NovelToon NovelToon
PEWARIS NAGA BIRU

PEWARIS NAGA BIRU

Status: tamat
Genre:Anime / Balas Dendam / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Di Klan Ryu yang telah runtuh, Ryu Seol hanyalah pemuda tujuh belas tahun dengan meridian qi rusak—sampah yang dihina sepupunya sendiri di depan seluruh keluarga. Setiap hari adalah penghinaan, hingga suatu malam ia menemukan sebuah gua terlarang di balik air terjun.

Di dalamnya menanti Gu, rubah berekor sembilan yang jiwanya terperangkap selama ribuan tahun. Dengan sarkasme tajam dan kekuatan iblis kuno, Gu menawarkan perjanjian: memperbaiki meridian Seol, mengajarkan teknik terlarang Pedang Bayangan, dan membawanya melompat dari nol menjadi pendekar dalam hitungan bulan—dengan satu syarat: suatu hari Seol harus membebaskannya.

Dari buangan klan kecil, Seol melangkah ke Sekte Pedang Surgawi, melewati ujian maut Gua Iblis, dan bertemu Seol Hwa—murid senior dingin yang perlahan mencair, serta Baek Ho—sahabat setia dari Sekte Tulang Besi. Namun kekuatannya yang tumbuh terlalu cepat menarik perhatian musuh lama: Ryu Cheonmyeong, yang kini bergabung dengan Kultus Da

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Ujian Masuk – Babak Ketangkasan

Matahari baru saja menyentuh puncak Gunung Cheongmyeong saat Seol dan Baek Ho sudah berdiri di hadapan gerbang utama sekte. Kabut pagi masih menggantung di lereng-lereng bawah, tetapi di ketinggian ini, udara sudah terasa jernih dan dingin menusuk tulang.

Seol tidak tidur semalaman. Bukan karena gugup, tetapi karena ia menghabiskan waktu berjam-jam untuk memulihkan qi-nya setelah perjalanan panjang kemarin. Duduk bersila di bawah pohon tua di kaki gunung, ia memusatkan pusaran di dadanya, membiarkan qi mengalir pelan ke seluruh meridian yang masih rapuh. Hasilnya tidak spektakuler—ia masih jauh dari kondisi terbaiknya—tetapi setidaknya ia merasa cukup kuat untuk menghadapi hari ini.

Baek Ho, di sisi lain, tampak seperti orang yang tidak tidur sama sekali karena alasan berbeda. Matanya merah, tetapi bukan karena lelah—karena semangat yang membara. Ia tidak bisa berhenti bergerak, terus melompat-lompat kecil di tempat, memukulkan tinju ke telapak tangannya sendiri.

“Kau tidak gugup?” tanya Seol, setengah bercanda.

“Gugup? Aku sangat gugup!” Baek Ho tertawa gugup. “Tapi aku lebih takut kalau tidak mencoba sama sekali. Aku sudah berjalan tiga minggu untuk sampai di sini. Tidak ada alasan untuk mundur sekarang.”

Seol tersenyum kecil. Ia bisa merasakan semangat itu—api yang sama yang pernah membakar dirinya saat ia memutuskan meninggalkan Desa Cheonho.

Di sekitar mereka, puluhan peserta lain berkumpul. Seol menghitung cepat—mungkin sekitar empat puluh orang. Usia mereka bervariasi, dari yang tampak seusia dirinya hingga yang sudah berusia dua puluhan. Pakaian mereka juga beragam—ada yang mengenakan jubah bagus dari sutra, tanda berasal dari klan atau sekte kecil; ada yang berpakaian sederhana seperti Seol dan Baek Ho; dan ada beberapa yang berpakaian compang-camping, mungkin petualang atau pengembara seperti mereka.

Tapi ada satu hal yang menyatukan mereka semua: tekad di mata mereka. Tekad untuk diterima di salah satu sekte terbesar di Murim.

Pintu gerbang utama terbuka dengan suara gemuruh batu bergesekan batu. Seorang pria paruh baya dengan jubah biru tua dan sabuk emas melangkah keluar, diikuti oleh dua baris murid sekte yang berdiri tegap di kedua sisinya.

