Niat baik tidak selamanya berakhir baik, hal ini terjadi pada rumah tangga Hanna dan Rizal
Malam itu keduanya menyelamatkan seorang wanita yang mendapat kekerasan dari suaminya
Mereka membawa tubuh lemah itu kerumah dan memberikan perawatan hingga wanita bernama Arum itu pulih
Namun nasib buruk menghampiri Hana, wanita yang telah ia selamatkan ternyata menjadi racun bagi rumah tangganya bersama sang suami
Pada akhirnya Rizal terjerat oleh pesona wanita lugu bernama Arum itu, hingga pernikahannya yang telah dikaruniai dua buah hati berakhir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Tak lama Rizal bergabung dimeja makan dengan menampilkan yang sudah terlihat rapi dengan kemeja berwarna biru langit. Rizal bekerja sebagai seorang kontraktor di sebuah perusahaan besar, dengan bayaran yang tidak sedikit
"Mama Papa" Teriak seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun yang menghampiri mereka
Rizal segera meraih putranya dan meletakkannya diatas pangkuannya "Udah ganteng aja anak Papa"
"Iya dong!" Bocah tampan itu mengalihkan pandangannya pada seorang wanita yang baru ia lihat" Tante ini siapa Mah?"
"Fathan sayang, kenalkan ini Tante Arum. Dia temennya Mama"
"Ibu" Suara kecil membuyarkan suara tawa yang berada dimeja makan
"Hafiz.." Arum mendekati putranya dengan rasa tidak enak "Kamu kenapa kesini nak, kembali kekamar, nanti ibu bawain makanan kamu kekamar!"
Anak laki-laki berusia sekitar delapan tahun itu menurut. Usianya memang diatas Fathan putra Hanna, tapi tubuh putra Arum itu jauh lebih kurus
"Kenapa Hafiz disuruh kekamar? biarin dia sarapan disini Rum" Ujar Hanna yang kasihan melihat putra Arum itu
Hafiz masih kecil, tapi sudah mengalami semua ini. Ia merasakan siksaan dari ayah kandungnya sendiri, sosok yang seharusnya menjaganya malah yang memberikan luka paling dalam
"Tidak apa-apa mbak, takutnya Hafiz nanti ganggu kalian! Nanti biar kami sarapan dikamar saja" Arum tersenyum canggung
"Ya udah, sekarang kamu bawa sarapannya kekamar sekarang! Kasian mungkin dia lapar"
Wanita itu mengangguk, ia mengambil nampan lalu mengisinya dengan seporsi nasi goreng buatannya
"Kenapa cuma satu?" Tanya Hanna saat melihat nampan itu hanya berisi satu porsi
"Kami makan sepiring berdua saja mbak"
"Jangan Rum, kamu bawa dua! Mulai saat ini kamu sama Hafiz harus makan dengan baik"
Arum menurut, ia mengisi satu piring lagi dan membawanya kekamar tamu. Mungkin memang putranya itu kelaparan karena mereka tidak makan sejak semalam
Makanan yang diberikan oleh Hanna semalam juga hanya dia makan sedikit dan Hafiz langsung tidur tanpa makan
"Kasian mereka yaa mas! Aku jadi gak tega liatnya" Kata Hanna yang diangguki oleh suaminya
"Kamu bener sayang! Kamu minta Arum untuk bikin laporan polisi tentang suaminya! Biar mereka bisa aman secepatnya!" Hanna setuju dengan usul suaminya
"Ayo jagoan! Biar Papa anter ke sekolah!" Bocah tampan itu bersorak, Rizal menggendong putranya lalu menunduk agar dapat mengecup kening istrinya itu
"Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam mas!"
Kini Hanna dan Arum tengah duduk diruang tengah, Hanna sengaja mengajak Arum bicara agar dapat membantunya
"Emm.. Rum"
"Iya mbak"
"Sudah berapa lama kamu dapat kekerasan seperti itu?" Tanya Hanna
"Mungkin sudah empat tahun belakangan ini mbak" Hanna jelas miris mendengarnya
"Awalnya pernikahan kami baik-baik saja, cuma setelah suami saya kehilangan pekerjaannya, dia jadi gelap mata dan melampiaskan amarahnya pada saya dan Hafiz"
Arum bercerita dan Hanna mendengarnya tanpa berniat menyela. Arum bercerita bahwa suaminya terjerat hutang karena judi online serta sering mabuk-mabukan
"Kamu tidak ingin lapor polisi?"
"Saya takut mbak, kalau suami saya dipenjara siapa yang menghidupi saya dan Hafiz" Arum sudah berlinang air mata, ada rasa sakit saat dirinya menceritakan tentang rumah tangganya
Hanna menggenggam tangan wanita yang sudah ia tolong itu "Kamu harus berani Arum! Ini demi kebaikan kamu dan Hafiz. Kamu mau Hafiz ketakutan setiap harinya karena ayahnya sendiri?"
