NovelToon NovelToon
PEREMPUAN YANG TIDAK SEHARUSNYA ADA Ketika Hijrah Tak Menghapus Apapun

PEREMPUAN YANG TIDAK SEHARUSNYA ADA Ketika Hijrah Tak Menghapus Apapun

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Rumah Tangga / Penyesalan Suami
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Arjunasatria

Carisa pernah menjalin hubungan dengan Reynanda sejak masa kuliah. Awalnya terasa hangat dan penuh cinta, hingga akhirnya ditinggalkan tanpa penjelasan, bahkan saat ia mengandung anak Reynanda.

Sejak itu, hidup Carisa runtuh pelan-pelan. Ia menanggung luka yang dalam dan sempat berada di titik terendah.

Waktu berjalan, tetapi luka itu tidak benar-benar hilang. Hanya mengendap dan membuat Carisa semakin tertutup. Hingga suatu hari, ia dijodohkan dan bertemu dengan seorang pria yang tenang dan tidak banyak bertanya. Dari pernikahan itu, Carisa perlahan kembali menjalani hidup, meski trauma masa lalunya tetap ada dalam diam.

Dan ketika Carisa mulai benar-benar terbiasa hidup tanpa nama itu di kepalanya, takdir justru mempermainkannya lagi. Setelah lima tahun berlalu, mereka dipertemukan kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Proyek itu resmi berjalan. Surat konfirmasi dari Pratama Property masuk ke email Carisa tiga hari setelah mereka kembali dari Bandung. Email itu formal, tidak ada yang istimewa dari kalimat-kalimatnya. Hanya persetujuan atas proposal, jadwal pertemuan lanjutan, dan nama staf yang akan menjadi penghubung selama proyek berlangsung.

Carisa membacanya dua kali. Lalu menutup laptopnya.

Ia duduk diam di meja kerjanya di rumahnya menatap layar yang sudah gelap, menatap bayangannya sendiri yang samar di permukaan hitam itu.

Ini pekerjaan, ia mengingatkan dirinya. Hanya pekerjaan.

Ia membuka laptopnya kembali. Membalas email itu dengan kalimat yang sama formalnya. Lalu menekan kirim sebelum sempat berpikir lebih jauh.

Pertemuan kedua dijadwalkan pukul dua siang.

Carisa tiba lima menit lebih awal, kebiasaan lama yang tidak pernah berubah. Resepsionis yang sama menyambutnya, mempersilakan masuk dengan senyum yang sudah mengenalinya. Lift yang sama. Lorong yang sama. Foto-foto proyek di dinding yang sama. Semuanya sama seperti dua minggu lalu.

Tapi kali ini ia memasuki ruang meeting dengan lebih siap. Dengan jarak yang sudah ia ukur di dalam kepala, seberapa dekat yang masih aman, seberapa jauh yang masih terlihat profesional. Dengan kata-kata yang sudah ia susun, tentang konsep, tentang material, tentang timeline yang perlu disepakati.

Reynanda sudah ada di dalam. Duduk di ujung meja dengan laptop terbuka, membaca sesuatu, kepalanya sedikit menunduk. Ia mengangkat wajah ketika Carisa masuk dan untuk sepersekian detik, sebelum keduanya kembali ke posisi masing-masing, tatapan mereka bertemu.

"Selamat siang." Suara Reynanda terjaga.

"Selamat siang." Carisa meletakkan map di meja. Duduk. Membuka proposalnya.

Mereka memulaipun mukai rapat. Carisa awalnya bingung kenapa rapat itu hanya di hadiri oleh mereka berdua, tapi ia tetap bersikap profesional.

Dua puluh menit pertama berjalan dengan baik.

Carisa memaparkan revisi konsep, tata ruang, pemilihan warna, material yang ia rekomendasikan untuk setiap zona. Reynanda mendengarkan dengan cermat, mengajukan pertanyaan yang tepat, mencatat beberapa poin di laptopnya. Profesional. Efisien. Dua orang yang bisa melakukan semua itu, berpura-pura bahwa tidak ada apa-apa di antara mereka selain pekerjaan.

Sampai Carisa membentangkan denah lantai di atas meja.

"Untuk zona ini," ia menunjuk bagian tengah denah, "aku merekomendasikan partisi kaca dengan rangka besi hitam. Ini akan memberi kesan terbuka tapi tetap ada pemisahan fungsional..."