Pria itu tinggi, dengan wajah persegi dan rahang tegas yang membuatnya tampak selalu marah. Rambutnya sudah mulai beruban di pelipis, tetapi matanya—matanya tajam seperti elang yang mengintai mangsa. Seol merasakan tekanan qi yang terpancar dari tubuh pria itu—bukan tekanan yang sengaja dikeluarkan untuk mengintimidasi, tetapi tekanan alami dari seorang pendekar level tinggi yang tidak bisa lagi menyembunyikan auranya.

Sabeom-nim Baek Yoon, kepala instruktur murid baru Sekte Pedang Surgawi. Seol mendengar namanya disebut oleh para penjaga kemarin malam. Legenda mengatakan bahwa ia pernah menjadi salah satu pendekar pedang terhebat di generasinya, sebelum cedera di kaki kanannya memaksanya pensiun dini dan beralih menjadi instruktur.

“Selamat datang di Sekte Pedang Surgawi,” suaranya bergema di seluruh pelataran, dalam dan berat. “Aku Baek Yoon. Untuk hari ini dan seterusnya, aku adalah hakim, algojo, dan jika kalian beruntung, gurumu.”

Ia berjalan menyusuri barisan peserta, matanya menyapu setiap wajah satu per satu. Seol merasakan tatapan itu melewati dirinya—hanya sekejap, tetapi cukup untuk membuat bulu kuduknya berdiri.

“Kalian semua di sini karena satu alasan: kalian ingin menjadi murid sekte ini. Tapi tahukah kalian berapa banyak dari kalian yang akan lolos?” Ia berhenti di tengah barisan. “Tahun lalu, dari enam puluh peserta, hanya lima yang diterima. Tahun sebelumnya, dari lima puluh, hanya tiga.”

Bisik-bisik mulai terdengar di antara peserta. Baek Ho menelan ludah keras-keras.

“Ujian pertama adalah Ketangkasan,” lanjut Baek Yoon. “Di belakang gerbang ini, ada jalur rintangan sepanjang lima ratus tombak yang membentang dari sini hingga ke Aula Naga Putih. Kalian akan melewatinya. Tidak ada aturan. Tidak ada batasan. Satu-satunya yang penting: sampai di ujung dalam waktu yang ditentukan.”

Ia menunjuk ke sebuah jam matahari besar di sisi pelataran. “Kalian punya waktu satu jam. Jika kalian terlambat, kalian gagal. Jika kalian jatuh dan tidak bisa melanjutkan, kalian gagal. Jika kalian mati…” Ia tersenyum tipis. “Yah, setidaknya kalian tidak perlu khawatir tentang nilai.”

Tidak ada yang tertawa.

“Satu lagi,” Baek Yoon mengangkat jari telunjuknya. “Tidak ada yang dilarang. Kalian bisa saling membantu, atau saling menjatuhkan. Tapi ingat: di jalur itu, satu-satunya yang bisa menyelamatkan kalian adalah kemampuan kalian sendiri. Bergantung pada orang lain adalah kelemahan.”

Ia melangkah ke pinggir, memberi isyarat kepada dua murid sekte untuk membuka gerbang.

Gerbang batu raksasa itu terbuka perlahan, memperlihatkan pemandangan yang membuat sebagian peserta menarik napas tajam.

Di depan mereka, sebuah jalur rintangan yang mengerikan membentang.

Pertama, sebuah dinding batu vertikal setinggi sepuluh tombak—halus, tanpa pegangan, dengan puncak yang dipenuhi duri besi. Di belakangnya, sebuah jurang lebar dengan tiang-tiang kayu yang menjulang tidak beraturan—beberapa terlalu tinggi untuk dilompati, beberapa terlalu jauh jaraknya. Kemudian, sebuah terowongan gelap yang menurut catatan kecil di papan pengumuman diisi dengan kabut beracun. Dan setelah itu, Seol tidak bisa melihat lebih jauh karena kabut pagi masih tebal.

