Saat keluarganya menjualnya demi uang, Lin Qingyan diselamatkan oleh pria misterius bernama Gu Beichen dan dipaksa menikah dengannya.
Ia mengira itu hanya pernikahan palsu.
Sampai ia tahu suaminya adalah pria paling berbahaya di dunia.
Ketika putri mereka lahir membawa darah kuno yang diincar seluruh dunia, perang besar pun dimulai.
Dan siapa pun yang berani menyentuh keluarganya... akan lenyap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Orang yang Datang Mencariku
📖 BAB 7: Orang yang Datang Mencariku
Alarm masih meraung di seluruh mansion.
Lampu merah berkedip di dinding seperti denyut jantung yang panik. Para pelayan berlarian ke area aman, penjaga bersenjata memenuhi lorong, dan suara sistem keamanan terus mengulang peringatan otomatis.
Ancaman level satu. Pelanggaran perimeter. Ancaman level satu.
Lin Qingyan berdiri di ambang pintu kamar dengan napas tertahan.
Semua ini...
karena namanya.
Han bergerak cepat mendekati panel dinding, menekan beberapa tombol.
“Tim utara ke taman belakang. Tim barat ke garasi. Semua pintu baja dikunci.”
Suara dari earpiece saling sahut menyahut.
Qingyan menatap Beichen.
Pria itu mengenakan pakaian hitam sederhana, lengan digulung, pistol di tangan kanan. Tidak ada ekspresi panik. Tidak ada kemarahan berlebihan.
Justru itu yang membuat suasana lebih menegangkan.
Ia tampak seperti seseorang yang sudah terlalu sering menghadapi kekacauan.
“Masuk kamar,” katanya singkat.
Qingyan mengerutkan dahi.
“Tidak.”
Beichen menoleh.
“Itu bukan permintaan.”
“Dan aku bukan bawahanmu.”
“Benar,” katanya datar. “Bawahan biasanya lebih patuh.”
Han nyaris tersenyum, lalu menghilang lagi ke mode serius.
Qingyan melangkah keluar kamar.
“Ini tentang aku.”
“Belum tentu.”
“Pesannya menyebut namaku.”
“Justru karena itu.”
Ia berjalan mendekat hingga berhenti tepat di depannya.
“Orang yang memakai namamu untuk memancing, belum tentu datang karena dirimu.”
Qingyan menatap mata pria itu.
Tenang. Tajam. Sulit dibantah.
Tapi ia tetap berkata,
“Aku ikut.”
Beichen menghela napas kecil.
“Kau keras kepala.”
“Kau baru sadar?”
---
Mereka turun ke ruang kontrol di lantai bawah tanah.
Ruangan itu penuh monitor, peta digital, kamera CCTV, dan staf keamanan yang bergerak cepat. Qingyan terpaku sejenak.
Ia tinggal di rumah ini dua hari.
Dan baru sadar rumah ini punya bunker seperti markas film aksi.
Di layar utama terlihat pagar barat mansion rusak. Dua penjaga terkapar, tapi masih bergerak. Kamera lain menunjukkan asap tipis di taman belakang.
Han menunjuk layar.
“Pelaku memutus listrik pagar, menjatuhkan dua orang, lalu menghilang dari kamera.”
“Berapa orang?” tanya Beichen.
“Belum pasti.”
“Senjata?”
“Belum terlihat.”
Qingyan memeluk lengannya sendiri.
Ini terlalu profesional untuk sekadar penculik biasa.
Beichen menatap monitor beberapa detik.
“Matikan alarm.”
Han tertegun.
“Tuan?”
“Dia ingin kekacauan. Jangan beri.”
Han langsung memberi perintah.
Beberapa detik kemudian, sirene berhenti.
Keheningan yang tersisa justru lebih menegangkan.
---
Layar di sudut kanan tiba-tiba berkedip.
Seseorang meretas kamera taman depan.
