Di Desa Karang Jati, menikah bukan soal cinta, tapi soal siapa yang terpilih untuk "menjaga" desa. Tahun ini, Kinasih—gadis panti asuhan yang tak punya siapa-siapa—mendapat kehormatan yang paling ditakuti: menjadi Pengantin Keranda.
Kinasih pikir ia akan dipasangkan dengan pemuda desa, namun impian itu hancur saat ia dipaksa bersanding dengan sebuah keranda kayu jati yang konon berisi jasad "Sang Penjaga" yang tak boleh disebut namanya. Dengan balutan kebaya merah darah yang mulai pudar, Kinasih harus menjalani ritual malam satu suro; terkunci di dalam kamar pengantin yang hanya berisi dirinya dan keranda tua yang sesekali mengeluarkan suara ketukan dari dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Waktu Yang Tidak Berjalan
Pukul 05.17.
Lagi.
Tidak berubah.
Tidak maju.
Tidak mundur.
Seolah waktu benar-benar… terkunci.
Kinasih berdiri di tengah kamar.
Dikelilingi mereka.
Puluhan.
Mungkin lebih.
Perempuan-perempuan dengan gaun putih itu kini tidak lagi samar.
Mereka jelas.
Terlalu jelas.
Kulit mereka pucat… tapi bukan pucat biasa.
Seperti lilin yang hampir meleleh.
Beberapa wajah retak.
Beberapa… seperti dijahit.
Dan mata mereka—
tidak berkedip.
Sama sekali.
Mengarah ke satu titik.
Ke Kinasih.
Tidak ada suara.
Tidak ada gerakan.
Namun justru itu yang membuat semuanya terasa… lebih salah.
Lebih mengerikan.
Kinasih tidak berani bergerak.
Napasnya pelan.
Terlalu pelan.
Takut kalau suara napasnya saja bisa memicu sesuatu.
Namun—
salah satu dari mereka bergerak.
Pelan.
Kepalanya miring.
“Sudah waktunya…” bisiknya.
Lalu yang lain ikut.
“Sudah waktunya…”
“Sudah waktunya…”
“Sudah waktunya…”
Suara itu tidak keras.
Tidak berteriak.
Namun justru karena itu—
masuk.
Masuk ke dalam kepala.
Menggema.
Menghantam.
Kinasih menutup telinganya.
“Berhenti… tolong berhenti…”
Namun—
mereka tidak berhenti.
Sebaliknya—
mereka mulai melangkah.
Bukan berjalan.
Meluncur.
Perlahan.
Mengelilinginya lebih rapat.
Lebih dekat.
Lebih… menekan.
Kinasih mundur.
Selangkah.
Dua langkah.
Namun—
tidak ada ruang.
Mereka sudah menutup semua arah.
Salah satu dari mereka kini tepat di depannya.
Wajahnya sangat dekat.
Terlalu dekat.
Kulitnya pecah.
Dan dari retakan itu—
keluar sesuatu.
Hitam.
Bergerak.
Seperti cacing.
Kinasih menahan muntah.
“Tolong…” suaranya pecah.
Perempuan itu tersenyum.
Mulutnya terbuka terlalu lebar.
Tidak normal.
“Gantikan aku…”
Dan tiba-tiba—
tangannya terangkat.
Menyentuh pipi Kinasih.
Dingin.
Namun—
tidak padat.
Seperti menyentuh sesuatu yang setengah cair.
Dan saat itu—
semua berubah.
Kinasih tidak lagi di kamar.
Ia berdiri di lorong panjang.
Sangat panjang.
Gelap.
Namun ada cahaya redup dari lampu-lampu tua di langit-langit.
Lampunya bergoyang.
Krek…
Krek…
Setiap ayunan mengeluarkan suara.
Seperti tali yang hampir putus.
Dindingnya…
kotor.
Lembap.
Penuh noda hitam.
Seperti bekas tangan.
Banyak.
Terlalu banyak.
Kinasih menelan ludah.
“K… ke mana ini…”
Tidak ada jawaban.
Hanya suara langkahnya sendiri.
Namun—
beberapa detik kemudian—
ia sadar.
Langkah itu…
bukan satu.
Dua.
Tiga.
Empat.
Seperti ada yang berjalan…
bersamanya.
Namun saat ia menoleh—
tidak ada siapa-siapa.
“Jangan lihat ke belakang…”
Suara itu muncul.
Pelan.
Di telinganya.
Kinasih membeku.
Itu suara Bima.
Namun—
lebih lemah.
Lebih jauh.
Seperti datang dari tempat yang… sangat dalam.
“Bim…?”
“Jangan lihat ke belakang…”
“Kenapa—”
“LARI.”
Sekejap—
lampu di lorong mati.
Semuanya.
Gelap total.
Dan dalam kegelapan itu—
suara langkah berubah.
Menjadi—
lari.
Banyak.
Dari belakang.
Mengejar.
Kinasih menjerit dan langsung berlari.
Tanpa berpikir.
Tanpa melihat.
Hanya lari.
Namun—
lorong itu tidak ada ujungnya.
Ia terus berlari.