“Mulai!” teriak Baek Yoon.

Para peserta melesat seperti anak panah.

---

Rintangan Pertama: Dinding Batu

Seol tidak terburu-buru. Ia melihat beberapa peserta tercepat sudah mencapai dinding batu, mencoba memanjat dengan berbagai cara. Seorang pria kekar mencoba memukul dinding itu dengan tinjunya, berharap bisa membuat lubang—hasilnya hanya buku jarinya yang berdarah. Dua orang lainnya mencoba berlari vertikal di dinding, tetapi setelah beberapa langkah, gravitasi menarik mereka jatuh.

Seol mengamati dinding itu dengan saksama. Gu pernah mengajarkannya bahwa dalam ujian ketangkasan, orang yang terburu-buru biasanya adalah orang pertama yang gagal.

“Lihat dulu. Pahami. Baru bergerak.”

Ia melihat sesuatu. Di permukaan dinding yang tampak halus itu, ada celah-celah kecil—retakan tipis yang mungkin tidak terlihat oleh mata biasa, tetapi bagi mata yang terlatih, itu adalah pegangan.

Ia melangkah maju.

Jari-jarinya menyentuh celah pertama. Sekecil ujung jari, tetapi cukup untuk menahan beban tubuhnya jika ia menggunakan qi dengan tepat. Ia mengalirkan qi ke ujung jarinya, menciptakan tarikan kecil—teknik yang Gu ajarkan untuk memanjat tanpa pegangan yang jelas.

Ia menarik tubuhnya ke atas. Satu langkah. Dua langkah.

Di sampingnya, Baek Ho mencoba cara yang berbeda. Pemuda itu tidak memiliki teknik qi yang baik, tetapi ia memiliki kekuatan fisik yang luar biasa. Tangannya yang besar mencengkeram celah-celah batu dengan kekuatan mentah, menarik tubuhnya ke atas dengan kecepatan yang mengejutkan.

“Awas!” teriak seseorang dari atas.

Seol mendongak. Sebuah batu sebesar kepala manusia jatuh dari puncak dinding—dilempar oleh seorang peserta yang sudah lebih dulu sampai di atas, mungkin untuk menjatuhkan pesaing.

Seol tidak panik. Ia melepaskan tangan kanannya dari dinding, tubuhnya bergantung pada tangan kiri, dan dengan gerakan cepat, ia menendang batu itu dengan kaki kanannya. Batu itu berbelok arah, jatuh ke sisi lain, mengenai peserta lain yang sedang memanjat di dekatnya. Pria itu menjerit dan jatuh.

Seol tidak punya waktu untuk merasa bersalah. Ia terus memanjat.

Tiga menit kemudian, ia mencapai puncak. Baek Ho sudah lebih dulu sampai, dan mengulurkan tangannya untuk membantu Seol naik.

“Kau baik-baik saja?” tanya Baek Ho.

Seol mengangguk. Di depannya, jurang dengan tiang-tiang kayu terbentang. Beberapa peserta sudah mencoba melompat—beberapa berhasil, beberapa jatuh ke jurang yang dalam. Teriakan minta tolong bergema, tetapi tidak ada yang berhenti. Ujian ini tidak memberi waktu untuk menolong orang lain.

“Ayo,” kata Seol. “Kita harus bergerak.”

---

Rintangan Kedua: Tiang-Tiang Jurang

Tiang-tiang kayu itu menjulang tidak beraturan. Tingginya bervariasi—yang terendah hanya satu tombak, yang tertinggi mencapai lima tombak. Jarak antar tiang juga tidak sama; ada yang berdekatan, ada yang terpisah hingga tiga tombak.

Seol mengamati pola tiang-tiang itu. Ia tidak punya waktu untuk menghitung semuanya, tetapi ia bisa melihat bahwa tiang-tiang ini tidak ditempatkan secara acak. Mereka membentuk pola—pola yang familiar.

Langkah Pedang Bayangan.

