Cery Vanesa Chaseiro, gadis mungil berusia delapan belas tahun, saat ini ia baru menduduki bangku kelas sebelas SMA, namun tingkah nya masih seperti anak kecil, begitu juga dengan penampilan nya.
Bagi yang tidak tau bagaimana cerita hidup Cery yang sebenarnya, mereka mengatakan kalau Cery adalah gadis paling ceria. Itu karena Cery sangat baik dengan semua orang dan selalu membantu mereka yang kesulitan. Meskipun kenyataannya dia tidak punya teman dan sering di cemooh anak-anak di sekolah nya.
Kenapa ia di cemooh? Ya karena penampilan nya yang kusut dan terlihat sangat miskin, bukan hanya itu banyak yang mengatakan kalau Cery tidak tahu diri?
Kenapa begitu? Ya karena meskipun Cery seperti anak-anak dia tetap lah gadis remaja yang punya perasaan seperti gadis remaja pada umumnya, dia naskir dengan laki-laki tertampan di sekolah Mawar Mekar. Linus Caesar Pratama, kakak kelas sekaligus ketua tim basket di sekolah Cery, ya sekaligus anak seorang CEO kaya. Seperti raja di sekolah, Linus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemary Mary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Keesokan harinya, kini Clara dan Raja baru saja selesai sarapan, mereka sama-sama berjalan keluar dari pintu rumah untuk segera berangkat ke sekolah.
Suasana pagi ini cukup dingin, Raja tidak mengatakan sepatah kata pun kepada Clara bahkan saat sedang sarapan mereka hanya saling diam dan tidak bicara satu sama lain.
"Kak, aku pakai mobil sendiri ya, soalnya harus jemput Linus," ujar Clara saat Raja hendak membuka pintu mobil nya.
"Kenapa gak sama gue aja jemput dia?" menutup kembali pintu mobil dan mengaranghkan pandangan ke Clara.
"Gak usah kak, kalian berdua kalau ketemu pasti bertengkar aku juga gak mau kakak terus menerus bertangkar," mendekati Linus dan memegang lengan nya untuk memohon agar diijinkan mengemudi sendiri lagi.
"Oke, tapi ingat Lo gak boleh macem-macem, batas waktu Lo ngerawat dia cuma dua Minggu jangan sampai Lo terpengaruh sama Linus lagi ingat tujuan Lo yang sebenarnya dan lakuin dengan baik, kalau ada apa-apa langsung telfon gue," menujuk Clara sambil mewanti-wanti agar tidak melakukan kesalahan.
Clara pun mengangguk paham dan kemudian berjalan masuk ke dalam mobil nya setelah Raja juga masuk ke dalam mobil.
Mereka mengemudi mobil masing-masing hari ini, sementara Clara ke jalur lain ya itu rumah Linus.
Tidak butuh waktu lama,ia pun akhirnya tiba di rumah tersebut. Sangat sepi karena masih lumayan pagi, ia menekan bel pintu rumah tersebut beberapa kali.
Beberapa menit kemudian datang seorang pelayan yang membukanya untuk Clara.
"Eh non Clara, mau berangkat sekolah bareng tuan muda ya?" ujar pelayan yang sama dengan yang kemarin melayani Clara.
Clara tersenyum tipis dan mengangguk kan kepala nya sebagai jawaban.
Pelayan tersebut mempersoalkan Clara untuk masuk ke dalam rumah.
"Kepala pelayan, tuan muda meminta non Clara ke kamar nya," tiba-tiba seorang pelayan lain datang menghampiri Clara dan kepala pelayan.
Ya, ternyata yang melayani dan membuka pintu hari ini ternyata adalah kepala pelayan di rumah Linus.
Tidak tau seberapa banyak pelayan di dalam rumah tersebut namun Clara tidak lah kaget dengan hal ini, karena di rumah nya saja sang papa mempekerjakan lima orang pelayan dengan pekerjaan masing-masing.
"Baik lah, aku ke kamar Linus dulu," lirih Clara sedikit cangung sebelum kemudian menaiki tangga menuju lantai atas untuk pergi ke kamar Linus.
"Kepala pelayan, baru kali ini tuan muda membawa seorang wanita dan dengan bebas wanita itu bisa masuk ke kamar nya, sebelumnya non Rena tidak pernah mendapat perlakuan seperti ini," bisik pelayan tadi kepada kepala pelayan.
