Bailla adalah gadis muda berusia 20 tahun seorang putri tunggal yang memiliki karakter yang manja dan terbiasa hidup dengan kemewahan ia terpaksa menjadi ibu tiri muda dan menikah dengan duda beranak 3 yang terpaut usia 20 tahun. Pernikahan itu terpaksa terjadi idikarenakan perusahan orang tuanya diambang kebangkrutan akibat tertipu investasi bodong. Bagaimana Bailla menghadapi kehidupan sebagai istri dan ibu muda untuk anak-anak yang usia hampir sama dengannya ?? banyak hal lucu dan sedih yang terjadi degan Bailla si ibu tiri muda ini. ,🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Danica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENENTUAN HARI RESMI MENJADI IBU TIRI**
Setelah pembicaraan Pak Arya dan Bailla kemarin mereka sepakat hari untuk memberitahukan kepada kedua keluarga tanggal pernikahan.
Minggu pagi yang cerah Kedua keluarga besar telah berkumpul diruang keluarga dirumah Bailla. Suasana hangat terasa sampai kehati setiap orang Karena dua keluarga duduk lesehan, satu tikar, satu tujuan: nentuin tanggal.
Dari pihak Bailla:* Papi pakai batik rapi, Mami bawa teko teh panas sama toples rengginang, Bailla? Duduk di pojok, pakai gamis biru dengan senyum manisnya tapi didalam hatinya masih bergejolak.
Dari pihak Arya: Pak Arya dengan menggunakan baju batik slim fitnya yang menampakan otot otot dan perutnya yang rata pakaian yang cocok untuk pria maskulin, ia datang gak sendiri. Arbil ikut, duduk kaku kayak patung. Ara nempel ke lengan bapaknya, Aya... Aya tidur di pangkuan Pak Arya, ngiler dikit. Gak ada keluarga besar. Cuma mereka. Karena keluarga Arya cuma itu.
Di tengah tikar: kalender dinding 2025, kopi item, teh manis, sama satu amplop cokelat. Isinya bukan uang. Isinya tanggal-tanggal merah sama jadwal pasaran Jawa dari Pak RT.
Papi buka suara duluan, batuk-batuk. “Jadi... kita kumpul di sini mau ngomongin penentu hari baik untuk menikah?? Apakah dalam tahun ini atau tahun depannya ?".
Pak Arya angguk. “Iya, Pak. Kalau Saya gak mau lama-lama tapi semua terngantung Bailla. Kasihan dia, kasihan kuliahnya.”
Mami nuangin teh ke gelas-gelas. Tangannya gemeter. Ini bukan arisan. Ini nentuin hari anaknya jadi istri orang.
“Bailla,” panggil Mami pelan, “kamu maunya kapan, Nak?”
Semua nengok. Bailla kaget. Dia kira dia gak diajak ngomong. Dia kira cuma “manut”.
“Sa... saya?” Bailla gugup. “Saya ikut Bapak aja. Sama... sama Pak Arya.”
Pak Arya geleng. “Gak bisa gitu. Ini hidup kamu, Bailla. Kamu yang jalanin. Bapak gak mau kamu ngerasa dipaksa, bahkan buat tanggal.”
Bailla natap kalender. Otaknya muter: tanggal KKN, tanggal ujian tengah semester, tanggal Dito ulangan. Hidupnya udah gak bisa mikir diri sendiri.
“Kalau... kalau boleh,” Bailla akhirnya ngomong, “jangan bulan ini. Saya mau kelarin bab 4 skripsi dulu. Biar setelah nikah, saya tinggal revisi. Biar gak ngerepotin...” dia lirik Pak Arya, “...ngerepotin rumah.”
Pak Arya senyum. Tipis. Lega. Karena Bailla masih mikir kuliah. Berarti dia belum nyerah sama mimpinya.
“Bagus,” kata Pak Arya. “ saya dan Bailla sudah menetapkan tanggal, ngambil tanggal muda, biar berkah. Tanggal 10 November, hari Selasa. Pasaran Legi. Kata Pak RT, hari baik. Anak-anak juga belum ulangan.”
Papi ngitung-ngitung di kalender, bibirnya komat-kamit. “10 November... 1 minggu lagi. Cukup gak buat siap-siap, Mi?”
Mami ngelap mata pake ujung jilbab. “Cukup, Pak. Kita gak hajatan gede. Yang penting sah. Yang penting halal. Undangan cukup tetangga deket, Pak RT, Bu RT, Zeze temennya Bailla. Sisanya... sisanya kita syukuran kecil aja.”
"Maaf Bu Arya bukannya gak setuju acara sederhana tetapi Bailla mungkin memiliki impian pernikahannya sendiri, saya tidak masalah dengan biaya dimanapun selagi Bailla menyukainya saya siap."