Ia tersenyum. Pola ini sama dengan pola langkah yang Gu ajarkan untuk teknik Pedang Bayangan. Delapan arah mata angin, tiga variasi kecepatan. Jika ia mengikuti pola itu, ia bisa melewati tiang-tiang ini tanpa berhenti.

Ia melompat.

Tiang pertama. Kedua. Ketiga.

Kaki kirinya mendarat di tiang keempat dengan presisi sempurna, tubuhnya berputar, dan ia melompat lagi ke tiang kelima yang tiga tombak jauhnya. Angin berdesir di telinganya. Di bawahnya, jurang menganga gelap.

Ia tidak melihat ke bawah. Gu mengajarkannya: “Jangan pernah takut jatuh. Takut adalah yang membuatmu jatuh.”

Tiang keenam. Ketujuh. Kedelapan.

Ia mendarat di tepi jurang seberang, napasnya masih teratur. Di belakangnya, Baek Ho sedang berjuang. Pemuda itu tidak memiliki teknik langkah Seol, tetapi ia memiliki keberanian. Ia melompat dari tiang ke tiang dengan kekuatan kaki yang luar biasa, terkadang nyaris jatuh, tetapi selalu berhasil menyeimbangkan diri pada saat terakhir.

Seol menunggu di tepi. Ia tidak bisa meninggalkan Baek Ho—bukan karena hutang budi, tetapi karena ia melihat sesuatu di mata pemuda itu. Api yang sama yang pernah ia lihat di matanya sendiri.

Baek Ho mendarat di sampingnya dengan thud keras, napasnya tersengal.

“Kau… kau menungguku?” tanyanya antara megap-megap.

“Kita masih punya waktu,” kata Seol. “Ayo.”

---

Rintangan Ketiga: Terowongan Kabut Beracun

Terowongan itu gelap. Sangat gelap.

Seol berdiri di mulut terowongan, menatap ke dalam kegelapan yang tampak seperti dinding padat. Dari dalam, tercium bau menyengat—bau logam bercampur sesuatu yang busuk. Kabut putih tipis merayap keluar dari mulut terowongan, dan saat Seol menghirupnya, tenggorokannya terasa perih.

Kabut beracun. Seperti yang dikatakan papan pengumuman.

Beberapa peserta sudah masuk lebih dulu. Seol bisa mendengar batuk-batuk dan teriakan dari dalam—suara orang yang kehabisan napas.

“Aku… aku tidak bisa,” kata seorang peserta di sampingnya, matanya merah karena kabut yang sudah mulai memengaruhi. “Aku tidak akan masuk ke sana.”

Ia berbalik dan berlari kembali ke arah gerbang, menyerah.

Seol tidak punya pilihan. Ia harus masuk.

Ia menarik napas dalam-dalam—terakhir kalinya ia akan menghirup udara bersih untuk sementara waktu—dan melangkah masuk.

Kegelapan menyambutnya. Kabut itu tebal, hampir padat, dan setiap napas terasa seperti menelan api kecil. Matanya perih, kulitnya terasa panas, dan di dalam dadanya, pusaran qi-nya berputar lebih cepat—bukan karena ia memaksanya, tetapi karena tubuhnya secara naluriah berusaha melawan racun yang masuk.

“Qi bisa membersihkan racun,” kata Gu dalam ingatannya. “Tapi butuh konsentrasi. Jika kau panik, racun akan menyebar lebih cepat.”

Seol memejamkan mata. Ia tidak perlu melihat; ia hanya perlu merasakan. Ia mengalirkan qi ke seluruh tubuhnya, menciptakan lapisan tipis di bawah kulit—perisai yang tidak terlihat, tetapi cukup untuk menahan kabut beracun.

Ia berjalan. Satu langkah. Dua langkah.

Di sekelilingnya, ia mendengar suara-suara. Ada yang batuk-batuk hebat. Ada yang terjatuh. Ada yang merintih kesakitan. Tapi ia tidak berhenti. Ia terus berjalan, mengikuti jalur yang ia ingat dari peta yang dilihatnya sekilas sebelum masuk.

Tiga menit. Lima menit. Tujuh menit.

