NovelToon NovelToon
Di Jodohin Sama Santri

Di Jodohin Sama Santri

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikahmuda / Romansa
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mooniecaa_moon

Celina adalah ratu clubbing yang hidupnya cuma soal hura-hura, alkohol, dan gonta-ganti cowok sesuka hati. Baginya, pakaian seksi adalah seragam wajib untuk menaklukkan malam. Dia nggak butuh aturan, apalagi komitmen.

Muak melihat kelakuan Celina yang makin liar, sang Mama akhirnya memberikan ultimatum keras: Menikah dengan seorang santri pilihan Mama, atau angkat kaki dari rumah tanpa sepeser pun uang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Gema azan Subuh pertama dari Masjid Nabawi berkumandang membelah sunyinya kota Madinah, terdengar begitu indah dan menggetarkan hati siapa saja yang mendengar. Zuhair sudah lebih dulu terbangun. Setelah mengecup kening Celina untuk membangunkan istrinya, mereka segera bersiap dengan pakaian ihram dan mukena.

Pagi itu, udara Madinah terasa sejuk menusuk kulit. Celina berjalan di samping Zuhair melewati pelataran masjid yang dipenuhi payung-payung raksasa yang perlahan mulai terbuka. Begitu melangkah masuk ke dalam area dalam Masjid Nabawi, aroma minyak wangi gaharu yang khas langsung menyengat indra penciuman Celina, membawa ketenangan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.

Sesuai aturan masjid, mereka harus berpisah di pembatas jemaah laki-laki dan perempuan. Zuhair menggenggam tangan Celina erat sebelum melepaskannya. "Nanti kita bertemu lagi di pelataran dekat pagar nomor 25 ya, Sayang. Fokus ibadahnya, jangan melamun."

"Iya, Gus. Lo juga ya," bisik Celina dengan senyum manis.

Masuk ke dalam saf perempuan, Celina mencari sudut yang agak tenang di dekat pilar marmer yang megah. Setelah melaksanakan salat Subuh berjemaah yang diimami dengan bacaan ayat yang begitu menyentuh hati hingga membuat seisi masjid terisak, Celina tidak langsung bangkit.

Ia berniat menunaikan salat sunah taubat dua rakaat, seperti yang pernah diajarkan Zuhair saat di pesantren dulu. Celina ingin benar-benar membersihkan sisa-sisa masa lalunya yang kelam di tempat paling suci ini.

Celina takbir. Sepanjang salat, dadanya terasa bergemuruh. Begitu kepalanya menyentuh sajadah pada sujud terakhir, pertahanannya runtuh total. Air matanya mengalir deras tanpa bisa dibendung, membasahi kain mukena putihnya. Dalam sujud yang panjang itu, Celina menumpahkan segala keluh kesah dan penyesalannya kepada Sang Pencipta.

Setelah salam, Celina mengangkat kedua telapak tangannya tinggi-di depan dada. Kepalanya menunduk dalam, bahunya terguncang hebat karena isak tangis yang tertahan.

"Ya Allah... Ya maha pengampun..." bisik Celina, suaranya tercekat di tenggorokan. "Hamba datang ke rumah-Mu membawa segunung dosa dari masa lalu hamba yang hancur. Hamba yang dulu buta, yang sering melanggar larangan-Mu... Ampuni hamba, ya Allah..."

Celina menarik napas dalam, mencoba menenangkan debaran dadanya.

"Terima kasih karena Engkau telah menyelamatkan hamba lewat jalan yang tidak pernah hamba duga. Engkau kirimkan Zuhair, seorang suami yang begitu sabar dan mulia untuk menuntun hamba. Ya Allah, hamba mohon... jadikanlah pernikahan kami ini ladang ibadah yang penuh berkah. Buatlah hamba selalu bahagia bersamanya, dan hilangkan segala keraguan di hati hamba..."

Celina mengusap air mata yang terus menetes di pipinya, lalu meletakkan satu tangannya di atas perutnya sendiri, mengingat ucapan penuh harap dari Zuhair semalam di kamar hotel.

"Dan ya Allah, jika Engkau berkenan dan meridai kami... hamba mohon titipkanlah amanah-Mu di dalam rahim hamba. Karuniakanlah kami momongan, seorang anak yang kelak akan menjadi penyejuk hati kami dan pejuang di jalan-Mu. Segerakanlah ya Allah, buatlah suami hamba bahagia karena kehadiran anak itu..."

Celina mengakhiri doanya dengan mengusap wajahnya. Perasaannya mendadak menjadi sangat plong dan ringan, seolah beban berat yang selama bertahun-tahun menggelayuti pundaknya telah diangkat pergi.

Selesai beribadah, Celina berjalan keluar menuju tempat perjanjiannya dengan Zuhair. Dari kejauhan, ia melihat Zuhair sudah berdiri tegak bersandar di salah satu pilar pelataran, tampak sangat tampan dengan baju koko putih bersihnya.

Begitu melihat Celina mendekat dengan mata yang sembab namun wajah yang tampak jauh lebih cerah dan tenang, Zuhair langsung melangkah maju. Ia merangkul pundak istrinya dengan protektif.

"Habis menangis ya di dalam?" tanya Zuhair lembut, jemarinya bergerak menghapus sisa air mata di sudut mata Celina.

