Arkan sama Salsa itu kayak kucing sama anjing di SMA Garuda. Tiap kali ketemu di koridor, pasti ada aja yang diributin, mulai dari nilai ulangan sampe jatah parkir. Salsa yang ambis banget pengen dapet rangking satu ngerasa keganggu sama Arkan yang keliatannya santai tapi pinter banget. Kenapa sih nih cowok kudu ada di sekolah ini? batin Salsa kesel tiap liat muka tengil Arkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyler Austin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SABTU MALAM PENUH KEJUTAN
Sabtu sore itu, suasana di kamar Salsa Kirana jauh dari kata tenang. Di atas tempat tidurnya, berserakan tiga set pakaian yang berbeda, mulai dari dress selutut berwarna merah muda yang menurutnya terlalu berlebihan, hingga kaos oblong putih polos yang terasa terlalu santai. Salsa berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, ia sangat bersemangat karena ini adalah kencan resmi pertamanya dengan Arkan setelah mereka sepakat untuk berpacaran. Di sisi lain, ia merasa sangat terintimidasi oleh taruhan yang ia kalahkan kemarin. Film horor. Dua kata itu cukup untuk membuat bulu kuduk Salsa meremang bahkan sebelum ia sampai di bioskop.
Salsa menghela napas panjang, lalu matanya tertuju pada sebuah map plastik di sudut meja belajarnya. Itu adalah rangkuman materi biologi tentang sistem saraf yang diberikan Arkan tadi pagi saat cowok itu mampir sebentar ke rumahnya. Meskipun Arkan memenangkan taruhan, cowok itu tetap menepati janjinya untuk membantu Salsa belajar. Salsa membuka map tersebut dan tersenyum tipis melihat tulisan tangan Arkan yang berantakan namun sangat sistematis. Di pinggir kertas, ada sebuah catatan kecil yang ditulis dengan tinta biru: Jangan terlalu dipikirin rumusnya, pikirin aja gimana cara lo biar nggak teriak pas nonton nanti. Semangat, Si Paling Ambis!
Tengil, batin Salsa sambil menggelengkan kepala. Namun, ia tidak bisa memungkiri bahwa perhatian-perhatian kecil seperti itulah yang membuat hatinya luluh. Arkan selalu tahu cara menyeimbangkan sifat kompetitifnya dengan humor yang segar. Salsa akhirnya memutuskan untuk memakai sweater rajut berwarna biru langit yang dipadukan dengan celana jeans hitam. Ia pikir, sweater itu akan cukup tebal untuk menutupi wajahnya jika nanti adegan di layar bioskop menjadi terlalu menyeramkan.
Ponsel Salsa bergetar di atas meja. Sebuah panggilan masuk dari Dira. Salsa segera mengangkatnya, tahu betul bahwa sahabatnya itu pasti sedang gatal ingin menginterogasi persiapannya.
"Halo, Sa! Gimana? Sudah siap mental buat dipeluk Arkan di bioskop?" suara Dira terdengar sangat bersemangat di seberang sana.
Salsa memutar bola matanya, meskipun wajahnya mendadak memerah. "Apaan sih, Dir? Gue cuma mau nonton, bukan mau adegan drama picisan. Lagian ini kan karena gue kalah taruhan."
"Alah, alasan klasik! Bilang aja lo seneng kan bisa dapet kesempatan buat modus? Secara, lo kan paling penakut kalau urusan hantu-hantuan. Pasti nanti lo bakal nempel terus ke Arkan kayak perangko," goda Dira lagi, diikuti tawa renyah yang membuat Salsa semakin salah tingkah.
"Nggak akan ya! Gue sudah siapin taktik. Gue bakal pake earphone kalau musiknya mulai serem, atau gue merem sekalian," balas Salsa membela diri.
"Duh, rugi dong Arkan kalau lo merem terus. Ya udah, selamat berjuang ya, Tuan Putri Fisika. Inget, jangan sampe lo pingsan gara-gara liat kuntilanak, nanti Arkan repot gendongnya. Tapi kalau digendong sih enak juga ya?"
"Dira! Udah ah, gue mau lanjut siap-siap. Bye!" Salsa menutup telepon dengan cepat sebelum Dira sempat melontarkan godaan yang lebih parah lagi.
Tepat pukul tujuh malam, suara knalpot motor sport yang sangat familiar terdengar di depan rumahnya. Salsa segera menyambar tas selempang kecilnya dan memastikan penampilannya sekali lagi di cermin. Ia memoleskan sedikit lip tint berwarna peach agar bibirnya tidak terlihat pucat. Saat ia turun ke bawah, ibunya sedang duduk di ruang tamu sambil membaca majalah.
