Aiden "The Ghost" Volkov adalah definisi dari kesempurnaan yang mematikan. Sebagai raja mafia penguasa jalur perdagangan gelap Eropa, ia dikenal dingin, tak tersentuh, dan sangat mencintai keteraturan. Hidupnya adalah tentang strategi, senjata, dan keheningan.
Namun, tatanan hidup Aiden hancur berantakan saat ia bertemu dengan Ziva, seorang gadis Indonesia yang tinggal di luar negeri dan bekerja sebagai kurir makanan paruh waktu. Pertemuan mereka dimulai dengan bencana: Ziva secara tidak sengaja menabrak konvoi mobil baja Aiden dengan skuter bututnya, lalu malah memarahi Aiden karena "merusak spion estetiknya".
Ziva bukan cewek tangguh yang jago bela diri; dia hanyalah gadis dengan tingkat keberuntungan negatif dan mulut yang tidak punya rem. Di saat musuh-musuh Aiden menggunakan peluru, Ziva menggunakan ketidaksengajaan—seperti menjatuhkan vas kuno seharga jutaan dollar tepat di kepala pembunuh bayaran yang sedang mengincar Aiden.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Musuh dalam Selimut dan Ziva di Atas Atap
Ketegangan di Mansion Volkov pasca "insiden terasi" belum benar-benar reda, namun suasana justru berubah menjadi dingin dan mencekam. Jika sebelumnya ancaman datang dari luar dengan dentuman ledakan atau drone, kali ini ancaman itu terasa lebih halus, seperti ular yang merayap di balik dinding marmer yang kokoh. Aiden Volkov, dengan insting predatornya yang tajam, merasakan ada yang tidak beres dalam lingkar dalamnya. Informasi rahasia mengenai pemindahan aset likuid keluarga Volkov bocor ke telinga otoritas pajak Italia hanya beberapa jam setelah dokumen itu ditandatangani.
Aiden berdiri di ruang kerjanya, menatap monitor pengawas. "Marco, kau sudah memeriksa semua riwayat komunikasi tim IT?"
Marco mengangguk dengan ekspresi yang sangat serius. "Sudah, Tuan. Tidak ada jejak digital yang keluar. Ini dilakukan secara manual. Seseorang telah memotret atau menyalin dokumen fisik itu langsung dari meja Anda."
Aiden mengepalkan tangannya. Musuh dalam selimut. Tidak ada yang lebih dibenci oleh seorang Volkov selain pengkhianatan dari orang yang memakan rotinya.
Sementara itu, di sisi lain mansion, Ziva sedang tidak berada di kamarnya. Ia juga tidak berada di dapur mencari sisa-sisa sambal. Ziva, dengan rasa keingintahuannya yang terkadang melampaui batas kewarasan, sedang berada di tempat yang paling tidak terduga: di atas atap mansion.
Malam itu sangat cerah, dan Ziva merasa bosan terus-menerus dikurung di dalam ruangan karena status "siaga satu" yang ditetapkan Aiden. Dengan bantuan tangga lipat yang ia pinjam dari gudang peralatan dan kemampuan memanjat pohon yang ia pelajari sejak kecil di kampung, Ziva berhasil naik ke atap gedung utama yang melandai.
"Nah, gini dong! Estetik banget pemandangannya. Milan kalau dilihat dari atas sini kayak lampu-lampu di pasar malem," gumam Ziva sambil duduk bersila di dekat cerobong asap dekoratif.
Ia mengeluarkan ponselnya, berniat mengambil foto selfie dengan latar belakang kota. Namun, saat ia sedang mencari sudut foto yang pas, ia melihat sesuatu yang aneh. Di bagian atap yang lebih rendah, dekat dengan jendela ruang arsip rahasia, terlihat bayangan seseorang yang bergerak sangat hati-hati.
"Lho? Itu kan Bang Luca, kepala pengawal gerbang samping? Ngapain dia malem-malem nongkrong di genteng? Mau benerin antena?" Ziva menyipitkan matanya.
Ziva melihat Luca mengeluarkan sebuah alat kecil yang tampak seperti pemancar sinyal satelit. Pria itu juga memegang beberapa lembar kertas yang tampak sangat familiar di mata Ziva—kertas kontrak yang tadi siang ia lihat di meja Aiden.
"Wah, parah! Itu kan kertas Bang Don yang ada lope-lopenya! Mau diapain sama dia?!" bisik Ziva panik.
Ziva sadar jika ia berteriak, Luca pasti akan kabur atau menyerangnya. Ia juga tidak membawa ponsel yang terhubung dengan interkom Aiden. Insting "detektif seblak"-nya mulai bekerja. Ia harus menghentikan pria itu sebelum data tersebut terkirim.
Dengan sangat hati-hati, Ziva merangkak di atas genteng. Masalahnya, Ziva masih menggunakan sandal jepit Swallow keberuntungannya yang permukaannya sangat licin di atas genteng metal.
Sret... sret...