"Diam lah, dia gadis berbeda dan aku lihat dia jauh lebih berharga dari non Rena, dia juga bukan anak dari orang semabrangan, lakukan pekerjaan kalian dan jangan sembarangan mengosip," kepala pelayan segera meninggalkan bawahan nya yang hobi mengosip itu.
Sementara itu di kamar Linus ...
Tok ... Tok ... Tok ...
Clara mengetuk pintu kamar Linus beberapa kali.
"Masuk aja gak di kunci," terdengar suara Linus dari dalam kamar.
Clara pun memegang gagang pintu kamar tersebut dan sedikit mendorong nya.
Ketika pintu kamar terbuka, terlihat Linus yang baru saja keluar dari kamar mandi, tubuhnya hanya di balut handuk sepingang, itu artinya kaki dan seluruh badan terekspos.
"Aaaaaaaa!" Clara dengan cepat berteriak karena kaget,ini pertama kali nya dia melihat seorang lelaki bertelanjang dada secara real di depan mata.
Biasanya ia hanya menonton para idolanya ya itu aktor Korea di dalam ponsel.
Linus segera menarik nya dan menutup mulut Clara dengan tangan kirinya.
"Diam gak Lo? Lo mau bikin semua orang ngira gue ngelakuin sesuatu sama Lo apa?" marah dan memelototi Clara.
Clara melepaskan tangan Linus dari mulut nya." Lo gila ya!? Ngapain suruh gue masuk kamar sedangkan Lo masih pake handuk gini!?" Ia bicara dengan mata yang terpejam.
Linus yang melihat tingkah lucu Clara hanya bisa tersenyum kecil, rasanya sungguh puas melihat gadis itu ketakutan.
"Ya karena gue gak bisa pasang baju, makanya suruh Lo masuk ke sini biar bantuin tadi aja gue udah berjuang keras buat mandi sendiri masih untung gue gak nunguin Lo buat mandiin gue," crocos Linus.
"Idih! Amit-amit cabang monyet lah ya, gue gak bakal bantuin Lo mandi sekalipun Lo gak bisa jalan!" umpat Clara dengan mata yang masih di tutup mengunakan kedua tangan nya.
Gadis itu cukup cantik pagi ini, dengan seragam sekolah nya yang ngepas membuat Linus berusaha untuk menahan diri sebagai seorang laki-laki ia tentu merasakan gejolak berbeda saat berduaan di dalam kamar dengan perempuan cantik.
"Lo mau tutup mata sampai kapan? Lagian udah di lihat jugak, buruan ambilin seragam sekolah gue di dalam lemari abis itu bantuin pijit tangan gue sama obat yang di kasih dokter, kalau Lo lelet kita bakal sama-sama telat ke sekolah dan bakal di hukum," omel Linus sambil berjalan mendekati ranjang dan kemudian duduk di tepian nya.
Kesal ya memang kesal, rasanya ingin sekali Clara memukuli Linus hingga pingsan, namun mau bagaimana lagi ia sudah menyetujui permintaan Linus.
Clara membuka matanya, namun ia langsung memalingkan wajah dan kemudian berjalan ke arah lemari pakaian Linus.
Namun saat tangan nya membuka lemari pakaian tersebut, seekor kecoa tiba-tiba keluar dari dalam lemari dan jatuh tepat di kaki nya.
"Astaga kecoa!" Clara panik dan kembali menjerit ia benar-benar fobia akan serangga yang bernama kecoa.
Sangking paniknya Clara berlari menghampiri Linus yang duduk di tepi ranjang sambil menghentakkan kakinya ke lantai di sertai jeritan geli yang mengema.
Brukh ...
Kejadian kedua kembali terulang, di mana kini Clara lah yang jatuh tepat di atas badan Linus.
Namun kali ini Clara lah yang berada di atas dan kedua tangan nya bertumpu di dada bidang Linus, sekali lagi dua pasang mata itu kembali bertemu.
Namun saat ini Linus merasa kalau tatapan itu benar-benar tidak asing, ia melihat wajah Cery di dalam wajah cantik Clara ketika lebih dekat itu bahkan lebih mirip, bibir merah Cery milik Clara sama persis dengan bibir nya Cery.