"Arkan sudah sampai, Sa?" tanya Bu Ratna sambil menatap putrinya dengan tatapan bangga. "Cantik banget anak Mama malam ini."
"Iya, Ma. Salsa berangkat dulu ya," pamit Salsa sambil mencium tangan ibunya.
"Pulangnya jangan terlalu malam ya. Dan bilang sama Arkan, bawa motornya hati-hati," pesan Bu Ratna yang diangguki mantap oleh Salsa.
Saat Salsa membuka pintu depan, Arkan sedang bersandar di motornya sambil memainkan ponsel. Cowok itu mengenakan jaket bomber hitam dan kaos putih di dalamnya, terlihat sangat maskulin namun tetap santai. Ketika melihat Salsa keluar, Arkan sempat terdiam sejenak. Matanya menyisir penampilan Salsa dari ujung kepala hingga ujung kaki, membuat Salsa merasa sedikit gugup.
"Kenapa? Aneh ya?" tanya Salsa sambil merapikan ujung sweaternya.
Arkan tersenyum miring, lalu berjalan mendekat. "Nggak. Justru karena nggak aneh, gue jadi mikir dua kali buat bawa lo ke bioskop."
"Maksudnya?"
"Ya kalau lo secantik ini, yang ada orang-orang di bioskop bukannya nonton film malah nontonin lo. Gue kan jadi rugi," goda Arkan sambil memberikan helm kepada Salsa.
Salsa merasakan jantungnya berdegup kencang, namun ia berusaha membalas dengan gaya ketusnya yang biasa. "Gombal mulu kerjaan lo. Udah ayo berangkat, nanti telat dapet tiketnya."
Arkan tertawa pelan, lalu menghidupkan mesin motornya. Salsa naik ke boncengan, dan kali ini ia tidak perlu ragu lagi untuk melingkarkan tangannya di pinggang Arkan. Kehangatan dari punggung cowok itu selalu berhasil memberikan rasa nyaman yang sulit dijelaskan. Mereka membelah jalanan kota yang mulai ramai oleh lampu-lampu kendaraan dan papan reklame yang berwarna-warni. Angin malam yang dingin menerpa wajah Salsa, namun ia merasa hangat di balik punggung Arkan.
Sesampainya di mal, suasana sangat ramai karena ini adalah malam Minggu. Banyak pasangan remaja lain yang juga menghabiskan waktu di sana. Arkan memarkirkan motornya dengan cekatan, lalu mereka berjalan beriringan menuju lantai paling atas tempat bioskop berada. Sepanjang perjalanan di eskalator, Arkan tidak melepaskan genggaman tangannya dari tangan Salsa. Hal itu membuat beberapa pasang mata melirik ke arah mereka, namun Arkan tampak acuh tak acuh, seolah ingin menunjukkan pada dunia bahwa gadis di sampingnya ini adalah miliknya.
"Lo beneran mau nonton film itu?" tanya Salsa ragu saat melihat poster film horor berjudul Hutan Terlarang yang terpampang besar di dekat loket tiket. Gambar sesosok makhluk dengan wajah hancur di balik pepohonan membuat Salsa menelan ludah dengan susah payah.
Arkan menoleh, senyum jahil terukir di wajahnya. "Kenapa? Si Paling Ambis mulai takut? Kan sudah janji, kalah taruhan harus terima konsekuensinya."
"Gue nggak takut! Cuma... ya, gue ngerasa filmnya kurang edukatif aja buat otak gue," kilah Salsa, berusaha tetap terlihat berwibawa.
"Halah, bilang aja takut setan. Tenang, ada gue di sini. Kalau setannya keluar, lo boleh tutup mata kok, asal jangan tutup hati buat gue," ucap Arkan sambil mengedipkan sebelah matanya, lalu berjalan menuju loket untuk membeli tiket.
Salsa hanya bisa mendengus kesal namun dalam hati ia merasa sangat berdebar. Sambil menunggu Arkan mengantre, Salsa memperhatikan sekeliling. Ia melihat beberapa teman sekolah mereka juga ada di sana, namun untungnya tidak ada yang terlalu dekat sehingga ia tidak perlu merasa canggung. Tak lama kemudian, Arkan kembali dengan dua lembar tiket dan satu ember besar popcorn karamel serta dua minuman dingin.
"Ayo masuk, filmnya lima menit lagi mulai," ajak Arkan.
Saat mereka memasuki studio, udara dingin dari AC langsung menyambut kulit Salsa. Mereka duduk di barisan tengah, posisi yang menurut Arkan paling pas untuk mendapatkan efek suara yang maksimal. Salsa mengeratkan sweaternya, mencoba mencari posisi yang nyaman. Lampu studio mulai meredup, menandakan film akan segera dimulai. Jantung Salsa mulai berpacu lebih cepat saat musik pembuka yang mencekam mulai terdengar dari speaker besar di sekeliling mereka.
