Di balik tatapan dingin seorang Komandan Elite, tersimpan rasa rindu yang terpendam bertahun-tahun.
Saga Pratama Dirgantara menyimpan cinta rahasia untuk sang primadona sekolah, Renata Admajha, adik kelasnya saat SMA. Sosok Saga yang dingin, pendiam, dan tertutup membuatnya hanya berani mengagumi gadis itu dari jauh tanpa berani mengutarakan isi hati.
Hingga saat keberaniannya mulai muncul untuk menyatakan cinta, kabar mengejutkan justru datang menyambar. Sang pujaan hati ternyata telah dipinang oleh saingannya sendiri.
Mendengar hal itu, Sang Komandan patah hati sebelum sempat memiliki. Namun, sebagai lelaki terhormat, tak ada yang bisa ia lakukan selain mundur dengan teratur, mengubur perasaannya dalam-dalam, walau harus menelan pil pahit sendirian.
Namun, takdir cinta sang komandan punya rencana lain yang tak terduga.
Mampukah Saga menemukan Cintanya?
Mau tahu kisah selengkapnya yuk! langsung baca aja ya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 My elite lover
Suara mesin mobil menderu kencang perlahan mereda saat Saga kembali mengatur kecepatan mobil ke batas normal. Jalanan kini kembali lengang dan tenang, seolah kejadian mencekam beberapa menit yang lalu hanyalah mimpi buruk belaka.
Di dalam kabin mobil, suasana terasa sedikit tegang namun hangat. Rena masih memejamkan matanya erat-erat, tangannya mencengkeram kuat sabuk pengaman. Napasnya masih terengah-engah, jantungnya berdegup kencang tak beraturan akibat syok yang baru saja ia alami.
Saga melirik sekilas ke arah kekasihnya, melihat wajah pucat dan tubuh yang sedikit gemetar itu, rasa bersalah dan sayang langsung menyeruak di hatinya. Ia pun perlahan menepikan mobil di pinggir jalan yang aman, mematikan mesin sejenak agar suasana bisa lebih tenang.
"Rena ..." panggil Saga lembut, tangannya bergerak meraih tangan Rena yang dingin. "Semua sudah aman. Mereka sudah pergi."
Perlahan Rena membuka matanya. Matanya masih terlihat berkaca-kaca dan membelalak karena syok. Ia menatap Saga lekat-lekat, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.
"K-Kak Saga ..." suara Rena bergetar, emosinya meledak menjadi omelan manja.
"Kamu ... kamu tadi gila ya?! Hampir aja kamu tabrak orang itu! Kamu sadar nggak sih?! Kalau dia nggak minggir gimana?! Kita bisa celaka! Atau kamu memang sengaja mau bikin jantungku copot?!"
Melihat Rena yang cerewet, wajahnya cemberut dan pipinya memerah menahan emosi campur takut, Saga justru melepaskan tawa renyah yang rendah dan menenangkan. Ia justru merasa sangat gemas.
"Ih kok malah ketawa?! Aku ini serius lho Kak!" Rena memukul pelan lengan Saga berkali-kali dengan tinju kecilnya. "Tadi aku takut banget tau nggak! Jantungku rasanya mau lepas! Kamu itu nekat banget sih! Bahaya tau!"
Saga menangkap tangan kecil itu sebelum sempat memukulnya lagi, lalu menatap Rena dalam dengan senyum menggoda yang sangat manis namun sedikit nakal.
"Kalau aku nggak begitu, dia nggak bakal minggir sayang. Lagipula ..." Saga mendekatkan wajahnya perlahan, membuat jarak mereka hanya beberapa sentimeter saja. "Aku kan sudah janji sama kamu, selama ada aku, nggak akan ada yang bisa nyakitin kamu. Termasuk sampah-sampah kayak tadi."
"Tapi tetap aja bahaya!" Rena mendecakkan lidahnya kesal, alisnya masih terangkat menatap wajah tampan itu.
"Siapa sebenarnya orang itu Kak? Kenapa dia terlihat sangat benci sama Kak Saga? Wajahnya serem banget, kayak penjahat di film-film!"
Saga menghela napas panjang, senyum di wajahnya perlahan menghilang digantikan ekspresi serius namun tetap tenang.
"Dia Bramantyo seorang prajurit juga! Tapi sebelum ia berkhianat mau jual rahasia organisasi demi uang. Dan aku lah yang membongkar kejahatannya tiga tahun lalu. Makanya dia dendam," jelas Saga singkat dan padat.
"Jadi ... dia musuh Kak Saga?" tanya Rena pelan, wajahnya mulai terlihat khawatir lagi.
"Bisa dibilang begitu. Tapi dia cuma tikus got yang cuma bisa menggonggong tapi takut gigit. Lihat kan tadi akhirnya malah mandi lumpur?" Saga kembali tersenyum geli, membuat suasana menjadi lebih cair.