Reynanda bangkit dari kursinya, berjalan ke sisi meja tempat Carisa duduk, berdiri di sebelahnya, menunduk memeriksa denah dari sudut yang sama. "Disini?"

Terlalu dekat, sampai hembusan nafasnya terasa di telinga Carisa, membuatnya merasa tidak nyaman.

Carisa menarik napas pelan. Tidak bergerak. Matanya tetap pada denah. "Iya, di zona ini. Kalau dilihat dari sini..."

"Aku kurang yakin dengan pembagiannya." Reynanda menunjuk bagian lain pada denah dan tangannya hampir menyentuh tangan Carisa yang sedang memegang ujung kertas.

Carisa langsung menarik tangannya secara refleks.

Tapi tidak berhenti di sana. Reynanda sadar Carisa menghindari tangannya, dan ia sengaja menyentuh kembali tangan Carisa. Jari-jarinya menyentuh punggung tangan Carisa, pelan, seperti tidak disengaja, seperti gerakan yang terjadi begitu saja tanpa rencana. Tapi sentuhannya terasa. Dan tidak langsung dilepaskan.

Carisa mematung.

"Nanda." Suaranya keluar rendah, sebagai peringatan.

Reynanda tidak melepaskan tangannya. Tapi juga tidak bergerak lebih jauh. Ia hanya berdiri di sana, masih dengan jarak yang terlalu dekat, dengan aroma parfumnya yang tidak pernah berubah mengambang di udara di antara mereka dan menatap denah di depannya seperti sedang benar-benar memikirkan tata ruang.

"Kalau partisinya digeser ke sini," suaranya rendah, "bukankah lebih baik?"

Carisa menarik tangannya pelan tapi tegas. Merapikan denah. Duduk lebih tegak.

"Kita bisa diskusikan revisinya." Suaranya kembali profesional, tapi ada sedikit ketidakstabilan di ujungnya yang tidak bisa sepenuhnya ia sembunyikan. "Silakan duduk kembali, Pak Reynanda."

Reynanda tidak langsung kembali ke kursinya. Ia berdiri di sana satu detik lebih lama, lalu berjalan ke pintu ruang meeting. Dan menguncinya.

Carisa menoleh.

Reynanda berdiri di depan pintu yang baru saja ia kunci. Memandang Carisa dengan sorot yang berbeda dari tadi sorot yang tidak lagi terjaga, yang tidak lagi bisa atau mau berpura-pura. Sorot orang yang sudah terlalu lama menahan sesuatu dan baru saja kehabisan alasan untuk terus menahannya.

"Nanda." Suara Carisa lebih tajam sekarang. "Apa yang kamu lakukan? kenapa kamu mengunci pintu?."

"Sebentar." Ia tidak bergerak dari pintu. "Aku hanya ingin bicara."

"Kita sedang dalam pertemuan kerja..."

"Aku tahu." Reynanda memotong pelan. "Tapi aku tidak bisa terus duduk di seberangmu dan berpura-pura bahwa semua baik-baik saja. Tidak setelah pertemuan kita di Bandung. Tidak setelah semua yang sudah terjadi."

Carisa menutup map proposalnya. Meletakkan pena di meja. Menatap Reynanda dengan tatapan yang berusaha keras untuk tetap dingin.

"Katakan apa yang ingin kamu katakan. Cepat! aku tidak punya banyak waktu."

Reynanda berjalan mendekati meja berhenti dua langkah dari tempat Carisa duduk. Cukup dekat untuk membuat Carisa sadar pada setiap detailnya, cara ia berdiri, cara ia bernapas, cara matanya menatap dengan intensitas yang tidak ia sembunyikan lagi.

"Aku tidak bisa berhenti memikirkanmu." Kalimat itu keluar pelan, bukan pengakuan yang dramatis, justru lebih menyakitkan karena tenang. Seperti seseorang yang menyampaikan fakta yang sudah lama ia ketahui tapi baru sekarang berani di ucapkan. "Sejak kamu masuk ke lobi kantor ini dua minggu lalu. Sejak acara di Bandung. Sejak, bahkan sejak sebelum itu, Carisa. Aku tidak pernah benar-benar berhenti memikirkanmu."

Carisa tidak menjawab.

