NovelToon NovelToon
Reality Bender

Reality Bender

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rendy_Tbr

Reality Bender – Sang Penguasa Kehampaan

"Di dunia di mana cahaya matahari adalah hukum, mampukah ketiadaan menjadi penyelamat?"
Dikhianati oleh kekaisaran yang ia bela dan diburu oleh takdir yang haus darah, Fang Han terbangun dengan kutukan yang mustahil: Inti Kehampaan. Kekuatan ini tidak hanya menghapus musuhnya, tetapi perlahan mengikis ingatan, emosi, dan kemanusiaannya sendiri. Setiap langkah menuju puncak kekuasaan adalah langkah menuju kegelapan abadi di mana ia terancam melupakan wajah orang-orang yang ia cintai.
Dari pelarian maut di Puncak Kun-Lun hingga menjadi tawanan di Benteng Obsidian yang mengerikan, Fang Han harus memilih: menjadi senjata pemusnah massal bagi musuhnya, atau menguasai Pedang Shatter-Fate untuk memutus rantai takdir dunia.
Ikuti perjalanan epik penuh pengorbanan, pengkhianatan politik, dan cinta yang melampaui dimensi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rendy_Tbr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TUBUH ROH TERATAI AIR

Matahari pagi baru saja menyembul dari balik cakrawala, menyiramkan warna emas di atas atap-atap bangunan Klan Mu yang masih menyisakan jelaga bekas pertempuran kemarin. Suasana hening yang damai seolah menyelimuti kompleks klan yang sedang dalam masa pemulihan itu. Di gerbang utama yang baru saja diperbaiki secara darurat, Fang Han dan Mu Chen berdiri tegak.

Fang Han telah mengenakan caping bambunya, menutupi rambut putihnya yang ikonik. Pedang Sunya Long tersampir diam di punggungnya, terbungkus kain hitam kasar agar tidak menarik perhatian. Di sampingnya, Mu Chen menggendong tas besar berisi tanaman obat langka dan esensi giok penyembuh yang diberikan ayahnya sebagai bekal untuk Paman Fang Zhou di Desa Qinghe.

"Terima kasih atas segalanya, Ketua Mu. Kami harus segera kembali. Nyawa pamanku adalah prioritas utamaku saat ini," ucap Fang Han sambil membungkuk hormat kepada Mu Tian yang berdiri di depan gerbang dengan wajah yang masih sedikit pucat.

Mu Tian mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca menatap putranya dan pemuda luar biasa di sampingnya. "Klan Mu yang berhutang nyawa padamu, Fang Han. Pergilah dengan hati-hati. Chen-er, jaga dirimu baik-baik di luar sana. Jangan lupakan akar mu."

Mu Chen tersenyum tipis, menggenggam tali tasnya erat-erat. "Aku tahu, Ayah. Aku akan segera kembali setelah urusan Paman Fang selesai. Jaga kesehatanmu."

Namun, tepat saat Fang Han dan Mu Chen hendak melangkahkan kaki melewati ambang gerbang menuju jalan setapak hutan, suara gemuruh derap kaki kuda dan dentuman tandu besar menggetarkan tanah. Dari balik tikungan jalan utama, muncul iring-iringan mewah yang sangat kontras dengan kondisi Klan Mu yang sedang berduka.

Puluhan pengawal berbaju zirah emas mengelilingi sebuah tandu megah yang dihiasi sutra merah dan ukiran naga. Di barisan paling depan, tiga orang pria tua dengan aura yang sangat menekan—para Ketua tingkat Pembentukan Inti—berjalan dengan dagu terangkat.

"Berhenti!" teriak salah satu pengawal dengan suara yang menggelegar.

Tandu itu berhenti tepat di depan gerbang, menghalangi jalan keluar Fang Han dan Mu Chen. Tirai tandu tersingkap, memperlihatkan seorang pemuda tampan namun memiliki sorot mata yang licik dan penuh nafsu. Ia mengenakan jubah sutra ungu yang sangat mahal, dengan kipas emas di tangannya.

"Ah, Ketua Mu Tian... sepertinya aku datang di waktu yang tepat," ucap pemuda itu sambil melompat turun dari tandu dengan gerakan yang dibuat-buat agar terlihat elegan.

Mu Tian mengerutkan kening, wajahnya menegang seketika. "Tuan Muda Lin Feng dari Kota Awan Putih? Apa maksud kedatanganmu dengan pasukan sebesar ini ke klan kami yang sedang tertimpa musibah?"

Lin Feng tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat meremehkan. Ia melirik ke arah Mu Chen dan Fang Han sejenak sebelum kembali menatap Mu Tian.

"Aku mendengar berita bahwa Klan Mu hampir musnah oleh pengkhianatan dan serangan Sekte Racun Langit. Sebagai tetangga yang baik, aku merasa prihatin. Namun, kita semua tahu bahwa Klan Mu kini lemah. Musuh-musuhmu yang lain pasti sedang mengasah pedang mereka untuk menghabisi sisa-sisa klanmu malam ini juga," ucap Lin Feng sambil memainkan kipas emasnya.

Mu Chen maju selangkah, matanya berkilat marah. "Lalu apa urusannya denganmu? Kami bisa menjaga diri kami sendiri!"

