Di usianya yang sudah genap dua puluh tujuh tahun Sandi Atmojo belum sedikitpun memikirkan tentang pernikahan sehingga kedua orang tuanya jadi khawatir putranya tersebut akan memilih hidup Single seumur hidup. Untuk mencegah hal itu sampai terjadi, sang mamah terus memaksanya untuk mencari calon istri, namun jawaban Sandi tetap sama, yaitu belum berniat menikah sebab belum memiliki calon. "Jika kamu tidak sanggup mencari calon istri, biar mama yang akan mencarikan calon istri untuk kamu." Pada akhirnya sandi tak dapat menolak lagi, dan membiarkan mamah mencarikan calon istri untuknya. Akan tetapi, Sandi tak menyangka jika pilihan mamahnya adalah seorang wanita yang berstatus single Mommy.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
"Lalu bagaimana dengan putra Bu Dinda? Apa beliau tidak akan keberatan dengan status saya sebagai single mom?." Vania ingin Bu Dinda memikirkan kembali tawarannya, Sebab tidak semua pria bersedia menikah dengan seorang single mom. Apalagi jika putra dari wanita itu masih berstatus jejaka.
"Kamu tidak perlu memikirkan hal itu, Biarkan itu menjadi urusan ibu, Vania!."
"Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang, pikirkan saja dulu, Vania!." Bu Dinda paham jika memutuskan hal seserius ini pasti butuh waktu, sehingga ia tak memaksa Vania untuk menjawabnya sekarang.
Vania lantas menanggapinya dengan anggukan.
Dret..dret...dret....
Ponsel Vania berdering, rupanya panggilan telepon dari mbak Atun.
"Halo, mbak."
"Non Sesil mencari ibu."
"Baik mbak, saya ke sana sekarang." Balas Vania sebelum memutuskan sambungan telepon.
Vania dan Bu Dinda lantas berpisah. Vania kembali ke kamar perawatan putrinya, sedangkan Bu Dinda pamit pulang karena saat ini waktu sudah hampir pukul sepuluh malam.
Setibanya di kamar perawatan putrinya, Vania mendapati Sesil sedang menangis. Rupanya gadis kecil itu terbangun dari tidurnya akibat bermimpi.
"Anak cantiknya mamah kenapa menangis, hm?." Vania mendudukkan tubuhnya di tepi tempat tidur, kemudian memeluk dan menenangkan putrinya tersebut.
"Sesil bermimpi ketemu papah, mah."
Deg.
Vania terpaku mendengarnya. Pasalnya, sudah hampir sebulan terakhir Sesil mengalami mimpi yang hampir serupa, yakni bertemu dengan ayahnya.
"Mah...." Seruan Sesil sekaligus menarik kesadaran Vania dari lamunannya.
"Sudah malam sayang, sebaiknya sekarang Sesil bobo lagi ya!." Vania naik ke ranjang pasien, berbaring di samping putrinya.
Vania memberikan usapan lembut pada punggung Sesil hingga akhirnya bocah itu kembali tertidur. Sementara Vania masih terjaga dengan pikirannya. Ya, mimpi Sesil akhir-akhir ini membuat Vania mau tak mau jadi kepikiran.
Hingga waktu telah menunjukkan pukul setengah tiga dini hari namun Vania tak juga dapat memejamkan matanya, Sedangkan Sesil dan mbak Atun sama-sama sudah terlelap.
"Apa sebaiknya aku terima saja tawaran Bu Dinda?." Batin Vania. Mungkin saja dengan ia menikah, putrinya akan mendapatkan sosok seorang ayah, dengan begitu Sesil tidak akan bermimpi buruk lagi. Seperti itulah naluri seorang ibu, rela melakukan apapun demi buah hatinya. Vania bahkan tidak memikirkan bagaimana dan seperti apa sosok putra bu Dinda. Bagi Vania, fisik tidaklah terlalu penting asalkan putrinya bisa mendapatkan figur seorang ayah.
Mungkin karena terlalu lelah berpikir akhirnya Vania pun tertidur, dan kembali terjaga dipagi hari ketika menyadari kedatangan seorang perawat untuk menggantikan cairan infus putrinya yang hampir habis.
Vania turun dari tempat tidur kemudian mencari keberadaan ponselnya dari dalam tasnya. Saat benda pipih tersebut sudah berada di genggamannya, Vania lantas membuka aplikasi hijau miliknya dan mengetik sebuah pesan. Sebelum menekan tombol send, Vania nampak menghela napas panjang.
"Ya Tuhan....Semoga keputusan yang aku ambil ini bisa membawa kebaikan bagi kami, terutama bagi putriku." Batin Vania. Ya, sebelum berubah pikiran Vania memutuskan untuk segera mengirim pesan tersebut ke nomor kontak Bu Dinda.
*
Seperti biasa, sebelum berangkat kerja Sandi menyempatkan waktu untuk sarapan bersama kedua orang tuanya. Sandi tidak ingin sampai kedua orang tuanya kehilangan momen kebersamaan dengan dirinya yang merupakan anak tunggal.
