Seorang pria remaja mendapatkan kekuatan dari aura ghaib Putri Mahkota Bangsa Iblis. Yang membuat perubahan seratus delapan puluh derajat dari kehidupan sebelum nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kend 13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Guru BK yang Amat Galak
"Kak! Kayaknya gue ntar pulang nya telat deh. Jadi nggak bisa jemput lu." Ucap Jay setelah sambungan telefon terhubung pada ponsel Shiva. Pemuda itu kini berada di kantin sambil menikmati sebatang rokok dan di temani segelas kopi hitam yang masih mengepul di atas meja.
"Sampe jam berapa emangnya?" Tanya Shiva di seberang telefon.
"Mungkin sekitar jam tigaan kak." Jawab Jay memperkirakan waktu menyelesaikan hukuman di sekolah untuk membersihkan semua kamar mandi di sekolah tersebut.
"Nggak biasanya lu pulang telat," Timpal Shiva curiga akan gelagat sepupunya itu.
"ehm anu kak. Gue, gue dapet jatah bersihin semua kamar mandi di sekolah." Jay cengengesan menimpali perkataan Shiva. Merasa malu untuk berkata jujur.
"Hahaha." Di seberang telefon, Shiva tertawa ngakak, sudah memperkirakan mengapa hal itu terjadi. "Lu dihukum?" Tuding nya dengan nada menggoda.
"I-iyah." Jay membenarkan ucapan Shiva dengan jujur. Percuma untuk berbohong, toh sepupunya itu juga alumni SMA ini. Jadi, sedikit banyak nya gadis itu pasti tau peraturan di sekolah.
"Ya udah, nggak apa-apa. Kebetulan gue pulang nya juga jam tigaan." Balas Shiva setelah meredakan cekikikan nya. "Sebagai seorang kekasih, ntar lu tetap jemput gue, kan?" Imbuhnya kembali dengan rengekan manja.
"Iya deh kalau emang lu pulang nya jam tigaan, ntar gue jemput lu, kak." Jay menjeda ucapan nya. Pemuda itu mematikan puntung rokok nya kedalam asbak, lalu menyeruput kopi nya yang hanya tinggal setengah nya saja, karena abis di teguk Tomi sebelum nya. "Gue tutup telfon nya yah, udah mau masuk ini." Lanjut nya pada Shiva di seberang telefon yang masih menunggu perkataan Jay.
"oke sayang, gue juga mau masuk nih. Yang semangat yah belajar nya. Mmmuach!" Ucap Shiva yang juga ingin segera mengakhiri sambungan telefon itu sembari memberi kan ciuman jarak jauh.
Jay menutup sambungan panggilannya pada Shiva, lalu memasukkan ponselnya kedalam saku celana nya.
"Sepertinya lu udah akur sama Kak Shiva?" ucap Tomi menebak orang yang dihubungi Jay lewat ponsel tadi.
Jay mengangguk membenarkan ucapan teman nya itu. "Motor nya kemarin rusak, tadi pagi gue yang anterin nya ke kampus." Jay merenggang kan tangannya keatas, menggeliat kan otot-otot nya yang sudah terasa sedikit kaku.
Tomi menyipitkan mata nya, menatap Jay dengan pandangan yang sulit untuk diartikan. "Pantesan lu telat." Ucap nya menduga. "Gue belum punya duit buat jemput motor butut gue di bengkel, Jay." Lanjut nya dengan sedikit merasa bersalah telah menggunakan motor teman nya itu, padahal motor itu juga di butuhkan sang teman saat ini.
Jay terkekeh pelan. "Udah, santai aja. Lagian kang Evan juga nggak ada di bengkel untuk waktu yang sedikit lebih lama." Jay menepuk-nepuk bahu Tomi, agar pemuda itu tidak perlu merasa sungkan untuk menggunakan motor nya.
"Loh? Emang kenapa? Ada apa dengan bengkel kang Evan?" Tomi penasaran dengan ucapan Jay.
"Tadi, pas gue balik dari anterin kak Shiva, gue mampir di bengkel. Bengkel nya masih tutup. Trus gue telfon Kang Evan nya, katanya sekarang dia di kota sebelah. Ada kepentingan yang cukup lama sama saudara istri nya." Jay menjelaskan nya panjang lebar pada temannya itu. Agar dia tidak akan mempermasalahkan lagi tentang motor.
"Oh gitu? Berapa lama kira-kira Jay?" Tanya Tomi kembali. Menanyakan seberapa lama kang Evan akan balik lagi ke desanya.
"Katanya sih, sekitar sebulanan Tom. Itu pun sih, nggak pasti. Yang penting lu nggak usah mikirin tentang motor dulu. Asal lu rawat aja dengan benar, jangan lupa, ganti oli nya!" Ucap Jay mengingat kan temannya itu.
"Lu meremehkan gue tentang motor Jay! Sebelum lu kasih tau, tuh motor udah gua ganti oli nya dari awal gue bawa." Ucap Tomi sedikit kesal.
Jay terkekeh, menepuk pelan pundak temannya itu. "Iya, gue percaya. maka nya gue serahin tuh motor. Yok ke kelas! Sekarang kan jam pelajaran Janda kita yang manis." Jay menarik tubuh Tomi yang besar dengan sedikit paksaan.
Tomi yang di tarik itu pun terhuyung mengikuti Jay. "Janda? Emang guru baru itu janda?" Tanya nya mengikuti langkah Jay di koridor, setelah mereka keluar dari area kantin.
