NovelToon NovelToon
Target Di Balik Gerobak Penyamaran Sang Komandan

Target Di Balik Gerobak Penyamaran Sang Komandan

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Dokter / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:37.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

​"Nikahi aku, Abang Tukang Bakso!"
​Demi menyelamatkan warisan Rumah Sakit dari ibu tiri yang kejam, Dokter Airine Rubyjane nekat menikahi Nata, pria penjual bakso di depan RS-nya. Airine pikir Nata hanyalah rakyat jelata yang mudah ia kendalikan.
​Namun, ia salah besar. Di balik celemek berminyak itu, suaminya adalah Arnold Dexter, Komandan Intelijen legendaris yang sedang dalam misi penyamaran mematikan.
​Satu per satu musuh Airine tumbang secara misterius. Saat cinta mulai tumbuh, Airine menyadari bahwa pria yang ia anggap "miskin" itu adalah predator paling berbahaya di negara ini yang sedang mengincar rahasia gelap kakeknya.
​"Aku bukan sekadar tukang bakso, Istriku. Aku adalah alasan musuhmu takut pada malam hari."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Detik-Detik Pengkhianatan

​"Satu langkah lagi, Airine, dan aku akan memastikan Arnold tidak pernah meninggalkan pulau ini dalam keadaan utuh."

​Suara Edward Jane memecah kesunyian laboratorium, dingin dan tajam seperti pisau bedah. Langkah kaki Airine terhenti tepat di depan pipa saluran pusat yang menghubungkan tangki gas Cobra-9 ke sistem ventilasi pulau. Tangannya yang tersembunyi di balik saku jaket taktis mencengkeram botol penetral biru itu hingga kuku jarinya memutih.

​"Aku hanya ingin memeriksa sirkulasi udaranya, Kek," sahut Airine, suaranya bergetar namun matanya menatap tajam ke arah kakeknya. "Sebagai dokter, aku tahu subjek di dalam tabung itu akan mati jika tekanan gasnya tidak stabil. Apa itu yang Kakek mau? Mahakarya yang berakhir jadi tumpukan mayat?"

​Edward tertawa kecil, suara tawanya bergema di ruangan luas itu. "Jangan mengajari kakekmu soal tekanan, Dokter. Aku yang mengajarimu cara membaca stetoskop pertama kali, ingat? Sekarang, keluarkan tanganmu dari saku. Pelan-pelan."

​Arnold, yang masih membidikkan senjatanya ke arah Edward, menggeretakkan gigi. "Lepaskan dia, Edward! Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau. Biarkan Airine menjauh dari tangki itu!"

​"Oh, Komandan, kamu terlalu protektif," Edward melirik Arnold dengan sinis. "Airine, kemarilah. Berdirilah di samping kakekmu. Biarkan pria kasar ini melihat bahwa darah Jane jauh lebih kuat daripada sumpah pernikahan murahan kalian."

​Airine menarik tangannya keluar dari saku, perlahan. Ia tidak membawa botol itu keluar, melainkan menyembunyikannya di lipatan lengan bajunya. "Darah Jane tidak mengalirkan racun, Kek. Darah Jane seharusnya menyembuhkan."

​"Menyembuhkan dunia butuh pengorbanan, Sayang!" Edward berteriak, wajahnya mendadak memerah. "Lihat ayah Arnold! Dia gagal karena dia lemah! Tapi kau... kau sempurna. Genetikmu adalah kunci untuk evolusi manusia!"

​"Kunci untuk perbudakan, maksudmu?" sela Arnold, suaranya merendah, penuh ancaman. "Aku tidak akan membiarkanmu menyentuh sumsum tulang belakangnya. Tidak satu mili pun."

​"Arnold, diamlah!" Airine menoleh sekilas, memberikan kode mata yang sangat cepat ke arah katup darurat di bawah tangki. "Kek, jika aku setuju... jika aku memberikan apa yang Kakek butuhkan, apakah Kakek berjanji akan membiarkan Arnold dan timnya pergi?"

​"Airine! Apa yang kau lakukan?!" bentak Arnold, wajahnya panik. "Jangan bernegosiasi dengan iblis!"

​"Aku sedang menyelamatkan nyawa banyak orang, Arnold! Berhenti menjadi pahlawan yang keras kepala!" balas Airine dengan nada tinggi yang dibuat-buat untuk mengalihkan perhatian Edward.

​Edward menyeringai puas, merasa telah memenangkan pengaruh atas cucunya. "Tentu, Airine. Aku selalu menepati janji pada keluarga. Serahkan dirimu, dan Komandan gagahmu ini bisa pulang ke pangkalan baksonya."

​"Baik," Airine melangkah mendekat ke arah kursi roda Edward, namun jalurnya sengaja melewati panel kontrol utama. "Tapi aku ingin melihat datanya dulu. Aku ingin tahu seberapa besar dosis yang akan Kakek ambil dariku."

​"Data ada di layar sebelah kiri, silakan lihat," Edward menunjuk dengan dagunya.

​Saat Edward lengah memperhatikan layar, Airine bergerak dengan kecepatan yang tidak pernah diduga siapa pun. Ia tidak menuju layar, melainkan menghantamkan botol penetral itu ke dalam lubang asupan udara tangki pusat dan memutar katup darurat dengan seluruh tenaganya.

​KLAAAK! PSSSSSSSSHT!

​Cairan biru itu tersedot masuk ke dalam sistem, mengubah warna gas hijau neon di dalam tangki menjadi abu-abu kusam seketika.

​"APA YANG KAU LAKUKAN?!" teriak Edward, mencoba menggerakkan kursi rodanya untuk menjangkau Airine.