"Mamah sudah menemukan calon istri yang cocok buat kamu, Sandi." Sejenak ibu men-jeda kalimatnya, menatap ke arah putranya yang terlihat santai menghabiskan sarapannya. "Wanita itu berstatus single mom." Lanjut ibu.
Duar....
"Single mom?." Sandi merasa tubuhnya seperti tersambar petir mendengar perkataan ibunya. Pemuda itu terkejut bukan main.
"Kenapa? Memangnya ada yang salah?."
"Tentu saja salah, mah. Apa di dunia ini sudah kehabisan stok anak gadis, sampai-sampai mamah memilih wanita yang bersatus single mom buat jadi calon istri Sandi?." Bukannya ingin merendahkan status single mom ataupun seorang janda, tetapi dirinya masih perjaka lalu bagaimana mungkin hendak dijodohkan dengan seorang wanita yang sudah pernah menikah sebelumnya, terlebih lagi sudah memiliki anak. Sungguh, Sandi tidak habis pikir dengan jalan pikiran ibunya.
"Jangan menilai seseorang dari statusnya, Sandi! wanita pilihan mamah memang seorang janda dengan satu orang anak, tapi mamah percaya wanita itu adalah wanita yang baik. Kamu tidak berhak merendahkan nya hanya karena statusnya." Terbesit kecewa dihati ibu pada putranya.
"Sungguh, Sandi sama sekali tidak berniat merendahkan wanita pilihan mamah itu, tapi_." Sandi tak dapat menuntaskan kalimatnya ketika melihat ibunya menitihkan air mata. Bukannya sedang memainkan sandiwara demi meraih hati putranya, namun ibu menitihkan air mata akibat terbayang wajah polos gadis kecil yang begitu mengharapkan figur seorang ayah dalam hidupnya.
"Baiklah, Sandi akan menikah dengan wanita itu. Tetapi, jika nanti Sandi tetap tidak bisa mencintainya, maka mamah jangan menyalahkan Sandi!." Sandi paling tak bisa melihat ibunya menangis.
"Baiklah." Meskipun mulutnya mengiyakan, namun dalam hati, ibu tak yakin putranya tidak akan jatuh cinta pada wanita pilihannya, mengingat Vania memiliki paras yang cantik.
"Satu lagi, Sandi tidak ingin ada pesta pernikahan. Cukup pernikahan sederhana saja." Apa kata dunia jika tahu dirinya menikah dengan seorang janda, begitu pikir Sandi hingga tidak ingin mengadakan pesta pernikahan.
"Baiklah." Dengan berat hati ibu menerima syarat dari putranya.
"Untuk urusan lamaran dan semacamnya, mamah dan papah saja yang urus semuanya, Sandi lagi banyak pekerjaan di hotel!."
"Baiklah." Untuk kesekian kalinya ibu tidak bisa menolak keinginan Sandi.
*
"Ada apa? Apa kau sedang ada masalah?." Pagi ini kebetulan sahabat baik Sandi, Bara, baru tiba di tanah air. Pemuda itu nampak mengunjungi Sandi di hotel milik Admodjo Group.
"Ini lebih dari sekedar masalah." Jawaban Sandi mampu menciptakan kerutan halus di dahi Bara.
"Mamah ingin aku menikah dengan seorang wanita yang berstatus single mom."
Awalnya Bara berpikir Sandi sedang bercanda tapi ketika menyadari keseriusan yang terukir di wajah sahabatnya itu, Bara akhirnya percaya bahwa Sandi tidak sedang bercanda.
"Apa kau bersedia?."
"Kalau sudah Mamah yang meminta, aku tidak punya cara untuk menolaknya." Balas Sandi dengan wajah tak bersemangat.
Hal ini mengingatkan Bara pada pengakuan Sandi beberapa tahun silam, tepatnya seminggu setelah perayaan ulang tahunnya di salah satu hotel ternama di kota itu.
"Sudahlah... anggap saja ini sebagai balasan dari Tuhan atas perbuatanmu di masa lalu." Sebenarnya Bara tak tega melontarkan kata-kata yang mampu mengingatkan Sandi pada kejadian malam itu. Tetapi demi membuka hati dan pikiran sahabatnya itu, Bara terpaksa melakukannya. Mungkin dengan mengingatkan hal itu, Sandi bisa berbesar hati menerima calon istrinya yang bersatus single mom.
Deg.
Sandi terdiam, mungkin apa yang dikatakan Bara benar. Bisa jadi ini adalah balasan dari Tuhan atas kebejatannya pada anak gadis orang di masa lalu.
"Apa sampai dengan hari ini kau tetap tidak tahu siapa wanita itu?."
Sandi menggelengkan kepala pelan.
"Kalau dipikir-pikir, kasihan betul gadis itu. Entah bagaimana nasibnya sekarang." Gumam Bara dihadapan Sandi.
Jangan lupa dukungannya ya sayang-sayangku, biar makin semangat updatenya....! 😘😘😘🙏🙏🙏🥰🥰🥰🥰🥰🥰
bisa gak dia aja yang di pecat 😏
Sandi pasti akan dukung Vania.
lagian apa urusannya sama Atika kalau pun ada kejadian jebak menjebak antara Vania dan Harto.
Atika melabrak seolah dia istri sah Harto 😆😆😆😆