Satria tidak pernah meminta hidup yang mudah.*
> *Ia hanya ingin satu hal sederhana: dicintai dan dihargai.*
> *Tapi di hari ia datang melamar perempuan yang ia cintai,*
> *yang ia dapat bukan jawaban…*
> *melainkan ludah di kakinya dan tawa yang merobek harga dirinya.*
>
> *Dari situlah semuanya dimulai.*
> *Ia bangkit. Membangun hidup dari nol dengan gerobak cilok dan tangan yang kapalan.*
> *Sampai akhirnya ia bertemu perempuan yang ia kira adalah jawaban dari doanya.*
> *Ternyata… itu awal dari penjara.*
>
> *Enam tahun hidup dalam hinaan.*
> *Enam tahun menahan luka yang tidak terlihat.*
> *Enam tahun bertahan — bukan karena kuat,*
> *tapi karena ada satu anak kecil yang setiap hari berkata:*
> *"Ayah jangan sedih… Aini sayang Ayah."*
>
> *Karena pada akhirnya, bukan soal seberapa lama kita bertahan —*
> *tapi untuk siapa kita memilih untuk tetap hidup.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widianti dia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Senjata Rumah.
Semuanya dimulai dari handuk.
Handuk basah yang aku taruh di kursi ruang tengah setelah mandi pagi karena gantungan di kamar mandi sudah penuh dan aku mau cepat-cepat berangkat karena kalau kesiangan tempat biasa berjualan sudah diambil pedagang lain.
Satu handuk. Di satu kursi. Lima menit saja sambil aku pakai baju.
Aku baru selesai kancing baju terakhir waktu Nirmala keluar dari kamar.
Dia melihat handuk itu.
Lalu menatapku.
Dengan cara yang sudah aku kenal polanya tapi tidak pernah terbiasa, tidak pernah bisa membuat diri sendiri siap untuk itu, tatapan yang dingin dan penuh dengan sesuatu yang sedang menunggu celah untuk keluar.
"Siapa yang taruh ini di sini."
Bukan pertanyaan. Kalimat pernyataan dengan nada pertanyaan.
"Aku. Maaf, gantungannya penuh jadi aku taruh dulu sebentar, nanti langsung aku ambil."
"Nanti. Nanti." Dia mengulang kata itu. "Rumah ini bukan gudang."
"Nir, ini handuk. Satu handuk. Aku taruh lima menit."
"Lo selalu begini. Naruh sembarangan. Berantakin rumah. Terus bilang nanti nanti nanti."
Aku menarik napas pelan. Dalam. Cara yang sudah aku latih berbulan-bulan, cara menarik udara sebanyak mungkin sebelum menjawab supaya yang keluar bukan sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali.
"Aku minta maaf. Aku akan lebih hati-hati."
"Hati-hati." Tawanya keluar. Bukan tawa senang. "Lo bilang hati-hati dari dulu. Sama aja."
"Nirmala, aku mau berangkat—"
"Lo mau berangkat." Dia memotong. Matanya ke aku, tapi ada sesuatu di matanya yang sudah memutuskan ke mana arah percakapan ini dari tadi, bukan baru sekarang. "Lo mau pergi dari sini seharian, ninggalin gue sama anak-anak, terus pulang bawa uang yang gak cukup, terus naruh barang sembarangan, terus tidur, terus ulang dari awal."
"Itu bukan—"
"Ini rumah gue."
Tiga kata itu keluar dengan nada yang berbeda dari kalimat-kalimat sebelumnya. Lebih rendah. Lebih pasti. Seperti seseorang yang sudah lama menyimpan kartu ini dan baru memutuskan untuk meletakkannya di meja.
"Rumah warisan bokap gue. Lo cuma numpang di sini, Satria."
Aku membeku.
Bukan membeku karena tidak pernah terpikir sebelumnya. Tapi membeku karena mendengarnya diucapkan keras-keras, dengan kata numpang, dengan cara yang sangat sadar dan sangat disengaja, terasa berbeda dari sekadar memikirkannya sendiri.
Numpang.
Aku berdiri di rumah yang sudah dua tahun lebih kutempati, di mana aku bayar listrik dan air dan beli beras dan bayar les Wida dan semua hal yang tidak pernah dihitung atau diakui, dan kata yang dipakai untuk posisiku di sini adalah numpang.
Nirmala menatapku dengan senyum yang tipis.
Bukan senyum senang. Bukan senyum yang ada hangatnya. Senyum orang yang baru saja membuktikan sesuatu ke dirinya sendiri.
Dan di dalam diam yang terjadi sesudah kalimat itu, otakku mulai bergerak ke tempat yang tidak mau aku tuju tapi tidak bisa dihentikan.
Kalau aku pergi.
Ke mana? Tidak ada rumah lain. Rumah Ibu masih ada, tapi itu rumah Ibu dan Agung, dan kondisinya tidak cukup untuk tambah satu orang dewasa secara permanen. Tabungan hampir habis karena dua tahun ini uang lebih banyak keluar dari masuk dengan semua kebutuhan rumah tangga dan pandemi yang menggerus penghasilan.
Tidak ada tempat untuk pergi.