Dan suara di belakangnya—
semakin dekat.
Semakin keras.
Dan sesuatu…
menyentuh punggungnya.
Dingin.
Kinasih berteriak.
Ia mempercepat langkahnya.
Namun tiba-tiba—
ia menabrak sesuatu.
BRAK!
Tubuhnya terpental.
Ia jatuh ke lantai.
Lampu menyala lagi.
Dan—
ia melihat.
Di depannya—
pintu.
Tua.
Kayu lapuk.
Dengan tulisan—
“RUANG PENGANTIN”
Pintu itu terbuka sedikit.
Gelap di dalamnya.
Namun—
ada suara.
Tangisan.
Pelan.
Seperti seseorang yang… menyerah.
Kinasih menatapnya.
Ragu.
Namun—
langkah di belakangnya masih terdengar.
Semakin dekat.
Ia tidak punya pilihan.
Dengan tangan gemetar—
ia mendorong pintu itu.Kriiiiiiik…
Pintu terbuka.
Dan ia masuk.
Pintu langsung tertutup sendiri.
BRAK!
Sunyi.
Kinasih berdiri diam.
Matanya menyesuaikan dengan gelap.
Perlahan—
ia bisa melihat.
Ruangan itu luas.
Namun kosong.
Hanya ada—
kursi di tengah.
Dan di kursi itu—
seseorang duduk.
Membelakangi.
Memakai gaun putih.
Kinasih menelan ludah.
“Halo…?”
Tidak ada jawaban.
Perempuan itu tidak bergerak.
Namun—
tangannya terlihat.
Bertumpu di paha.
Dan jari-jarinya…
tidak lengkap.
Beberapa hilang.
Beberapa… seperti digigit.
Kinasih mundur satu langkah.
Namun—
pintu di belakangnya hilang.
Digantikan dinding.
Ia terjebak.
Perlahan—
perempuan itu bergerak.
Kepalanya menoleh.
Pelan.
Dan saat wajahnya terlihat—
Kinasih menjerit.
Itu—
dirinya sendiri.
Namun—
hancur.
Mata kirinya kosong.
Kulitnya robek.
Dan mulutnya…
dijahit.
Namun jahitan itu—
terbuka sedikit.
Dan dari celah itu—
keluar suara.
“Lari… selama kamu masih bisa…”
Kinasih gemetar.
“A… aku…”
“Dia akan mengambilmu…”
Suara itu terputus-putus.
Seperti sulit keluar.
“Siapa…?”
Perempuan itu tersenyum.
Jahitannya… robek.
Darah hitam mengalir.
“Yang memilih…”
Tiba-tiba—
suara ketukan terdengar.
Tok.
Tok.
Tok.
Dari dalam dinding.
Kinasih menoleh.
Dan—
dinding itu bergerak.
Seperti bernapas.
Mengembang.
Menyusut.
Dan dari dalam—
tangan keluar.
Banyak.
Mendorong.
Mencakar.
Berusaha keluar.
“Kami terjebak…”
bisik suara-suara itu.
“Terlalu lama…”
“Terlalu gelap…”
“Kami ingin keluar…”
Tangan-tangan itu mulai meraih Kinasih.
Menarik gaunnya.
Kulitnya.
Rambutnya.
“Tidak!!!”
Ia berusaha melepaskan diri.
Namun—
terlambat.
Dinding itu pecah.
Dan mereka keluar.
Puluhan.
Tubuh setengah hancur.
Wajah rusak.
Namun mata mereka—
hidup.
Penuh harapan.
Penuh… keputusasaan.
“Gantikan kami…”
“Gantikan kami…”
“Gantikan kami…”
Mereka menarik Kinasih.
Ke tengah ruangan.
Ke kursi itu.
Kursi pengantin.
“Duduk…”
“Duduk…”
“DUDUK!”
Dalam satu dorongan—
Kinasih jatuh di kursi itu.
Dan saat ia duduk—
tangannya langsung terikat.
Sendiri.
Dengan sesuatu yang tidak terlihat.
Ia berteriak.
Berusaha lepas.
Namun—
tidak bisa.
Perempuan-perempuan itu mengelilinginya.
Lebih dekat.
Lebih rapat.
Dan satu per satu—
mereka mulai… tersenyum.
Namun senyum itu—
penuh rasa sakit.
Penuh luka.
Penuh… kematian.
“Upacara dimulai…”
bisik salah satu dari mereka.
Tiba-tiba—
ruangan berubah.
Lampu menyala.
Terang.
Namun—
warna cahayanya merah.
Seperti darah.
Dan di depan Kinasih—
muncul altar.
Tua.
Kotor.
Di atasnya—
ada sesuatu.
Kain putih.
Menutupi.
Dan perlahan—
kain itu bergerak.
Seperti ada sesuatu di bawahnya.
Bergerak.
Bernafas.
“Pengantin pria…”
bisik suara itu.
Kinasih membeku.
“Tidak…”
Kain itu terangkat.
Pelan.
Dan—
yang ada di bawahnya—
adalah Bima.
Namun—
tidak utuh.
Tubuhnya penuh tanah.
