Menjadi janda di usia belia bukanlah sebuah pilihan, melainkan suatu takdir yang harus di jalani oleh Aisyah Naira. Wanita berusia 18 tahun yang harus berpisah dengan suami yang di cintainya karena di fitnah selingkuh dan di tuduh hamil anak dari laki-laki lain.
Ingin tahu bagaimana kehidupan Aisyah setelah empat tahun kemudian?
Apakah Aisyah sanggup menerima kenyataan ketika putri kesayangannya harus meninggal dunia di umurnya yang belum genap 4 tahun?
Dan bagaimana ketika takdir kembali mempertemukan Aisyah dengan sang mantan suami yang menyesali perbuatannya di masa lalu dan memohon kepadanya untuk rujuk?
follow IG author : asyiahmuzakir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asyiah Muzakir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 06 | Hidden feeling
Malam ini adalah malam terakhir kalinya Aisyah dan rekan-rekan kerjanya menghirup udara segar di pulau Natuna, karena sebentar lagi mereka akan kembali ke Jakarta dan menjalani hari penuh kebisingan di kota metropolitan itu.
Sebelum pergi ke Bandara, Aisyah dan Avila menyempatkan diri untuk berjalan jalan menggunakan sepeda sambil menikmati suasana sore pantai kepulauan Natuna yang begitu indah dan asri itu untuk yang terakhir kalinya.
"Aisyah," panggil Avila.
Mendengar panggilan sahabatnya itu Aisyah lantas menoleh seraya memelankan laju sepeda yang di gowesnya.
"Apa?" tanya Aisyah menyahuti panggilan Avila.
"Robbie pasti nyesel gak jadi pergi sama kita, ya enggak Syah?" ucap Avila.
"Hm, ya pastilah, tapi ya gimana lagi kalau pacarnya minta di bawain oleh-oleh," kata Aisyah.
"Pacarnya gak pengertian banget ya." Seloroh Avila dengan nada seperti orang yang sedang cemburu.
"Lho, bukannya wajar aja ya kalau ada perempuan minta pacarnya yang abis traveling buat bawain oleh-oleh?"
Aisyah memandang heran ke arah Avila yang kini sedang cemberut sambil menggowes sepedanya.
"Emh..ya..iya sih. Tapi kan kesannya kayak dia itu terlalu maksain Robbie gitu, gue kan gak suka!" ungkap Avila yang tanpa sadar mengeluarkan isi hatinya kepada Aisyah.
"Ekhem, kayaknya ada yang cemburu nih," goda Aisyah seraya melempar seringaian geli kepada Avila yang sudah merona karena ketahuan cemburu.
"Apaan sih, Syah!" bentak Avila dengan wajah memerah karena malu.
Aisyah tertawa lalu menggoda Avila lagi lewat tatapan mata jahilnya.
"Cie cie, akhirnya jerry jatuh cinta sama tom, musuhnya sendiri," goda Aisyah sambil tersenyum geli.
"AISYAH Stop! aku malu tahu!" peringat Avila sambil memelototi Aisyah yang bersepeda di sebelahnya.
"Gak papa, Avi. kamu ngaku aja kalau memang kamu udah punya perasaan buat Robbie," ucap Aisyah yang terus menggoda Avila, sampai pada akhirnya Avila menggowes sepedanya dengan kencang dan meninggalkan Aisyah di belakangnya.
"Ehh, Avi! Tunggu, kamu jahat banget ninggalin aku," panggil Aisyah sambil mengencangkan laju sepedanya untuk menyusul Avila.
"Maka-nya jangan godain aku mulu, kesel tahu," sahut Avila saat Aisyah sudah berhasil menyalipnya.
"Hehehe, ya maaf, Vi. Abisnya aku baru pertama kali lihat kamu kesel sama pacarnya Robbie, pedahal biasanya kamu itu cuek cuek aja."
"Gak tahu nih, aku juga aneh sama perasaan aku sendiri," ungkap Avila.
"Berarti bener kalau diam diam kamu udah mulai suka sama Robbie, iyakan?" desak Aisyah yang membuat Avila tertawa salah tingkah.
"Hahaha. What? Suka? Ya Allah, yang bener aja sih, Syah. Gak mungkin lah aku suka sama si makhluk astral itu," sangkal Avila dengan raut wajah yang nervous.
"Haahh...Avi, Avi, kenapa sih gak ngaku aja?" desak Aisyah.
"Udahlah Syah, mending kita nikmati pemandangan sunset daripada bahas hal gak penting kayak gini," sela Avila yang berhasil membuat Aisyah menyerah dan tak menanyainya lagi.
*****
Dua jam kemudian di sebuah Masjid yang terletak tak jauh dari Bandara, Aisyah dan rombongan beserta jama'ah lainnya baru saja selesai melaksanakan kewajiban sholat isya.
Setelah itu Aisyah dan Avila memutuskan untuk memisahkan diri dari rombongan dan pergi ke cafe yang terdapat di Bandara untuk makan malam. Karena dari lima orang tim fotografer, hanya mereka berdualah yang belum sempat makan malam.