Celina mendongak, menatap suaminya lalu tersenyum lebar—senyuman paling tulus dan bahagia yang pernah ia miliki. "Gue habis salat taubat, Gus. Gue udah ceritain semua dosa gue ke Allah, termasuk minta doa biar kita cepet punya baby."

Mendengar itu, mata Zuhair berbinar hangat. Ia mengecup dahi Celina yang terbalut khimar dengan penuh kasih di tengah keramaian pelataran Nabawi.

"Alhamdulillah. Insya Allah doa kamu menembus langit, Sayang. Sekarang, mari kita kembali ke hotel untuk sarapan, lalu bersiap untuk ziarah ke Raudhah," ajak Zuhair sambil menggandeng erat tangan Celina, melangkah bersama dengan hati yang penuh keyakinan bahwa babak baru kehidupan mereka akan dipenuhi keberkahan.

Setelah menghabiskan beberapa hari yang penuh khidmat dan ketenangan di tanah suci Makkah dan Madinah, perjalanan spiritual mereka berlanjut ke destinasi berikutnya. Sesuai rencana rahasia yang sudah disiapkan Zuhair, sore itu mereka langsung terbang menuju Kairo, Mesir.

Mesir bukan sekadar tempat liburan biasa bagi mereka. Selain karena Raka kemarin sempat menyebutkan ada darah Mesir, Zuhair sendiri punya ikatan emosional karena beberapa kitab yang ia pelajari di pesantren berasal dari para ulama besar Universitas Al-Azhar. Namun bagi Celina, ini adalah murni petualangan honeymoon romantis yang sesungguhnya.

Pesawat mendarat di Kairo saat matahari sore mulai tenggelam, memancarkan warna jingga keemasan yang indah di atas langit Afrika Utara. Zuhair membawa Celina menginap di sebuah hotel mewah yang kamarnya memiliki balkon besar dan menghadap langsung ke Sungai Nil yang luas.

Begitu masuk kamar, Celina langsung berlari ke balkon. Angin sore Kairo yang sejuk menerpa khimar panjangnya.

"Gus! Gila, ini beneran Sungai Nil yang ada di cerita Nabi Musa itu?!" seru Celina norak, matanya berbinar-binar menatap hamparan air yang berkilauan diterpa cahaya senja.

Zuhair berjalan mendekat dari belakang. Ia meletakkan kedua tangannya di pinggiran balkon, mengurung tubuh Celina di dalam dekapannya, lalu mengecup pundak istrinya lembut. "Iya, Sayang. Ini tempat peradaban besar dunia dimulai. Kamu suka?"

"Suka banget, Gus! Makasih ya, lo beneran kabulin mimpi gue buat jalan-jalan ke luar negeri setelah tobat," bisik Celina sambil menyandarkan punggungnya di dada bidang Zuhair.

Zuhair tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan membalikkan tubuh Celina agar menghadap ke arahnya. Tatapan mata Gus muda itu mendadak berubah lagi—menjadi lebih dalam, gelap, dan penuh rindu yang sempat tertahan selama mereka fokus beribadah ketat di Makkah dan Madinah. Dua minggu "puasa" karena menjaga kesucian ibadah umroh membuat gairah Zuhair kini sudah berada di ubun-ubun.

"Cel... di tanah suci kita sudah maksimalkan ibadah dan doa," bisik Zuhair, suaranya mendadak berubah menjadi sangat serak dan rendah. Tangannya mulai bergerak nakal, menyusup ke balik khimar Celina, meraba lehernya lalu turun meremas pelan dadanya yang terasa semakin padat. "Sekarang di Mesir... waktunya kita maksimalkan ikhtiar buat bikin baby yang kamu minta di depan Ka'bah kemarin."

Muka Celina langsung memerah padam, tapi kali ini ia tidak menolak. Jantungnya berdegup kencang saat Zuhair mulai menciumi ceruk lehernya dengan intensitas yang langsung tinggi, membuat Celina mendesah pelan.

"Gus... ahh, tutup dulu pintu balkonnya... malu kalau kelihatan orang," rintih Celina lemah sambil mencengkeram kemeja putih Zuhair.

Tanpa banyak bicara, Zuhair langsung menggendong tubuh Celina masuk ke dalam kamar, menutup pintu kaca balkon dengan kakinya, dan menarik gorden tebal hingga kamar mereka menjadi temaram.

Sore itu, di tengah eksotisnya kota Kairo, daster dan baju ihram yang tersisa langsung terlempar ke lantai. Di atas kasur empuk hotel mewah tersebut, Zuhair kembali menjelma menjadi "predator" yang tidak kenal ampun. Ia memacu gerakannya dengan sangat cepat dan dalam, menuntaskan seluruh rindu dan gairah yang membara selama di tanah suci.

Suara de*ahan kencang Celina dan pekikan nikmatnya bersahut-sahutan dengan riak angin Sungai Nil di luar, memulai malam pertama honeymoon mereka di Mesir dengan begitu panas dan tak terlupakan.

1
Ulfa 168
seru lanjut thor
Veronicacake: aaaaa maacie udah baca yaaaa, jan lupa like komennya yahhhh! aku update tiap hari kok ka💕💕
total 1 replies
ChaManda
😭😭
Veronicacake: kak😭😭
total 1 replies
Ntaaa___
Jangan lupa mampir di ceritaku kak🤭😇
Anonim
SUKAAAA, GA TAMPLATE NARASINYAAAA! SEMANGAT THOR DI TUNGGU UDATE💕💕💕💕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!