Jantung kedua segera perpacu begitu kencang.
"Ma-maaf, ada ... Tadi ada kecoak!" Clara menyadari bahwa posisi ini sangat tidak nyaman apalagi Linus tangan nya sedang sakit, ia segera hendak bangkit dari tubuh Linus.
Namun dengan cepat Linus menarik pinggang Clara mengunakan tangan kirinya, yang namanya laki-laki tenaganya pasti lebih besar dari perempuan, hal ini membuat Clara kembali terjatuh ke dalam pelukan Linus.
"Kenapa buru-buru bangun? Gak ngerasain sesuatu dulu?" ujar Linus dengan tatapan nakalnya.
Clara bingung dan berusaha bangkit, namun tangan Linus melingkar sempurna di pinggang ramping nya.
"Linus lepasin, lepasin gue, gimana kalau ada yang masuk?" tanya Clara risih ia terus berusaha mendorong Linus dan bangkit.
"Siapa yang masuk? Gak bakal ada, gue cuma pengen Lo ngerasain apa itu besar dan gak lepek," bisik Linus ke kuping Clara.
Clara seketika kembali terdiam, ia tidak menyangka kalau Linus akan melakukan hal itu dan benar-benar berfikir kalau ucapan Clara tadi malam lalu malah berniat untuk membuktikan nya.
"Lo, Lo beneran mesum ya ternyata!" Clara memukuli dada bidang Linus dan kemudian menekan tangan kanan Linus yang sakit.
Membuat Linus meringis dan melepaskan tangan nya dari pinggang Clara. Segera saja Clara bangkit dan merapikan pakaian nya.
"Arghhh! Sakit Clara!" ringis Linus sambil memegang tangan nya yang terasa berdenyut sekarang.
"Mampus aja sekalian! Lo sengaja kan taruh kecoa di dalam lemari biar bisa ngerjain gue? Iya kan?" Clara memarahi Linus namun masih merasa trauma akan lemari pakaian itu.
"Siapa bilang gue yang sengaja, kurang kerjaan banget kalau gue sampai kayak gitu, lagian Lo salah buka, lemarinya tu yang di sebelah sana bukan yang itu," benar perkataan Linus, lemari di dalam kamar nya ada tiga buah, yang masing-masing khusus untuk pakaian sekolah dan pakaian jalan-jalan lalu satunya lagi khusus untuk menghadiri pesta atau acara penting.
Ya namanya juga orang kaya tidak salah membuat tempat pakaian berbeda, karena yang di buka Clara adalah lemari pakaian khusus menghadiri pesta, makanya ada kecoa itu jarang di buka oleh Linus karena ia juga tidak suka menghadiri acara apapun seperti kedua orang tua nya.
"Ngeselin banget, bilang kek dari tadi," Clara segera pergi ke arah lemari pakaian sekolah dan kemudian mengambil satu stelan untuk hari ini.
Setelah selesai membantu Linus mengunakan baju dan mengobati tangan nya serta memasang kembali gendongan tangan tersebut, Clara pun keluar dari kamar Linus.
"Gue tunggu di bawah! Cepetan!" sambil menuruni anak tangga, Clara berteriak menyuruh Linus yang sedang menggunakan celana di dalam kamar agar segera turun karena jam sudah menujukkan pukul tujuh tepat.
"Bisannya teriak-teriak doang, gak tau apa gue susah banget make celana sialan ini," umpat Linus.
Sepuluh menit pun berlalu, kini Linus dan Clara sudah berada di dalam mobil Clara.
"Lo bisa gak sih bawa mobil cepetan sedikit kita udah hampir telat tau gak?" Baru saja sebentar suasana mulai hening, Linus kembali membuka dialog lain.
"Lo gila ya? Di depan macet banget, Lo juga gak bisa nyalahin gue, kan lo sendiri yang bikin kita jadi telat," Clara tak mau kalah dengan Linus.
"Iya-iya gue yang salah iya, tapi gini-gini kan gue sakit gara-gara Lo,"
Clara melirik Linus dengan lirikan mematikan, membuat laki-laki itu tak lagi berani bicara ia lebih memilih menutupi mulutnya dan mengalihkan pandangan ke arah lain.