Rena menggelengkan kepala, lalu tiba-tiba ia memeluk lengan Saga erat-erat dan menyandarkan kepalanya di bahu bidang itu dengan wajah masih cemberut.
"Aku nggak peduli siapa dia sebenarnya. Aku cuma nggak mau Kakak kenapa-napa. Tadi waktu Kakak keluar mobil, aku panik setengah mati ... takut terjadi sesuatu sama Kak Saga," bisik Rena lembut, suaranya lirih penuh kekhawatiran.
Mendengar itu, hati Saga meleleh seketika. Melihat wajah cemberut yang sangat menggemaskan itu, membuat Saga terbawa suasana.
Tanpa aba-aba, Saga mendongakkan dagu Rena perlahan dengan jarinya, lalu mendekatkan wajahnya.
Cup!
Saat bibirnya menyentuh bibir Rena, seluruh dunia seolah berhenti berputar. Hanya ada suara detak jantung mereka yang semakin cepat, dan rasa hangat yang menyebar ke seluruh tubuh.
Ciuman singkat namun penuh makna itu membuat Rena membelalakkan matanya syok! Tubuhnya kaku seketika, napasnya tertahan di tenggorokan.
Saga melepaskan ciumannya perlahan, lalu menatap wajah Rena yang kini merah padam seperti kepiting rebus, matanya berkedip-kedip tidak percaya.
"K-K-Kak Saga ..." Rena tergagap, tangannya refleks menutup mulutnya sendiri.
Saga menyeringai puas, tatapannya penuh kemenangan namun penuh kasih sayang.
"Obat penenang buat yang lagi cemberut. Sekarang kan wajahnya jadi merah merona gitu, jauh lebih cantik daripada cemberut," godanya santai.
"Ih!" Rena memukul dada bidang Saga pelan, wajahnya salah tingkah parah. "Itu ... itu kan ciuman pertamaku! Kakak tega banget nyuri gitu aja?!"
Mendengar kalimat itu, mata Saga menyala penuh kejutan dan kepuasan yang luar biasa.
"Hah? Jadi ... itu ciuman pertamamu?" tanyanya memastikan, senyumnya semakin lebar dan menawan.
"Aku dengan susah payah menjaganya lho!" protes Rena kesal sambil memalingkan wajahnya yang semakin memanas.
Saga tertawa renyah, lalu memutar wajah Rena agar menatapnya kembali ke arahnya. Ia mendekatkan wajahnya lagi, berbisik pelan di depan bibir gadis itu.
"Syukurlah ..."
"Hah?" Rena mengerutkan kening bingung.
"Berarti impas dong," ucap Saga dengan senyum penuh kemenangan yang sangat manis. "Soalnya itu juga ciuman pertama aku. Jadi kita impas?"
"HAH?! Beneran?!" Rena terbelalak kaget, rasa malunya bercampur rasa bahagia yang meledak-ledak.
"Masak sih! Padahal kan Kakak ganteng dan keren, pasti banyak cewek yang naksir Kak Saga?"
"Karena aku nungguin bidadari yang tepat buat jadi yang pertama dan terakhir," jawab Saga romantis abis, lalu mencubit hidung Rena gemas. "Dan ternyata bidadarinya itu kini ada di hadapan aku."
"Ih ... Kak Saga semakin pandai ngombalnya ya!?" Rena menutup wajahnya dengan kedua tangan, berusaha menyembunyikan pipinya yang panas membara.
"Aku jadi nggak bisa marah lagi deh gara-gara gombalan maut Kakak!"
"He he! Makanya jangan marah-marah lagi. Nanti cantiknya ilang lho," cetus Saga sambil tertawa puas melihat tingkah kekasihnya yang semakin membuatnya jatuh cinta lebih dalam.
"Yasudah! Ayo jalan! Mama pasti udah nungguin aku dari tadi!" Rena mendorong pelan bahu Saga, suaranya masih terdengar malu-malu.
"Hahaha! Siap ibu negara!"
Saga kembali menyalakan mesin mobil, kali ini melaju dengan sangat pelan dan stabil. Musik lembut kembali mengalun, menggantikan ketegangan tadi dengan suasana yang sangat romantis dan penuh getaran cinta.
Tak berapa lama mobil yang di kendarai Saga berhenti tepat di hadapan rumah Rena.
"Terima kasih ya Kak! Sudah mengantarkan aku sampai dengan selamat!" seru Rena tulus.
"Tak perlu terima kasih! Itu udah tugas aku! Karena sekarang kamu adalah prioritasku!" sahut Saga mantap lalu tersenyum manis.
"Hm! Baiklah! Kalau gitu Kak Saga bawa aja mobilnya!"
"Tidak usah! Aku pulang bareng mereka aja!" tunjuk Saga pada mobilnya yang terparkir tak jauh dari rumah Rena.
"Oh! Ya udah hati-hati di jalan ya! Aku langsung masuk kalau gitu!"
"Siap ibu negara! Langsung istirahat ya!"