"Menurut gue begitu." Jawab Jay acuh tak acuh. Pandangan nya berkeliaran kesana kemari, melihat para siswa siswi lain nya yang mereka lalui sepanjang perjalanan mereka berdua.
"Tau dari mana lu anjir?" Bisik Tomi antusias. Suaranya begitu pelan, takut didengar oleh orang-orang disekitarnya.
Jay menghentikan langkah kaki nya tepat di depan pintu ruangan kelas nya. "Ada deh, kalau nggak percaya, tanya aja sendiri!" Jay mengulum senyum. Sambil menunjuk seseorang yang berjalan mendekati mereka dengan dagunya.
Tomi pun mengalihkan pandangannya ke arah yang di tunjukkan temannya itu. Dilihat nya Maya Andrea berjalan dengan melenggak lenggok kan pinggul nya. Guru bahasa Nasional itu terlihat sangat memukau hanya untuk sekedar di pandang.
Kali ini ada tambahan kandidat dalam keliaran nya untuk berfantasi. Sudah di putuskan, guru barunya itu adalah objek yang sempurna untuk memperlancar senam lima jarinya di kemudian hari.
"Jay!" Hardik Tomi, menyadari kalau temannya itu sudah santai di bangku tempat biasanya mereka duduk. Gegas dia pun sedikit berlari menyusul temannya itu.
"Berani nanya nggak?" Tanya Jay dengan senyuman mengejek.
"Nggak berani gue bro." Ucap Tomi sedikit gugup.
Jay tersenyum sinis melihat tingkah temannya nya itu yang sok nakal.
***
Tepat jam satu lewat lima belas menit, bel pertanda pulang pun berbunyi. Semua siswa-siswi disekolah berhamburan keluar dari dalam kelas masing-masing. Ada yang langsung ke gerbang sekolah untuk menunggu jemputan atau menunggu angkutan umum. Dan ada juga yang langsung ke parkiran untuk mengambil kendaraan pribadi mereka masing-masing.
Namun, berbeda dengan dua sekawan itu. Mereka harus menelan rasa pahit ketika di haruskan menuju Ruang BK.
Tok tok tok.
"Masuk!" Terdengar suara tegas Marissa dari dalam setelah Tomi mengetuk pintu ruang BK tersebut.
Tomi pun membuka pintu, dengan perlahan mereka berdua masuk mendekati meja Marissa yang terletak di pojok ruangan untuk mendengarkan perintah dari guru BK tersebut.
"Berhubung, semua kamar mandi di sekolah ini sudah dalam keadaan bersih, hukuman kalian di ganti." Ucap Marissa tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang di baca.
Tomi dan Jay menghela nafas lega, karena mereka tidak jadi berkutat di area yang mereka anggap kumuh itu.
Marissa melirik kan matanya sekilas, melihat ekspresi dua siswa itu. "Tomi! kamu bersihin ruangan pak Anwar!"
"Baik bu!" Seutas senyuman terukir disana. Jelas sudah, bahwa ruangan itu tak seperti ruangan disini yang sungguh berantakan sekali. 'Mudah-mudahan, Jay nggak di suruh bersihin ruangan ini.' Batin nya sedikit khawatir.
"Jay! Kamu bersihin ruangan ruangan kepala sekolah, ruangan bu Nayla, Ruangan bu Maya dan juga ruangan ini!" Titah Marissa dengan tegas. Seperti tak ingin adanya bantahan.
Jay membuka mulut nya dengan lebar, tidak menyangka akan di perlakukan seperti anak tiri saat ini. "Baik bu!" Jawab nya dengan suara pelan. Merasa tak berdaya dengan pengaturan yang berat sebelah dari Guru BK satu ini.
"Oke, lakukan! Sebelum penjaga sekolah mengunci pintu-pintu nya." Ucap Marissa dengan tegas memberi perintah.
Tomi pun gegas keluar menuju tempat yang di tunjuk Marissa. Ruangan guru matematika itu berada di paling pojok, berhadapan dengan ruangan kepala sekolah.
"Ruangan siapa dulu yang harus saya bersihin bu?" Tanya Jay pada Marissa setelah di tinggal oleh temannya itu.
Marissa menutup bacaan nya, lalu berdiri dari meja kerja nya. "Ruangan ini dulu saja!" Ucap nya sembari memeluk bacaan nya ke dadanya. Lalu melenggang keluar dari ruangan itu, meninggalkan Jay seorang di dalam.
Tanpa membuang waktu lagi, Jay melepaskan baju sekolah nya, menyisakan kaos hitam yang melekat sempurna pada tubuh nya. Setelah menyimpan baju sekolah nya kedalam ransel, dia pun mulai melakukan pekerjaan nya dalam menjalankan hukuman karena tidak mengikuti Upacara tadi pagi.
Beberapa menit kemudian, Marissa datang kembali sembari membawa dua gelas minuman. Jay melirik dengan sudut matanya, setelah meletakkan dua gelas minuman yang dibawanya ke atas meja, wanita tegas itu duduk di sofa panjang yang ada diruangan itu.
"Hah!" Jay terperangah, melihat Marissa dengan santai nya membuka kemeja putih sempit nya itu, menyisakan tanktop berwarna putih yang kini membungkus tubuh bagian atas nya.
Marissa menoleh, "Lakukan pekerjaan mu dengan benar! Jangan berfikir yang macam-macam, saya cuma kepanasan." Bentak Marissa dengan tatapan tajamnya.
'Guru BK yang amat Galak!' Batin Jay mengeluh. "Baik bu." Ucap Jay dengan pelan.
*****