"Eh..gue sama Aisyah mau makan malem dulu, yah." Avila memberitahu rombongan mereka.
"Siap neng, entar kalau waktunya take off gue kabarin deh," sahut Mas Adi yang merupakan ketua tim fotografer.
"Oke Mas, Makasih yah," ujar Avila dan Aisyah bersamaan.
"Sama-sama neng."
••••
Keadaan cafe di Bandara itu terbilang cukup sepi karena dari sekian banyak kursi dan meja hanya ada satu meja yang terisi oleh dua orang pengunjung, sementara meja yang lainnya kosong.
"Sepi banget ya, Syah," ucap Avila sambil memandang ke sekelilingnya.
"Iya nih...jangan jangan makanan di sini mahal lagi."
"Eh, Syah. Jangan su'udzon kali, mendingan kita cobain dulu," tegur Avila.
"Iya iya..eh, kamu mau pesan apa, Vi?" tanya Aisyah sambil menunjuk buku menu yang tersedia di meja yang di tempati mereka.
"Aku mau Nasi goreng seafood, kamu?"
"Sama aja deh kayak kamu."
"Oke," lalu Avila memanggil waiters, "Mbak sini dong."
"Iya...mau pesan apa?" tanya waiters tersebut.
"Nasi goreng seafood dua porsi, sama es teh manisnya dua juga ya, mbak," jawab Avila yang langsung di catat oleh mbak waiters-nya.
"Oke, di tunggu sebentar ya, kak," kata mbak waiters tersebut sebelum pergi mengambilkan pesanan mereka.
*****
Di dalam pesawat Aisyah merasa gelisah ketika mengetahui kalau dirinya dan Avila duduk di kursi yang terpisah cukup jauh. Tetapi sebisa mungkin Aisyah mencoba untuk tenang dan tidak gugup kepada siapapun yang akan menempati kursi di sebelahnya.
"Permisi mbak, tasnya bisa di geser?"
Suara bass pria itu menginstrupsi Aisyah untuk segera memindahkan tasnya ke pangkuan tanpa menoleh ke sumber suara.
Tak lama kemudian suara pramugari meminta mereka semua yang ada di pesawat tersebut untuk memakai sabuk pengaman karena pesawat akan take off sebentar lagi.
Aisyah kesulitan ketika memakai sabuk pengamannya. Untung saja pria yang duduk di sebelah gadis itu segera membantunya.
Dan saat Aisyah ingin mengucapkan terimakasih kepada pria itu, Aisyah langsung terkejut setelah menyadari kalau itu adalah Devano Altair. Pria yang paling dia hindari selama ini.
Sama halnya dengan Aisyah, Devano pun merasa terkejut. "Aisyah?"
Kemudian dengan cepat Aisyah memalingkan wajahnya ke arah jendela yang bertepatan dengan itu pesawat mulai terbang melintasi awan-awan yang membuat Aisyah terkesima dan melupakan keberadaan Devano di sebelahnya.
"Aisyah, kita perlu bicara," ujar Devano dengan lembut.
"Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, Dev. Semuanya sudah berakhir," jawab Aisyah tanpa menoleh ke arah Devano.
"Tapi menurutku, ada banyak hal yang belum kamu ceritakan soal Dasha, bukan?" tebak Devano yang berhasil membuat Aisyah menitihkan air matanya karena tak sanggup mendengar nama putrinya yang sudah meninggal itu di sebutkan lagi.
"Ya, tapi sayangnya itu tidak ada kaitannya lagi denganmu, Dev. Ingat! Dasha adalah anakku, dan bukan hakmu untuk mengetahui tentangnya," tegas Aisyah sambil menatap Devano dengan miris.
"Tapi aku ini ayahnya, Aisyah! Apa kau sudah lupa, hah!" teriak Devano dengan prustasi.
Walaupun hatinya hancur, tetapi Aisyah tidak ingin terlihat lemah di depan Devano. Dengan sekuat tenaga dia berusaha untuk tegar dan tak menangis meskipun Devano sedang mencoba membicarakan Dasha--putri kecilnya yang telah meninggal dunia setahun yang lalu.
"Mungkin yang sudah lupa itu kamu, Dev. Ingat! Saat Dasha masih di dalam kandunganku, kau sendiri yang tidak mengakuinya sebagai putrimu," pungkas Aisyah dengan mirisnya.
Wanita berhijab berusia 22 tahun itu menatap nanar ke arah Devano yang terpaku dan tidak bisa mengucapkan apapun selain kata maaf.
"Maafkan aku, Aisyah. Aku memang suami yang brengsek," ucap Devano penuh penyesalan.
"Lebih tepatnya mantan suami," koreksi Aisyah.
"Dan yang paling tepatnya adalah...aku mantan suami yang suatu hari akan menjadi suami kamu lagi."
TBC.❤️
JANGAN LUPA DI LIKE
👍👍👍
KOMEN
📝📝📝
VOTE
❤️❤️❤️
TEKAN BINTANG LIMA
⭐⭐⭐⭐⭐
DAN FOLLOW PROFILKU
😊😊😊