NovelToon NovelToon
The Broken Lens

The Broken Lens

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:272
Nilai: 5
Nama Author: Vian's

Sinopsis: The Broken Lens

Bagi Savya, bidikan kamera analog dan kedamaian di Thalassa Coffee adalah pelarian terbaik dari masa lalu. Namun, dunianya yang tenang mendadak retak saat Katya kembali hadir—membawa intimidasi dan ancaman yang siap menghancurkan sisa hidupnya.

Di tengah kepungan panik yang nyaris membuat Savya runtuh, Valerius datang mengintervensi. Pria misterius itu hadir sebagai perisai yang tak tergoyahkan, siap pasang badan dan menjadi fokus baru yang menyatukan kembali kepingan hidup Savya.

Saat masa lalu menolak pergi, mampukah Savya bertahan? Ataukah lensa kehidupannya akan hancur sepenuhnya sebelum Valerius sempat mendekapnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vian's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13: Daftar belanja yang berisik

Pagi itu, jarum jam baru saja menyentuh angka delapan ketika Savya mendorong pintu kedai. Denting lonceng kecil di atas pintu menyambut kehadirannya, menyatu dengan aroma biji kopi yang mulai tercium samar. Suasana kedai masih relatif tenang, hanya ada suara mesin espresso yang sedang dipanaskan.

Suasana di kedai terasa berbeda. Setelah beberapa hari beroperasi dengan tim lengkap, ritme kerja mulai terbentuk, namun hari ini ada sedikit kendala logistik. Savya baru saja meletakkan kunci mobilnya di atas bar ketika Sila dan Farel menghampirinya.

"Pagi, Mbak," sapa Sila dengan suara yang lembut namun menunjukkan ada sesuatu yang perlu disampaikan. Ia menyodorkan buku catatan stok dengan sopan. "Mbak, maaf mengganggu sebentar. Setelah kami cek, persediaan susu dan beberapa bahan utama lainnya sudah menipis. Sepertinya tidak akan cukup sampai sore nanti."

Farel yang berdiri di sampingnya mengangguk kecil, memberikan laporan tambahan. "Iya, Mbak. Bubuk cokelat dan gula cair juga sisa sedikit. Kami khawatir kalau tidak segera ditambah, kita harus menolak pesanan pelanggan nanti."

Savya memeriksa catatan itu sebentar lalu mengangguk paham. "Kalian benar. Stok ini memang harus segera diisi. Aku akan pergi belanja sekarang." Savya melirik ke arah gudang penyimpanan. "Tapi barangnya pasti banyak. Aku butuh satu orang untuk bantu angkut-angkut."

SAYA, MBAK! SAYA ADALAH KULI TERPILIH!" Arka muncul dari balik pintu dapur dengan posisi seperti pelari yang siap melakukan start pendek. "Otot saya sudah meronta-ronta minta beban. Biarkan saya yang memikul beban belanjaan Mbak, seberat beban hidup saya!"

"Jangan, Mbak!" Sila langsung menyanggah dengan nada tegas. "Terakhir kali Arka saya suruh beli detergen lantai, dia malah bawa pulang satu kardus makanan kucing karena katanya kemasannya lucu dan lagi promo. Kita tidak punya kucing di sini, Mbak!"

"Itu namanya antisipasi kalau tiba-tiba ada kucing liar bertamu ke kedai kita, Sil! Namanya juga pelayanan prima!" balas Arka tak mau kalah. "Mbak Savya, biarkan saya ikut. Saya kuat angkut berkarung-karung gula tanpa mengeluh!"

"Kuat saja tidak cukup, Ka," Farel ikut bersuara, nadanya datar tapi menusuk. "Mbak Savya butuh orang yang teliti cek tanggal kedaluwarsa. Kamu kan kalau belanja main ambil saja yang paling depan. Ingat kejadian susu asam minggu lalu?"

Arka terdiam sejenak, wajahnya memerah. "Itu... itu kan salah pabriknya!"

"Duh, pokoknya jangan Arka, Mbak!" Sila langsung menyambar dengan wajah ngeri. "Mbak tahu sendiri kan, Arka itu kalau di supermarket matanya kayak radar pencari diskon barang nggak berguna. Minggu lalu saja disuruh beli tisu, dia pulang bawa pelampung leher karena katanya warnanya 'estetik'. Kita butuh susu, bukan persiapan banjir!"

"Itu namanya sedia payung sebelum hujan, Sil!" Arka berkacak pinggang, menatap Sila dengan gaya menantang yang kocak. "Mbak Savya, pilih saya! Saya bisa lari bawa sepuluh liter susu tanpa tumpah setetes pun!"

