Bagi dunia, Rama Arsya Anta adalah definisi anak muda yang sempurna. Ia adalah siswa berprestasi, selalu menempati peringkat pertama, tutur katanya sopan, dan menjadi kebanggaan kedua orang tuanya di rumah. Namun, begitu bel sekolah berbunyi dan matahari mulai condong ke barat, topeng kesempurnaan itu ia lepas.
Di luar pengawasan keluarganya, Rama berubah wujud menjadi pemimpin geng motor yang paling ditakuti di jalanan Bukit Selatan. Malam-malamnya dihabiskan untuk balapan liar, menenggak minuman keras, dan merajai jalanan aspal Wana Asri bersama sahabat-sahabat liarnya: Galang, Bagas, dan Cakra. Rama menikmati kehidupan ganda ini; memuaskan dahaga keluarganya di siang hari, dan memuaskan sisi pemberontaknya di malam hari. Hatinya sedingin mesin motornya, tak pernah tersentuh oleh romansa, menganggap cinta hanyalah omong kosong yang menghambat kebebasan.
Hingga suatu malam, di tengah panasnya balapan liar yang mempertaruhkan harga diri gengnya, seorang gadis muncul membawa cerita baru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 - Naskah Drama dan Teror Misterius di Loker
Pagi di SMA Taruna Citra selalu diawali dengan rutinitas yang monoton dan kaku. Suara sepatu pantofel yang beradu dengan lantai marmer, sapaan hormat kepada guru piket, dan aroma disinfektan bercampur wangi parfum cologne murah dari anak-anak cowok yang habis main bola keranjang pagi-pagi. Bagi Rama Arsya Anta, rutinitas ini biasanya terasa memuakkan, layaknya kaset rusak yang diputar berulang-ulang setiap hari.
Namun pagi ini, ada sesuatu yang berbeda. Langkah kaki Rama terasa sedikit lebih ringan. Kantung matanya memang masih terlihat samar, tapi raut wajahnya tidak sedatar biasanya. Ada senyum tipis sangat tipis hingga mungkin hanya bisa dilihat pakai mikroskop yang sesekali terukir di bibirnya saat ia mengingat kejadian semalam. Kejadian di mana seorang cewek berjilbab ungu dengan keras kepalanya menolak untuk dijauhkan dari dunia gelapnya.
"Woy, Bos! Kesambet bidadari mana lo pagi-pagi muka udah cerah begini?" seru Dika, tiba-tiba merangkul pundak Rama dari belakang saat mereka berjalan menuju kelas. "Tumben kacamata lo nggak melorot. Udah move on dari tragedi gue ditikung anak baru kemarin?"
Rama menepis lengan Dika dengan santai. "Lebay lo. Gue cuma lagi mood bagus karena semalam habis namatin satu bab buku fisika kuantum tanpa ngantuk."
"Buset, otak lo emang terbuat dari titanium ya," gerutu Dika sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Eh, ngomong-ngomong soal anak baru, si Nayla itu sebenernya orangnya gimana sih, Ram? Lo kan yang paling sering interaksi sama dia belakangan ini. Anak-anak cowok di kelas pada penasaran tuh. Cantik sih, lumayan manis, tapi judesnya ngalahin Bu Ningsih pas lagi PMS."
Langkah Rama mendadak melambat. Rahangnya sedikit mengeras mendengar Dika dan anak-anak cowok lain mulai menaruh perhatian pada Nayla. Rasa tidak suka yang aneh langsung menyengat dadanya.
"Biasa aja. Cerewet, bawel, dan suka nyuruh-nyuruh," jawab Rama ketus, berusaha terdengar senormal mungkin. "Nggak usah aneh-aneh lo pada. Fokus aja sama ujian. Jangan ganggu dia."
"Dih, posesif amat Nada bicaranya," cibir Dika curiga. "Lo hati-hati, Ram. Si Raka dari OSIS itu kelihatannya lagi gencar caper ke Nayla. Kemarin pas pulang sekolah, gue lihat Raka sok-sokan nawarin tebengan ke dia, biarpun ujung-ujungnya ditolak mentah-mentah sih."
Darah Rama seketika mendidih. Raka. Saingan terberatnya dalam urusan caper ke guru itu kini mencoba merambah masuk ke wilayah pribadinya. Rama mengepalkan tangannya di dalam saku celana. Kalau Raka berani macam-macam, Rama tidak akan segan-segan menyeret cowok sok suci itu ke bengkel Sakti Jaya untuk diberi 'pelajaran' tambahan.
