NovelToon NovelToon
Ratu Di Antara Tiga Kaisar

Ratu Di Antara Tiga Kaisar

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cinta Istana/Kuno / Fantasi Isekai
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Hz. ceria

Amel adalah seorang mahasiswi jurusan seni yang akan melakukan penelitian di sebuah pulau. hingga sebuah tragedi besar tragedi, Amel yang berniat menolong sahabatnya yang mengalami kram saat sedang bermain air justru tenggelam.

ketika dia membuka matanya lagi, yang mengejutkan dia sudah berada di sebuah tempat aneh dan kuno.

Amel ternyata melakukan transmigrasi dan memasuki tubuh seorang ratu yang terkenal kejam, di benci rakyat dan berdarah dingin. dunia ini dipimpin oleh seorang wanita, dan seorang pria hanya boleh menyenangkan wanita, memasak, anggun dan menawan.

tidak boleh belajar, berbicara kasar pada wanita, dan hanya boleh diam di rumah dan merawat anak-anak mereka. sedangkan wanita mencari nafkah, ikut perang, menjabat di istana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hz. ceria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16. Debat Publik

Alun-alun Kota Bawah Mobelle biasanya ramai oleh pedagang keliling dan suara tawar-menawar. Namun, pagi itu, kerumunan yang berkumpul memiliki atmosfer yang berbeda. Udara terasa berat, dipenuhi ketegangan yang tak terlihat. Ratusan warga—pria, wanita, tua, dan muda—berdiri mengelilingi panggung kayu sederhana yang didirikan di depan Balai Kota.

Di atas panggung, Julian berdiri dengan tenang, mengenakan jubahnya yang rapi namun sederhana. Di sampingnya, Arsen berdiri tegak, meski tangannya sedikit gemetar di balik lengan bajunya. Di barisan depan, duduk Floren, dikelilingi oleh pengawal kerajaan. Kaelia berdiri di belakangnya, tangan siap di gagang pedang, matanya menyapu kerumunan dengan waspada.

Di sisi lain alun-alun, sekelompok pria paruh baya dipimpin oleh Pak Hendor, pedagang sayur yang vokal kemarin, berdiri dengan wajah merah padam. Di belakang mereka, beberapa sosok bertopi lebar mengamati dari kejauhan—agen-agen Vane yang menunggu momen untuk memicu kerusuhan.

Seorang herald membunyikan trompet, menandakan dimulainya forum.

"Warga Mobelle!" seru herald. "Hari ini, Ratu Floren membuka ruang dialog mengenai 'Inisiatif Pendidikan Pria'. Silakan sampaikan keberatan atau dukungan Anda."

Pak Hendor maju ke depan, wajahnya memerah karena amarah. Dia menunjuk Julian dengan jari telunjuk yang kotor.

"Kami tidak butuh sekolah itu!" teriak Hendor, suaranya serak tapi lantang. "Lihat apa yang terjadi! Gudang itu dinodai! Anak-anak kami diajari hal-hal yang bukan urusan mereka! Pria harus bekerja, bukan bermimpi menjadi penyihir atau bangsawan! Sekolah itu adalah racun yang dibuat oleh Penyihir Julian untuk mengendalikan pikiran kaum laki-laki!"

Gemuruh setuju terdengar dari sebagian kerumunan. Beberapa wanita mengangguk, khawatir akan perubahan status quo.

Julian melangkah ke tepi panggung. Dia tidak berteriak. Suaranya tenang, namun berkat sihir amplifikasi kecil di kerah jubahnya, setiap kata terdengar jelas hingga ke barisan paling belakang.

"Racun?" tanya Julian dingin. "Apakah membaca itu racun, Tuan Hendor? Apakah berhitung itu racun? Atau apakah kebenaran yang membuat Anda takut?"

Hendor tertawa sinis. "Kebenaran? Kebenaran adalah pria lahir untuk melayani! Itu hukum alam! Jika kau mengajar mereka berpikir, mereka akan menjadi sombong. Mereka akan menolak bekerja. Mereka akan memberontak!"

"Arsen," bisik Floren pelan, tanpa menoleh. "Sekarang."

Arsen mengambil napas dalam. Dia melangkah maju, berdiri di samping Julian. Kerumunan mendadak hening. Mereka mengenal wajah Pangeran Aethelgard itu dari berita-berita. Seorang pria dari kerajaan tetangga yang terkenal keras terhadap kaum prianya.

"Saya berasal dari Aethelgard," mulai Arsen, suaranya tegas. "Di sana, pria dilarang membaca buku sejarah. Dilarang mempelajari strategi. Kami hanya diajarkan satu hal: bagaimana menjadi perisai yang diam."

Dia menatap kerumunan, matanya menyala dengan emosi yang tertahan.

"Dulu, saya pikir itu wajar. Sampai saya melihat ibu saya, Ratu Isolde, menggunakan kebodohan kami sebagai alat kontrol. Ketika pria tidak bisa berpikir, mereka mudah dimanipulasi. Mereka mudah dikorbankan dalam perang yang tidak mereka pahami. Mereka mudah disalahkan ketika negara gagal."

Sebuah keheningan mencekam turun. Kata-kata Arsen menusuk langsung ke inti ketakutan banyak orang.

