Prabu, seorang pria yang dulunya penuh ambisi, kini tenggelam dalam depresi berat yang merenggut gairah hidupnya. Melihat kondisi sang putra yang kian memprihatinkan, ayahnya yang merupakan seorang pilot senior, merasa hanya ada satu orang yang mampu menarik Prabu keluar dari kegelapan: Xena.
Xena bukan sekadar wanita dari masa lalu yang pernah mengejar-ngejar Prabu saat SMA, ia kini adalah seorang dokter spesialis jiwa yang handal. Sang ayah yakin bahwa kombinasi antara keahlian medis dan ketulusan hati Xena adalah kunci kesembuhan Prabu.
Meski dipenuhi penolakan dan sikap dingin yang membeku, Prabu akhirnya menyerah pada desakan orang tuanya. Ia menyetujui pernikahan tersebut dengan satu syarat mutlak di kepalanya: pernikahan ini tak lebih dari sekadar sesi pengobatan.
Xena pun melangkah masuk ke dalam hidup Prabu, bukan lagi sebagai gadis remaja yang naif, melainkan sebagai penyembuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Mobil itu akhirnya berhenti di ujung jalan setapak yang langsung berbatasan dengan hamparan pasir putih.
Bunyi deburan ombak yang tenang seketika mendominasi pendengaran begitu mesin mobil dimatikan.
Di hadapan mereka, berdiri sebuah vila kayu sederhana namun elegan, berdiri kokoh di bibir pantai yang tersembunyi dari keramaian.
Prabu membuka pintu mobil dan turun dengan langkah gontai.
Ia memandangi sekeliling; tidak ada tetangga, tidak ada kebisingan kota, hanya ada deretan pohon kelapa dan samudera luas yang membentang tanpa batas.
"Tempat apa ini? Sepi seperti hutan," protes Prabu sambil mengerutkan kening, menatap vila itu dengan tatapan tidak suka.
"Kamu membawaku ke sini untuk mengasingkanku atau untuk menyiksaku?"
Xena turun dari kursi kemudi, meregangkan tubuhnya yang kaku setelah menyetir berjam-jam.
Ia berjalan ke arah bagasi untuk mengambil koper tanpa terlihat terbebani oleh keluhan suaminya.
"Pra, sudah jangan mengomel seperti ibu-ibu," ucap Xena santai, namun ada nada tegas yang terselip di sana.
Ia berjalan melewati Prabu sambil menjinjing tas medisnya.
"Tempat ini namanya ketenangan. Sesuatu yang sangat kamu butuhkan tapi selalu kamu tolak. Di sini tidak ada yang akan menghakimi kamu, tidak ada yang akan menuntut kamu jadi pilot hebat. Di sini, kamu hanya perlu belajar jadi Prabu yang manusiawi lagi."
Prabu mendesis, namun ia terpaksa mengikuti langkah Xena menuju teras vila karena tidak punya pilihan lain.
Angin laut yang kencang menerpa wajahnya, menerbangkan rambutnya yang berantakan.
"Aku bukan anak kecil, Xena. Kamu tidak bisa menyembuhkanku hanya dengan pemandangan air laut," gumam Prabu ketus.
Xena berhenti tepat di depan pintu kayu vila, lalu berbalik menatap mata suaminya.
"Aku tahu kamu bukan anak kecil. Tapi orang dewasa pun butuh tempat untuk hancur sebelum bisa menyusun dirinya kembali. Dan tempat ini... adalah tempat terbaik untuk kamu mulai jujur pada rasa sakitmu sendiri."
Dengan satu putaran kunci, pintu vila terbuka, memperlihatkan interior kayu yang hangat.
Xena melangkah masuk, meninggalkan Prabu yang masih berdiri di teras, menatap cakrawala dengan perasaan yang campur aduk antara amarah dan kekosongan yang amat sangat.
Prabu melangkah masuk dengan enggan, kakinya menghentak lantai kayu yang mengeluarkan bunyi berdecit pelan.
Ia langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa rotan yang menghadap ke arah laut, masih dengan sisa kekesalan di wajahnya.
Xena tidak membiarkan suaminya melamun terlalu lama.
Tanpa banyak bicara, ia membuka tas medisnya dan mengeluarkan tensimeter digital.
"Ulurkan tanganmu, Pra," perintah Xena.
"Untuk apa lagi? Aku tidak sakit fisik," protes Prabu, namun ia tetap memberikan lengannya karena tatapan Xena yang begitu menuntut.
Xena melilitkan manset di lengan Prabu dan menekan tombol start. Keheningan menyelimuti mereka saat alat itu mulai memompa.
Xena memperhatikan angka-angka yang muncul di layar dengan saksama, mencatat kondisi fisiologis suaminya di tengah tekanan mental yang ia alami.
Tepat saat Xena selesai merapikan alatnya, suara ketukan di pintu terdengar.
Perawat Dena muncul dengan membawa beberapa kantong berisi pasokan bahan makanan organik dan beberapa botol obat tambahan yang dipesan Xena sebelumnya.
"Sore, Dokter Xena. Semua pesanan sudah siap di dapur, dan beberapa peralatan tambahan sudah saya letakkan di meja belakang," lapor Dena dengan profesional.
Ia melirik sekilas ke arah Prabu yang berpaling muka, lalu kembali menatap Xena dengan tatapan penuh dukungan.
"Terima kasih banyak, Dena. Maaf harus merepotkanmu sampai ke sini," jawab Xena tulus.
"Sama-sama, Dok. Kalau begitu, saya pamit sekarang agar Dokter dan Pak Prabu bisa segera beristirahat. Kabari saya jika ada keadaan darurat," ucap Dena sopan sebelum melangkah keluar dan menutup pintu vila rapat-rapat.