Dan kemudian, cahaya.

Seol membuka matanya. Di depannya, pintu keluar terowongan terbuka lebar, memperlihatkan langit biru dan matahari yang bersinar cerah.

Ia melangkah keluar dan menghirup udara segar dengan napas panjang. Paru-parunya terasa seperti terbakar, tetapi ia selamat.

Di belakangnya, Baek Ho keluar dengan mata merah dan wajah pucat, tetapi masih berdiri.

“Aku… aku pikir aku akan mati,” katanya, suaranya serak.

“Tapi kau tidak mati,” kata Seol. “Itu yang penting.”

Mereka berdiri di tepi sebuah tebing yang menghadap ke Aula Naga Putih—sebuah bangunan megah dengan atap biru kehijauan yang berkilat di bawah sinar matahari. Dari sini, jaraknya hanya sekitar seratus tombak lagi. Jalannya lurus, tanpa rintangan.

Tapi ada yang aneh.

Seol melihat beberapa peserta sudah sampai lebih dulu. Mereka berdiri di depan aula, tetapi tidak masuk. Mereka hanya berdiri di sana, memandang ke arah Seol dengan ekspresi aneh—seperti menunggu sesuatu.

Dan kemudian ia merasakannya.

Tekanan qi.

Bukan tekanan alami seperti yang dipancarkan Baek Yoon. Ini berbeda. Ini adalah tekanan yang sengaja dikeluarkan, terkonsentrasi, diarahkan tepat ke jalur yang harus ia lewati.

Seol mendongak. Di atas pintu masuk Aula Naga Putih, seorang pemuda berdiri dengan tangan disilangkan di dada. Ia mengenakan seragam biru murid dalam sekte—bukan seragam biasa, tetapi seragam dengan sulur emas di kerahnya, tanda status yang lebih tinggi.

Rambutnya hitam panjang diikat ke belakang, wajahnya tampan tetapi dingin, dan matanya—matanya yang tajam menatap Seol dengan campuran rasa ingin tahu dan penghinaan.

“Jadi,” kata pemuda itu, suaranya terdengar jelas meski dari kejauhan, “ini dia peserta yang bertahan sampai sejauh ini.”

Ia melompat turun dari atap, mendarat dengan lembut di tengah jalan, tepat di antara Seol dan pintu aula. Pedang panjang tersandang di punggungnya, tetapi ia tidak menyentuhnya.

“Aku Kang Jin, murid senior di sini. Tugas hari ini adalah menyaring kalian yang tidak layak.” Ia tersenyum tipis. “Jadi, siapa yang pertama?”

Seol mengepalkan tangannya. Ujian belum selesai. Rintangan terakhir adalah manusia itu sendiri.

Ia melangkah maju.

“Seol!” Baek Ho meraih lengannya. “Dia murid dalam! Kita tidak bisa—”

“Kita tidak punya pilihan,” potong Seol. Ia melepaskan genggaman Baek Ho dengan lembut. “Kau tunggu di sini. Aku yang akan menghadapinya.”

Ia berjalan mendekati Kang Jin. Setiap langkah terasa berat karena tekanan qi yang terus meningkat. Tapi ia tidak berhenti.

Ketika jarak mereka hanya tiga langkah, Kang Jin mengangkat alis.

“Kau berani? Tanpa pedang? Tanpa teknik yang layak?” Ia menggelengkan kepala. “Aku bisa melumpuhkanmu hanya dengan satu jari.”

“Maka lakukan,” kata Seol. Matanya menatap lurus ke mata Kang Jin. “Tapi aku akan tetap berdiri.”

Kang Jin tertawa. Tertawa pendek dan tajam.

“Bagus. Aku suka sikapmu.”

Ia mengangkat satu jari telunjuk. Qi berkumpul di ujung jarinya, membentuk titik kecil yang berdenyut seperti bintang kecil. Seol merasakan tekanan itu meningkat—bukan untuk membunuh, tetapi cukup untuk melumpuhkan.

Tapi sebelum jari itu menyentuhnya, sebuah suara bergema dari dalam aula.