Ziva nyaris terpeleset saat menginjak bagian genteng yang berlumut. "Aduh, Swallow! Lu jangan khianatin gue sekarang ya! Kita harus kerja sama demi masa depan bakso urat kita!"
Ziva berhasil mendekat hingga jarak lima meter dari Luca. Pria itu tampak sibuk mengatur frekuensi pemancar. Ziva melihat sebuah ember berisi air hujan sisa pembersihan atap tadi sore yang tergeletak di dekatnya.
"Maafin gue ya Bang Luca, tapi lu emang pantes dapet siraman rohani," gumam Ziva.
Ziva mengangkat ember itu dengan susah payah, berdiri dengan kaki gemetar di atas kemiringan atap, dan...
BYUUUURRR!
"ARGH! APA-APAAN INI?!" teriak Luca saat air dingin menghantam tubuh dan perangkat elektroniknya.
Luca terjatuh ke samping, kertas-kertas di tangannya terbang tertiup angin malam. Ziva tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia melompat ke arah Luca dengan gaya "terjangan nangka busuk".
"PENGKHIANAT! BALIKIN KERTAS BANG DON!" teriak Ziva sambil menjambak rambut Luca.
Luca, yang merupakan seorang pengawal terlatih, tentu saja tidak tinggal diam. Meski terkejut, ia berhasil mendorong Ziva hingga gadis itu terguling di atap yang miring.
"Gadis bodoh! Kau merusak segalanya!" Luca menarik sebuah pisau lipat dari sakunya. Matanya berkilat penuh amarah. "Aku sudah muak dengan Volkov yang sombong itu, dan aku tidak akan membiarkan kurir sampah sepertimu menghalangiku!"
Ziva berdiri dengan goyah, punggungnya menempel pada cerobong asap. "Sampah lu bilang? Lu tuh yang sampah! Makan gaji buta, eh malah nusuk dari belakang. Lu nggak tahu ya, Bang Don tuh kalau marah lebih serem dari emak-emak yang motornya sein kiri tapi belok kanan!"
Luca menerjang Ziva dengan pisaunya. Ziva menghindar dengan gerakan yang sangat tidak ortodoks—ia meluncur di antara kaki Luca sambil menaburkan bubuk cabai yang selalu ia bawa di kantong jaketnya "untuk jaga-jaga kalau makanan kurang pedas".
"UHUK! UHUK! MATA SAYA!" Luca mengucek matanya yang perih luar biasa.
"Rasain tuh cabe rawit setan asli Indonesia! Pedesnya sampai ke ginjal!" seru Ziva.
Namun, posisi Ziva semakin terdesak di pinggir atap. Satu langkah salah, dan ia akan jatuh dari ketinggian tiga lantai. Luca, meski matanya merah, mulai meraba-raba ke arah Ziva dengan kemarahan yang membabi buta.
Tepat sebelum Luca berhasil meraih leher Ziva, sebuah peluru melesat di udara, menghantam tangan Luca yang memegang pisau.
BANG!
Luca berteriak kesakitan, pisaunya jatuh dan meluncur jatuh ke bawah. Di puncak jendela loteng, muncul Aiden Volkov dengan wajah yang lebih gelap dari malam itu sendiri. Di sampingnya, Marco mengarahkan senapan mesin ringan.
Aiden melangkah keluar ke atap dengan ketenangan yang menakutkan. Ia berjalan di atas genteng miring seolah-olah itu adalah lantai dansa. Matanya terpaku pada Luca yang merintih, lalu beralih pada Ziva yang rambutnya sudah berantakan dan sandalnya tinggal sebelah.
"Ziva, kemari," perintah Aiden, suaranya dingin namun ada nada getar kekhawatiran di dalamnya.
Ziva segera berlari dan bersembunyi di balik punggung Aiden. "Bang! Dia mau curi dokumen lu! Tadi dia bawa alat radio-radioan gitu, tapi udah gue siram pakai air cucian genteng!"
Aiden menatap Luca yang kini sudah terkepung oleh pengawal lain yang memanjat dari sisi lain. "Luca. Aku memberikanmu posisi kepala pengawal karena aku mempercayaimu. Tapi kau memilih untuk menjadi tikus bagi pemerintah."
"Kau... kau monster, Volkov!" teriak Luca parau. "Kau menghancurkan bisnis legal keluarga kami demi takhtamu!"
Aiden mendekat, mencengkeram kerah baju Luca dan mengangkatnya hingga kaki pria itu menggantung di tepi atap. "Aku membangun takhta ini dengan darahku sendiri. Dan siapa pun yang mencoba menggoyahkannya dari dalam, tidak akan pernah melihat matahari esok hari."
Aiden tidak menjatuhkannya. Ia melempar Luca kembali ke tengah atap agar Marco bisa membawanya. "Bawa dia ke ruang interogasi. Aku ingin tahu siapa yang membayarnya."
Setelah Luca dibawa pergi, suasana di atas atap kembali sunyi. Pengawal lain sudah turun, meninggalkan Aiden dan Ziva berdua di bawah cahaya bulan Milan yang pucat.