Muncul gambar hitam-putih seorang pria bertopi, berdiri di tengah halaman sambil memegang payung meski langit cerah.
Wajahnya tak terlihat jelas.
Namun ia berdiri terlalu santai untuk seseorang yang sedang menyusup.
Pria itu mengangkat kepala ke kamera.
Lalu melambaikan tangan.
Qingyan merinding.
Han memeriksa data.
“Dia mem-bypass sistem eksternal dalam tiga puluh detik...”
Beichen menatap layar.
“Buka audio.”
Suara statis terdengar, lalu suara pria itu masuk.
“Selamat malam, Tuan Gu.”
Nada suaranya tenang, bahkan sopan.
“Aku datang mengambil sesuatu.”
Beichen menjawab datar.
“Curiannya sering bicara.”
Pria itu tertawa kecil.
“Bukan mencuri. Mengembalikan.”
Ia menatap lurus ke kamera.
“Aku datang menjemput Lin Qingyan.”
Semua mata beralih ke Qingyan.
Ia menegang.
“Aku tidak kenal dia.”
Pria di layar tersenyum samar.
“Tidak kenal? Wajar. Saat itu kau masih kecil.”
Qingyan membeku.
Apa maksudnya?
---
Beichen mengambil mikrofon.
“Namamu.”
“Nama berubah-ubah.”
“Kalau begitu kuberi nama.”
“Oh?”
“Mayat.”
Han diam-diam kagum. Bahkan dalam situasi begini, Tuannya masih menyebalkan.
Pria itu justru tertawa lebih keras.
“Tidak heran banyak orang membencimu, Gu Beichen.”
Ia menunduk sedikit ke kamera.
“Aku punya waktu lima menit. Setelah itu aku masuk.”
Layar mati.
Ruang kontrol langsung gaduh.
Han memberi perintah cepat. Penjaga bergerak ke posisi masing-masing.
Qingyan menatap kosong.
“Masih kecil... apa maksudnya?”
Beichen menoleh padanya.
“Kau ingat masa kecilmu?”
“Sedikit.”
“Siapa saja yang mengasuhmu selain orang tuamu?”
Qingyan mencoba mengingat.
Rumah kecil. Teriakan ibunya. Ayah mabuk. Dapur sempit.
Lalu...
Seorang wanita tua.
Ia sering menyembunyikan roti untuk Qingyan.
Ia memanggilnya... Nenek Lan?
Qingyan mengangkat kepala.
“Ada seorang pengasuh tua. Hilang waktu aku umur delapan.”
Han menatap cepat.
“Tuan?”
Beichen berkata singkat.
“Cari nama Lan.”
Han langsung mengetik.
---
Tiga menit kemudian, hasil muncul.
Han membaca dengan suara pelan.
“Lan Suyin. Mantan perawat di pusat penelitian swasta dua puluh enam tahun lalu. Dilaporkan hilang.”
“Pusat penelitian apa?” tanya Qingyan.
Han menatap layar lain.
“Nama fasilitas disegel... tetapi ada koneksi dengan perusahaan farmasi tua milik keluarga Qin.”
Qingyan tak mengenal nama itu.
Beichen mengenalnya.
Matanya menyipit tipis.
“Jadi mereka akhirnya muncul.”
“Siapa mereka?” tanya Qingyan.
“Orang-orang yang suka menyentuh hal yang tak mereka mengerti.”
Ia menatap Han.
“Siapkan mobil.”
“Kita pergi?”
“Kita jemput tamu.”
---
“Tunggu,” kata Qingyan. “Aku ikut.”
“Tidak.”
“Kalau dia benar tahu masa laluku—”
“Itu sebabnya kau tidak ikut.”
“Beichen.”
Nada suara Qingyan berubah.
Bukan marah.
Memohon.
Itu justru lebih kuat.
Pria itu diam beberapa detik.
Lalu berkata, “Helm.”
Qingyan berkedip.
“Apa?”
“Kalau ikut, pakai helm.”