“Cukup, Kang Jin.”

Kang Jin menghentikan gerakannya. Ia menoleh ke arah pintu aula, ekspresinya berubah dari dingin menjadi hormat.

Seol juga menoleh.

Seorang perempuan muda melangkah keluar dari aula. Ia mengenakan seragam murid dalam yang sama dengan Kang Jin, tetapi dengan sulur emas yang lebih banyak—tanda bahwa statusnya lebih tinggi. Rambutnya hitam panjang tergerai di bahu, wajahnya sangat cantik tetapi dingin, seperti patung giok yang tidak pernah tersenyum.

Matanya—mata hitam pekat yang tampak seperti tidak memiliki emosi—beralih ke Seol.

“Peserta ini,” katanya, suaranya datar, “telah melewati ujian. Biarkan dia masuk.”

Kang Jin mengerutkan kening. “Tapi Sabeom-nim Seol Hwa, dia belum—”

“Aku bilang, biarkan dia masuk.”

Kang Jin terdiam. Ia menunduk, melangkah ke pinggir, memberi jalan.

Seol berdiri di tempatnya, sedikit terkejut. Ia tidak tahu siapa perempuan ini, tetapi namanya—Seol Hwa—menggema di benaknya. Nama yang sama dengan namanya, meski ejaannya berbeda.

Perempuan itu menatapnya sekali lagi. Tatapan yang tidak bisa ia baca—bukan benci, bukan baik, bukan apa pun. Hanya tatapan kosong yang membuatnya merasa seperti sedang diperiksa.

“Masuk,” katanya, lalu berbalik dan masuk kembali ke aula.

Seol menarik napas dalam-dalam. Ia melangkah maju, melewati Kang Jin yang masih menatapnya dengan mata tajam, dan memasuki Aula Naga Putih.

Di dalam, beberapa peserta lain sudah menunggu—mungkin sekitar delapan orang dari empat puluh yang mulai tadi. Mereka duduk di lantai batu, wajah mereka penuh kelelahan tetapi juga kelegaan.

Baek Ho menyusul beberapa saat kemudian, nyaris jatuh saat melewati Kang Jin, tetapi berhasil masuk.

Ketika jam matahari menunjukkan waktu habis, Baek Yoon memasuki aula. Ia berdiri di depan mereka, matanya menyapu satu per satu.

“Dari empat puluh dua peserta,” katanya, “hanya sepuluh yang berhasil melewati ujian pertama. Selamat.”

Ia berhenti di depan Seol. Matanya yang tajam mengamati pemuda itu dengan saksama.

“Kau,” katanya, “menarik perhatian Seol Hwa. Itu tidak mudah.”

Seol tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya mengangguk kecil.

Baek Yoon melanjutkan berjalan, tetapi sebelum ia pergi, ia berkata tanpa menoleh:

“Ujian kedua besok pagi. Ujian Pemahaman Pedang. Bawalah yang terbaik yang kalian miliki. Karena kali ini, tidak ada yang akan membantu kalian.”

Ia keluar dari aula, meninggalkan sepuluh peserta yang duduk di lantai dengan jantung berdebar kencang.

Seol menatap tangannya. Masih gemetar—bukan karena takut, tetapi karena adrenalin yang belum sepenuhnya reda.

Ia berhasil. Satu ujian telah dilewati.

Tapi ia tahu, ujian yang sesungguhnya baru akan dimulai.

Di dalam sakunya, Batu Giwa berdenyut pelan—seperti bisikan kecil yang mengatakan, “Kau bisa.”

---

1
yos helmi
💪💪💪💪💪😍😍😍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😍😍😍👍👍👍💪💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😍😍💪💪💪
yos helmi
💪💪💪🤣🤣🤣👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣👍👍
yos helmi
👍👍👍👍🤣🤣💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪👍
yos helmi
💪💪💪💪👍👍👍
Daryus Effendi
sampah
R.A.N
mana author
Q. Zlatan Ibrahim: halo terimakasih sudah berkunjung
total 1 replies
R.A.N
halo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!