"Aku tahu ini salah." Reynanda melanjutkan. "Aku tahu kita sudah menikah dengan orang lain. Aku tahu seharusnya aku tidak berjalan kembali ke arahmu, seharusnya aku tidak mengatakan ini." Ia berhenti sebentar. "Tapi aku lelah, Carisa. Aku lelah berpura-pura bahwa melihatmu tidak mengubah apa pun."

Ada sesuatu di dada Carisa yang mulai bergerak, sesuatu yang selama ini ia jaga dengan sangat keras agar tidak goyah.

Ia berdiri. Bukan untuk mendekati Reynanda. Tapi karena duduk tiba-tiba terasa terlalu diam, terlalu pasif, untuk semua yang sedang bergejolak di dalam dadanya.

"Kamu tahu apa yang paling melelahkan?" suaranya keluar pelan, lebih pelan dari yang ia rencanakan. "Mendengarmu bicara seperti ini. Seolah perasaanmu adalah sesuatu yang berhak kamu ungkapkan. Seolah kamu lupa bahwa ada perempuan di luar sana yang mencintaimu dengan tulus dan ada lelaki di rumahku yang meski tidak pernah mengatakannya, dia tidak pernah meninggalkanku."

Reynanda menunduk.

"Kamu datang ke sini dengan perasaanmu," Carisa melanjutkan, suaranya semakin terkontrol tapi semakin menyakitkan justru karena itu, "tapi kamu tidak pernah bertanya bagaimana perasaanku harus menanggung semua ini. Lagi. Untuk kedua kalinya."

"Carisa..."

"Buka pintunya, Nanda."

Hening jatuh di ruangan itu.

Reynanda menatapnya lama dengan sorot yang tidak bisa Carisa baca sepenuhnya, campuran dari terlalu banyak hal yang tidak punya nama yang tepat. Lalu ia berjalan ke pintu. Membuka kuncinya.

Tapi sebelum tangannya melepas gagang pintu, ia berhenti.

"Aku tidak menyesal mengatakan ini." Suaranya rendah, membelakangi Carisa. "Meski kamu tidak mau mendengarnya. Meski tidak ada yang bisa berubah. Aku hanya tidak ingin menyimpannya sendiri lebih lama."

Ia membuka pintu. Dan berjalan keluar, meninggalkan ruang meeting yang tiba-tiba terasa terlalu besar untuk satu orang.

Carisa berdiri di sana sendirian. Map proposalnya masih tertutup di atas meja. Denah lantai masih terbentang. Semua yang tadi terasa rapi dan terkontrol kini terasa seperti set panggung yang baru saja kehilangan salah satu dindingnya.

Ia menarik kursinya. Lalu duduk lemas. Meletakkan kedua tangannya di atas meja dan melihat bahwa jari-jarinya gemetar.

Hampir saja, batinnya. Tadi hampir saja aku luluh dengan kata-kata nya.

Tapi ia tidak tahu apakah yang terjadi sekaran itu adalah awal kehancuran. Atau sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari itu.

1
tifara zahra
lagi donk
Nanik Arifin
beberapa tindakan bodoh Reynanda meretakkan 2 rumah tangga & 4-5 hati. dan anak" yg paling menjadi korban
Musicart Channel
lemah.. jujur jelah dgn suami kau. dlm perkhawinan harus ada kejujuran..
Nanik Arifin
buka matamu lebar" Humaira... keluarkan suara sindiran & intimidasimu. paparkan hujjah" & penilaianmu untuk pelaku.
siapa pemeran utamanya, siapa pemeran pembantunya, ungkap ustadzah Humairah
Nanik Arifin
kan.... ego keluarga kalian semua mg luar biasa. hidup aj sendiri klo blm bisa buang ego.
geregetan deh. ingin numpuk pala Yuda pakai bakiak
Nanik Arifin
lah kan kamu, Yuda, yg dr awal kamu minta masing". sama " bingung membuka hubungan, tapi menyalahkan satu pihak. berbaiki niat, kalian akan memulai hubungan yg baru, untuk masa depan yg bahagia. jangan slg diam"an & berharap pihak lain tahu yg kamu mau. pasangan kalian bukan cenayang yg tahu tanpa pemberitahuan dlu. umur aj dewasa, tapi tindakan kalian tanda tanya
putmelyana
sumpah gw sepanjang baca cerita kesel banget Carisa knpa dia diem aja gak jujur gitu ke suaminya pdhl kalo dia jujur dan terbuka ke suaminya bakalan hidupnya baik² aja
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!