Sepuluh menit pertama film masih terasa biasa saja, hanya perkenalan karakter. Namun, saat suasana mulai berubah menjadi gelap dan musik latar mulai naik temponya, Salsa mulai merasa gelisah. Ia berulang kali memasukkan popcorn ke mulutnya hanya untuk mengalihkan rasa takutnya. Arkan yang menyadari hal itu, hanya tersenyum tipis di kegelapan. Ia sengaja menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Salsa.
Tiba-tiba, sebuah adegan jump scare muncul di layar. Sesosok makhluk muncul secara mendadak dengan suara teriakan yang melengking. Salsa refleks berteriak kecil dan langsung menyembunyikan wajahnya di lengan jaket Arkan. Tanpa ia sadari, tangannya mencengkeram erat lengan cowok itu.
Arkan terkekeh pelan, suaranya terdengar sangat dekat di telinga Salsa. "Katanya nggak takut? Baru segitu doang sudah nyerah?"
Salsa mendongak sedikit, matanya masih terlihat waspada. "Itu kaget, bukan takut! Suaranya kenceng banget!"
Arkan tidak membalas lagi dengan kata-kata. Alih-alih menggodanya, ia malah merangkul bahu Salsa dan menariknya agar bersandar di bahunya. "Sini, kalau takut merem aja. Nanti kalau setannya sudah pergi, gue kasih tahu."
Salsa merasa seolah seluruh oksigen di sekitarnya menghilang. Posisi ini sangat intim, jauh lebih intim daripada saat mereka berada di motor. Ia bisa mencium aroma parfum Arkan yang bercampur dengan aroma popcorn karamel. Perlahan, Salsa mulai merasa tenang. Meskipun layar di depan masih menampilkan adegan-adegan menyeramkan, keberadaan Arkan di sampingnya membuat rasa takut itu perlahan memudar, digantikan oleh rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Sepanjang sisa film, Salsa lebih banyak menghabiskan waktu dengan bersandar di bahu Arkan. Sesekali ia masih terkejut dan mengeratkan pelukannya pada lengan Arkan, namun cowok itu selalu menenangkan dengan mengusap lembut rambutnya. Ternyata, kalah taruhan tidak seburuk yang Salsa bayangkan. Justru momen ini menjadi momen paling damai yang pernah ia rasakan bersama Arkan.
Setelah film berakhir dan lampu studio kembali menyala, Salsa segera menjauhkan dirinya dengan wajah yang sangat merah. Ia berusaha merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Arkan menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan, sebuah senyum lembut tersungging di bibirnya.
"Gimana? Serem nggak?" tanya Arkan saat mereka berjalan keluar dari studio.
"Biasa aja," jawab Salsa gengsi, meskipun kakinya masih terasa sedikit lemas. "Lain kali kalau mau taruhan, mending nonton film dokumenter sejarah aja."
Arkan tertawa lepas. "Mana ada tantangannya nonton dokumenter sejarah? Lagian, tadi siapa ya yang meluk lengan gue kenceng banget sampe gue hampir nggak bisa napas?"
"Itu... itu refleks karena kaget! Jangan geer deh!" Salsa mempercepat langkahnya, berusaha menghindari godaan Arkan.
Arkan menyusulnya dengan langkah santai, lalu kembali merangkul bahu Salsa. "Laper nggak? Makan dulu yuk sebelum pulang. Gue tahu tempat mi ayam yang enak di deket sini."
Salsa mengangguk setuju. Sejujurnya, ia memang merasa lapar karena energinya habis terkuras untuk menahan rasa takut di dalam studio tadi. Mereka meninggalkan mal dan kembali meluncur di atas motor Arkan menuju warung mi ayam yang dimaksud. Tempatnya tidak terlalu mewah, hanya sebuah warung tenda di pinggir jalan yang cukup ramai pengunjung, namun aromanya sangat menggugah selera.
Sambil menunggu pesanan datang, mereka duduk berhadapan di sebuah meja kayu panjang. Suasana malam yang sedikit gerimis menambah kesan hangat di tempat itu. Arkan menatap Salsa yang sedang sibuk mengelap sendok dengan tisu, sebuah kebiasaan perfeksionis yang menurut Arkan sangat lucu.
"Sa," panggil Arkan tiba-tiba.
Salsa mendongak. "Apa?"
"Makasih ya buat malam ini. Gue tahu lo beneran takut sama film horor, tapi lo tetep mau nemenin gue," ucap Arkan dengan nada yang sangat tulus, tanpa ada sedikit pun kesan tengil di suaranya.
