Berlatar di sebuah desa bernama Desa Suka Makmur. Anggap saja salah satu desa di Jawa Barat. Desa dengan beberapa fasilitas yang tersedia, seperti bangunan sekolah dasar, balas desa, puskemas pembantu, posyandu , lapangan sepak bola dan lainnya. Namun dibalik itu desa tersebut menyimpan kisah misteri dan terkenal dengan kemistisan nya. Desa pocong sebutan lain dari nama desa itu. Terdapat pantangan untuk tidak membuka pintu dan jendela di malam hari. Lebih-lebih keluar di waktu malam , apapun alasan nya. Jika melanggar maka siapapun akan terkena musibah. Sebuah teror, celaka , jatuh sakit , bahkan hingga kematian. Namun tak hanya itu , teror lain turut membayangi warga desa. Hingga seorang gadis pendatang baru yang tinggal di salah satu rumah yang terkenal angker berusaha mencari tahu tentang desa itu. Fitri namanya, gadis dengan kemampuan spiritual yang akan membantu warga desa terbebas dari ketakutan nyata teror pocong yang sudah berjalan berpuluh-puluh tahun lamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon qsk sri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di datangi pocong
Malam semakin larut,namun rasa ngantuk tak kunjung datang. Fitri merasa udara terasa begitu pengap dan panas, gadis itu lalu membuka jendela kamar. Udara segar langsung terasa begitu angin mulai masuk melewati jendela.
"Nah, begini lebih enak " Gumam nya sambil memejamkan mata merasakan sejuknya angin malam ditengah rasa panas yang melanda.
"Sepertinya karena hujan gak jadi turun jadi udaranya bikin gerah banget begini" Gumam nya lagi.
Fitri lantas kembali duduk di atas tempat tidur,menggulir layar ponselnya membuka sosial medial. Baru beberapa menit video ia menonton di yukup, terdengar suara seperti sesuatu yang dilempar mengenai jendela.
Tuk'
Fitri menoleh , lalu beranjak untuk mengeceknya namun tak ada apa-apa yang mencurigakan.
"Mungkin angin " Gumamnya.
Tanpa ingin berpikir macam-macam,gadis itu kembali ke tempat tidurnya tanpa kembali menutup jendela. Baru saja tubuh nya mengenai permukaan kasur,suara ketukan di jendela membuat nya harus kembali bangkit dan mengecek jendela.
Tuk...tuk...tuk....
Cepat ia menoleh,lalu beranjak untuk melihat nya.
"Siapa sih ?" Gumam nya sambil memperhatikan ke luar jendela.
Tak ada apapun yang nampak di sana, hanya kesunyian malam yang benar-benar sunyi. Tak ada suara jangkrik,serangga ataupun suara hewan malam lainnya,yang ada hanya hembusan angin yang menerpa wajah nya,terasa begitu dingin hingga membuat tubuh meremang. Di tengah-tengah gelapnya malam,samar Fitri melihat bayang-bayang sesuatu tengah bergerak.
"Mungkin warga lagi ngeronda " Gumam nya pelan.
Akan tetapi gadis itu dibuat terperanjat saat pintu kamar tiba-tiba saja terbuka kasar.
Brakkk....
"Astaga ! Ngapain kamu buka-buka jendela segala !" Nina datang dan langsung menutup jendelanya dengan rapat.
"Gerah bi " Jawab Fitri
Dengan wajah yang gusar dan penuh ketakutan Nina memperingati Fitri dengan suara yang ia coba pelan kan,seakan khawatir suara nya terdengar ke luar rumah.
"Fitri,di desa ini ada larangan untuk tidak membuka pintu atau jendela di malam hari,tidak boleh keluar. Mengerti !" Ucapan nya pelan namun tegas.
"Memang nya kenapa Bi ?" Tanya Fitri polos.
"Besok saya jelaskan,sekarang sudah malam mending tidur ! Awas jangan buka jendela lagi !" Nina segera pergi meninggalkan Fitri dengan kebingungan nya.
"Memangnya kenapa gak boleh keluar malam,gak boleh buka jendela juga. Aneh..." Gumam Fitri menatap pintu kamar yang tertutup.
"Eh tapi...aku kok gak dengar suara adzan ya pas Maghrib dan isya tadi. Padahal masjid ada " Gumam nya lagi ,ia teringat akan masjid yang dilihatnya tadi ketika baru saja tiba di desa itu.
Duk...Duk.... Duk....
Sesuatu terdengar dari jendela seperti tengah menggedor-gedor jendela.
"Kata bibi jangan dibuka,tapi aku penasaran" Gadis itu dilema harus membuka dan memeriksanya atau diam saja.
"Buka saja deh, dari pada bikin penasaran terus gak bisa tidur kan,bibi juga gak bakalan tahu kayanya " Gadis itu memeriksa ke luar kamar memastikan bibinya tidak akan datang lagi.
"Sepertinya aman "
Dengan langkah pelan tapi pasti,Fitri mulai melangkah menuju jendela. Kedua kakinya mulai bergetar,disertai debaran jantungnya yang juga turut berdebar-debar.
"Astaga...kenapa aku gemeteran gini sih " Gumam nya membatin.
"Huuuuhhh....gak apa-apa Fit,...Lo jangan takut "Ucapnya menguatkan diri.
Duk...Duk...Duk...
Jendela terus bergerak-gerak terkena dorongan dari luar, sementara tangan Fitri sudah menempel di pintu jendela dan siap membuka nya.
"Huuuuuhhh....kenapa jadi tegang begini sih ? Kaya mau ujian sekolah saja " Gumamnya lirih.
Krieeeetttt.....
Suara berderit terdengar begitu nyaring saat jendela mulai dibuka.