Jam menujukkan pukul delapan Clara dan Linus baru saja tiba di sekolah setelah berjuang melewati kemacetan di pagi hari.
"Akhirnya sampai juga," ujar Clara lega sambil menyeka keringat nya yang sama sekali tidak ada.
"Bawain tas gue dan anterin gue ke kelas," perintah Linus sambil menujuk tas nya yang masih berada di dalam mobil.
"Enak banget ya hidup Lo, Lo gak liat sekarang sekolah udah sesepi kuburan nenek moyang Lo, mereka semua udah masuk dan kita terlambat!" geram Clara sambil mengepalkan tangannya.
Linus melihat ke arah kelasnya dan kelas Clara, memang ini sudah jam delapan dan jelas saja sekolah sudah bel, dan sudah waktunya belajar.
"Terus gimana dong?" ujar Linus malah ikut bingung.
"Lo gak bakal di hukum kalau sekarang Lo masuk ke kelas sendiri, karena Lo sakit dan guru bakal maklumin Lo, tapi gak dengan gue, gue bakal di hukum pastinya," wajah Clara terlihat sangat malas ketika menjelaskan kepada Linus kalau ia pasti akan di hukum di lapangan sekolah.
Linus yang melihat cuaca panas hari ini tidak tega kalau harus melihat Clara di hukum.
Tanpa banyak basa-basi lagi ia memegang tangan Clara dan menarik nya menuju kantin sekolah.
"Lah kok ke kantin? Lo gak masuk kelas?"
"Udahlah daripada Lo di hukum gue punya cara biar Lo gak di hukum ya itu gak perlu masuk kelas atau ketemu guru,"
Dengan santainya Linus kini masuk ke dalam kantin bersama Clara ia memesan dua mangkok mie ayam kepada pemilik kantin dan kemudian duduk berhadapan di meja pojok kantin.
"Huh, gini gak apa-apa kan?" ujar nya terlihat lega.
Clara menatap Linus, ia tidak menyangka kalau Linus yang jahil itu punya rasa empati kepada dirinya.
"Ngapain Lo bantuin gue?" rasa penasaran Clara membuat nya bertanya.
"Gue gak bantuin Lo kok, kan gue lagi sakit dan Lo itu perawat gue, jadi kalau hari ini Lo di hukum terus pingsan dan sakit siapa dong yang bakal ngerawat gue, lagian gue juga laper banget, gak sempat makan karena buru-buru," jelas Linus tersenyum tipis.
Clara kembali merasakan rasa kesal karena sudah berfikir kalau Linus itu manusia yang punya empati, ternyata apa yang dia lakukan selalu demi dirinya sendiri.
Satu jam berlalu, kini bel istirahat sudah berdering, seluruh siswa dan siswi bergegas keluar dari kelas masing-masing menuju kantin untuk melepaskan rasa lapar ya g telah menggerogoti perut mereka selama jam pelajaran.
Namun Clara dan Linus telah selesai makan, mereka benar-benar bebas dari hukuman meskipun harus bolos di jam pelajaran pertama.
Clara meninggalkan Linus setelah mengantarkan tas nya ke dalam kelas.
Namun dalam perjalanan kembali ke kelasnya ia bertemu dengan Rena yang ternyata sudah mengawasi mereka sejak tadi.
"Clara, tunggu!" ucap Rena yang kemudian menghadang perjalanan Clara.
"Ada apa?" tanya Clara singkat.
"Lo kayak gini ke Linus cuma takut temen-temen ngerasa kalau Lo gak tau terima kasih kan? Lo pikir ini cukup? Dia sampai gak bisa gerakin tangan kanannya gara-gara Lo doang," seperti biasanya Rena selalu mencari masalah karena rasa irinya yang tidak bisa ia tahan.
"Lah, terus kenapa? Bukan nya kemarin Lo yang nyuruh gue buat tangung jawab? Sekarang gue udah tangung jawab, gue juga bakal ngerawat dia sampai sembuh, jadi Lo tenang aja dan jangan khawatir banget ya, kakak ketua OSIS," Clara dengan santainya menekan kata tanggung jawab di hadapan Rena dan kemudian berlalu pergi.