"Sekolah di Gudang Utara tidak mengajarkan pemberontakan," lanjut Arsen. "Itu mengajarkan kemandirian. Lira, anak yatim yang belajar di sana, sekarang bisa menghitung keuntungan dagangan ibunya. Tomi, mantan tukang besi, kini bisa membaca kontrak kerja agar tidak ditipu majikannya. Apakah itu kejahatan? Atau apakah itu keadilan?"

Pak Hendor terdiam, mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar. Argumennya tentang 'hukum alam' runtuh dihadapkan pada realitas praktis yang ditawarkan Arsen.

Namun, dari kerumunan, seorang pria bertopi lebar berteriak, "Itu bohong! Itu propaganda Ratu baru untuk melemahkan tradisi! Kalian ingin membuat pria lemah agar wanita bisa menguasai sepenuhnya!"

Itu adalah pemicu yang ditunggu-tunggu. Beberapa pendukung Hendor mulai meneriakkan ejekan. Situasi mulai memanas. Batu-batu kecil mulai melayang ke arah panggung.

Kaelia bergerak cepat, perisai sihir transparan muncul di depan Floren dan para pembicara, memantulkan batu-batu itu.

"Tertib!" teriak Kaelia, suaranya menggema seperti guntur. "Siapa pun yang melempar proyektil akan ditangkap!"

Tapi kerusuhan kecil sudah mulai terbentuk. Agen-agen Vane di belakang kerumunan mulai mendorong orang-orang, menciptakan kepanikan.

Julian tidak panik. Dia mengangkat tongkat sihirnya, bukan untuk menyerang, tapi untuk menciptakan ilusi. Gambar-gambar holografik muncul di udara di atas alun-alun. Gambar Lira yang tersenyum sambil menunjukkan buku catatannya. Gambar Tomi yang sedang membaca kontrak dengan teliti. Gambar anak-anak lain yang sedang belajar dengan gembira.

"Lihatlah!" seru Julian, suaranya menembus keributan. "Ini bukan ancaman. Ini adalah masa depan. Masa depan di mana anak-anak Anda tidak perlu hidup dalam ketakutan akan kebodohan. Masa depan di mana Mobelle kuat karena semua warganya berkontribusi, bukan hanya setengahnya!"

Gambar-gambar itu indah, menyentuh, dan manusiawi. Teriakan-teriakan kemarahan perlahan mereda, digantikan oleh bisik-bisik ragu. Warga mulai melihat bukan "ancaman pria cerdas", tapi "anak-anak mereka yang bahagia".

Pak Hendor menatap gambar Lira, cucunya sendiri ada di antara anak-anak itu di hologram. Wajahnya yang keras melunak. Dia menurunkan tangannya.

Floren berdiri. Kehadirannya saja sudah cukup untuk membungkam sisa-sisa keributan. Dia berjalan ke tepi panggung, menatap kerumunan dengan tatapan yang tajam namun adil.

"Tradisi bukanlah alasan untuk stagnasi," kata Floren, suaranya dingin dan berwibawa. "Mobelle berubah. Dan perubahan itu menyakitkan bagi mereka yang nyaman dengan ketidaktahuan. Tapi saya bertanya pada kalian: Apakah kalian ingin anak-anak kalian tetap bodoh demi kenyamanan masa lalu? Atau kalian ingin mereka cerdas demi kekuatan masa depan?"

Hening. Panjang. Menekan.

Lalu, dari barisan belakang, seorang wanita muda mengangkat tangan. "Saya... saya mendukung sekolah itu. Anak saya jadi lebih berani berbicara sejak belajar di sana."

Kemudian, seorang pria tua lainnya mengangguk. "Tomi membantu saya memperbaiki atap tanpa menipu saya soal harga kayu. Saya percaya pada hasilnya."

Satu per satu, dukungan mulai muncul. Bukan dari bangsawan, tapi dari rakyat biasa yang merasakan manfaat nyata dari eksperimen kecil Julian.

Pak Hendor menunduk, malu. Dia berbalik dan pergi, diikuti oleh sebagian besar pendukungnya yang kini ragu-ragu. Agen-agen Vane, melihat kegagalan provokasi mereka, menyusup kabur ke dalam kerumunan.

Julian menurunkan tongkat sihirnya. Hologram menghilang. Dia menoleh pada Arsen, dan untuk pertama kalinya, ada rasa hormat yang tulus di matanya.

"Tidak buruk, Pangeran," bisik Julian.

Arsen tersenyum lelah. "Kita menang?"

"Untuk hari ini," jawab Julian. "Tapi perang ideologi baru saja dimulai."

Floren kembali ke kursinya, wajahnya menunjukkan kepuasan yang tertahan. Rencana mereka berhasil. Mereka telah mengubah narasi. Sekolah itu bukan lagi tempat mencurigakan, tapi simbol harapan.

Namun, di balik kerumunan yang bubar, sepasang mata gelap mengamati dari atas atap gedung seberang. Mata itu mencatat setiap gerakan, setiap kata, dan setiap kelemahan yang terlihat.

Vane mungkin kalah dalam debat hari ini. Tapi dia baru saja mengumpulkan data berharga untuk serangan berikutnya.

1
Musim
Menarik dan menginspirasi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!