Begitu bel istirahat pertama berbunyi, Rama tidak membuang waktu. Sesuai kesepakatan semalam (yang sebenarnya lebih mirip pemaksaan dari pihak majikan), ia berjalan menuju perpustakaan. Di sudut paling sepi, dekat rak buku-buku sejarah dunia yang jarang disentuh murid, Nayla sudah duduk manis. Cewek itu sedang asyik memakan keripik kentang sembunyi-sembunyi di balik buku tebal, padahal ada tulisan 'DILARANG MAKAN DAN MINUM' segede gaban tepat di atas kepalanya.
"Lo kalau ketahuan Bu Ratna penjaga perpus, bisa disetrap hormat bendera sampai bel pulang," tegur Rama sambil menarik kursi di seberang Nayla.
Nayla menelan keripiknya cepat-cepat dan tersenyum tanpa dosa. "Tenang aja, Bu Ratna lagi asyik ngegosip di ruang guru. Lagian, asupan micin itu penting buat merangsang kreativitas. Sini, lo mau nggak?" Nayla menyodorkan bungkus keripik itu.
Rama menggeleng pelan. "Langsung aja. Gimana konsep naskah drama kita? Lo bilang mau bikin aksi misteri."
Nayla membersihkan remah-remah keripik di jarinya pakai tisu, lalu mengeluarkan sebuah buku catatan kecil berwarna ungu pastel. Ia berdehem pelan, memasang wajah serius layaknya sutradara profesional.
"Jadi gini, gue udah mikirin plotnya semalaman," ucap Nayla antusias. "Tokoh utamanya cowok, panggil aja si X. Si X ini di sekolahnya terkenal sebagai murid paling perfect. Pintar, alim, anak kesayangan guru, pokoknya nggak ada cacatnya deh. Tapi aslinya, pas malam hari, dia itu pemimpin sindikat rahasia yang paling ditakutin di kotanya."
Rama yang sedang membuka tutup pulpennya langsung terdiam kaku. Ia menatap Nayla dengan alis bertaut tajam. Sindiran itu terlalu telanjang dan tepat sasaran.
"Lo nyindir gue?" tembak Rama tanpa basa-basi.
Nayla tertawa renyah, tawa yang membuat beberapa anak di seberang rak menoleh. "Dih, GR banget lo. Ini kan cuma trope fiksi yang lagi hits, Bos. Bad boy berkedok good boy. Terus ya, konflik utamanya dimulai pas si X ini nggak sengaja nyelamatin cewek biasa dari bahaya, dan rahasianya malah ketahuan sama cewek itu. Dari situ, mereka berdua malah harus kerja sama buat ngadepin musuh besar si X yang ternyata mulai ngirim teror ke sekolah."
Rama memutar bola matanya malas, meski jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Skenario yang Nayla buat benar-benar mencerminkan kehidupan nyata mereka saat ini.
"Terus ending-nya gimana? Si X mati dikeroyok musuhnya karena sibuk ngelindungin cewek bawel itu?" sindir Rama pedas.
"Enak aja! Ending-nya mereka berhasil ngalahin musuhnya pakai taktik cerdas, terus si X akhirnya bisa berdamai sama dua kepribadiannya itu. Dan... yah, ada bumbu romantisnya dikit lah di akhir," Nayla bergumam di bagian akhir kalimatnya, pipinya tiba-tiba memunculkan semburat merah tipis yang lucu.
Melihat reaksi Nayla, Rama tak bisa menahan senyumnya. "Oke. Ide lo lumayan juga biarpun klise. Lo yang nulis dialognya, gue yang ngetik dan ngedit tata bahasanya biar nggak kelihatan kayak novel picisan."
Mereka berdua pun larut dalam pengerjaan tugas. Untuk pertama kalinya, Rama merasa tugas sekolah tidak terasa seperti beban yang mencekik. Berdebat soal pemilihan kata dengan Nayla, melihat gadis itu mengerutkan kening saat berpikir keras, dan sesekali mencuri pandang ke arah senyumnya, membuat waktu berjalan begitu cepat. Di sudut perpustakaan itu, jauh dari bisingnya mesin motor dan beratnya ekspektasi ayahnya, Rama merasa... utuh.