Setelah memastikan Rena masuk rumah dengan aman.
Saga langsung mengirim pesan singkat untuk Kevin untuk segera ke markas.
Lalu ia dan dua anak buahnya melanjutkan perjalanan ke markas mereka. Saat sampai di sana, seluruh anggota tim dan juga Kevin sang asistennya sudah berkumpul di ruang rapat yang penuh dengan peralatan elektronik dan peta operasi.
"Komandan, kami sudah mengumpulkan semua informasi yang bisa kami dapatkan tentang Bramantyo," ucap Leo, anak buah Saga yang paling ahli dalam intelijen. Dia menampilkan sebuah layar besar yang menunjukkan foto Bram dan beberapa data penting. "Setelah diusir dari organisasi, dia bergabung dengan geng kriminal bernama 'klan kalajengking' yang dikenal suka melakukan tindak kriminal. Saga mendekat ke layar dan mengerutkan alisnya saat melihat data yang ditampilkan. "Klan kalajengking? Bukankah mereka adalah musuh utama kita yang sedang kita incar selama setahun terakhir?"
"Benar, Komandan," jawab Leo dengan serius. "Dan ada informasi yang sangat mengkhawatirkan, mereka baru saja menerima dana besar dari seseorang yang tidak dikenal untuk melakukan operasi khusus ... yaitu untuk menghancurkanmu dan mengambil alih beberapa rahasia organisasi kita."
Saga menatap layar dengan wajah yang semakin serius. Jika Bram sudah bekerja sama dengan Klan itu, maka bahayanya bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk semua anggota tim dan orang yang ia cintai, terutama Rena.
"Saat ini Bram sedang berada di markas mereka yang terletak di kawasan perumahan kosong di pinggiran kota," lanjut Leo sambil menunjuk pada peta. "Namun mereka sudah memasang sistem keamanan yang sangat ketat. Sulit untuk masuk tanpa terdeteksi."
Saga mengangguk perlahan, kemudian menoleh ke seluruh anggota tim yang ada di ruangan. "Mereka boleh berusaha sekuat mungkin! Tapi akhir dari semua ini akan aku putuskan sendiri! Aku tidak akan membiarkan mereka menyakiti orang-orangku!"
Semua anggota tim mengangguk dengan penuh kesetiaan. Namun saat mereka akan mempersiapkan peralatan operasi, tiba-tiba sistem keamanan markas menyala dengan suara bip yang keras. Layar menunjukkan bahwa ada pesan video yang masuk dari nomor yang tidak dikenal.
"Ada apa lagi ini?" seru Kevin dengan wajah datarnya.
Saga segera menekan tombol untuk memutar pesannya. Di layar muncul wajah Bram yang sudah dibersihkan dari lumpur, namun wajahnya penuh dengan amarah yang lebih besar dari sebelumnya. Di belakangnya, seseorang yang wajahnya ditutupi dengan topeng sedang duduk dengan santai.
"Hai Saga ... kamu pasti tidak menyangka kan kalau aku bisa menemukan markasmu?" ucap Bram dengan suara yang sinis.
Saga tetap berdiri dengan tenang, namun matanya sudah menunjukkan bahwa dia siap menghadapi apa saja. "Aku tahu kamu akan kembali, Bram!"
Bram hanya tertawa keras, lalu menunjuk ke arah orang bertopeng di belakangnya. "Kau tahu nggak sih, siapa orang yang membantuku dan memberikan semua dana yang kubutuhkan? Dia adalah orang yang sangat mengenalmu, bahkan mungkin lebih dari kamu mengenal dirimu sendiri!"
Orang bertopeng itu kemudian mengangkat tangan dan membuka topengnya perlahan. Wajahnya yang muncul membuat Saga terkejut sejenak.
Beberapa anggota tim juga ikut terkejut dan mengerutkan alisnya, karena mereka juga mengenal Rizky sebagai mantan teman yang dulu sangat dekat dengan Saga. Sebelum keluar dengan alasan kesehatan, namun rupanya itu hanya alasan untuk menyembunyikan dendam yang dia simpan selama ini.
"Hai Saga Pratama Dirgantara ... sudah lama tidak bertemu ya?" ucap Rizky dengan suara yang dingin dan penuh dendam.
"Masih ingat sama teman baikmu ini! Aku sekarang kembali untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku!"
Saga merasa sedikit terkejut, namun segera kembali tenang. "Apa maksudmu Rizky ... aku tidak pernah merasa mengambil apapun dari kamu!"
"Oh benarkah!? Kamu jangan pura-pura buta Saga! Aku sudah sangat muak! Kamu selalu mendapatkan segalanya dengan mudah! Sedangkan aku sudah berjuang sekuat mungkin tapi tetap aja tak di anggap!" teriak Rizky dengan emosi yang meledak. "Dan sekarang, aku akan mengambil segalanya dari kamu ... termasuk hati wanita cantik yang kamu cintai itu!"
Bersambung ...