Kini, mereka benar-benar hanya berdua. Hanya ada suara deburan ombak dan embusan angin yang masuk melalui celah jendela, menandai dimulainya babak baru dalam perjuangan Xena untuk menyembuhkan suaminya.
Suara pintu yang ditutup oleh Dena meninggalkan keheningan yang menyesakkan di dalam vila kayu itu.
Prabu masih mematung di sofa rotan, menatap lurus ke arah samudera yang mulai berubah warna menjadi jingga keemasan.
Xena merapikan kembali alat-alat medisnya ke dalam tas.
Ia bisa melihat bahu Prabu yang tegang, sebuah tanda bahwa pria itu masih dalam mode waspada dan defensif.
"Istirahatlah dulu, Pra. Kamar di sebelah kanan sudah kusiapkan," ucap Xena memecah kesunyian.
"Aku akan ke dapur sebentar untuk memasak makanan organik untuk kamu. Dan satu hal lagi, jangan berpikir untuk kabur. Kamu tidak akan menemukan kendaraan apa pun di radius lima kilometer dari sini."
Prabu menoleh dengan cepat, matanya berkilat tajam menatap Xena yang sedang mengikat rambutnya.
"Berisik kamu, Xen!" bentak Prabu kasar.
"Jangan mengaturku seolah-olah aku ini narapidanamu. Aku diam di sini bukan karena aku patuh, tapi karena aku ingin melihat sampai kapan kamu sanggup memainkan peran 'istri pahlawan' ini."
Xena tidak membalas bentakan itu dengan amarah.
Ia justru berjalan mendekat, meletakkan segelas air putih di meja samping sofa.
"Terserah apa sebutanmu, Pra. Tapi selama kamu di bawah pengawasanku, kesehatanmu adalah tanggung jawabku. Masuklah ke kamar, ganti pakaianmu dengan yang lebih longgar."
Prabu mendengus, lalu bangkit dengan gerakan kasar hingga kursi rotannya bergeser.
Tanpa sepatah kata pun, ia menyambar tasnya dan melangkah menuju kamar yang ditunjuk Xena, membanting pintu kayu itu hingga suaranya menggema ke seluruh ruangan.
Xena menghela napas panjang, bahunya merosot sesaat.
Ia memejamkan mata, membiarkan aroma laut menenangkan sarafnya yang tegang sejak pagi tadi.
Setelah merasa cukup tenang, ia melangkah ke dapur kecil di sudut vila.
Di sana, ia mulai mengeluarkan bahan-bahan yang dibawa Dena tadi.
Sayuran hijau segar, kacang-kacangan, dan protein nabati.
Dengan telaten, Xena mulai memotong sayuran, suara pisau yang beradu dengan talenan menjadi satu-satunya melodi yang menemaninya.
Ia tahu, makanan organik ini hanyalah sebagian kecil dari rencana pengobatannya.
Tantangan sebenarnya adalah menghadapi "monster" trauma yang bersembunyi di balik pintu kamar yang tertutup rapat itu—monster yang siap menerkam setiap kali Xena mencoba mendekat.
Namun, Xena tidak akan menyerah. Baginya, setiap bentakan Prabu adalah jeritan minta tolong yang tersamar oleh rasa sakit.
Di dalam kamar yang remang-remang, Prabu duduk di tepi ranjang.
Ia mengabaikan perintah Xena untuk beristirahat. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel.
Layar ponsel itu menyala, menampilkan sebuah video pendek yang tersimpan di folder tersembunyi.
Di sana, terlihat sosok wanita cantik dengan senyum merekah—Tryas. Video itu diambil saat malam pertunangan mereka.
Tryas tampak begitu bahagia sambil memamerkan cincin di jarinya, sementara Prabu dalam video itu tertawa lepas, sebuah tawa yang kini terasa asing bagi dirinya sendiri.
"Aku rindu..." gumam Prabu lirih.
Suaranya pecah, jauh dari nada kasar yang ia tunjukkan pada Xena tadi.
Ibu jarinya mengusap permukaan layar, seolah ingin menyentuh wajah di dalam video itu.
Matanya mulai memerah, memantulkan cahaya redup dari ponsel.
Penyesalan yang selama ini ia kunci rapat-rapat kini meluap kembali, mencekik dadanya hingga terasa sesak.
"Andai saja malam itu aku tidak terbang, andai saja aku memilih untuk tetap di sampingmu, mungkin kecelakaan itu tidak terjadi," bisiknya penuh kepedihan.
Prabu menundukkan kepala, membiarkan ponsel itu terjatuh di pangkuannya.
Ia terjebak dalam labirin "andai" yang tak berujung.
Baginya, setiap detik yang ia lalui sekarang adalah hukuman karena ia masih bernapas, sementara separuh jiwanya telah terkubur bersama Tryas.
Di balik pintu kamar, Xena terdiam. Ia baru saja hendak memanggil Prabu untuk makan, namun langkahnya terhenti saat mendengar gumaman pilu dari dalam.
Xena menyandarkan keningnya di daun pintu kayu, meremas serbet di tangannya.
Ia tahu, musuh terbesarnya bukanlah kemarahan Prabu, melainkan kenangan indah yang kini menjadi racun mematikan bagi suaminya.
Xena menarik napas panjang, menghapus setetes air mata yang sempat jatuh, lalu mengetuk pintu dengan pelan.
"Pra, makanannya sudah siap. Keluar sekarang ya," ucap Xena, mencoba menjaga suaranya agar tetap terdengar tegar meski hatinya ikut hancur mendengar pengakuan jujur suaminya.
wwkwkwkwk
gemes bgt sama nie orang dech
hahahahaha
ketawa jahat ini🤭
nanti kalau bucin Kutendang dari pesawat🤣