Nadia Tujuah tahun menikah dengan Raka
mengurus Ibu mertuanya dengan baik
mengurus anak adopsi dengan baik
selalu bersabar karena dia hanyalah anak yatim piatu
Namun tepat di usia pernikahannya yang ke tujuh
Raka malam menikah lagi Dengan Ratna Sepupunya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sap 21
Di meja makan sudah ada Ratna, Raka, dan Yuni.
Langkah Nadia langsung terhenti sesaat.
Rahangnya mengeras melihat isi meja makan pagi itu.
Ada sosis, ayam goreng tepung, saus tomat, saus cabai, dan es teh manis ukuran besar. Ratna bahkan terlihat sibuk menata makanan dengan wajah puas.
“Sini, Sayang,” ajak Ratna manis sambil tersenyum pada Nanda. “Makan dulu. Ini makanan enak banget loh, ada rasanya. Mamah kasihan kamu makan hambar terus.”
Nanda tidak menjawab.
Anak itu hanya duduk tenang di kursinya.
Ratna langsung mengambil ayam goreng dan hendak menuangkan saus.
“Bunda, sarapan Nanda mana?” tanya Nanda pelan.
Nadia langsung tersenyum kecil.
Ia mengambil kotak makanan yang sudah disiapkannya lalu meletakkannya di depan Nanda.
“Ini, Sayang.”
Mata Nanda langsung berbinar.
Ratna tersenyum kaku.
“Sayang, yang itu aja. Itu makanan enggak enak,” bujuknya lagi.
Namun Nanda malah tersenyum pada Nadia.
“Masakan Bunda paling enak, Mah.”
Kalimat polos itu membuat wajah Ratna menegang.
Rahang wanita itu tampak mengeras menahan kesal.
“Kamu jangan takut, Nanda,” ucap Ratna lagi. “Ada Mamah kalau Bunda marah.”
“Ratna, kamu bisa diam enggak sih?” potong Raka kesal.
Pria itu mengusap wajah kasar, tampak lelah menghadapi pertengkaran dua wanita itu sejak semalam.
Ratna mendengus kecewa lalu menyilangkan tangan di dada.
Nanda berdoa sebelum makan, kemudian mulai menyantap sarapannya dengan lahap.
Melihat itu, Nadia akhirnya sedikit merasa lega.
Sarapan pagi berlangsung cukup tenang meski suasana terasa dingin.
Ratna beberapa kali terlihat memalingkan wajah dengan kesal.
Sementara Raka hanya diam sambil sesekali menghela napas panjang.
Setelah selesai makan, seperti biasa Nanda mencium tangan semua orang.
Lalu anak itu menunggu mobil jemputan bersama Nadia di depan rumah.
Nanda terus bercerita tentang kegiatan sekolahnya nanti. Nadia mendengarkan dengan sabar sambil sesekali tersenyum dan mengusap kepala anaknya.
Dari dalam rumah, Ratna memperhatikan pemandangan itu dengan rahang mengeras.
Perasaannya semakin tidak nyaman.
“Kalau begini terus...” batinnya gelisah. “Bagaimana aku bisa memisahkan Nanda dari Nadia?”
Tak lama kemudian mobil jemputan datang.
Nadia mengantar sampai Nanda naik ke dalam mobil.
“Nanti hati-hati ya, Sayang.”
“Iya, Bund!”
Mobil itu akhirnya pergi meninggalkan rumah.
Nadia baru saja masuk kembali ketika Raka dan Ratna terlihat sudah siap berangkat kerja.
Ratna melirik Nadia sinis.
“Hai, pengangguran,” ucapnya sambil tersenyum mengejek. “Kami berangkat kerja dulu.”
Tatapan Raka langsung tajam ke arah Ratna.
Ia sudah terlalu stres melihat pertengkaran mereka.
“Ratna, cukup,” tegurnya pelan namun dingin.
Lalu pria itu menoleh pada Nadia.
“Nad, aku pergi dulu.”
Namun Nadia tidak menjawab.
Ia hanya menatap datar beberapa detik sebelum akhirnya berjalan masuk ke dalam rumah tanpa berkata apa pun.
Nadia masuk ke kamarnya dengan langkah lelah. Begitu pintu tertutup, ia langsung menyandarkan tubuh ke daun pintu sambil memejamkan mata sesaat.
Dadanya terasa sesak.
Pertengkaran demi pertengkaran di rumah itu mulai menguras tenaganya.
Nadia mengusap wajah kasar, lalu mengambil ponsel di atas meja. Jemarinya bergerak cepat mencari nama Sindi sebelum akhirnya menekan tombol panggil.
Tak butuh waktu lama, panggilan itu tersambung.
“Halo, Beb,” sambut Sindi dari seberang telepon dengan suara ceria.
Namun Nadia tidak punya tenaga untuk membalas dengan nada yang sama.
“Sin...” suara Nadia terdengar pelan dan berat. “Bisa enggak kamu carikan aku pengacara handal? Aku akan menggugat Mas Raka dan mengambil hak asuh Nanda.”
Di seberang sana Sindi langsung terdiam sesaat.
“Oh tentu saja bisa,” jawabnya cepat. “Aku akan carikan pengacara terbaik buat kamu.”
Nadia mengembuskan napas pelan.
“Terima kasih, Sin.”
“Tapi ngomong-ngomong...” suara Sindi berubah lebih serius. “Nanda kan anak adopsi. Kamu ada surat-surat dari panti asuhan?”
Nadia langsung terdiam.