"Ishh...kenapa malah bunyi sih, perasaan tadi pas dibuka gak bunyi deh" Gerutunya pelan.
"Eh ..mana ? Gak ada siapa-siapa"
Suasana di luar nampak sepi,hanya suara angin yang berdesir lembut namun terasa begitu menusuk.
Fitri memicingkan mata saat melihat sesuatu bergerak seperti seseorang berjalan. Tidak. Bukan seseorang tetapi orang-orang. Namun semakin lama visual mereka semakin jelas .
Gluk...
Gadis itu menelan ludahnya," Seriusan... mereka....pocong " Tubuh gadis itu membeku ,kedua matanya terbuka lebar.
"I...ini...pasti salah. Gue hanya sedang capek setelah menempuh perjalanan jauh,gue pasti salah lihat "
Namun seketika gadis itu tersentak kaget saat salah satu pocong tiba-tiba berada di hadapannya.
"HAH !" Cepat-cepat ia menutup jendela dan melompat ke tempat tidur.
Rasa takut kini merayapi hatinya. Pada dasarnya Fitri memang bukan gadis penakut,sudah sering dia melihat pocong dan hantu-hantu lainnya,tetapi tentu dalam versi lain,yaitu film. Fitri terkenal sebagai gadis paling berani diantara teman-teman nya tapi kali ini rasa takut benar-benar dia rasakan saat ini.
Satu pocong berhasil masuk dan berdiri dekat tempat tidur. Menyadari itu,Fitri segera merubah posisi tubuhnya memunggungi si pocong.
"Ah elah...ngapain sih tuh pocong pake masuk segala ? Baperan amat baru diliatin sebentar aja langsung ngedatangin " Keluh Fitri membatin.
Pocong itu kemudian melompat ke tempat tidur ,dan berbaring tepat di hadapan Fitri. Fitri tentu saja terkejut,namun alih-alih menjerit seperti kebanyakan orang yang ketakutan,gadis itu justru menendang si pocong sampai pocong itu jatuh terguling ke lantai.
GDEBUKKKK.....
Fitri terkesiap lalu melihat nya,tapi pocong itu sudah pergi.
"Huuuh...tadi itu beneran pocong kan ? Gue gak salah lihat ? Gua juga gak lagi mimpi " Gumam Fitri sambil menggaruk kepalanya.
....
Keesokan harinya Fitri bangun dengan wajah lesu. Muka bantal nya begitu jelas sebab dia baru saja tidur jam empat pagi. Semalaman dia tak bisa tidur karena kepikiran dengan pocong yang semalam masuk ke kamar nya.
Dengan langkah gontai Fitri berjalan masuk ke kamar mandi.
"Bang,semalam dia buka jendela kamar. Aku takut hantu bungkus itu datang ganggu kita " bisik Nina pada suaminya. Nina dan juga warga kampung lain nya pantang menyebut kata pocong,dan memilih mengganti nya dengan kata hantu bungkus. Mereka takut karena setelah nama itu disebut,para pocong akan langsung datang meneror.
"Hah ? Yang bener ?" Kejut Daryo
"Iya bang ...." Lirih Nina.
"Kamu udah jelasin peraturan desa ini ?" Tanya Daryo.
"Sudah. Tapi aku belum kasih penjelasan. Takut" jawab Nina sambil memeluk dirinya sendiri.
"Ya sudah ,biar nanti pak RT yang jelasin. Abang juga takut" Ucap Daryo.
Nina mengangguk setuju,apa yang dibilang suaminya memang benar. Lebih baik pak RT yang berbicara,toh nanti jika pocong itu marah yang didatangi pastilah RT mereka. Begitu yang ada di pikiran mereka.
"Paman,bibi...aku sudah sarapan. Bisa kalian mengantarku ke rumah nya bapak !" Fitri datang dengan pakaian yang lebih rapih dari sebelumnya.
"Ayo,kita antar! Tapi kita ke rumah pak RT dulu ya,buat lapor " Ucap Nina.
"Iya bi "
Singkat kata,mereka kini telah sampai di rumah ketua RT.
"Jadi neng cantik ini anak nya Iwan Iwana putra dari almarhum bapak Wandi dan almarhumah Bu Salmiah " Ucap Rusdi , ketua RT.
"I...iya pak " Fitri mengangguk ragu.
" Baru tahu gue, nama nenek kakek gue " Batin Fitri.
"Maaf pak ! Saya mau tanya " Sela Fitri saat pak RT hendak kembali berbicara.
"Iya neng,kenapa ?"
"Kenapa di sini nama bapak saya Iwan Iwana? Bahkan ada juga yang menyebutnya Wana ? Sedangkan setahu saya,nama bapak di KTP Iwan Setiawan ?" Tanya Fitri ingin tahu.
Pak RT melirik pada Nina yang segera memalingkan wajahnya, seolah ia tak menyimak pertanyaan Fitri.
"Kalau kamu nanya itu ke saya ya salah...saya hanya ketua RT bukan berati saya tahu segala hal tentang masalah pribadi warga saya. Lagipun saya menjabat sebagai RT baru dua tahunan melanjutkan RT sebelum nya yang sudah pensiun " Ucap Rusdi.
"Kalau kamu mau tahu coba saja tanyakan pada bibi mu" lanjut nya.
Fitri menoleh pada Nina,raut wajahnya benar-benar terlihat begitu penasaran.
"Kenapa saya ? Saya sudah lupa. Oh iya kita sudah selesai laporan,sekarang pak RT sebagai pemimpin tolong kasih wejangan tentang apa-apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan di desa ini " Ucap Nina mengalihkan pembicaraan,terlihat sekali kegugupan di wajah nya.
Fitri memicingkan mata melihat reaksi bibinya , "Sepertinya ada sesuatu"
.....