Rena seketika bungkam, tidak tau harus bicara apa lagi saat ini, kata-kata Clara ada benarnya kemarin dirinya yang meminta Clara agar bertanggung jawab dengan keadaan Linus.
"Sial! Gue harus lakuin sesuatu," umpat Rena berbalik dan seketika kaget mendapati Della yang ada di belakang nya.
"Apa? Mau lakuin apa? Gue mau lihat Lo bisa apa sekarang," Della tersenyum miring sambil menikmati cemilan yang ada di tangan nya.
"Della, ngapain Lo nguping di sini?" Rena menuding Della.
"Upss, kenapa? Lo takut ya? Bukan nya kemarin Lo sendiri yang minta Clara buat tangung jawab? Sekarang gue udah bantuin Lo bikin Clara tanggung jawab seharusnya Lo seneng dong sekarang," tersenyum sambil menyingkirkan telunjuk Rena dari hadapan nya.
"Lo, oh jadi Lo yang bikin semuanya jadi gini? Lo yaang buat dia jadi perawat Linus? Licik Lo, awas aja," Rena yang kesal memilih pergi, tidak ada gunanya untuk melawan Della dan teman-temannya sekarang.
Sementara itu Della tersenyum lega, ia lah yang mengirimkan pesan kepada Linus, mengatakan untuk memanfaatkan kesempatan ini agar bisa mendekati Clara dan cari tau siapa dia sebenarnya.
Sedangkan dirinya kini akan terus mencoba untuk mendekati Raja sang pujaan hati, Della benar-benar tidak pernah menyerah sedikitpun.
Sementara itu di kelas Linus.
"Seneg ya, Lo bisa manfaatin rasa bersalah Clara buat bikin dia jadi babu Lo," sindir Raja kepada Linus.
"Gue sama sekali gak ada niatan buat itu," Linus meletakkan buku yang ada di tangan nya kemudian menatap Raja.
"Gak ada niat? Sekarang dia jadi perawat Lo karena dia ngerasa bersalah, dan Lo harus tau, Lo gak boleh macem-macem sama dia, karena dia ..." Raja mengantungkan kalimat nya.
"Iya gue tau dia cewe Lo, tapi dia mau ngerawat gue, gue gak macem-macem kok, tapi sekarang gue juga gak lupa kalau lu ngutang penjelasan sama gue," ujar Linus yang kemudian berdiri dari duduknya.
Kini keduanya saling berhadapan satu sama lain, Linus dan Raja mereka terlihat sama-sama menatap tajam.
"Maksud Lo?" Raja tidak mengerti akan apa yang di ucapkan Linus.
Pertama dia sedikit bahagia karena Clara sudah mengatakan apa yang dia katakan kemarin agar mengatakan kalau mereka pacaran di hadapan Linus, kedua yang membuat Raja bingung adalah hutang penjelasan yang di katakan Linus.
"Kenapa Bastian bisa jadi kapten basket SMA Sekar Harum? Bukan nya Lo bilang dia sekolah di luar negri? Kalau kayak gini sampai kapanpun kita gak bakal menang lawan mereka Raja Lo sebagai sepupunya gak mungkin gak tau soal ini," Linus menekan telujuk nya di dada samping Raja beberapa kali.
Raja terdiam, jujur ia juga kaget, tapi setelah makan bersama dengan Bastian di kantin kemarin ia tau kenapa Bastian bisa jadi ketua tim basket Sekar Harum.
"Soal itu di luar dugaan gue, Bastian bilang kalau orang tuanya memindahkan dia ke sekolah Mawar Mekar dengan alasan yang tidak bisa di jelaskan, mungkin seterusnya kelaurga mereka akan tinggal di kota ini karena itu Bastian tidak lagi sekolah di sekolah luar negeri," jelas Raja panjang lebar.
Linus semakin kesal mendengar ucapan Raja, ia tidak ingin terus menerus berdebat dan akan menimbulkan perkelahian, ia pun memilih pergi dari kelas karena mau meributkan soal Bastian dengan Raja itu tidak mungkin, toh Raja juga bukan bapak nya Bastian yang bisa berkuasa mengurus kehidupan Bastian.
Singkat cerita seminggu pun telah berlalu.
Hari ini sekolah mengadakan rapat guru, jadi seluruh siswa dan siswi di pulangkan tepat pukul sepuluh.