Mulutnya terbuka.
Matanya kosong.
Dan lehernya—
terpotong setengah.
Namun—
ia masih bergerak.
Masih hidup.
Masih… melihat.
“Kinasih…”
Suaranya keluar.
Pelan.
Serak.
“Jangan…”
Air mata Kinasih jatuh.
“Bim… maaf… maaf…”
Perempuan itu muncul lagi.
Di samping altar.
Tersenyum.
Lebih lebar dari sebelumnya.
“Kamu lihat?” katanya pelan.
“Semua yang kamu sayang…”
“Bisa ikut…”
Ia mengelus kepala Bima.
Seperti boneka.
“Selama kamu belum menerima…”
Kinasih menatapnya.
Matanya penuh air.
Namun—
tidak lagi hanya takut.
Ada sesuatu yang lain.
Marah.
“Kalau aku menolak…?”
Perempuan itu tertawa.
Kali ini—
keras.
Menggema.
Mengerikan.
“Maka semuanya… akan terus berulang.”
Ia menunjuk ke sekitar.
Dan Kinasih melihat—
semua perempuan itu.
Semua korban.
Semua pengantin gagal.
Mereka menatapnya.
Dengan mata kosong.
Namun—
air mata hitam mengalir dari mata mereka.
“Kami juga menolak…”
bisik salah satu.
“Dan lihat kami…”
Kinasih menggigit bibirnya.
Ia menatap Bima.
Lalu—
koin itu.
Tiba-tiba muncul lagi.
Di tangannya.
Padahal tadi—
tidak ada.
Retakannya kini lebih besar.
Dan dari dalamnya—
sesuatu bergerak.
Seperti mata.
Membuka.
Menatapnya.
“Kunci…” bisik suara itu.
“Pintu…”
Kinasih menggenggamnya.
Kuat.
Dan untuk sesaat—
semuanya hening.
Semua mata tertuju padanya.
Menunggu.
“Kalau aku hancurkan ini…?”
Perempuan itu langsung berubah.
Senyumnya hilang.
Matanya—
tajam.
“Jangan.”
Untuk pertama kalinya—
ada nada takut di suaranya.
“Kenapa…?” bisik Kinasih.
Sunyi.
Tidak ada jawaban.
Namun itu sudah cukup.
Kinasih tersenyum tipis.
Dengan sisa keberanian yang ia punya—
ia mengangkat koin itu.
Dan—
menghantamkannya ke lantai.
KRAK!
Suara retakan keras.
Namun—
koin itu tidak pecah.
Sebaliknya—
sesuatu keluar.
Cepat.
Hitam.
Dan—
masuk ke tubuh Kinasih.
Ia menjerit.
Tubuhnya melengkung.
Matanya membesar.
Dan dalam sekejap—
ia melihat.
Segalanya.
Semua korban.
Semua kematian.
Semua rasa sakit.
Semua… dalam satu waktu.
“AAAAAA!!!”
Tubuhnya jatuh dari kursi.
Namun—
tali itu hilang.
Ia bebas.
Namun—
tidak sepenuhnya.
Karena sesuatu itu—
masih di dalamnya.
Suara-suara itu kini—
berada di kepalanya.
Lebih jelas.
Lebih nyata.
“Kami di sini…”
“Kami tidak pergi…”
“Kami bagian dari kamu…”
Kinasih terengah.
Namun—
ia berdiri.
Perlahan.
Menatap perempuan itu.
Yang kini—
mundur.
Sedikit.
“Kamu… apa yang kamu lakukan…”
Kinasih tersenyum.
Namun—
senyumnya tidak sepenuhnya miliknya.
“Kamu bilang aku pintu…”
katanya pelan.
“Sekarang… aku yang pegang kuncinya.”
Ruangan mulai bergetar.
Retak.
Hancur.
Dan perempuan itu—
untuk pertama kalinya—
terlihat panik.
“Berhenti… kamu tidak tahu—”
“Memang.”
Kinasih melangkah maju.
Setiap langkah—
lantai retak.
Kabut keluar.
“Makanya aku akan cari tahu…”
Matanya berubah.
Sedikit lebih gelap.
Sedikit… bukan dirinya.
“Dari dalam.”
Dan dalam satu detik—
semuanya runtuh.
Gelap.
Total.
Kinasih terbangun.
Terengah.
Di kamarnya.
Pukul 05.17.
Namun—
ada yang berbeda.
Ia duduk perlahan.
Napasnya berat.
Kepalanya terasa… penuh.
Terlalu penuh.
Seperti ada banyak suara… diam di dalamnya.
Menunggu.
Koin itu—
tidak ada.
Namun—
di telapak tangannya—
ada bekas.
Retakan.
Seperti koin itu…
berpindah.
Ke dalam.
Kinasih menatap cermin.
Dan untuk beberapa detik—
tidak terjadi apa-apa.
Lalu—
pantulannya tersenyum.
Pelan.
Padahal—
ia tidak.
Dan suara itu—
muncul lagi.
Namun kali ini—
bukan dari luar.
Dari dalam dirinya.
“Sekarang…”
“Giliran kita…”