Nadia Tujuah tahun menikah dengan Raka
mengurus Ibu mertuanya dengan baik
mengurus anak adopsi dengan baik
selalu bersabar karena dia hanyalah anak yatim piatu
Namun tepat di usia pernikahannya yang ke tujuh
Raka malam menikah lagi Dengan Ratna Sepupunya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
akan membawa nanda pergi
Malam itu Nadia tidak keluar dari kamar.
Pintu ia kunci rapat dari dalam.
Bukan untuk mencari perhatian.
Ia hanya sudah terlalu lelah.
Lelah melihat orang-orang yang dengan mudah menghancurkan semua hal yang selama ini ia jaga mati-matian demi Nanda.
Di balik pintu kamar, Nadia duduk memeluk lututnya sendiri.
Lampu kamar sengaja dimatikan. Hanya cahaya remang dari luar jendela yang masuk tipis-tipis.
Dadanya masih terasa sesak.
Bayangan Nanda tertawa sambil memegang minuman bersoda terus berputar di kepalanya.
Anak kecil itu tampak bahagia.
Namun Nadia tahu, kebahagiaan sesaat tidak selalu berarti kebaikan.
Di luar kamar, suara percakapan masih terdengar samar.
“Raka, kenapa kamu belikan minuman bersoda untuk Nanda?” tegur Yuni dengan nada tidak suka.
“Sudahlah, Mah. Sesekali tidak apa-apa,” sahut Ratna santai sambil membuka kotak ayam goreng.
Aroma makanan cepat saji memenuhi ruang makan.
Ayam tepung berminyak.
Kentang goreng penuh garam.
Seblak instan dengan minyak cabai menggenang.
Minuman bersoda dingin dengan es batu memenuhi gelas besar.
Makanan yang selama ini selalu Nadia hindarkan dari Nanda.
Yuni menghela napas panjang.
“Kalau nanti Nanda sakit, kalian yang tanggung jawab.”
Ratna justru terkekeh kecil.
“Tenang saja. Kalau sakit ada Nadia.”
“Ratna!” bentak Raka.
Namun Ratna sama sekali tidak merasa bersalah. Ia malah menyandarkan tubuh dengan santai di kursi.
“Nanda itu anak kecil, Mas. Dia perlu bahagia. Perlu menikmati hidup.”
Yuni menatap Raka beberapa saat sebelum akhirnya ikut bicara.
“Kamu juga harus pikirkan masa depan keturunanmu, Raka. Nadia sudah tiga puluh tahun lebih. Sampai sekarang belum punya anak.”
Ratna tersenyum tipis penuh kemenangan.
“Nah, dengar itu. Lagipula Nanda sudah besar. Sebentar lagi masuk SD. Jangan terus dikekang.”
“Perkembangan Nanda sangat baik,” potong Raka pelan. “Dan itu karena Nadia.”
Ratna mendecakkan lidah.
“Buat apa pintar kalau hidupnya tertekan?”
Raka tampak ingin membalas.
Namun Yuni lebih dulu menghentikan semuanya.
“Sudah malam. Tidur saja.”
Suasana akhirnya perlahan hening.
Sementara itu, di kamar Yuni, Nanda sudah tertidur pulas.
Tubuh kecil itu memeluk bantal guling dengan napas teratur.
Yuni duduk di sisi ranjang, memandangi wajah cucunya lama sekali.
Jari tuanya mengusap pelan pipi Nanda.
“Cantik sekali cucuku,” bisiknya lirih.
Matanya melembut.
“Nadia memang merawatmu dengan sangat baik.”
Beberapa detik kemudian raut wajahnya berubah rumit.
“Tapi Nadia tak kunjung punya anak.”
Yuni menarik selimut hingga menutupi dada Nanda.
“Raka harus punya keturunan.”
Tatapannya kembali jatuh pada wajah gadis kecil itu.
“Darah tetap lebih kental daripada air,” gumamnya pelan.
Kalimat itu terdengar begitu dingin di tengah malam yang sunyi.
Di kamar tamu, Ratna merebahkan tubuh sambil memainkan ponselnya.
Senyum puas masih menghiasi bibirnya.
Malam ini Nadia terlihat hancur.
Dan itu membuat Ratna merasa menang.
“Nadia akan selalu kalah dariku,” gumamnya sambil tersenyum miring.
Tak lama kemudian ponselnya berdering.
Nama “Ayah” muncul di layar.
Ratna langsung mengangkat telepon.
“Bagaimana? Sudah dapat sesuatu dari kamar Nadia?” tanya suara berat di seberang.
“Belumlah, Yah. Baru sehari aku tinggal di sini.”
Ratna mengambil kentang goreng di meja samping ranjang lalu memakannya santai.
“Jangan banyak alasan. Ayah sedang terlilit utang. Nadia pasti menyimpan warisan orang tuanya.”
Ratna memutar bola mata malas.
“Iya, besok aku cari.”