Dan Aini.
Mataku bergerak sendiri ke arah kamar, ke arah suara kecil yang samar-samar bisa kudengar dari sana, suara Aini yang baru bangun dan sedang bicara sendiri seperti yang selalu dilakukannya di pagi hari sebelum ada yang masuk menjemputnya.
Kalau aku pergi, Aini di sini.
Di sini. Bersama Nirmala. Dengan cara Nirmala memperlakukan Wida yang sudah aku saksikan lebih dari cukup. Dengan cara Nirmala melempar uang ke muka. Dengan cara Nirmala yang punya senyum dingin yang tidak sampai ke matanya.
Aini tidak bisa diajak pergi ke mana-mana tanpa pertempuran hukum yang tidak punya uang untuk aku lawan. Aini tidak bisa aku tinggalkan di sini tanpa merobek sesuatu dari dalam dadaku yang tidak akan pernah bisa ditempel kembali.
Aku menatap Nirmala.
Nirmala menatapku balik.
Dan di wajahnya, di senyum tipis yang tidak sampai ke matanya itu, aku melihat sesuatu yang membuat seluruh tubuhku terasa dingin.
Dia tahu.
Dia mengikuti arah pandangku ke kamar Aini tadi. Dan dia tahu persis apa yang ada di kepalaku. Dia tahu itu adalah alasan aku tidak pergi. Dia tahu itu adalah alasan aku bertahan dan akan terus bertahan. Dan senyum tipis itu ada karena dia tahu itulah kartu paling kuat yang ada di tangannya.
Bukan cinta. Bukan pernikahan.
Aini.
Aini adalah senjata.
Aku mengambil tas. Mengambil helm. Keluar dari rumah tanpa bilang apa-apa.
Hari itu aku jualan dengan tangan yang bekerja sendiri sementara kepalaku ada di tempat lain. Aku aduk saus, aku layani pembeli, aku hitung uang, semua berjalan dengan otomatis sementara di dalam kepalaku berputar satu kalimat yang tidak mau berhenti.
Tikus dalam perangkap.
Bukan tikus yang dijebak dengan umpan yang disembunyikan. Tikus yang melihat perangkapnya, yang sempat merasakan ada yang aneh, yang ada yang bilang ke dia untuk tidak masuk, dan yang tetap masuk juga dengan kakinya sendiri karena terlalu lapar dan terlalu lelah untuk terus berdiri di luar.
Itu aku.
Itu yang aku lakukan dua tahun lalu di meja makan Nirmala waktu mengeluarkan cincin dari saku celanaku.
Malam itu aku tidak tidur di kamar.
Bukan diusir. Tapi ada sesuatu yang tidak bisa membawa tubuhku masuk ke kamar itu dan berbaring di sebelah orang yang jam tadi pagi menyebutku numpang dengan senyum tipis sambil menonton aku menyadari bahwa Aini adalah senjata yang mengikatku di sini.
Aku tidur di sofa.
Sofa yang bantalannya sudah kempes di dua bagian, yang kalau tidur terlalu lama pinggang mulai protes. Menatap langit-langit dari posisi berbaring.
Ada retakan di langit-langit ruang tengah. Dari pojok kiri ke tengah, panjangnya kira-kira sejengkal, tipis, bukan yang berbahaya tapi sudah cukup lama ada dan tidak ada yang memperbaikinya.
Aku menatap retakan itu lama.
Dari kedalaman rumah, dari kamar, terdengar suara napas teratur Aini dari baby monitor kecil yang aku beli dengan sisa uang pandemi bulan lalu. Teratur. Tenang. Tidak tahu apa-apa.
Aini tidak tahu apa-apa tentang semua ini.
Tidak tahu tentang handuk di kursi yang jadi pemicu. Tidak tahu tentang kata numpang. Tidak tahu tentang senyum tipis itu. Tidak tahu tentang Ayahnya yang sekarang berbaring di sofa kempes menatap retakan langit-langit karena tidak punya pilihan yang tidak menyakiti dirinya sendiri.
Tidak tahu bahwa keberadaannya yang kecil, yang hangat, yang setiap pagi menyambut wajahku dengan cara yang hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang belum mengerti dunia, adalah satu-satunya hal yang membuat semua ini masih bisa ditanggung.
Aku menutup mata.
Di dalam gelap, ada satu hal yang terus ada. Satu hal yang tidak bisa diambil oleh siapapun.
Suara napas teratur Aini dari baby monitor itu.
Masuk. Keluar. Masuk. Keluar.
Aku mengikuti ritmenya.
Sampai mataku berat.
Sampai langit-langit dan retakannya dan semua kalimat hari ini perlahan tenggelam ke belakang.
Dan aku tidur.
Di sofa kempes itu, di rumah yang bukan milikku, di perangkap yang aku masuki dengan kaki sendiri, dengan satu-satunya hal yang membuat semua ini masih bisa ditanggung masih bernapas tenang di kamar sebelah.
yang ada makin rumit
uang bisa di cari
pesan buat author tetap berkarya jangan buat lelaki lemah.. lelaki harus istiqomah dan kuat pentingkan perasaaan sendiri bukan orang lain