NovelToon NovelToon
Di Balik Tirai Luka

Di Balik Tirai Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: wyzy

Bagi Alya, pernikahan adalah sebuah janji suci. Namun, di usianya yang ke-22, janji itu berubah menjadi transaksi gelap. Demi menyelamatkan ayahnya dari jeratan hukum akibat kebangkrutan besar dan serangan jantung ibunya, Alya terpaksa menerima pinangan Arka Dirgantara, seorang pengusaha muda nan dingin yang memiliki kekuasaan mutlak.
Alya mengira dia hanya akan menjalani pernikahan tanpa cinta. Namun, kenyataan jauh lebih pahit: Arka tidak menginginkan hatinya, ia menginginkan kehancurannya.
Arka menyimpan dendam masa lalu yang membara. Ia meyakini bahwa ayah Alya adalah penyebab kematian tragis ibunya bertahun-tahun silam. Baginya, menikahi Alya adalah cara paling elegan untuk menyiksa musuhnya melalui tangan orang yang paling dicintai sang musuh. Di mansion megah yang lebih menyerupai penjara emas, Alya harus bertahan menghadapi dinginnya sikap Arka, intimidasi ibu mertua yang kejam, hingga kehadiran masa lalu Arka yang terus memojokkannya.
Namun, di tengah badai air mata dan perlak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wyzy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Sisa Musim

Satu bulan telah berlalu sejak tangisan Arsenio pertama kali memecah kesunyian di St. Mary. London kini sepenuhnya bersolek dengan warna-warni musim semi. Bunga-bunga sakura di taman Richmond mulai berguguran, menutupi jalanan dengan karpet merah muda yang lembut. Di dalam apartemen Alya, suasana terasa jauh lebih hangat, bukan hanya karena pemanas ruangan, tetapi karena kehadiran nyawa kecil yang kini menjadi pusat semesta mereka.

Arka tidak lagi tinggal di unit seberang. Atas izin Reno dan permintaan samar dari Alya yang mulai melunak, Arka kini lebih banyak menghabiskan waktunya di ruang tamu apartemen Alya. Ia belum diizinkan tidur di kamar yang sama, namun ia adalah orang pertama yang bangun saat Arsenio menangis di tengah malam.

Dini hari itu, pukul tiga pagi, suara rengekan kecil terdengar dari boks bayi. Arka, yang tertidur di sofa dengan selimut tipis, langsung terjaga. Ia bergerak dengan ketangkasan yang tidak pernah ia miliki sebelumnya—bukan ketangkasan seorang CEO yang mengejar target, melainkan seorang ayah yang menjaga hartanya.

"Sshhh... Ayah di sini, jagoan," bisik Arka sambil mengangkat Arsenio dengan sangat hati-hati.

Alya terbangun dan bersandar di ambang pintu kamar, memperhatikan pemandangan itu. Arka tampak sangat kontras dengan bayi mungil di pelukannya. Pria yang dulu tangannya digunakan untuk menyakiti, kini dengan sabar menimang-nimang Arsenio, memberikan botol susu hangat yang sudah ia siapkan.

"Dia hanya haus, Al. Tidurlah lagi," ucap Arka lembut saat menyadari kehadiran Alya.

Alya melangkah mendekat, duduk di samping Arka di sofa. "Kau tidak lelah? Kau sudah melakukan ini selama empat malam berturut-turut."

Arka menatap putranya yang kini mulai tenang dalam isapannya. "Lelah ini tidak ada apa-apanya dibanding lelahmu mengandungnya sendirian di sini, Al. Setiap kali aku menggendongnya, aku merasa seperti sedang memegang kesempatan kedua yang diberikan Tuhan padaku."

Alya menatap profil wajah Arka. Garis-garis tegas itu kini tampak lebih teduh. Tidak ada lagi kilat amarah atau keangkuhan. Yang tersisa hanyalah seorang pria yang mencoba memperbaiki setiap kepingan kaca yang pernah ia pecahkan.

"Reno bilang kau sudah menjual rumah lama kita di Jakarta," ujar Alya pelan.

Arka mengangguk. "Mansion itu terlalu banyak menyimpan kenangan buruk. Aku sudah meruntuhkannya dan menyumbangkan tanahnya untuk menjadi taman kota dan pusat rehabilitasi. Jika suatu hari nanti kau memutuskan untuk pulang, kita akan membangun sesuatu yang baru. Sesuatu yang tidak memiliki ruang bawah tanah yang gelap."

Alya terdiam. Kata 'pulang' masih terasa berat baginya, namun tidak lagi semenakutkan dulu.

Siang harinya, suasana apartemen sedikit lebih ramai. Prasetyo datang berkunjung dari Jakarta, membawa setumpuk pakaian bayi dan mainan tradisional Indonesia. Pertemuan antara Arka dan Prasetyo tidak lagi diwarnai ketegangan. Mereka duduk di balkon, berbagi secangkir kopi sementara Alya dan Ibunya, Dewi, berada di dalam bersama Arsenio.