Di sudut lain, Mika yang sedang merapikan rak gelas berhenti sejenak. Ia meletakkan lapnya dengan sangat rapi, lalu melangkah mendekat dengan gestur yang sangat hati-hati. Wajahnya tampak sungkan, seolah takut mengganggu perdebatan yang ada.

"Mbak... kalau Mbak berkenan," ucap Mika pelan. Suaranya rendah dan penuh perhitungan. "Mungkin saya bisa ikut. Saya sudah mencatat kapasitas bagasi mobil Mbak dan daftar belanjaan Sila. Saya bisa pastikan semua barang tersusun rapi supaya tidak ada yang pecah atau bocor saat di perjalanan."

Mika menatap Savya dengan tatapan tulus namun sedikit gugup, seolah ia sangat ingin membantu tapi tidak ingin terlihat berebut tempat dengan Arka.

"Tuh kan! Mika terlalu bertele-tele, Mbak!" Arka kembali memotong dengan gaya jenakanya. "Mbak Savya butuh otot saya yang tangkas ini! Masalah susun-menyusun barang, saya bisa lakukan sambil tutup mata!"

Sila kembali menyanggah Arka, "Justru itu poinnya, Arka! Kita butuh ketenangan Mika supaya barang-barang tidak pecah. Tapi..." Sila menoleh ke arah Mika dengan raut ragu, "Mik, kamu yakin bisa pegang troli di tengah kerumunan ibu-ibu diskon? Kamu kan gampang gugup kalau di tempat ramai."

Mika tampak sedikit gelisah, ia menunduk sebentar. "Saya... saya akan berusaha, Mbak Sila. Saya ingin berkontribusi lebih selain hanya mengelap meja."

"Wah, Mika! Kamu mau menyaingi kecepatan cahaya saya dengan matematika?" Arka menunjuk Mika dengan gaya dramatis. "Mbak, dengarkan saya. Di supermarket itu yang penting bukan hitungan, tapi keberanian menghadapi ibu-ibu pemburu promo. Mika ini kalau lihat kerumunan saja langsung keringat dingin, gimana mau jaga troli?"

"Bukan begitu, Arka," ucap Mika pelan, wajahnya tampak gugup tapi tetap berusaha tenang. "Saya hanya ingin memastikan... belanjaan Mbak Bos tetap dalam kondisi prima. Kalau Arka yang bawa, saya takut susunya malah jadi mentega karena dikocok-kocok sepanjang jalan."

Farel yang biasanya diam, kini ikut angkat bicara dengan nada datar yang menusuk. "Arka memang cepat, tapi memorinya pendek seperti ikan mas koki. Disuruh beli kopi, nanti pulangnya bawa kopi saset karena gambarnya lebih menarik."

"ASTAGA, FAREL! Kamu menusukku dari belakang!" Arka memegang dadanya seolah tertembak peluru imajiner. "Mbak Bos, saya berjanji! Kali ini saya akan jadi robot belanja yang patuh. Tolong, jangan biarkan Mika yang pergi. Dia kalau disuruh milih apel saja, harus diajak diskusi dulu perihal tekstur dan warna kulitnya!"

"Setidaknya saya tidak beli barang karena bonus gantungan kunci, Arka," balas Mika pendek, yang langsung membuat Sila dan Farel tertawa kecil.

Perdebatan makin tidak karuan. Arka mulai melakukan gerakan angkat beban menggunakan galon air kosong untuk pamer kekuatan, sementara Mika terus menjelaskan secara logis pentingnya "manajemen berat belanjaan" dengan wajah yang sangat serius tapi terlihat tertekan oleh kegaduhan Arka.

Sila terus memaparkan alasan logis kenapa Arka adalah pilihan yang berisiko, sementara Arka terus membela diri dengan berbagai janji manis tentang betapa efisiennya dia nanti. Di tengah-tengah itu, Mika hanya sesekali menyelipkan komentar pendek yang membuat Arka makin gemas.

Savya hanya bisa berdiri di tengah, memandangi karyawan-karyawannya yang sangat bersemangat (dengan caranya masing-masing). Memijat keningnya sambil menahan tawa melihat tingkah karyawannya yang luar biasa ajaib ini.

"Pokoknya pilih saya, Mbak! Saya sudah siap mental lahir batin!" seru Arka sambil melakukan gerakan lari di tempat, membuat debu di lantai hampir beterbangan kembali. "Mika itu terlalu estetis, Mbak. Nanti dia malah sibuk menata warna kotak susu di dalam troli supaya gradasinya bagus, sementara Mbak sudah lumutan di kasir!"

