bukan karena curiga, tapi karena rasa memiliki yang ekstrem.
Ia mengangkat tangan, menempelkan telapaknya di dada bidang Alex, merasakan detak jantung pria itu yang kacau.
“Tuan cemburu?” bisik Aulia manja, sedikit tersenyum menggoda. “Dia memuji karyaku, bukan aku. Dan meski dia menatapku seumur hidup… mataku, pikiranku, tubuhku… semuanya hanya untuk satu orang bodoh yang sedang marah ini. Ingat? Aku milikmu, dan kamu milikku. Itu pernyataanmu sendiri di depan ratusan orang.”
Alex terdiam. Badainya perlahan mereda mendengar pengakuan itu. Tatapannya melembut, berganti menjadi hasrat murni dan rasa ingin memiliki yang membara. Ia menunduk, mencium dahi Aulia dalam-dalam, lalu turun ke pelipis, hingga berhenti tepat di bibir gadis itu.
“Benar,” gumam Alex parau, bibirnya menyapu bibir Aulia. “Kau milikku. Selamanya. Dan siapa pun yang berani melirik, berani menyentuh, atau bahkan berani berkhayal memilikimu… akan kuhancurkan sampai debunya tak tersisa. Dunia boleh tahu kau Ratu Bisnis, tapi hanya aku yang tahu kau milikku seutuhnya di balik pintu tertutup.”
Tanpa menunggu jawaban, Alex menyatukan bibir mereka dalam ciuman dalam, lapar, dan penuh kepemilikan. Ciuman yang menegaskan: Aulia adalah satu-satunya wanita di dunia baginya. Tidak ada yang setara, tidak ada yang menggantikan.
Malam itu, berita kesepakatan besar menyebar luas. Dunia bisnis kagum pada kecerdasan Aulia. Dunia bawah tanah gemetar melihat seberapa jauh Alexandra Surya melindungi wanitanya. Kerajaan mereka makin kokoh, makin tak tersentuh. Dan cinta mereka… makin membara, menembus batas dunia gelap tempat mereka berpijak.