"Aku tidak pernah membayangkan hari ini akan datang," ucap Prasetyo sambil menatap langit London. "Melihatmu dan Alya bisa duduk di bawah satu atap tanpa ada senjata yang ditodongkan."

Arka tersenyum pahit. "Aku juga, Yah. Aku menghabiskan separuh hidupku untuk membenci pria yang sebenarnya menjaga hartaku. Aku mohon maaf atas segala kekasaranku padamu."

Prasetyo menepuk bahu Arka. "Kita berdua melakukan kesalahan, Arka. Aku karena ketakutanku, dan kau karena dendammu. Tapi lihatlah anak itu di dalam. Dia adalah pengampunan yang berjalan. Jangan sia-siakan dia."

Saat mereka sedang berbincang, sebuah panggilan masuk ke ponsel Arka. Itu dari Bayu di Jakarta.

"Tuan, ada berita dari pengadilan. Banding Nyonya Ratna ditolak. Dia akan dipindahkan ke lembaga pemasyarakatan dengan pengamanan maksimum besok pagi. Sisil juga sudah mulai menjalani masa hukumannya."

Arka menarik napas panjang. "Terima kasih, Bayu. Tutup buku itu. Aku tidak ingin mendengar nama mereka lagi di rumah ini."

Arka mematikan ponselnya. Ia merasa sebuah beban besar baru saja terangkat dari pundaknya. Keadilan sudah ditegakkan, namun ia menyadari bahwa keadilan hukum tidaklah cukup. Keadilan yang sesungguhnya adalah saat Alya bisa tertawa lepas tanpa ada bayang-bayang masa lalu di matanya.

Sore itu, Arka mengajak Alya berjalan-jalan di taman belakang apartemen. Alya duduk di kursi roda karena kondisinya yang belum sepenuhnya pulih, sementara Arka mendorongnya dengan perlahan. Arsenio tertidur lelap di dalam kereta bayi di samping mereka.

Angin musim semi meniup rambut panjang Alya. Arka berhenti di bawah sebuah pohon oak besar yang rindang. Ia berlutut di depan Alya, menatap mata istrinya—wanita yang secara hukum sempat ia lepaskan, namun secara batin tak pernah sanggup ia tinggalkan.

"Alya..."

"Ya?"

"Aku tahu kita sudah menandatangani surat cerai itu di saat yang paling kelam. Dan aku tahu aku tidak punya hak untuk memintamu kembali menjadi milikku setelah semua yang kulakukan." Arka mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya. Bukan perhiasan mewah, melainkan sebuah cincin kayu sederhana yang diukir tangan.

"Ini bukan emas atau berlian seperti yang dulu kupaksakan padamu. Ini kayu dari pohon yang kutanam di pusat rehabilitasi kita di Jakarta. Simbol bahwa cinta bisa tumbuh dari tanah yang pernah gersang."

Arka menggenggam tangan Alya. "Aku tidak memintamu menjadi istriku lagi hari ini. Aku hanya ingin bertanya, bolehkah aku terus berada di sisimu? Bukan sebagai tuanmu, bukan sebagai musuhmu, tapi sebagai pria yang akan memastikan kau dan Arsenio selalu memiliki rumah untuk pulang?"

Alya menatap cincin kayu itu, lalu menatap Arka. Ia melihat perjalanan panjang yang telah mereka lalui—dari kebencian di Chicago, penderitaan di Jakarta, pelarian di London, hingga kelahiran Arsenio.

Alya mengambil cincin itu dan memakainya di jari manisnya sendiri.

"Cincin ini tidak akan menghapus masa lalu, Arka," ucap Alya lirih. "Tapi mungkin, cincin ini bisa menjadi pengingat bahwa kita telah selamat dari badai itu."

Arka mencium tangan Alya dengan air mata haru yang mengalir. "Terima kasih, Alya. Terima kasih."

"Tapi ada satu syarat," tambah Alya sambil tersenyum tipis—senyuman tulus pertama yang Arka lihat dalam setahun terakhir.

"Apa pun, katakan saja."

"Jangan pernah berbohong padaku lagi. Dan jangan pernah, sekalipun, membiarkan kebencian mengambil alih akal sehatmu. Aku ingin Arsenio tumbuh melihat ayahnya sebagai pahlawan, bukan sebagai monster."

"Aku berjanji, Sayang. Demi Tuhan, aku berjanji."

Di bawah langit London yang mulai meredup, di antara guguran bunga musim semi, dua jiwa yang pernah hancur itu akhirnya menemukan jalan kembali. Mereka menyadari bahwa cinta sejati bukanlah cinta yang tanpa luka, melainkan cinta yang mampu bertahan dan menyembuhkan di tengah puing-puing kehancuran.

Masa depan masih misteri, dan luka itu mungkin akan selalu meninggalkan bekas berupa garis-garis tipis di hati mereka. Namun, saat Arsenio terbangun dan mengeluarkan suara tawa kecilnya yang pertama, mereka tahu bahwa fajar yang baru telah benar-benar menyingsing. Badai telah usai, meninggalkan pelangi yang kini mereka jaga bersama dalam genggaman tangan yang tak akan lagi dilepaskan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!