Aku sudah mati sekali di hari kiamat.
Sekarang aku kembali—3 hari sebelum semuanya dimulai.
Aku tahu siapa yang akan mati.
Aku tahu monster apa yang akan muncul.
Aku tahu dunia ini tidak bisa diselamatkan.
Jadi kali ini…
aku akan mengubah semuanya.
Atau menghancurkannya dengan caraku sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizqi Handayani Mu'arifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 18 penyesuaian senjata baru
Latihan terakhir mereka diruang dimensi surgawi.
Mereka telah membuat lingkaran dan memegang senjata mereka dengan mantap.
Debu tipis beterbangan setiap kali kaki mereka berpijak di tanah keras. Mereka berdiri saling berhadapan bukan sebagai musuh, tapi sebagai pemburu yang sedang belajar mengenal kekuatan baru mereka.
Reina mengangkat kedua pedangnya perlahan. Jemarinya menggenggam erat, namun gerakannya belum sepenuhnya luwes. Bilah itu bergetar halus, seolah memiliki kehendak sendiri.
“Masih terasa… berat,” gumamnya pelan.
Di seberangnya, Santo memutar pedangnya dengan satu tangan. Bayangan gelap sesaat mengikuti arah tebasannya, tapi kemudian buyar tak terkendali.
“Senjata ini… seperti hidup,” katanya datar, matanya menyipit mencoba memahami ritmenya.
“Kalau begitu, kita paksa mereka hidup bersama kita,” sela Andri sambil memutar pistol modifikasinya.
Ia menarik pelatuk
*klik*
Tidak ada peluru keluar, hanya kilatan tipis berbentuk bilah energi yang meleset jauh dari target.
“Yah… masih ngaco.” ucapnya sedikit kecewa.
Lalu Dandi menancapkan tombaknya ke tanah, kemudian mengangkat perisai dengan napas berat.
Bahunya sedikit gemetar saat menahan beban yang belum sepenuhnya ia kuasai.
“Jangan terlalu cepat menyerang. Kita bahkan belum sepenuhnya mengerti cara menahan,” ucapnya tenang.
Prisma tertawa kecil, lalu mengangkat palunya. Energi di permukaannya berdenyut tidak stabil, memercik ke udara.
“Kalau menahan, biarkan saya saja,” katanya, meski jelas bahkan dia sendiri masih menyesuaikan diri.
Reina melangkah maju lebih dulu.
“Coba lagi.” ajak reina.
Tanpa aba-aba panjang, Santo dan Andri bergerak bersamaan. Santo menebas dari samping, bayangannya terlambat sepersekian detik mengikuti.
Andri menembak, kali ini bilah energi keluar meski arahnya masih melenceng.
Reina tidak menghindar.
Ia mengangkat satu pedang untuk menahan tebasan Santo
*clang!*
benturan keras menggema. Kakinya bergerak refleks, menendang tanah untuk menjaga keseimbangan.
Pedang satunya mencoba menepis serangan Andri, namun sedikit terlambat.
*Shrrt*
Lengan bajunya tergores.
Reina mundur satu langkah, lalu tersenyum tipis.
“Sudah lebih baik.”
Santo menurunkan pedangnya, napasnya lebih teratur.
“Bayangannya mulai mengikuti.”
Andri mengangguk, kali ini memutar pistolnya dengan lebih percaya diri.
“Dan peluruku… mulai nurut.”
Dandi melangkah maju, menghentakkan perisainya ke tanah.
“Sekarang coba serang aku.”
Prisma berdiri di sampingnya, palu terangkat, energi mulai stabil mengalir mengikuti genggamannya.
“Kalau terlalu keras, jangan salahkan aku kalau tanahnya hancur.” ucap prisma sambil memukul palunya.
Reina memutar kedua pedangnya sekali lagi. Kali ini, gerakannya sedikit lebih ringan. Sedikit lebih menyatu.
“Semua maju.” teriak reina.
Dan dalam sekejap, mereka kembali bergerak bukan lagi sekadar mencoba senjata, tapi mulai memahami bagaimana menjadi satu dengan kekuatan yang baru mereka miliki.
Di tengah benturan, percikan energi, dan bayangan yang mulai patuh.
Ruang dimensi itu tidak memiliki bentuk yang pasti lagi.
Langitnya retak seperti kaca hitam, sementara tanah di bawah kaki mereka berdenyut pelan.
Seperti daging yang masih hidup. Setiap langkah meninggalkan gema yang bukan suara melainkan bisikan.
Tempat ini bukan untuk latihan.
Tempat ini untuk menguji… siapa yang layak bertahan.
Kemudian Reina berdiri di tengah.
Kedua pedangnya kini memancarkan aura gelap yang lebih pekat dari sebelumnya.
Urat-urat hitam pada bilahnya semakin jelas, merambat hingga ke gagang, bahkan menyentuh kulit tangannya.
Kali ini, ia tidak menarik diri.
“Mulai.”
Satu kata itu cukup.
Santo menghilang.
Atau setidaknya, tubuhnya menghilang, tapi bayangannya tidak.
Bayangan itu justru membesar, terdistorsi, lalu menyerang lebih dulu.
Lebih cepat dari niat Santo sendiri.
