“[Ikan Langka! Hadiah 100 Emas!]”
Beni hanyalah nelayan miskin yang hidup penuh penderitaan. Ia dikhianati istrinya, dijebak hingga terlilit hutang, dan hampir kehilangan harapan hidup.
Namun saat berlayar di tengah badai, ia malah tersesat ke lautan misterius yang dipenuhi bahaya. Di sanalah sebuah sistem aneh tiba-tiba muncul di hadapannya.
Dengan bantuan sistem pengumpul emas, bisakah Ye Fan mengubah nasibnya dan menjadi orang terkaya di lautan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Ruwet
Beni sempat mengepalkan tangannya, teringat bagaimana Kai dengan bangganya menghina mendiang orang tuanya dan merusak rumah tangganya dengan Serena.
Ada dorongan kuat di dalam dadanya untuk maju dan menghajar wajah angkuh Kai saat ini juga selagi pria itu sedang mabuk dan tak berdaya.
Namun, Beni menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Ia memaksa jemarinya untuk kembali rileks.
"Akan kubiarkan saja untuk sekarang," gumam Beni dengan senyum dingin yang misterius. "Aku belum sekaya itu untuk menguasai penuh desa ini. Kalau aku bergerak sekarang dan membuat keributan, Kepala Desa pasti akan menggunakan seluruh aparat dan jaringannya untuk menjebloskanku ke penjara, dan itu akan merusak rencana besarku dengan sistem. Tunggu saja, Kai... saat aku kembali nanti dengan kekuatan finansial yang mutlak, aku akan meruntuhkan seluruh dinasti kecil keluargamu sampai ke akar-akarnya."
Beni berbalik, mengabaikan tawa mabuk Kai dan wanitanya, lalu melanjutkan perjalanannya dengan langkah yang lebih cepat.
Setelah menumpang sebuah truk bermuatan kelapa selama hampir satu jam, Beni akhirnya tiba di kota kecil yang menjadi pusat ekonomi di wilayah tersebut.
Suasana kota langsung menyergapnya suara klakson kendaraan, deretan ruko-ruko modern, dan hilir mudik manusia yang sibuk dengan urusan masing-masing.
Beni mulai berjalan menyusuri kawasan komersial kota.
Matanya dengan jeli memperhatikan setiap plang atau papan pengumuman yang tertempel di depan bangunan.
Ia mencari tulisan 'DIKONTRAKKAN' atau 'DIJUAL'.
Ia sengaja memilih area yang tidak terlalu padat namun tetap sering dilewati oleh orang-orang kantoran dan kalangan menengah ke atas, karena mereka adalah target pasar utama untuk kuliner spiritualnya nanti.
Sambil mencari tempat, Beni memutuskan untuk menikmati harinya. Sudah sangat lama ia tidak merasakan kebebasan seperti ini tanpa beban utang yang menghimpit pundaknya.
Ia berhenti di sebuah kedai kecil di pinggir jalan, membeli beberapa tusuk jajanan pasar dan segelas es tebu dingin.
Sambil mengunyah, ia memperhatikan sebuah ruko dua lantai di seberang jalan yang tampaknya kosong. Tempat itu lumayan strategis, pikirnya.
Namun, tepat saat Beni hendak melangkah menyeberang jalan untuk memeriksa ruko tersebut, dari arah tikungan gang sempit di sampingnya, seorang anak laki-laki berbaju seragam SMA berlari dengan kecepatan penuh seperti kesetanan. Wajah anak itu dipenuhi keringat dan ketakutan yang teramat sangat.
BRUKK!
"Aduh!" anak SMA itu menabrak bahu Beni dengan keras hingga ia sendiri yang terpental dan jatuh terduduk di atas trotoar, tas sekolahnya terlepas dan isinya berhamburan.
Beni yang memiliki fisik yang kuat berkat peningkatan level dari sistem sama sekali tidak bergeming dari posisinya. Es tebu di tangannya bahkan tidak tumpah sedikit pun. Ia menurunkan pandangannya, menatap anak SMA yang sedang meringis kesakitan itu.
"M-Maaf, Bang! Maaf, aku tidak sengaja!" gagap anak SMA itu dengan suara gemetar, buru-buru memunguti buku-bukunya kembali ke dalam tas dengan tangan yang gemetaran.
Beni belum sempat menjawab ketika telinganya yang tajam mendengar suara teriakan kasar dari dalam gang sempit tempat anak itu keluar tadi.
"Hei! Jangan lari kau, bocah sialan! Berhenti!"
"Tangkap dia! Jangan sampai dia lolos ke jalan raya!"
Tiga orang pria berbadan tegap dengan pakaian preman bermotif garis-garis tampak berlari keluar dari dalam gang, mata mereka liar mencari-cari ke sekeliling trotoar.
Anak SMA yang mendengar suara itu langsung panik setengah mati. Dengan wajah pucat pasi, ia menatap Beni dengan pandangan memohon yang mendalam. "Bang... tolong aku, Bang... mereka mau—"
Beni menatap anak itu datar, lalu melirik ke arah tiga preman yang mulai mendekat.
Ingatan masa SMA-nya yang suram sesaat melintas di kepalanya bagaimana rasanya dikejar kejar dan dikeroyok tanpa ada seorang pun yang mau mengulurkan tangan untuk membantu. Ada rasa empati yang sempat terusik di hati Beni.
Namun, Beni segera menggelengkan kepalanya pelan. Ia melangkah mundur satu langkah, dengan sengaja menjauhkan dirinya dari anak SMA tersebut.
"Maaf, Dek. Aku ke kota hari ini untuk urusan bisnis, bukan untuk jadi pahlawan kesiangan," gumam Beni dalam hati dengan nada dingin. "Aku tidak ingin ikut campur dalam masalah yang tidak ada hubungannya denganku. Hidupku sendiri sudah cukup rumit."
Beni membalikkan badannya dengan santai, menyeruput es tebunya kembali, dan berjalan menjauh berbaur dengan kerumunan pejalan kaki lainnya, meninggalkan anak SMA itu yang kini harus kembali berjuang menyelamatkan dirinya sendiri dari kejaran para preman di tengah ramainya sudut kota kecil tersebut.