“Kamu jangan sampai gagal.”
“Iya, iya.”
Sambungan telepon terputus.
Ratna melempar ponselnya ke kasur dengan kesal.
“Selalu aku yang dijadikan alat.”
Pagi datang terlalu cepat.
Saat rumah masih gelap dan sunyi, Nadia sudah terbangun sejak pukul tiga dini hari.
Ia duduk bersimpuh di atas sajadah sambil memutar tasbih perlahan.
Matanya sembap.
Namun pikirannya justru semakin jelas.
Ia harus pergi.
Dan ia ingin membawa Nanda bersamanya.
Cintanya pada anak itu sudah terlalu besar untuk ditinggalkan begitu saja.
“Seminggu lagi Nanda ujian akhir,” gumam Nadia lirih.
Dadanya kembali sesak.
“Aku harus membawa Nanda pergi jauh dari rumah ini.”
Dalam pikirannya, Nadia masih percaya Nanda bukan anak Ratna.
Ia terus mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Kalau Nanda bukan anak kandung mereka, maka Nadia akan membawa gadis kecil itu pergi dan membesarkannya berdua.
Jauh dari kebohongan.
Jauh dari rumah yang perlahan menjadi racun.
Nadia mengambil buku kecil dan mulai menulis sesuatu.
Daftar rencana.
Tempat tinggal baru.
Sekolah baru.
Biaya hidup.
Tabungan.
Tangannya bergerak pelan, tetapi kepalanya penuh sesak.
Namun saat teringat doa kecil Nanda setiap malam—
“Ya Allah, sehatkan Bunda dan Papah.”
Napas Nadia langsung terasa berat.
Matanya memanas.
Kalau Nanda tetap tinggal di rumah ini...
Apa hidup anak itu akan baik-baik saja?
Atau justru perlahan hancur?
Nadia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Ya Allah... beri aku jalan terbaik.”
Tak lama kemudian suara azan Subuh berkumandang.
Nadia bangkit.
Ia mengambil wudu, lalu melaksanakan salat dengan tubuh gemetar.
Usai berdoa, Nadia langsung menuju dapur.
Seperti biasanya.
Menyiapkan sarapan sehat untuk Nanda.
Pagi itu Nadia membuat nasi tim salmon dan brokoli. Teksturnya lembut, hangat, dan mudah dicerna untuk perut Nanda yang sensitif.
Ia mengukus potongan kecil salmon segar tanpa banyak bumbu. Hanya sedikit bawang putih dan minyak zaitun agar aromanya tidak amis. Brokoli dipotong kecil-kecil lalu direbus sebentar supaya nutrisinya tetap terjaga.
Sarapan sudah siap, sebagian nadia masukan ke kotak makanan
Semarah apa pun Nadia, sehancur apa pun hatinya, satu hal yang tidak pernah berubah adalah urusan Nanda.
Dunia boleh runtuh.
Rumah tangganya boleh hancur.
Namun untuk sarapan Nanda, Nadia akan tetap memberikan yang terbaik.
Ia sedang menuang nasi tim ke mangkuk kecil ketika suara cempreng yang sangat dikenalnya terdengar dari arah belakang.
“Bunda...”
Nadia menoleh.
Nanda berdiri di ambang dapur dengan rambut acak-acakan. Matanya masih sembab karena kurang tidur. Gadis kecil itu masih mengenakan piyama bergambar kelinci sambil memeluk boneka panda kesayangannya.
Melihat wajah polos itu, dada Nadia kembali terasa diremas.
Nadia segera menghampiri.
Belum sempat berkata apa-apa, Nanda lebih dulu memeluk pinggangnya erat.
“Bunda marah sama Nanda ya?” tanyanya pelan.
Suara kecil itu langsung menusuk hati Nadia.
Ia memejamkan mata sebentar, lalu membalas pelukan anak itu dengan lembut.
“Mana mungkin Bunda marah sama sayang Bunda,” bisiknya lirih.
Nanda mendongak perlahan.
“Maafin Nanda ya, Bun.”
Nadia tersenyum tipis meski matanya mulai memanas.
Jari-jarinya mengusap pipi tembam Nanda dengan penuh kasih sayang.
“Sekarang Nanda mandi dulu, lalu siap-siap sekolah ya.”
Nanda mengangguk kecil.
“Iya, Bunda.”
Sebelum pergi, gadis kecil itu kembali mencium pipi Nadia singkat lalu berjalan menuju kamarnya sambil menyeret boneka panda.
Nadia memandangi punggung kecil itu lama sekali.
Hatinya kembali berbisik pelan—
“Kalau benar kamu bukan milikku... kenapa Allah membuat aku menyayangimu sedalam ini?”
raka tak bakal setuju cerai kan kamu
nadia terlalu bego sdh tau di jdi kan keluarga toxin jdi baby sister gratis tetap mau bertahan di dlm rmh demi nanda ank selingkuh raka/ ratna 🤭