INSPIRASI DARI BULAN RAMADHAN.
Seorang gus bernama Ali Mahendra adalah putra kiyai kharismatik yang dipersiapkan menjadi penerus pesantren—jatuh cinta pada Nayla Malika seorang gadis yang terjebak dalam dunia Mafia karena masa lalunya yang rumit antara ibunya wanita Indonesia dan sang ayah pria Arab Saudi.
Sang Kiyai yang tahu jika Putra tunggalnya mencintai Nayla, berusaha mencarikan calon istri yang baik---anak dari Kiyai di pesantren lain.
Ning Syifa Maulida seorang anak Kiayai yang akan di nikahkan oleh Gus Ali.
Mampukah Ali dan Nayla bersama dalam perbedaan dunia sosial dan lingkungan. Atau Bagaimana Ali mengatasi masalah ini agar tak kehilangan Nayla
Cinta mereka bukan hanya tentang dua hati, tapi tentang dua dunia yang saling bertolak belakang: sajadah dan senjata, doa dan darah, dzikir dan dendam semuanya menjadi satu dalam novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Mobil Innova putih milik Pondok Pesantren Darul Mahendra melaju stabil ke jalan raya antar kota.
Di kursi depan Hendra---seorang santri senior yang dipercaya menjadi supir memegang kemudi.
Gus Ali hari ini mengenakan kemeja koko sederhana warna coklat dengan peci hitam di kepalanya.
Tangan Gus Ali memegang Al-Quran, tengah duduk di kursi belakang---dirinya membacanya dengan suara merdu.
Hari ini Gus Ali bersama seorang santrinya akan menuju ke sebuah undangan ceramah berasal dari sebuah majelis taklim di kota sebelah.
Jaraknya hampir dua jam perjalanan, itu pun kalo nggak macet.
Langit siang ini nampak cerah, lalu lintas yang ramai dan padat.
Pedagang kaki lima berjejer di pinggir jalan.
Di sana ada sebuah pos polisi untuk mengatur lalu lintas, berdiri di perempatan besar.
Ada anggota Ormas, atau organisasi masyarakat warna jingga dengan loreng tampak berkumpul.
Sebagian sedang memalak sebagian pedagang dan sopir angkot.
Gus Ali yang sudah membaca Al-Quran, langsung menyudahinya.
“Shadaqallahul adzim,” ucap Ali menutup Al-quran kecil itu lalu menciumnya.
Mata Gus Ali memandang keluar Al-Qur'an sejenak, dengan tenang.
Lalu menatap jam di tangannya, dan menatap keluar jendela.
“Masih satu jam lagi ya, Hen?” tanyanya lembut.
“Iya, Gus. InsyaAllah tepat waktu,” jawab Hendra sambil tersenyum lewat kaca spion tengah.
"Hen kamu---" Belum sempat percakapan berlanjut.
Tiba-tiba.
BOOOM!!
Ledakan dashyat mengguncang udara, tanah bergetar.
Kaca pengendara bergetar dengan keras.
Ledakan itu berasal dari arah kantor polisi di perempatan jalan tadi dekat lampu merah.
“Astagfirullah!” seru Gus Ali spontan.
Hendra refleks menginjak rem. Mobil di belakang mereka hampir menabrak karena kaget.
Mendengar dentuman bom, dan pos polisi yang di bakar.
Orang-orang berteriak histeris, pengendara motor semakin menekan klakson.
Debu dan serpihan kayu berterbangan dengan asap yang membumbung ke atas.
Belum selesai kepanikan itu, terdengar suara rentetan tembakan yang menggelora.
Dor! Dor! Dor!
Dari arah gang sempit, arah kerumunan pasar yang panik.
Beberapa pria bersenjata keluar dengan wajah tertutup masker hitam, mereka bergerak sambil membawa pistol kecil dan bom yang siap di ledakan.
“Ya Allah…” gumam Hendra, wajahnya pucat.
Para pria itu adalah sisa geng jekbla yang baru saja mengalami keruntuhan.
Para pria sisa geng jekbla menyerang aparat dan anggota ormas yang biasa memalak dengan menembaki mereka.
Tembakan secara brutal.
Teriakan dan kekacauan tak terhindarkan, dari polsek kota segera mengirim bantuan---serangan Mafia yang sudah runtuh.
Salah satu anggota ormas yang tadi memegang uang receh dari pedagang dan supir angkot roboh, dengan tembakan di kepala menembus otak.
Tukang parkir juga terkena serangan mafia, yang berdiri di depan minimarket tembakan nyasar mengenai bahu.