Salsa terdiam sejenak, lalu ia tersenyum tipis. "Kan gue sudah janji. Lagian, ternyata nggak seburuk itu kok. Asal ada... ya, lo tahu lah."
"Asal ada gue?" potong Arkan dengan cepat.
Salsa tidak membantah, ia hanya menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan rona merah di pipinya. "Terserah lo deh mau ngomong apa."
Tak lama kemudian, dua mangkuk mi ayam hangat tersaji di depan mereka. Mereka makan dengan lahap sambil sesekali berbincang tentang hal-hal ringan, mulai dari kelakuan kocak Pak Baskoro di kelas hingga rencana mereka untuk proyek sains berikutnya. Salsa merasa sangat nyaman berbicara dengan Arkan. Cowok ini bukan hanya rival yang cerdas atau pacar yang perhatian, tapi juga teman bicara yang sangat nyambung.
"Oh iya, gimana rangkuman biologi yang gue bikin? Ada yang kurang nggak?" tanya Arkan sambil menyeruput minumannya.
"Bagus kok. Caranya lo jelasin tentang neurotransmiter itu lebih gampang dimengerti daripada penjelasan di buku paket. Lo sebenernya pinter banget ya, Kan, cuma sayangnya lo males aja," puji Salsa jujur.
Arkan tertawa kecil. "Gue bukannya males, Sa. Gue cuma butuh motivasi yang tepat. Dan sekarang, motivasi gue ada di depan mata gue."
Salsa tersedak mi ayamnya sendiri mendengar ucapan Arkan. Ia segera meminum es tehnya dengan terburu-buru. "Lo bisa nggak sih nggak bikin gue jantungan tiap menit? Tadi film horor, sekarang gombalan maut. Lama-lama gue bisa masuk rumah sakit."
Arkan hanya terkekeh, tampak sangat puas melihat reaksi Salsa. Setelah selesai makan, Arkan membayar tagihan mereka dan mengajak Salsa untuk pulang karena gerimis mulai turun lebih deras. Di sepanjang jalan pulang, Salsa memeluk Arkan lebih erat untuk menghalau hawa dingin. Air hujan yang mulai membasahi jaket mereka tidak terasa mengganggu, justru memberikan kesan romantis yang mendalam.
Sesampainya di depan pagar rumah Salsa, Arkan mematikan mesin motornya. Suasana sangat sepi, hanya terdengar suara rintik hujan yang jatuh di atas atap seng. Salsa turun dari motor dan melepaskan helmnya, lalu memberikannya kepada Arkan.
"Makasih ya, Kan. Hati-hati di jalan, hujan makin deras," ucap Salsa.
Arkan menerima helm itu, namun ia tidak segera beranjak. Ia menatap Salsa dengan dalam, lalu tangannya terulur untuk merapikan beberapa helai rambut Salsa yang basah karena air hujan. "Selamat istirahat, Salsa. Jangan mimpi buruk ya. Kalau mimpi buruk, inget aja kalau gue bakal selalu ada buat jagain lo."
Salsa merasa hatinya meleleh. Ia tidak bisa menahan diri lagi, ia maju selangkah dan memberikan pelukan singkat kepada Arkan sebelum akhirnya berlari masuk ke dalam rumah tanpa menoleh lagi. Di balik pintu, Salsa bersandar sambil memegang dadanya yang berdegup kencang. Ia bisa mendengar suara motor Arkan yang mulai menjauh, meninggalkan kehangatan yang masih tertinggal di hatinya.
Malam itu, Salsa tidur dengan senyum yang tidak pernah lepas dari wajahnya. Ia menyadari bahwa rivalitas yang selama ini ia banggakan ternyata tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa sayang yang ia miliki untuk Arkan. Ternyata, menjadi nomor satu tidak selalu berarti menang dalam nilai ujian, tapi tentang memenangkan hati seseorang yang paling berarti. Dan bagi Salsa, Arkananta Putra adalah kemenangan terbesarnya. Di tengah kegelapan malam, ia tidak lagi memikirkan hantu-hantu dari film tadi. Pikirannya hanya dipenuhi oleh bayangan Arkan, cowok tengil yang berhasil mengubah dunianya menjadi jauh lebih berwarna. Persaingan mereka mungkin akan tetap berlanjut di sekolah, namun sekarang, mereka bukan lagi musuh yang saling menjatuhkan, melainkan sepasang kekasih yang saling mendukung untuk menjadi versi terbaik dari diri mereka masing-masing. Sabtu malam itu memang penuh dengan kejutan, dan Salsa sangat bersyukur atas setiap detiknya.