Arum membawa pandangannya pada putranya yang tengah bermain menggunakan mainan Fathan, ia tidak pernah memberikan hidup yang layak bagi putranya selama ini
"Tapi mbak, gimana caranya?"
"Mas Rizal akan membantu, Kamu tinggal beri keterangan saja" Hanna terlihat bersemangat memberitahukannya
"Lalu bagaimana dengan hidup saya dan Hafiz mbak? Saya tidak punya pekerjaan apalagi tempat tinggal"
"Kalau suami kamu dipenjara, kamu lebih aman untuk keluar rumah" Kata Hanna
"Untuk sementara kamu tinggal disini dulu! Nanti saya akan bantu kamu cari pekerjaan dan tempat tinggal"
Arum terlihat senang, ia ingin bekerja. Namun mencari pekerjaan sangat sulit terlebih dirinya hanya lulusan sekolah menengah pertama
"Saya mau kerja apa saja mbak, jadi pembantu juga gak apa-apa!"
Hanna mengangguk, ia akan membantu Arum. Dimulai dari masalah suaminya, mereka harus lebih dulu menemukan pria itu agar Arum bisa leluasa keluar rumah
"Hafiz tidak sekolah?"
Arum mengangguk "Saya belum bayar SPP, makanya Hafiz belum bisa masuk sekolah"
Hanna menghela napas berat, ia benar-benar prihatin melihat nasib malang Arum dan putranya
Ia membandingkannya dengan dirinya dan Fathan yang begitu dimanjakan oleh Rizal. Bahkan sang suami tidak pernah meninggikan suaranya
"Ya udah, kita pikirkan itu nanti! Aku pasti akan bantu kamu" Hanna tersenyum hangat, Arum memeluk tubuh wanita yang telah membantunya itu
Baginya Hanna adalah malaikat yang dikirimkan tuhan untuk mengeluarkan dirinya dari lembah penderitaan
***
Sore harinya Rizal kembali kerumah, ditangannya terdapat seikat bunga mawar putih
Arum yang hari ini membukakan pintu tampak kagum dengan pria tampan yang berdiri dihadapannya ini
Ia berpikir mengapa dirinya tidak seberuntung Hanna yang begitu dicintai oleh suaminya
Terbesit keinginan untuk memiliki suami seperti Rizal. Astaga, Arum menggeleng, tidak seharusnya ia memiliki pikiran seperti ini
"Dimana Hanna?" Tanyanya, hal itu menyadarkan Arum dari kekagumannya
"Mbak Hanna lagi diruang televisi!" Rizal mengangguk, melangkah masuk dengan hadiahnya
Sesampainya disana ia melihat jika wanitanya itu tengah duduk sembari menatap layar ponsel, mungkin tengah belanja online seperti yang biasa Hanna lakukan
"Assalamualaikum!"
Hanna tersenyum, ia menyimpan ponselnya lalu menyambut sang suami. Rizal menyerahkan bunganya lalu mengecup kening istrinya dengan lembut
"Gimana hari ini?" Tanya Rizal sembari mengusap perut buncit istrinya
"Baik kok mas! Oh iya, aku mau bicara tentang masalahnya Arum!" Hanna membawa suaminya duduk pada sofa, tak lama Arum datang dengan segelas air
Rizal lebih dulu meneguk segelas air, ia cukup lelah hari ini "Kamu mau bahas apa tadi?"
"Papa!" Fathan berlari menghampiri sang ayah dan Rizal menyambutnya "Papa juga bawa hadiah kan untuk Fathan?"
"Tentu saja!" Rizal merogoh saku celananya, mengeluarkan dua bungkus coklat dari merek terkenal
"Waah coklat" Bocah enam tahun itu terlihat sumringah, sementara Hafiz yang berdiri tak jauh dari sana hanya melihat dengan tatapan iri
"Buat Fathan satu, satunya lagi untuk Hafiz" Anak laki-laki Arum itu terlihat senang, namun dia tidak berani mendekat
"Sini Hafiz!" Panggil Hanna, bocah delapan tahun itu lebih dulu menatap sang ibu, setelah Arum mengangguk, barulah ia mendekat dan meraih coklat miliknya
"Terima kasih Om"
"Sama-sama nak"
"Ayo Hafiz! Kita makan coklatnya dikamar!" Fathan menarik tangan Hafiz lalu keduanya masuk ke kamar
"Ayo sayang! Mas mau mandi!" Rizal berdiri lebih dulu
"Tapi aku mau bicara penting"
"Nanti saja! Kita akan bahas itu dikamar!"
Hanna menurut, ia menerima uluran tangan suaminya lalu keduanya melangkah bersama menuju kamar, hal itu selalu menjadi perhatian Arum yang sejak tadi tidak melepas pandangannya
semoga byk yg baca