Mika menoleh, wajahnya yang tenang tampak sedikit terusik meski ia tetap terlihat sungkan. "Saya hanya... tidak ingin Mbak Savya kesulitan membawa barang yang berat. Dan Arka... dia sering lupa membawa dompetnya sendiri, apalagi membawa daftar belanjaan Mbak."

"Hei! Itu fitnah yang sangat akurat!" balas Arka dengan gaya sok keren, yang justru membuat Sila menepuk jidatnya keras-keras.

"Tuh kan, Mbak! Mengaku sendiri!" Sila menyambar cepat. "Mbak, benar kata Farel, Mika lebih bisa diandalkan. Biarkan Mika yang pergi supaya barang-barang kita selamat sampai tujuan tanpa drama 'hilang di lorong mainan'."

Savya mengamati Arka yang masih tidak bisa diam—kakinya terus bergerak, tangannya sesekali membetulkan letak celemeknya dengan gerakan yang terlalu energik untuk ukuran jam delapan pagi. Ia kemudian melirik kedainya yang rapi berkat ketelitian Mika.

Pikirannya mulai bekerja. Jika ia meninggalkan Arka di sini bersama Mika dan Sila, besar kemungkinan kedai ini akan berubah menjadi arena balap lari atau minimal, ada satu dua cangkir yang pecah karena gerakan Arka yang tak terduga. Setelah beberapa saat membiarkan drama jenaka itu berlangsung, Savya akhirnya mengangkat tangan.

"Oke, oke. Keputusan sudah bulat," ucap Savya sambil mengangkat kedua tangannya.

Semua orang terdiam, menanti dengan tegang.

"Arka, kamu ikut aku," putus Savya mantap.

"YES! HIDUP MBAK BOS! HIDUP PASUKAN ANGKUT!" Arka bersorak kegirangan sampai melompat kecil, sementara Sila dan Farel langsung kompak mengembuskan napas panjang dengan bahu yang merosot.

"Tapi ada alasannya," lanjut Savya sambil menahan tawa melihat wajah pasrah Sila. "Arka, energi kamu itu terlalu banyak. Kalau kamu di sini, aku takut kedai ini malah roboh sebelum jam sepuluh pagi. Jadi, lebih baik kamu habiskan energimu untuk angkut berkarung-karung gula dan berliter-liter susu di supermarket."

Arka terdiam sebentar, mencerna kalimat Savya. "Eh, jadi saya diajak karena saya... hiperaktif, Mbak?"

"Tepat sekali. Anggap saja ini latihan fisik," sahut Savya santai.

Sila menatap Mika, lalu beralih ke Savya dengan tatapan 'ya-sudahlah-terserah-Mbak'. "Baiklah, Mbak. Tapi tolong, kalau nanti Arka tiba-tiba menghilang atau mencoba naik ke atas troli, jangan sungkan untuk meninggalkannya di sana sebagai jaminan."

Mika hanya mengangguk pelan, meski ada sedikit rona sungkan karena tawarannya ditolak, ia merasa alasan Savya sangat masuk akal. "Baik, Mbak. Saya akan... menjaga kedai agar tetap tenang. Setidaknya... selama Arka tidak ada di sini, suasana akan sangat... hening."

Farel hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil kembali ke mesin espresso. "Semoga beruntung, Mbak. Jangan lupa pakai helm kalau Arka mulai ugal-ugalan bawa troli."

"Beres! Ayo Arka, sebelum susunya habis dibeli orang lain!" ajak Savya.

"YESSS! MENANG TELUR!" Arka melompat kegirangan, hampir saja menabrak Farel yang sedang membawa nampan.

"TELAK ARKAAA!!!" Sahut Sila dan Farel bersamaan ,Emosi sekaligus Geram dengan tingkah Arka.

"Sudah, sudah!" Savya tertawa kecil. Ia menatap Arka yang sudah memasang wajah memelas seperti anak kucing yang minta diadopsi. "Kami pergi dulu, Ayo Arka"

"SIAP GERAK, KAPTEN!" Arka menyambar tas belanja kain milik kedai dan berlari menuju pintu dengan semangat membara, meninggalkan kedai yang mendadak terasa lebih damai meski hanya sesaat.

Savya dan Arka, kemudian pergi menggunakan taksi online yang suda di pesan oleh Savya sebelumnya.

..."Story by Vian's."...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!