​"Membatalkan mahakaryamu, Kek!" Airine berteriak, matanya berkilat penuh kemenangan.

​"SATYA! SEKARANG!" Arnold berteriak.

​DUARR!

​Peledak termit yang dipasang Satya di panel listrik utama meledak, mematikan seluruh lampu laboratorium dan sistem keamanan otomatis. Dalam kegelapan total, hanya lampu darurat merah yang berkedip-kedip, menciptakan atmosfer yang mencekam.

​"Airine, tiarap!" Arnold menerjang ke depan, menyambar tubuh Airine dan menariknya ke balik meja laboratorium besi tepat saat anak buah Edward mulai melepaskan tembakan membabi buta.

​"Gasnya sudah netral, Arnold! Mereka tidak bisa meracuni kita lagi!" Airine terengah-engah, memeluk tas medisnya erat-erat di bawah perlindungan Arnold.

​"Kerja bagus, Dokter!" Arnold mencium pelipis Airine sekilas sebelum berdiri dan mulai membalas tembakan. "Satya! Amankan tangki! Jangan biarkan mereka menyalakan sistem cadangan!"

​"Arnold, Kakek! Di mana Kakek?!" Airine mencoba melihat ke arah kursi roda tadi, namun kursi itu kosong.

​"Sialan, dia kabur lewat jalur bawah!" Arnold mengutuk. Ia melihat sebuah pintu rahasia di bawah lantai yang terbuka sedikit. "Airine, tetap di sini bersama Satya! Aku harus mengejarnya!"

​"Tidak! Aku ikut!" Airine menarik rompi Arnold. "Dia kakekku! Aku yang harus mengakhiri ini!"

​Arnold menatap mata Airine yang penuh tekad di bawah kilatan lampu merah darurat. "Ini labirin bawah tanah, Airine. Jika kita masuk, tidak ada jaminan kita bisa keluar sebelum sistem penghancur diri diaktifkan."

​"Lalu kenapa kita masih berdiri di sini?" tantang Airine.

​Arnold menyeringai tipis, meski situasi sedang kacau. "Baik. Pegang tanganku. Jangan pernah lepaskan, apa pun yang terjadi."

​Mereka melompat ke dalam lorong gelap di bawah lantai, menuju bagian terdalam pulau yang belum terjamah, di mana sang pencipta maut sedang menunggu dengan kartu as terakhir di tangannya. Di belakang mereka, suara tembakan dan ledakan masih bersahutan, menandakan bahwa perang ini baru saja memasuki babak final yang paling berdarah.

...****************...

1
Erna Ladi Yanti
mc berada di tengah2 keluarga yang kapan saja bisa melenyapkannya tapi mc nya sangat lemah dan kapan saja bisa terbunuh,ini gimana si thor.
Ika Fitri Ana
bagus semuanya...sampai baca berulang2 yang udah tamat
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak♥️♥️♥️♥️
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
bukannya Shen udah diamankan dan si kakek semalam pingsan apa banyak jalan keluar dari lubang bawah tanah semalam 🤔🤔
Ariska Kamisa: penjahat mah lebih pinter kak🤭🤣🤣
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
si kakak tiri jadi apa ya di RS🤔🤔
Ariska Kamisa: jadi pajangan doang kak 🤭🤭🤭🤭
benalu... 🤣
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
mampir lagi
Ariska Kamisa: terimakasih kak ♥️♥️♥️
total 1 replies
Ririn Nursisminingsih
lagian harta2 milik airin dasar orang2 serakahnmau mencuri harta yg bukan miliknya
Ariska Kamisa: iya ada aja ya manusia seperti itu...

eh, tapi terimakasih banyak kak 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Niken Dwi Handayani
Ternyata benang merahnya adalah para kakek😱
Niken Dwi Handayani
Ekor nya sudah tertangkap. Tinggal kepalanya yang belum 😤
Niken Dwi Handayani
lha.. Renata ga ditahan juga. malah dilepas
Ariska Kamisa: iya ... sabar ya beb🤭🙏🙏🙏
total 3 replies
Abinaya Albab
beneran sudah tamat ini
Ariska Kamisa: season 2 aku sudah buat draft kak ..
judulnya The silent shadow biar agak keren dikit soalnya bang nata naik level bukan tukang bakso lagi, karena kasus baru lebih elite bang nata jadi profesor Adrian. ini tentang marriage life gitu jadi agak ada panasnya dikit disamping menegangkan nya. 🙏🙏🙏🙏
total 3 replies
Pa Muhsid
terakhir kata otor mah harus dipertanyakan deh 😭😭😭
Ariska Kamisa: tenang Pa Muhsid... belum berakhir kok.. masih akan deg-degan .. gimana? siap ?
total 1 replies
Maria Yanti
msh adakah sambungannya atau sudah selesai alias tamat padahal seru skali
Ariska Kamisa: masih kak belum tamat
total 1 replies
Maria Yanti
sampe tegang sy bacanya seru banget critany.
Ariska Kamisa: masih dong kak... 🤭
total 1 replies
Abinaya Albab
beneran ini perang terakhir? duhhhh capek gk sih mereka baru mau bernafas lega ada lagi
Ariska Kamisa: betul sekali kakak... 🤭🤭🤭🤭🤭
total 5 replies
Abinaya Albab
baru ini aku baca novel yg tegangnya tak beesudahan... lanjut
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
kakek jahat ga
aditya rian
sekalian updatenya banyak dong soalnya jadi penasaran banget
aditya rian
keren arnold
aditya rian
jangan marah dong... di awal jug udh bilang
hidagede1
ke inget nya sama jendral andika🤭
Ariska Kamisa: eehh??? 🤭🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!