Andri menembak.
Bilah energi keluar beruntun, tapi kini bukan lagi peluru. Mereka berputar di udara, berbisik, lalu berubah arah di tengah lintasan mencari sesuatu.
Atau seseorang.
“...mereka memilih target sendiri sekarang,” gumamnya, napasnya mulai berat.
Lalu Dandi mengangkat perisainya.
CRACK—
Retakan itu melebar, akibat peluru andri.
Cahaya merah tua menyembur keluar seperti darah yang dipaksa menembus tulang.
Tombaknya bergetar hebat, seolah ingin lepas dari genggamannya.
“Tidak… kau tetap di sini,” desis Dandi, menahan dengan seluruh kekuatannya.
Prisma melangkah.
Palunya tidak lagi bersinar liar.
Ia… tenang.
Terlalu tenang.
Energi kini mengalir mulus dari palu ke lengannya, merambat ke bahu, lalu ke seluruh tubuhnya.
Setiap langkahnya meninggalkan jejak retakan di tanah dimensi itu.
Reina bergerak menghadapi semuanya.
Pedangnya beradu dengan bayangan Santo.
kali ini, bukan sekadar benturan.
Bayangan itu melilit.
Merayap naik ke pedangnya, mencoba menyatu… mencoba masuk.
“Jangan sentuh aku.”
Reina mengayunkan pedangnya,
SLASH!
Bayangan itu terpotong… tapi tidak hilang.
Ia kembali. Dan menjadi lebih banyak.
Kemudian Andri mencoba menembak lagi.
Dan kali ini salah satu bilah energi berhenti di udara, lalu berbalik.
Mengarah ke dirinya sendiri.
“—hah?!” terkejut.
Ia menghindar tipis, tapi bilah itu tetap menggores pipinya.
Darahnya menetes. Dan pistol di tangannya, bergetar puas.
Disisi lain, Dandi akhirnya menghantamkan perisainya ke tanah.
BOOM!
Gelombang merah meledak keluar, tapi tidak berhenti di luar.
Energi itu justru berbalik. masuk ke dalam dirinya.
Dandi terdiam.
Matanya menyipit.
“...jadi kau ingin masuk?”
Sedangkan Prisma tertawa pelan.
Ia mengangkat palunya tinggi, lalu menghantam.
Kali ini bukan ke tanah. Tapi ke ruang itu sendiri.
CRAAACK—
Dimensi retak.
Dari retakan itu, sesuatu keluar—bukan makhluk, tapi tekanan. Sesuatu yang membuat senjata mereka bergetar semakin liar.
Reina jatuh berlutut.
Bukan karena lemah.
Tapi karena… suara itu semakin jelas.
“Terima kami.”
“Lepaskan batasmu.”
“Kami adalah bagian darimu.”
Pedangnya bergerak sendiri.
Naik perlahan…
Menyentuh lehernya sendiri.
Semua membeku.
Santo muncul kembali, tapi bayangannya kini berdiri terpisah di belakangnya.
Andri menahan pistolnya dengan kedua tangan, tapi bilah energi terus muncul tanpa henti.
Dandi menggertakkan gigi saat cahaya merah mulai merambat ke lehernya.
Prisma… hanya diam.
Menatap.
Seolah menunggu sesuatu terjadi.
Reina menutup mata.
Satu detik.
Dua detik.
Lalu—
Ia tidak melawan. Tangannya mengendur.
Bukan menyerah, tapi menerima.
Energi hitam dari pedangnya langsung merambat naik ke lengannya. Bukan menyerang, tapi menyatu. Urat-urat gelap itu masuk ke kulitnya, menyebar seperti akar yang akhirnya menemukan tanahnya.
Matanya terbuka.
Berubah.
Lebih dalam, Lebih tenang.
“...begitu ya.” gumamnya sambil menatap kedua pedang yang masih digenggamannya.
Santo terdiam. Lalu ia melakukan hal yang sama.
Ia membiarkan bayangannya menyentuhnya. Dan kali ini, bayangan itu tidak menyerang.
Ia masuk. Menyatu.
Andri menarik napas panjang, lalu menurunkan senjatanya sedikit.
“Kalau kalian mati… saya pasti akan menyusul,” gumamnya.
Lalu ia membiarkan energi itu mengalir balik ke tangannya.
Sedangkan Dandi memejamkan mata.
Perisainya tidak lagi retak.
Ia… berdenyut.
Sinkron.
Dengan jantungnya.
Disisi lain, Prisma adalah yang terakhir.
Ia tersenyum lebar.
“Dari tadi… saya sudah menunggu momen ini.”
Energi dari palunya meledak.
dan langsung menyatu dengan tubuhnya tanpa perlawanan.
Ruang dimensi itu bergetar hebat.
Retakan di langit perlahan menutup.
Tanah berhenti berdenyut.
Bisikan… menghilang.
Dan yang tersisa bukan lagi lima orang dengan senjata.
Tapi lima entitas baru.
Setengah manusia.
Setengah sesuatu yang tidak seharusnya ada.
Reina berdiri.
Pedangnya kini tenang di tangannya. Tidak lagi berbisik. Karena, mereka sudah menjadi satu.
“Latihan selesai,” ucapnya pelan.