Aiden berbalik menatap Ziva. Ia melihat lutut gadis itu gemetar dan wajahnya pucat karena adrenalin yang mulai menurun. Tanpa berkata-kata, Aiden menarik Ziva ke dalam pelukannya yang hangat.
"Kau gila," bisik Aiden tepat di telinga Ziva. "Apa yang kau pikirkan dengan memanjat atap dan menyerang pengawal bersenjata sendirian?"
Ziva menyembunyikan wajahnya di dada Aiden, menghirup aroma kayu cendana yang menenangkan. "Gue... gue tadi cuma mau foto selfie, Bang. Terus gue lihat dia lagi aneh-aneh. Gue nggak mau lu rugi lagi gara-gara pengkhianat kayak dia. Lu udah baik sama gue, masa gue diem aja pas ada orang mau ngerampok lu."
Aiden mempererat pelukannya. Ia menyadari bahwa Ziva adalah satu-satunya orang di dunia ini yang bersedia mempertaruhkan nyawa untuknya tanpa motif uang atau kekuasaan. Loyalitas Ziva murni, polos, dan sangat berbahaya.
"Ziva, dengarkan aku," Aiden memegang kedua bahu Ziva dan menatap matanya dalam-dalam. "Aku berterima kasih atas bantuanmu. Tapi jangan pernah lagi menempatkan dirimu dalam bahaya seperti ini. Kau mengerti? Aku bisa kehilangan seluruh hartaku, tapi aku tidak bisa kehilanganmu."
Ziva tertegun. Jantungnya berdebar kencang, kali ini bukan karena takut jatuh dari atap. "Bang Don... lu kok jadi puitis begini? Kesambet setan genteng ya?"
Aiden tersenyum tipis, sebuah senyuman yang benar-benar tulus. "Mungkin saja. Kehadiranmu membuatku kehilangan kewarasanku sedikit demi sedikit."
Aiden kemudian melihat ke arah kaki Ziva. "Di mana sandalmu yang satu lagi?"
Ziva melihat ke bawah. "Kayaknya jatuh pas gue nendang Bang Luca tadi. Yah, Swallow kesayangan gue..."
Aiden menghela napas, lalu tiba-tiba ia mengangkat Ziva dan menggendongnya secara ala bridal style.
"EH! BANG! GUE BISA JALAN SENDIRI!" protes Ziva, wajahnya memerah padam.
"Diamlah. Atap ini licin, dan kau hanya punya satu sandal. Aku tidak mau asisten pribadiku berakhir menjadi kerupuk di lantai bawah karena terpeleset."
Aiden membawa Ziva masuk melalui jendela loteng. Para pengawal yang berjaga di koridor bawah hanya bisa melongo melihat bos mereka yang paling ditakuti di Eropa sedang menggendong seorang gadis berambut acak-acakan yang hanya memakai satu sandal jepit.
Malam itu, Aiden tidak tidur. Ia berada di ruang interogasi bersama Marco. Luca akhirnya mengaku bahwa ia bekerja untuk sebuah faksi di dalam pemerintahan yang ingin menjatuhkan Volkov agar mereka bisa mengambil alih kendali pelabuhan.
"Eksekusi dia, Marco. Tapi pastikan keluarganya tidak disentuh. Aku bukan pengecut seperti mereka," perintah Aiden dingin.
Setelah urusan selesai, Aiden kembali ke kamarnya. Di depan pintunya, ia menemukan sebuah sandal jepit Swallow berwarna hijau yang sudah kusam—sandal Ziva yang tadi jatuh. Rupanya Marco sudah memerintahkan orang untuk mencarinya di halaman bawah.
Aiden mengambil sandal itu, menatapnya sejenak, lalu tersenyum sendiri. Ia meletakkan sandal itu dengan rapi di depan pintu kamar Ziva.
Esok paginya, Ziva bangun dan menemukan sandalnya sudah kembali. Ada sebuah catatan kecil yang ditempel di sana:
"Sandalmu sudah kembali. Tapi jangan pernah kau gunakan untuk memanjat atap lagi. Sebagai gantinya, aku sudah membelikanmu 100 pasang sandal baru dengan berbagai warna. Pilih salah satu dan pakailah untuk menemaniku sarapan pagi ini. - A.V"
Ziva tersenyum lebar sambil memeluk sandal lamanya. "Bang Don... lu emang bos paling aneh, tapi gue suka."
Ziva pun keluar kamar dengan penuh semangat, siap menghadapi hari baru di mansion yang penuh rahasia itu. Ia menyadari bahwa di balik kemewahan dan bahaya yang mengintai, ada satu hal yang pasti: selama ia bersama Aiden Volkov, hidupnya tidak akan pernah membosankan.
Namun, di kegelapan sudut kota Milan, musuh yang sebenarnya mulai menyadari bahwa untuk menghancurkan sang Naga Hitam, mereka harus terlebih dahulu menyingkirkan "Bunga Matahari" yang selalu berada di sampingnya. Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.