Lin Feng menutup kipasnya dengan suara tak yang tajam, matanya menatap Mu Chen dengan dingin. "Menjaga diri? Dengan apa? Dengan seorang alkemis muda yang hanya tahu cara

merebus daun? Tidak, Ketua Mu... aku datang ke sini untuk menawarkan perlindungan absolut. Aku akan menempatkan seribu pasukan klan Lin di sekeliling wilayahmu."

"Dan apa bayarannya?" tanya Mu Tian dengan suara yang bergetar menahan amarah.

Lin Feng menyeringai lebar, sorot matanya berubah menjadi sangat gelap dan penuh ambisi. "Sederhana saja. Aku menginginkan putri bungsumu, Mu Ling. Aku mendengar dia memiliki 'Tubuh Roh Teratai Air' yang sangat murni. Dia akan menjadi istri ke-tujuhku, atau lebih tepatnya... dia akan menjadi Tungku Kultivasi utamaku untuk membantuku menembus tingkat berikutnya."

Mendengar kata "Tungku Kultivasi", suasana di depan gerbang seketika membeku. Tungku Kultivasi berarti Mu Ling tidak akan diperlakukan sebagai istri, melainkan sebagai alat yang akan dihisap seluruh energi murninya hingga ia menjadi cacat atau mati.

"KAU BAJINGAN!" raung Mu Chen. Ia hendak merangsek maju, namun tiga Ketua di belakang Lin Feng secara serentak melepaskan tekanan Qi mereka.

BOOOOM!

Tekanan itu begitu kuat hingga Mu Chen terdorong mundur dan hampir jatuh jika Fang Han tidak menangkap bahunya. Mu Tian sendiri terbatuk darah, luka dalamnya kembali terbuka akibat tekanan mental dari tiga ahli tersebut.

"Jaga bicaramu, bocah!" ucap salah satu Ketua berambut abu-abu. "Tuan Muda Lin Feng memberikan kehormatan besar bagi klan sampah ini. Menyerahkan satu gadis untuk keselamatan seluruh klan adalah pertukaran yang sangat murah!"

Fang Han yang sedari tadi diam di bawah caping bambunya, perlahan mendongak. Matanya yang berwarna abu-abu pucat menatap Lin Feng seolah-olah pemuda kaya itu hanyalah tumpukan daging yang tidak berharga.

"Mu Chen, apakah dia yang kau ceritakan sebagai hama pengganggu dari Kota Awan Putih itu?" tanya Fang Han dengan suara yang sangat tenang, namun menusuk tulang.

Mu Chen mengertakkan gigi hingga berdarah. "Ya, Han-er. Dia adalah sampah yang selalu mengirim surat ancaman pada adikku. Aku tidak menyangka dia akan datang serendah ini, memanfaatkan kondisi klan kami yang sedang hancur!"

Lin Feng melirik ke arah Fang Han, ia baru menyadari keberadaan pemuda berambut putih itu. Ia melihat pakaian Fang Han yang sederhana dan pedang yang terbungkus kain kasar.

"Dan siapa tikus berambut putih ini? Pengawal barumu, Mu Chen? Hei, bocah... jika kau ingin hidup, menyingkirlah. Urusan ini melampaui kemampuan rakyat jelata sepertimu," ejek Lin Feng sambil melambaikan tangan seolah mengusir lalat.

Fang Han melepaskan pegangannya pada bahu Mu Chen. Ia berjalan maju dua langkah, berdiri tepat di depan Lin Feng dan tiga Ketua hebat itu.

"Mu Ling adalah adik dari saudaraku. Dan bagi saudaraku, keluarganya adalah segalanya. Kau datang ke sini membawa ancaman berselubung perlindungan, menginginkan seorang gadis untuk dijadikan alat kultivasi... itu adalah tindakan paling menjijikkan yang pernah kulihat," ucap Fang Han.

Lin Feng tertawa terbahak-bahak, diikuti oleh para pengawalnya. "Menjijikkan? Di dunia ini, yang kuat adalah hukum! Aku memiliki uang, aku memiliki pasukan, dan aku memiliki dukungan dari sekte-sekte besar. Siapa kau berani mengajariku tentang moral?!"

"Aku bukan guru moral," balas Fang Han sambil memegang gagang pedang di punggungnya.

"Aku hanyalah seseorang yang punya janji untuk pulang tepat waktu. Dan kau... kau baru saja menghalangi jalanku."

Salah satu Ketua dari klan Lin melangkah maju dengan marah. "Berani sekali! Tuan Muda, biarkan aku menghancurkan mulut bocah sombong ini!"

Ketua itu melepaskan pukulan jarak jauh. Sebuah telapak tangan raksasa yang terbentuk dari energi Qi kuning kecokelatan melesat ke arah Fang Han, membawa kekuatan yang sanggup meruntuhkan tembok gerbang.

Fang Han bahkan tidak menghunus pedangnya. Ia hanya mengayunkan lengan bajunya dengan gerakan horizontal yang santai.

"Nirwana Sunya: Penghapusan Titik Nol." bisik Fang Han

PUFFF!

1
Langit Biru (Ig: cholil.gtg)
Cover novelnya mirip putra pria solo😭
Rendy Tbr: Hihihi.. 😄 Waahhh.. Mantap donk.. 👌
total 1 replies
anggita
visual gambarnya oke👌
Rendy Tbr: Terima kasih ka 👌😊
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!