Terlihat Clara yang menunggu Linus di parkiran sekolah, setelah Linus masuk ke dalam mobil mereka pun segera meninggalkan sekolah untuk pulang seperti yang lainnya.
"Habis nganterin Lo gue langsung pulang, soalnya ada urusan penting," ujar Clara sambil fokus mengemudi mobil nya.
"Pulang? Gak Lo gak boleh pulang, tangan gue masih sakit orang tua gue juga belum balik kan Lo biasanya balik malam," ujar Linus yang saat ini sudah terlalu lengket dengan Clara.
"Gua mau jemput ortu ke bandara," singkat padat dan jelas jawaban Clara untuk Linus.
"Ortu ke bandara? Emang sejak kapan ortu Lo gak ada di rumah?" bingung Linus.
"Mereka bulan madu ke luar negeri sekaligus ngurus bisnis nyokap tiri gue,"
Mendengar nyokap tiri, Linus sedikit bingung hal ini mendorong dirinya untuk bertanya lebih jauh tentang kelaurga Clara.
"Kalau boleh tau, mama kandung Lo ke mana? Kok bisa Lo punya mama tiri," Linus dengan hati-hati bertanya agar tidak menyakiti hati Clara.
"Mama gue? Dia ninggalin gue pas umur gue delapan tahun, saat itu papa gue bangkrut dan kata papa, mama gak mau hidup miskin dan lari sama laki-laki kaya," cerita Clara di wajahnya terukir senyum yang menyimpang seribu luka.
Linus melihat senyum tipis Clara setelah menceritakan cerita singkat itu, ia merasa bersalah sudah lancang bertanya.
"Maafin gue udah bikin Lo ingat sama masa lalu buruk itu,"
"Gak apa-apa, bahkan gue bahagia kok, karena akhirnya gue dapet mama tiri yang baik kayak Tante Tara," ujar Clara tampa menoleh ke arah Linus.
"Tara? Mama tiri Lo namanya Tara?" Linus yang mendengar nama tak asing itu segera reflek dan sedikit kaget.
Clara tiba-tiba memberhentikan mobilnya secara mendadak, membuat perhatian Linus teralihkan, sejujurnya Clara terlalu larut sampai salah bicara dan mengatakan nama mama tiri nya yang jelas-jelas di kenali oleh Linus.
"Astaga Lo mau bikin kepala gue pecah ya? Kemarin tangan sekarang kepala? Aduh sakit banget," Linus menggosok kepala yang kejedot di mobil.
"Ya maaf, sangking asiknya ngobrol jadi hampir ngelewatin rumah Lo," Clara tersenyum cangung karena mendapat marah dari Linus.
"Yaudah lah, gue turun sekarang," Linus yang kesal terlihat ngambek dan segera keluar dari mobil.
"Gue pulang sekarang ya," ujar Clara sambil melambaikan tangan nya.
Ia segera pergi dari sana tampa menunggu jawaban dari Linus, setelah melambaikan tangan.
"Gue belum bilang-bilang apa-apa udah pergi aja, eh tunggu Tara, Tante Tara? Mama tiri Clara namanya Tante Tara, gue harus kasih tau Della," iya gue harus ketemu Della malam ini," segera saja Linus masuk ke dalam rumah nya ia mendapat satu celah sekarang.
Sementara itu di sisi lain ...
"Mas, makasih ya udah bantuin aku ngurus bisnis ini, kalau gak mungkin gak bakal selesai secepat ini," uajar mama Tara kepada papa Tian.
Saat ini mereka masih berada di dalam pesawat menuju kota Jakarta, dan mereka akan tiba sekitaran pukul delapan nanti malam.
"Gak usah terima kasih, sekarang kita suami istri, cukup kamu mencintai ku dan menyayangi Clara kita akan bahagia selamanya," ujar Tian yang sangat bucin kepada sang istri.
Mama Tara tersenyum manis mendengar ucapan papa Tian, namun ia penasaran dengan cerita masa lalu istri pertama Tian dan ingin tau bagaimana mereka bisa berpisah. Yah namanya perempuan ya begitulah selalu penasaran namun lebih baik laki-laki nya jujur daripada bohong mereka akan lebih sakit hati.
Bersambung ....