Bailla takjub seketika mendengar pernyataan dari Sugar Dadynya itu. Impian pernikahannya apakah sekarang masih diperlukan toh ia akan menikah dengan duda, dan anak-anaknya 3 orang jika pas digedung yang mewah tentu akan diperhatikan banyak orang. Bukan malu tapi takut dengan gosib yang beredar. Mungkin pernikahan yang pernah ia impikan harus dikubur dalam-dalam demi kenyamanan semua orang.
“ Iya Bentul juga apa yang dikatakan Nak Arya tentu banyak teman dekat Bailla dan kolega-kolega bisnisnya papi dan Arya juga yang akan datang". Gimana Bailla kamu mau konsep pernikahan nya bagaimana ?? Tanya pak Bayu.
"Mi Pi dan Om Arya. Bailla maunya yang sederhana saja gak usah sampai sewa hotel atau gedung cukup dirumah ini, undangan pun gak usah banyak cukup tetangga, teman dan kerabat dekat aja." jawab Bailla dengan tegas.
"Bailla Papi mami dan Arya tergantung kamu. Jika kamu maunya seperti ini kita nurut aja. Asal kamu merasa itu terbaik menurut kamu".
"Gak apa-apa Pi, impian pernikahan Bailla bisa diwujudkan dirumah kita ini kok. Bailla pingin menikah dengan konsep wedding garden party. Halaman kita cukup luas bisa di gunakan untuk konsep itu. Selain kesannya lebih bebas terbuka dan keintimannya juga terjaga".
"Wah... Ide yang bagus Bailla saya setuju". "Pi Mi kita pakai konsep yang Bailla usung saja". Arya menguatkan pendapat Bailla.
"Oke kita sepakati konsepnya itu saja ya nanti biar mami dan Tante Lia yang atur semua dari WO sampai Catering nya Bailla dan Arya fokus aja dengan persiapan yang lain. Baik semua sudah disepakati".
"Tunggu sebentar !". Arbil yang sedari tadi diam mematung tiba-tiba mengangkat tangan nya.
Pak Arya dan yang lainnya tiba tiba terdiam dan melihat kearah Arbil.
Pak Arya angguk. Deg-degan. Takut anaknya bilang “aku gak setuju”.
Arbil natap Bailla. Lama. Lalu natap kalender. “Tanggal 10 November... itu hari Pahlawan, ya?”
“Iya, Nak,” jawab Papi.
Arbil diem lagi. Terus ngomong, pelan tapi jelas: “Ya udah. Cocok. Biar Mama... biar Mama di surga tahu, Bapak nikah lagi bukan karena lupa. Tapi karena Bapak mau jadi pahlawan buat kita. Buat Kak Bailla juga.”
Ruang itu mendadak pengap. Bukan karena panas. Karena semua nahan napas.
Pak Arya narik Arbil ke pelukannya. Gak ngomong. Cuma peluk. Pundak Arbi yang 17 tahun itu gemeter. Pertama kali sejak lamaran, dia gak nolak.
Bailla nutup mulut. Air matanya netes ke gamis. Bukan sedih. Tapi karena untuk pertama kali, “keluarga baru” itu bukan cuma omongan.
Ara tepuk tangan kecil. “Hore! Tanggal 10! Berarti aku punya Ibu baru pas Hari Pahlawan!”
Aya kebangun, kaget, terus ikut tepuk tangan meski gak ngerti. “Ibu! Ibu!”
Papi ketok-ketok kalender pake pulpen. Tanggal 10 November 2025 dilingkari. Dua kali. Tebel.
“Alhamdulillah,” kata Papi. “Sudah. Ditetapkan. 10 November. Ijab jam 9 pagi, di KUA. Syukuran di sini aja, sederhana. Yang penting...” dia lirik Pak Arya, lalu Bailla, “...yang penting kalian saling jaga. Saling ngerti. Susah seneng bareng.”
Pak Arya salaman sama Papi. Kencang. “Siap, Pak. Saya janji.”
Mami nyodorin rengginang. “Makan dulu. Biar omongannya manis, rezekinya manis.”
Mereka makan bareng. Rengginang, teh manis, kopi pait. Gak ada kue tart tingkat. Gak ada WO. Tapi ada Arbil yang akhirnya mau ngambilin Bailla air putih. Diam-diam. Tanpa disuruh.
Bailla terima gelas itu. Jari mereka gak sengaja sentuhan. Arbil gak tarik tangannya.
Dan di situ, di ruangan itu, tanggal pernikahan bukan cuma dicatat di kalender.
Tapi dicatat juga di hati anak 17 tahun, yang pelan-pelan belajar buka pintu.
...****************...
...****************...