Bel masuk berbunyi memecahkan momen tenang mereka. Rama dan Nayla bergegas membereskan barang bawaan.
"Nanti sepulang sekolah lo ada acara kumpul berandal lagi nggak?" tanya Nayla saat mereka berjalan beriringan keluar dari perpustakaan.
"Nggak ada. Kenapa? Lo mau nagih janji es krim kompensasi yang semalam?" tebak Rama.
Nayla menjentikkan jarinya. "Pintar! Babu gue emang peka. Jam tiga sore, tunggu gue di parkiran."
Rama hanya mengangguk pasrah sambil tersenyum tipis. Mereka berpisah di persimpangan koridor karena kelas mereka berbeda arah. Rama berjalan santai menuju deretan loker siswa yang berada di lorong dekat laboratorium kimia untuk mengambil buku cetak yang ia tinggalkan di sana kemarin.
Lorong loker siang itu cukup sepi. Hanya ada beberapa siswa yang lalu lalang. Rama mendekati lokernya yang bernomor 045. Ia memutar kode gembok kombinasinya dengan gerakan yang sudah terlatih.
Klik. Pintu loker besi berwarna abu-abu itu terbuka. Namun, alih-alih langsung mengambil buku, gerakan tangan Rama terhenti di udara. Matanya memicing tajam, menatap sebuah benda asing yang bertengger manis di atas tumpukan buku cetaknya.
Sebuah stiker kecil berwarna merah menyala. Gambarnya sangat familiar dan mematikan. Siluet seekor kobra yang sedang mengembangkan tudungnya, siap mematuk. Logo resmi geng Kobra Besi.
Napas Rama tercekat. Darahnya seakan surut dari wajahnya. Ia buru-buru menoleh ke kanan dan ke kiri, memindai seluruh penjuru lorong, tapi tidak ada siapa-siapa yang mencurigakan. Tangannya sedikit gemetar saat mengambil stiker itu. Di balik stiker tersebut, terdapat sebuah tulisan tangan yang digoreskan menggunakan spidol merah.
Tempat sembunyi yang bagus, Sang Hantu. Seragam sekolah lo rapi juga. Tunggu kejutan dari kita.
Rama meremas stiker itu hingga tak berbentuk. Rahangnya mengeras sedemikian rupa hingga otot-otot di pelipisnya menonjol. Kepanikan dan amarah meledak bersaman di dalam rongga dadanya.
Apa yang dikhawatirkan Galang semalam benar-benar terjadi, dan kejadiannya jauh lebih cepat dari prediksi. Tora dan Kobra Besi tidak hanya memotong kabel rem motornya, mereka bahkan sudah menyusup dan melacak identitas aslinya. Dunia jalannya yang gelap kini telah berhasil menjebol pertahanan dunia siangnya yang suci.
SMA Taruna Citra, tempat perlindungannya yang sempurna, kini tidak lagi aman.
Otak Rama berputar dengan kecepatan gila. Kalau Kobra Besi sudah tahu siapa dia di sekolah ini, berarti mereka juga tahu tentang interaksinya dengan Nayla. Kalau stiker ini bisa masuk ke dalam lokernya yang terkunci, berarti ada mata-mata atau anggota Kobra Besi yang menyusup ke sekolah elit ini. Entah sebagai murid, staf, atau penyusup luar.
"Sialan! Bangsat!" umpat Rama tertahan, memukul pintu loker besinya dengan kepalan tangan cukup keras hingga menimbulkan suara dentuman nyaring.
Beberapa murid yang lewat di ujung lorong menoleh kaget melihat Ketua Klub Sains teladan mereka mengamuk memukul loker. Namun Rama tidak peduli. Ia langsung membanting pintu lokernya hingga tertutup rapat, mengabaikan rasa perih di buku-buku jarinya.
Satu-satunya hal yang ada di pikiran Rama saat ini adalah keselamatan Nayla. Skenario naskah drama buatan Nayla di perpustakaan tadi kini berubah menjadi kenyataan yang mengerikan. Teror itu sudah dimulai, dan Rama harus memastikan gadis cerewet itu tidak menjadi korban dari kebodohan dan arogansinya di atas aspal jalanan. Ia harus menemukan siapa mata-mata Tora di sekolah ini, sebelum beling-beling dari dunia gelapnya melukai gadis berjilbab ungu itu.