Araya Lin dipaksa menjadi pengantin
pengganti bagi kakak tirinya. la dinikahkan dengan Arkanza Aditama, seorang CEO miliarder yang dirumorkan kejam, dingin, dan cacat akibat sebuah kecelakaan tragis. Keluarga Araya tertawa, mengira mereka telah membuang anak tak berguna ke dalam 'neraka'.
Namun, di malam pertama pernikahan mereka, Araya terkejut saat melihat pria jangkung dengan tatapan setajam elang berdiri sempurna di hadapannya-tidak cacat sedikit pun. Di sisi lain, Arkanza mengira ia hanya menikahi gadis udik yang bisa ia kendalikan. la tidak tahu bahwa istri kecilnya yang terlihat lugu ini adalah "Z", seorang peretas jenius misterius yang selama ini dicari-cari oleh perusahaannya sendiri.
Ketika dua pembohong ulung terjebak dalam satu atap, akankah pernikahan kontrak ini berakhir dengan pertumpahan darah, atau justru memicu romansa yang tak terhentikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orang_Cuman_Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32: Darah di Atas Salju
SUV hitam itu menderu membelah badai salju di jalur pegunungan Alpen yang berkelok tajam. Wiper mobil bekerja keras menyapu serpihan es, sementara pemanas di dalam kabin tidak mampu mengusir hawa dingin yang menusuk tulang. Namun, suhu terdingin justru berasal dari laras pistol Glock 19 milik Arkanza yang kini menempel tepat di pelipis kanan Leon.
"Satu alasan," desis Arkanza dari kursi belakang, matanya menyorotkan amarah yang gelap. "Beri aku satu alasan kenapa pelatuk ini tidak boleh kutarik sekarang juga, Leon."
Leon tetap menatap lurus ke jalanan berlapis es di depan, tangannya memutar kemudi dengan sangat tenang meski nyawanya berada di ujung tanduk.
"Karena jika saya mati, Anda berdua tidak akan pernah tahu cara keluar dari pegunungan ini hidup-hidup, Tuan," jawab Leon tanpa nada bergetar. "Dan karena Tuan Bramantyo melakukan semua ini demi melindungi Anda."
"Melindungiku?!" Arkanza tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar sangat berbahaya. "Dengan memalsukan kematiannya selama lima tahun dan menjadikanku serta istriku sebagai umpan bagi sindikat global?!"
Araya menahan lengan Arkanza. "Turunkan senjatamu, Arkanza. Kalau dia mati dan mobil ini kehilangan kendali, kita semua akan jatuh ke jurang."
Arkanza menatap Araya sejenak, rahangnya mengeras, namun ia perlahan menurunkan senjatanya. Tepat pada detik itu, kaca belakang SUV mereka hancur berkeping-keping.
DOR! DOR! DOR!
Dua buah SUV putih yang dilengkapi rantai salju muncul dari balik tikungan kabut, melepaskan tembakan beruntun dengan senapan serbu.
"Mereka mengejar dari jalur potong kompas!" teriak Leon, menginjak pedal gas lebih dalam hingga ban mobil sedikit tergelincir di atas es.
Arkanza langsung menundukkan kepala Araya dan membalas tembakan melalui kaca belakang yang sudah bolong. Angin badai menyapu masuk ke dalam kabin. "Berapa lama lagi sampai ke safehouse?!"
"Sepuluh kilometer!" jawab Leon.
Araya tidak tinggal diam. Ia membuka ranselnya, mengeluarkan laptopnya yang layarnya sudah retak di bagian ujung namun masih menyala. "Mobil yang mereka pakai adalah model Eropa terbaru. Sistem kemudinya sangat bergantung pada Electronic Stability Control (ESC) untuk melaju di atas es!"
Araya menyambungkan antena penguat sinyal mini ke laptopnya. Jarinya kembali menari di atas keyboard di tengah guncangan hebat mobil yang meliuk-liuk menghindari tembakan.
"Kau mau meretas mobil yang sedang bergerak di tengah badai?!" Arkanza menatap istrinya tak percaya sambil mengisi ulang pelurunya.
"Aku 'Z', Arkanza. Jarak mereka kurang dari lima puluh meter, itu cukup untuk masuk ke jaringan Bluetooth dan sistem diagnostik on-board mereka," ucap Araya, matanya terpaku pada baris kode yang berjalan cepat. "Leon! Di depan ada tikungan tajam 'U-Turn', jangan rem mendadak!"
"Dimengerti, Nyonya!"
SUV yang dikemudikan Leon melesat menuju tikungan maut dengan jurang menganga di sisi kiri. Dua SUV pengejar berada tepat di belakang mereka, siap untuk menyudutkan.
[Akses Diterima. Sistem Pengereman ABS dan ESC: Dinonaktifkan.]
Araya menekan tombol Enter sekeras mungkin. "Sekarang!"
Saat Leon membanting setir dengan teknik drifting yang sempurna melewati tikungan es, dua SUV pengejar di belakangnya berusaha melakukan pengereman. Namun, tanpa sistem ESC dan ABS, roda mereka langsung terkunci.
Mobil pertama tergelincir hebat, berputar di atas es dan menabrak tebing batu dengan ledakan keras. Mobil kedua yang mencoba menghindar justru kehilangan kendali, meluncur keluar dari pembatas jalan, dan terjun bebas ke dalam jurang yang diselimuti kabut tebal.
Hening.
Hanya tersisa suara deru mesin SUV Leon dan embusan napas mereka yang memburu. Arkanza menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Araya dengan tatapan takjub bercampur bangga.
"Mengingatkanku untuk tidak pernah membelikanmu mobil dengan sistem komputerisasi penuh," gumam Arkanza, membuat Araya tersenyum tipis di tengah ketegangan.
Lima belas menit kemudian, mobil mereka berhenti di depan sebuah kabin kayu besar yang tersembunyi di balik rimbunnya pohon pinus bersalju. Tempat itu tampak mati dan gelap.
Leon mematikan mesin. "Kita sudah sampai. Di dalam ada fasilitas komunikasi satelit yang aman dan perlengkapan medis."
Arkanza turun lebih dulu, senjatanya kembali siaga, lalu membantu Araya turun karena udara di luar mencapai minus lima derajat celcius. Leon berjalan mendahului mereka, membuka pintu kabin kayu tebal itu dengan kunci biometrik dari jam tangannya.
Namun, begitu pintu terbuka, Araya dan Arkanza terpaku.
Perapian di tengah ruangan itu menyala terang, menebarkan kehangatan. Dan duduk di atas kursi berlengan tunggal yang menghadap ke perapian, adalah sosok pria tua dengan rambut memutih, mengenakan mantel wol tebal. Pria itu memegang sebuah tongkat berukir kepala naga—persis seperti milik Arkanza.
Sosok itu menoleh perlahan. Wajahnya dipenuhi keriput dan bekas luka, namun sepasang mata elangnya masih setajam dulu.
"Kau butuh waktu lebih lama dari perkiraanku, Arkanza," ucap pria tua itu dengan suara berat yang menggetarkan ruangan.
Arkanza membeku. Pistol di tangannya nyaris terjatuh. "Kakek...?"
Bramantyo Aditama tersenyum tipis, lalu menatap tajam ke arah kalung safir di leher Araya. "Selamat datang di meja permainanku, Nyonya Araya. Sekarang, mari kita bicarakan masa depan dunia ini."