Han hampir pingsan.
Tuannya baru saja bernegosiasi normal.
---
Satu menit kemudian, mereka keluar ke garasi bawah tanah.
Qingyan menatap deretan mobil sport, SUV lapis baja, dan satu motor hitam besar yang tampak seperti mesin perang.
“Jangan bilang kita naik itu.”
“Kita naik ini.”
“Tapi ada mobil!”
“Macet di taman.”
“Ini rumahmu!”
“Justru itu.”
Ia melempar helm padanya.
Qingyan menangkap dengan kesal.
“Aku membencimu.”
“Naik dulu. Benci nanti.”
---
Motor melesat keluar garasi menuju taman depan.
Angin malam menghantam wajah Qingyan meski tertutup helm. Ia refleks memeluk pinggang Beichen.
“Pegangan yang benar,” katanya tanpa menoleh.
“Aku sudah!”
“Masih ragu.”
“Diam dan nyetir!”
Motor berbelok tajam melewati air mancur, lalu berhenti mendadak di pelataran depan.
Pria bertopi itu masih berdiri di sana.
Sendirian.
Payungnya kini tertutup.
Tubuh tinggi, jas abu-abu, sarung tangan hitam.
Saat mereka turun, ia menepuk tangan pelan.
“Romantis.”
Beichen berjalan maju.
“Kau punya tiga detik.”
Pria itu menoleh ke Qingyan.
Matanya tenang dan anehnya... familiar.
“Aku tidak datang bertarung.”
“Sayang,” jawab Beichen. “Aku datang untuk itu.”
Pria itu menghela napas.
“Nona Lin. Nama aslimu bukan Qingyan.”
Jantung Qingyan serasa berhenti.
“Apa?”
“Dua puluh lima tahun lalu, seorang bayi perempuan diambil dari fasilitas penelitian malam sebelum kebakaran besar.”
Han dan tim keamanan mulai mengepung dari jauh.
Pria itu tetap tenang.
“Bayi itu dibawa oleh seorang perawat bernama Lan Suyin.”
Qingyan mundur selangkah.
“Bohong.”
“Semoga saja.”
Ia mengeluarkan sebuah liontin tua dari saku.
Perak kusam, berbentuk setengah lingkaran.
Qingyan menatapnya dan tiba-tiba kepalanya berdenyut.
Potongan memori kecil muncul.
Tangisan.
Api.
Tangan tua menggenggam liontin.
Suara wanita berbisik:
Lari... jangan biarkan mereka menemukannya...
Qingyan memegang kepala.
Beichen langsung berdiri di depannya, menutup pandangan.
“Cukup.”
Pria itu menatap Beichen.
“Aku datang memberi peringatan.”
“Kalau begitu cepat.”
“Mereka tahu dia hidup.”
“Siapa?”
“Keluarga Qin.”
Angin malam terasa semakin dingin.
“Mereka tidak peduli pada Qingyan,” lanjut pria itu. “Mereka peduli pada apa yang ada dalam darahnya.”
Qingyan memandang Beichen.
“Apa maksudnya?”
Namun sebelum ada jawaban—
Suara ledakan mengguncang gerbang timur.
Api menyala tinggi.
Alarm kembali meraung.
Han berteriak ke earpiece.
“Serangan kedua! Banyak kendaraan masuk!”
Pria bertopi tersenyum tipis.
“Aku bilang mereka datang.”
Beichen menatap kobaran api di kejauhan.
Lalu berkata tanpa emosi:
“Han. Lindungi Qingyan.”
“Ya, Tuan!”
“Dan kau?” tanya Qingyan cepat.
Ia menoleh sedikit.
“Aku akan menyambut tamu lain.”
Lalu Gu Beichen berjalan menuju api sendirian.
Dan dari balik gerbang yang hancur, belasan pria bersenjata turun dari kendaraan hitam.
Target mereka hanya satu.
Lin Qingyan.
BERSAMBUNG