Keningnya berkerut pelan mencoba mengingat masa lalu yang selama ini tidak pernah benar-benar ia pertanyakan.
“Sepertinya aku enggak punya,” jawab Nadia perlahan. “Dan aku juga enggak pernah lihat.”
“Emang kamu enggak pernah isi formulir apa pun dari pemerintah atau panti asuhan? Tentang kamu sebagai orang tua angkat Nanda?”
Nadia menggigit bibir bawahnya.
“Perasaan aku enggak pernah isi apa-apa, Sin.”
“Loh, kok bisa?” suara Sindi terdengar bingung. “Kata kamu Nanda diambil dari panti asuhan. Harusnya kamu atau Raka punya dokumennya.”
“Aku memang enggak pernah isi apa pun.”
Suasana langsung hening beberapa detik.
Nadia mulai merasa ada sesuatu yang janggal.
Selama ini ia terlalu percaya pada Raka hingga tidak pernah memikirkan asal-usul administrasi Nanda.
“Loh terus gimana Nanda bisa sekolah?” tanya Sindi lagi. “Bukannya itu perlu akta dan KK?”
“Kalau akta dan KK ada,” jawab Nadia cepat. “Di akta bahkan ditulis aku sebagai ibu kandung. Di KK juga aku ibu kandungnya.”
Sindi kembali diam sejenak sebelum akhirnya berbicara pelan.
“Oh... begitu ya.”
Nada suaranya terdengar seperti sedang menyusun sesuatu di kepala.
“Dari cara kamu mendapatkan Nanda, sepertinya kamu bukan adopsi resmi dari panti asuhan,” jelas Sindi hati-hati. “Lebih seperti... menemukan bayi lalu mengurusnya sendiri.”
Nadia langsung menggeleng meski Sindi tidak bisa melihatnya.
“Aku juga enggak tahu, Sin,” jawabnya lelah. “Pokoknya aku diberi bayi sama Raka. Itu saja. Selama ini aku enggak pernah memikirkan hal itu.”
Sindi menghela napas kecil.
“Ya sudah. Yang penting sekarang kamu punya bukti kalau Nanda lebih layak diasuh sama kamu. Kalau bukti kuat, semuanya bisa lebih lancar.”
Nadia menatap kosong ke arah jendela kamar.
“Syukurlah,” bisiknya pelan. “Aku sudah kumpulin beberapa bukti, Sin. Dan mungkin lusa aku akan bawa Nanda keluar dari rumah ini.”
Nada suaranya mulai terdengar lebih tegas.
“Nanti tolong kirim pengacara ya.”
“Oke,” jawab Sindi cepat. “Nanti aku atur. Aku juga bakal kirim beberapa formulir yang harus kamu isi.”
“Terima kasih.”
Setelah telepon ditutup, Nadia menurunkan ponselnya perlahan.
Tatapannya kosong.
Ada rasa takut yang perlahan tumbuh di dadanya.
Bagaimana kalau selama ini ada sesuatu tentang Nanda yang disembunyikan Raka?
Sementara itu, Ratna tidak langsung pergi ke kantor.
Mobilnya justru menepi di sebuah taman yang cukup sepi.
Ia menyandarkan tubuh di kursi mobil sambil mengembuskan napas kasar. Wajahnya terlihat kesal sejak tadi pagi.
Tak lama kemudian ponselnya berdering.
Nama “Ayah” muncul di layar.
Ratna langsung menjawab panggilan itu.
“Bagaimana, Ratna?” suara Handoko terdengar tegas dari seberang sana.
Ratna memijat pelipisnya pelan.
“Ayah... aku baru semalam tinggal di rumah Raka,” jawabnya kesal. “Mana mungkin aku langsung menemukan bukti?”
“Ah, lambat kamu!” bentak Handoko.
Ratna langsung meringis mendengar nada keras itu.
“Kamu bilang Nadia cuma kasih waktu dua hari buat Raka,” lanjut Handoko penuh tekanan. “Sebelum Nadia pergi, kamu harus menemukan data warisan ayah Nadia.”
Ratna menggigit bibir bawahnya.
“Ayah yakin Nadia menyembunyikannya.”
“Iya, Yah,” jawab Ratna lirih.
“Jangan cuma iya-iya!” suara Handoko semakin keras. “Kamu harus bergerak sekarang! Ayah yakin Nadia menyembunyikan uang puluhan miliar.”
Ratna memejamkan mata sesaat menahan kesal.
“Iya... aku bergerak sekarang.”
“Oke. Ayah tunggu kabar dari kamu.”
Sambungan telepon langsung terputus.
Ratna membuang ponselnya ke kursi sebelah dengan wajah dongkol.
Rahangnya mengeras.
“Kenapa harus cepat sih?” gerutunya kesal.
Jujur saja, bagian dari dirinya justru ingin Nadia tinggal lebih lama di rumah itu.
Ratna menikmati rasa menang setiap kali melihat Nadia cemburu pada kedekatannya dengan Raka.
Wanita itu menyandarkan kepala ke jok mobil sambil berpikir keras.
Bagaimana caranya mencari data warisan ayah Nadia tanpa dicurigai?
melawan itu perlu demi kewarasan..kesehatan mental biar g jadi orang yg lemah ...aq paling benci kli melihat orang diam kli di singgung di kata katai mkinya klo mertua yg ngatai..langsung q lawan..g ada istilah mertua julid hatus di hormati..yg ada harus dihindari biar sehat jiwa raga
selamat berkarya Thor ditunggu cerita seru selanjutnya....tetap semangat Thor 💪💪