Peliknya kehidupan, dan pasang surut usaha kecil-kecilan yang sedang dijalaninya tidak membuat Rinjani menyerah. Namun, tuntutan dan target usia pernikahan dari orang tuanya mampu membuatnya kabur dari keindahan kota dan segala kemudahannya.
Dia kabur ke desa kelahiran orang tuanya, mengharapkan ketenangan yang tidak sesuai espektasinya.
"Terserah saya lah, ini kan masih lahan nenek saya!" bentak Rinjani sambil berkacak pinggang di halaman rumah nenek.
"Tapi mengganggu ketenangan warga Mbak."
"Matamu, Mbak!"
Kehidupan baru dengan tetangga baru yang menyebalkan pun dimulai.
Sebelum baca jangan lupa follow instagram @Tantye 005
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali ke pelukanmu
Sudah beberapa hari ini Rinjani selalu tidak fokus jika bekerja. Entah itu karena masalahnya dengan Ardian yang tidak kunjung selesai atau dirinya yang merindukan keberadaan Ikhram meski hampir setiap malam bertukar kabar.
"Bu Jani ...."
"Iya kenapa?"
Bahkan Zira sudah memanggil namanya berulang kali tetapi dia baru menyahut sekarang.
"Bu Jani sepertinya kurang sehat. Kami bisa mengerjakannya kok. Ibu bisa pulang dan istirahat." Zira tampak mengkhawatirkan kondisi Rinjani akhir-akhir ini. Wajahnya terlihat pucat dan sering merasa pusing.
"Saya nggak apa-apa. Katakan saja."
"Ada klien baru. Bu Rinjani mau saya buatkan jadwal temunya?"
"Boleh, buatkan jadwal temunya sekalian proposal sesuai terget usaha."
"Baik Bu."
Zira segera membuatkan jadwal, dan Meli melihat-lihat proposal mereka dan mencocokkan minat usaha klien agar tidak jomplang saat bertemu.
Lain hal dengan Rinjani yang kembali melamun usai mendapatkan pesan dari Ardian.
Sayang, pulang kerja aku jemput ya. Kita makan malam sekalian merayakan aniv kita yang ke delapan
Kamu juga tidak lupakan saran aku sebelumnya? Pasti hasilnya memuaskan.
Rinjani tiba-tiba bangkit, kursi bergeser dan menimbulkan decitan yang mampu mengalihakan Meli dan Zira dari pekerjaan.
"Saya ada urusan. Perihal proposal dan jadwal kalian atur saja."
Wanita itu meninggalkan kantor secara terburu-buru. Bukan untuk menemui Ardian melainkan pulang ke rumah demi memastikan sesuatu.
Sebenarnya dia tidak ingin melihat hasil dari benda tersebut. Tapi ucapan dan ancaman Ardian sangat menganggunya. Dia ingin membuktikan bahwa pria itu salah.
***
Ikhram mengelengkan kepalanya, dia sepertinya berhalusinasi efek merindukan Rinjani tetapi terhalang kesibukan masing-masing. Bahkan pria itu meninggalkan meja kasir untuk mencuci mukanya dan saat kembali dia masih melihat Rinjani berdiri di dekat lemari es krim.
"Jani?"
"Kamu mengantuk sampai ke dalam buat cuci muka?"
Benar dia ... dia Rinjani istrinya yang datang tanpa pemberitahuan lebih dulu. Dia menarik pinggang wanita itu agar merapat padanya, memeluk dan membenamkan bibirnya pada pucuk kepala Rinjani tanpa peduli pada pelanggannya.
Beruntung kasir yang dia gantikan sigap mengambil alih.
"Tahu saja saya sedang rindu, tapi harusnya ada pemberitahuan biar saya jemput." Melerai pelukan dan menatap istrinya. Tatapan penuh cinta yang tidak akan Rinjani dapatkan dari pria manapun.
"Iya makanya saya nemuin kamu. Biar rindunya sedikit terobati."
"Hanya saya yang rindu?" Kening Ikhram mengerut.
"Mungkin saja." Rinjani tertawa melihat raut wajah Ikhram yang sengaja dibuat kesal.
Ikhram pamit pada karyawan ibunya dan membawa Rinjani menggunakan motor kesayangannya.
Lihatlah istrinya yang nekat itu. Bepergian sendiri di malam hari. Ikhram tidak bisa membayangkan Rinjani tiba di toko ibunya saat jam 10 malam. Kebetulan toko ibunya buka 24 jam dengan 3 sift.
"Saya mengantuk." Memeluk pinggang Ikhram dan menyandarkan pipinya di sana. Wanita itu nekat pulang ke desa setelah tiba di rumahnya dan mengecek benda yang tidak ingin dia lihat hasilnya.
Ikhram mengulum senyum, dia suka Rinjani yang manja seperti ini. Tapi kenapa begitu tiba-tiba?
"Mau bermalam di mana? Nggak bawa barang?" tanya Ikhram sembari melajukan motornya pelan.
"Kan saya simpan barangnya di rumah nenek. Kita nginapnya di rumah ibu saja, nggak pernah saya masuk ke kamar kamu."
"Boleh banget."
Kedatangan Rinjani belum diketahui oleh keluarga Ikhram sendiri. Apalagi keduanya tidak membangunkan siapapun saat tiba di rumah.
"Lapar nggak? Kayaknya masih ada makanan ibu." Ikram memperhatikan Rinjani yang berdiri di depan jendela menatap rumah seberang, rumah neneknya sendiri.
"Pantas saja suka berlama-lama di berdiri di sini, ternyata kamu penguntit."
"Loh?" Ikhram ikut berdiri di samping Rinjani, memasangkan selimut tipis karena udara sangat dingin bahkan ketika mereka ada di kamar.
"Saya sering memergoki kamu berdiri di sini, ternyata dari sini bisa melihat saya di seberang. Kecintaan ya pak?"
"Kalau iya kenapa? Percaya nggak kalau jauh sebelum kita menikah saya sudah suka sama kamu?" Ikhram menyerong sembari bersedekap dada.
"Nggak."
"Kenapa?"
"Kita bertemu satu minggu sebelum menikah di desa ini dan saat itu hubungan kita nggak baik, kamu ngeselin. Dan saya nggak percaya pada cinta padangan pertama."
"Itu menurutmu Rinjani." Ikhram tersenyum. "Mau mendengar hal luar biasa?"
"Nanti deh, saya mengantuk."
Rinjani menanggalkan selimut tipis yang tersampir di pundaknya. Merangkak ke tempat tidur dan membungkusnya selimut lebih tebal.
Hal itu dilakukan juga oleh Ikhram, menyisipkan tangan di bawah leher dan mengikis jarak di antara mereka.
"Sungguh saya sangat merindukanmu Rinjani," bisik Ikhram dan memejamkan matanya.
"Saya ingin mengatakan hal yang sangat serius, tapi untuk malam ini lepaskan rasa rindumu terhadap saya." Rinjani semakin merapatkan tubuhnya agar merasa hangat, memejamkan mata seiring wajahnya menerima deru napas Ikhram yang hangat.
.
.
.
Akhirnya mereka bertemu lagi hehehe. Kira-kira apa ya pembicaraan seriusnya?
jangan end di tengah jalan ya ka,,,
noh Jani dengerin,,makanya cek dulu
untung bang iklan langsung datang
lanjut sampe end ya thor🙏
buat mastiin apakah itu anak kamu atau anak Agus,,
siapa tau itu bukan anak Agus tapi anak iklan,,