Pria itu jatuh tersungkur memegang bahunya menjerit kesakitan, tangannya memegang bahunya yang terkena timah panas.
Pedagang kaki lima berteriak panik, namun anehnya sisa geng jebkla tak mengarahkan peluru ke warga sipil atau pedagang kecil.
Mereka mengarahkan tembakan ke arah aparat dan ormas yang membuat onar.
"Hen, mundur. Cari jalan pintas dan jangan panik," ujar Gus Ali dengan suara tetap terkontrol meski situasi kacau.
Hendra hanya mengangguk, tangannya gemetar tapi berusaha patuh.
Hendra mengemudikan mobil perlahan agar menjauh dari kerusuhan.
Di luar sana baku tembak makin intens, salah satu polisi mencoba berlindung di balik mobil patroli yang terbakar.
Sirine darurat mulai terdengar dari kejauhan, bantuan sedang datang.
Gus Ali menatap ke sekitar, matanya fokus pada tukang parkir yang tergeletak.
"Hen berhenti sebentar," ucap Gus Ali.
"Gus jangan turun bahaya," pinta hendra.
"Udah buka sekarang Hend pintunya, jika saya mati. Saya akan mati syahid karena menolong orang," nada suara Gus Ali lembut tapi tegas.
Hendra menepikan mobil sedikit lebih jauh dari titik tembak langsung, Gus Ali turun dengan cepat.
Langkahnya menuju tukang parkir yang mengerang kesakitan.
“Pak… istighfar, Pak. Tahan,” ucap Gus Ali sambil menekan luka di bahu pria itu dengan sorbannya untuk menghentikan darah.
“Saya… nggak salah apa-apa…kenapa saya ditembak...,” suara Pria itu meringis.
"Sudah bapak, tenang yaa saya akan menahan ini sampai ambulance datang," ujar Gus Ali.
Beberapa meter dari mereka mobil polisi lapis baja sudah terhenti, dua anggota ormas tergeletak tak bergerak.
Situasi benar-benar mencekam, baku tembak antara polisi dan mafia tak terelakan.
Sisa geng Jekbla bergerak cepat dan brutal, namun terarah seperti ada dalang di baliknya.
Mereka seperti mengirim pesan, bukan sekadar melampiaskan amarah.
Sirene bantuan makin dekat, dengan tambahan amunisi.
DOR!
Anggota mafia terkena peluru yang di lepaskan oleh aparat, mobil polisi tambahan dan kendaraan taktis dari dua arah.
Aparat bersenjata lengkap dengan mengenakan rompi anti peluru turun membalas tembakan antar mafia.
Gus Ali tetap menunduk melindungi pria yang jadi tukang parkir di mini market, dengan menahan bahu kanannya.
"Hendra! Bantu angkat!" teriak Gus Ali membawa kang parkir menuju kawanan aparat untuk ke ambulance.
Hendra mengangguk dan membantu memapah tukang parkir ke arah kawanan aparat.
Peluru melesat di udara, tapi kini fokus baku tembak bergeser ke arah aparat yang datang.
Beberapa anggota geng Jekbla mulai mundur, menembakan peluru terakhir sebelum melarikan diri ke gang-gang sempit.
Beberapa menit kemudian, suara tembakan mereda, asap masih mengepul dari sisa pos polisi mulai hancur.
Tangisan, teriakan dan suara ambulance memenuhi udara.
Gus Ali membantu meletakan tukang parkir di ambulance, "terimakasih pak ustad," ucap tukang Parkir yang melihat penampilan Gus Ali.
Salah satu aparat membawa walkie talkie, untuk mengabarkan atasannya.
"Hallo masuk, kita mendapatkan serangan dari sisa geng jekbla yang belum seluruhnya di berantas."
"Boss mereka masih mengendalikan mereka, dan sangat sulit karena mereka menyatu dengan warga sipil," lanjutnya.
Sementara Gus Ali melanjutkan langkahnya, dirinya mau menuju mobil saat sedang mau berjalan tiba-tiba anggota Ormas.
Dirinya sekarat dengan luka tembak di leher merintih meminta tolong, dan Gus Ali berteriak memanggil kawanan Aparat untuk membantu anggota ormas.
Namun sayang sudah tak selamat, karena sekarang jalanan sudah tergenang darah.
Darah dari polisi, anggota ormas, dan warga sipil yang juga tanpa sengaja menjadi korban dari baku tembak tersebut.
Gus Ali dan Hendra masuk ke dalam mobil dan melanjutkan ceramah ke kota tetangga, dan hati Gus Ali merasa tak damai.
Tapi apa yang membuat hatinya tak damai.