NovelToon NovelToon
Idola Kampus Itu Pacarku

Idola Kampus Itu Pacarku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Woy, lihat! Itu Kak Baskara!"

​Bisikan-bisikan itu menyebar cepat seperti api yang menyambar rumput kering. Lara yang awalnya sibuk merapikan buku catatannya, refleks mendongak ketika suasana mendadak hening selama satu detik, lalu pecah oleh riuh tepuk tangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dapur, canda dan canggung

Baskara keluar untuk membeli makanan karna stok di kulkas sudah menipis, lara memang tidak suka belanja kebutuhan dapur

Baskara tersenyum maklum mendengar pengakuan Lara. Ia baru menyadari satu fakta lagi tentang gadisnya: meskipun berasal dari keluarga terpandang, Lara ternyata tipe orang yang sangat menghindari urusan belanja dapur.

​"Jadi, Ketua Kelompok 3 kita ini paling anti masuk ke supermarket?" goda Baskara sambil bangkit berdiri dan mengambil kunci mobilnya yang tadi diletakkan di atas meja.

​Lara meringis kecil, wajahnya menunjukkan ekspresi bersalah yang menggemaskan. "Habisnya aku selalu bingung bedain jenis-jenis bumbu, Kak. Terus kalau di supermarket aku suka pusing lihat antrean panjang. Jadi biasanya Mama atau asisten rumah tangga yang urus semuanya."

​Baskara tertawa kecil, suara tawa yang jarang ia tunjukkan pada siapa pun. Ia mengacak rambut Lara pelan. "Ya sudah, kamu tunggu di sini saja. Kaki dan tanganmu juga masih harus diistirahatkan. Saya keluar sebentar ke supermarket depan komplek. Ada makanan khusus yang ingin kamu titip?"

​"Apa saja, Kak, yang penting bukan makanan pedas," jawab Lara singkat.

​"Siap, Tuan Putri," sahut Baskara dengan nada jenaka yang membuat jantung Lara kembali berdebar.

​Begitu Baskara keluar, rumah itu kembali sunyi, namun kali ini kesunyiannya terasa manis. Lara memperhatikan dari jendela saat mobil sport Baskara perlahan meninggalkan halaman rumahnya. Ada perasaan hangat saat menyadari pria yang begitu disegani di kampus itu kini dengan sukarela pergi membelikan bahan makanan hanya untuk dirinya.

​Di sisi lain, Baskara yang berada di balik kemudi merasa aneh pada dirinya sendiri. Biasanya, ia paling malas melakukan tugas-tugas domestik seperti ini. Namun sekarang, memikirkan apa yang akan ia masak atau belikan untuk Lara justru memberinya semangat tersendiri. Baginya, belanja kebutuhan dapur untuk Lara adalah cara lain untuk membuktikan bahwa ia bisa diandalkan dalam hal-hal kecil sekalipun.

Baskara akhirnya kembali setelah sekitar empat puluh menit. Ia membawa beberapa kantong belanjaan berisi bahan makanan segar, camilan, dan susu kotak kesukaan Lara. Senyumnya terkembang saat melihat Lara sudah menunggunya di dekat dapur dengan wajah penasaran.

​"Sesuai pesanan, tidak ada yang pedas," ucap Baskara sambil meletakkan kantong belanjaan di atas meja counter dapur yang luas.

​Lara mencoba membantu membongkar belanjaan dengan tangan kirinya yang tidak diperban. "Wah, Kakak beli banyak banget. Ini bisa buat stok sampai besok kalau Papa belum pulang."

​"Saya juga beli bahan untuk pasta. Karena saya tidak yakin kamu bisa masak yang berat dengan kondisi tangan seperti itu, biar saya yang jadi koki sore ini," ujar Baskara sambil mulai menyingsingkan lengan kemejanya hingga ke siku, menampilkan lengan bawahnya yang kokoh.

​Lara terpaku di tempatnya. "Kakak... bisa masak?"

​"Jangan meremehkan mahasiswa yang pernah tinggal sendiri di luar negeri saat pertukaran pelajar, Lara," jawab Baskara dengan nada sombong yang jenaka. "Kamu cukup duduk di kursi bar itu, jadi juri dan temani saya mengobrol."

​Maka sore itu, dapur mewah keluarga Wijaya menjadi saksi bisu pemandangan yang tidak akan dipercaya oleh siapa pun di kampus. Baskara Langit, sang idola yang dingin dan perfeksionis, kini sibuk memotong bawang dan merebus pasta dengan sangat telaten.

​Sesekali, ia akan menyuapkan potongan buah kecil ke mulut Lara sebagai "bayaran" karena telah menemaninya. Meski gerakan mereka masih terasa canggung—terutama saat tangan mereka tidak sengaja bersentuhan saat mengambil piring—namun tawa kecil mulai pecah di antara mereka.

​"Kalau anak-anak panitia lihat Kakak begini, mereka pasti bakal pingsan berjamaah," celetuk Lara sambil mengunyah potongan apelnya.

​Baskara menghentikan aktivitasnya sejenak, lalu menatap Lara dengan tatapan yang sangat dalam. "Biarkan saja. Mereka tidak perlu tahu sisi saya yang ini. Sisi ini... spesial cuma untuk kamu."

​Lara tersipu, menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan rona merah di pipinya. Rasanya, rahasia ini adalah hal terindah yang pernah ia miliki.

1
ASTRI LIANTI
kok di paragraf atas ga berjilbab kok di sini berjilbab sih
Zet3: mksh kak koreksi nya,aku perbaiki yaa🙏🏻
total 1 replies
Ryuu
semangat terus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!