NovelToon NovelToon
I'M An Imperfect Mom

I'M An Imperfect Mom

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:959
Nilai: 5
Nama Author: Amanda Shakira

"Di kantor, Aruna adalah pemenang. Namun di rumah, ia adalah orang asing yang kehilangan tempat. Ketika mantan suaminya kembali membawa 'istri sempurna', hidup Aruna mulai retak.

Satu per satu barangnya hilang, ingatannya mulai dikhianati, dan putranya perlahan menjauh. Apakah Aruna memang ibu yang gagal, atau seseorang sedang merancang skenario untuk membuatnya gila?

Menjadi ibu itu berat. Menjadi ibu yang waras di tengah teror... itu mustahil."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: SANGKAR EMAS YANG DINGIN

Bab 6: Sangkar Emas yang Dingin

Aroma disinfektan yang tajam menusuk indra penciuman Aruna, membangunkannya dari tidur yang terasa sangat berat, seolah otaknya baru saja dipukul oleh palu godam. Pandangannya kabur, kepalanya berdenyut-denyut mengikuti detak jantungnya. Saat mencoba menggerakkan tangan, ia merasakan sesuatu yang menahan pergelangan tangannya.

Logam dingin. Aruna tersentak bangun, dan seketika kesadarannya pulih. Ia berada di sebuah kamar kecil yang serba putih. Tidak ada jendela, hanya ada satu lampu neon di langit-langit yang berkedip menyebalkan. Tangannya terborgol ke sisi ranjang rumah sakit.

"Bangun juga akhirnya," sebuah suara yang sangat ia kenal terdengar dari sudut ruangan yang gelap.

Aruna menoleh cepat. Bimo duduk di sana, menyilangkan kaki dengan santai sambil membaca sebuah map medis. Wajahnya tidak lagi menunjukkan kecemasan palsu seperti semalam. Sekarang, hanya ada tatapan dingin dan kalkulatif.

"Bimo! Lepaskan aku! Kamu gila ya?!" Aruna berteriak, suaranya parau dan pecah. "Di mana Kenzo? Di mana anakku?!"

Bimo menutup map itu pelan, lalu berdiri dan mendekat ke arah ranjang Aruna. "Kenzo aman, Aruna. Dia sedang sarapan pancake buatan Siska. Dia terlihat jauh lebih tenang pagi ini, mungkin karena dia merasa aman sekarang, tidak perlu takut lagi mamanya akan mengamuk dengan gunting di tengah malam."

"Kamu yang melakukan itu semua, Bim! Kamu meretas CCTV-ku! Kamu yang menaruh gunting itu!" Aruna meronta, membuat ranjang besi itu berderit nyaring.

"Buktinya bicara lain, Run," Bimo membungkuk, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Aruna. "Hasil tes darah kamu menunjukkan ada kandungan benzodiazepine dalam dosis tinggi. Dokter bilang itu kemungkinan besar kamu minum sendiri karena depresi berat. Ditambah video rekaman yang kamu tunjukkan semalam... tidak ada hakim di dunia ini yang akan memberikan hak asuh anak kepada ibu yang sedang mengalami psikosis akut."

Aruna terdiam. Napasnya tersengal. Benzodiazepine. Itu pasti obat yang dimasukkan Tyas ke dalam minumannya. Bimo benar-benar merancang ini dengan sangat rapi; medis, teknologi, hingga saksi mata, semuanya berada di bawah kendalinya.

"Kamu mau apa, Bimo?" bisik Aruna dengan tatapan tajam yang penuh kebencian.

Bimo tersenyum, lalu mengeluarkan selembar surat dari saku jasnya. "Tanda tangani surat penyerahan hak asuh penuh kepadaku. Dan juga, surat pengunduran diri dari kantormu dengan alasan kesehatan mental. Kalau kamu kooperatif, aku akan pastikan kamu keluar dari klinik rehabilitasi ini dalam satu bulan. Kita bisa bilang ke Kenzo kalau Mama sedang pergi bertugas ke luar negeri."

"Kalau aku menolak?"

"Maka kamu akan tetap di sini selamanya," suara Bimo berubah menjadi sedingin es. "Aku sudah membayar klinik ini untuk memastikan kamu 'tetap tidak stabil' selama yang aku inginkan. Pilihan ada di tanganmu, Aruna. Menjadi ibu yang menyerah, atau menjadi pasien jiwa yang terlupakan."

Bimo meletakkan sebuah pulpen di atas perut Aruna, lalu berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, dia berbalik sebentar. "Oh ya, Siska titip salam. Dia bilang gaun tidur lilac-mu sangat pas di tubuhnya. Dia tidak menyangka kamu punya selera yang bagus."

Pintu besi itu tertutup dengan dentuman keras, meninggalkan Aruna dalam kesunyian yang mencekam. Aruna memejamkan mata, air mata kemarahan mengalir di pipinya. Namun, saat dia merasa dunianya sudah benar-benar kiamat, sebuah suara bisikan terdengar dari balik dinding di belakang kepalanya.

"Jangan ditandatangani... kalau kau tanda tangan, kau mati."

Aruna tersentak. Dia menoleh ke arah dinding yang tampak solid itu. Di sana, di sudut bawah, ada sebuah lubang kecil bekas saluran kabel yang tidak tertutup sempurna.

"Siapa di sana?" bisik Aruna.

"Satu-satunya orang yang tahu kalau Bimo adalah iblis," suara itu terdengar serak, seperti suara wanita tua yang sudah lama tidak bicara. "Aku mantan asisten pribadinya sepuluh tahun lalu, sebelum kau mengenalnya. Dia melakukan hal yang sama padaku... dia mencuri hidupku."

Aruna terpaku. Sebuah harapan kecil menyeruak di tengah keputusasaan. Dia tidak sendirian. Bimo punya sejarah, dan sejarah itu adalah senjata yang akan Aruna gunakan untuk menghancurkannya.

...****************...

Bersambung ke Bab 7: Aliansi dalam Kegelapan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!