NovelToon NovelToon
Jatuh Cintanya Seorang Pendosa

Jatuh Cintanya Seorang Pendosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta Terlarang
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Sylvia Rosyta

Di balik dinding suci sebuah pondok pesantren, tersembunyi seorang buronan. Reyshaka El Zhafran atau Shaka—tak pernah membayangkan hidupnya akan berakhir di tempat yang paling ia hindari. Demi lolos dari kejaran polisi, pengedar narkoba itu nekat bersembunyi di pesantren milik Ustadz Haidar, seorang ulama yang dikenal bijak dan disegani.

Awalnya, Shaka hanya ingin selamat. Namun hari demi hari, ketenangan, nasihat, dan ketulusan Ustadz Haidar perlahan meruntuhkan tembok keras di hatinya. Untuk pertama kalinya, Shaka mulai mengenal arti penyesalan dan harapan untuk berubah. Semua menjadi semakin rumit saat ia bertemu Hanindya Daisha Ayu—putri sang ustadz yang berhati lembut dan shalihah. Tanpa disadari, perasaan itu tumbuh diam-diam, menyiksa shaka dalam keheningan.

Tapi bagaimana mungkin seorang mantan pengedar narkoba seperti dirinya pantas mencintai perempuan sebersih Hanindya?
Terlebih, Hanindya telah dijodohkan dengan Ustadz Ilyas—lelaki yang jauh lebih layak dibanding dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Sementara itu Ustadz Ilyas yang sedari tadi memperhatikan keadaan sekitar akhirnya berkata,

“Hanindya.”

Perempuan muda itu perlahan mengangkat wajahnya sedikit meski pandangannya tetap dijaga sopan.

“Iya, Kak Ilyas?”

Suara lembut itu kembali terdengar dan tanpa sadar membuat Shaka melirik sekilas ke arahnya lagi. Ustadz Ilyas lalu menoleh ke arah Shaka.

“Ini Shaka,” ucap ustadz Ilyas pelan dan membuat Shaka sedikit menegang ketika namanya disebut. “Dia baru tinggal di pesantren sini.”

Nada suara Ustadz Ilyas terdengar biasa saja. Tidak ada penjelasan berlebihan tentang siapa Shaka sebenarnya. Tidak ada kalimat yang membuatnya terasa seperti penjahat atau orang asing yang harus dijauhi. Dan entah kenapa hal kecil itu membuat dada Shaka sedikit bersyukur atas pengertian itu.

Hanindya perlahan menoleh ke arah Shaka. Tatapan matanya terlihat lembut namun tetap sopan dan terjaga. Tidak berlebihan, tidak menatap terlalu lama. Hanya sekilas namun cukup membuat Shaka kembali merasa aneh.

Perempuan itu lalu menundukkan pandangannya sedikit sebelum berkata pelan,

“Assalamualaikum.”

Suara lembut itu terdengar begitu tenang di telinga Shaka. Untuk beberapa detik Shaka hanya diam. Entah kenapa ia mendadak gugup hanya karena disapa seperti itu. Perasaan itu terasa konyol. Ia pernah berhadapan dengan polisi sambil memegang pisau tanpa takut sedikit pun. Pernah menghadapi bandar narkoba lain yang mengancam nyawanya dan pernah hidup di jalanan keras tanpa gentar.

Tapi sekarang, hanya karena seorang perempuan mengucapkan salam dengan suara lembut, ia malah kehilangan kata-kata.

Shaka buru-buru tersadar lalu menjawab dengan sedikit kaku.

“Waalaikumsalam…”

Hanindya lalu kembali berkata dengan sopan,

“Nama saya Hanindya.”

Shaka mengangguk kecil.

“Oh…”

Bodoh sekali jawaban itu dan Shaka langsung merasa semakin canggung setelah mengucapkannya. Namun anehnya Hanindya tidak terlihat terganggu. Perempuan itu hanya tersenyum kecil dengan sopan lalu kembali menundukkan pandangannya. Sementara itu Ummi Hafizah memperhatikan semuanya dalam diam. Tatapan perempuan paruh baya itu sempat mengarah pada Shaka beberapa saat. Dan hal itu membuat Shaka semakin bingung. Kenapa orang-orang di tempat ini memperlakukannya seperti manusia biasa?

Padahal kalau mereka tahu semua dosa yang pernah ia lakukan, mungkin mereka akan menjauh, mungkin mereka akan takut atau mungkin mereka akan mengusirnya saat itu juga.

Pikiran itu membuat rahang Shaka sedikit mengeras. Namun sebelum pikirannya semakin jauh, suara Hanindya kembali terdengar.

“Semoga betah di sini.”

Kalimat sederhana itu membuat Shaka sedikit terdiam.

Betah?

Sudah lama sekali tidak ada yang mengatakan hal seperti itu padanya. Selama bertahun-tahun hidupnya hanya berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Tidak pernah ada tempat yang benar-benar bisa disebut rumah. Dan sekarang seorang perempuan yang baru dikenalnya malah berharap ia betah tinggal di sini. Shaka langsung menepis perasaan aneh yang mulai muncul di dadanya.

"Jangan macam-macam."

Shaka mengingatkan dirinya sendiri keras-keras. Ia bukan siapa-siapa di tempat ini. Ia cuma mantan pengedar narkoba yang sedang berusaha lari dari hidupnya sendiri.

Sementara perempuan di hadapannya jelas berasal dari dunia yang sangat berbeda. Shaka menundukkan pandangannya sebentar lalu menjawab singkat,

“Makasih.”

Suasana kembali hening beberapa detik. Angin subuh berembus pelan melewati halaman mushola. Dari kejauhan suara adzan belum terdengar, namun para santri mulai berdatangan semakin banyak. Beberapa santri laki-laki berjalan melewati mereka sambil membawa sarung di pundak. Sementara beberapa santriwati mulai masuk lewat sisi samping mushola dengan langkah tenang. Di tengah suasana itu, Ummi Hafizah akhirnya berkata,

“Oh iya, Hanin.”

Hanindya menoleh pelan ke arah ibunya.

“Iya, Ummi?”

“Kajian pagi hari ini sepertinya akan diisi sama ustadz Ilyas.”

Ucapan itu membuat Hanindya sedikit terkejut kecil sebelum akhirnya matanya tanpa sadar melirik sekilas ke arah Ustadz Ilyas. Dan Shaka melihat perubahan kecil di wajah perempuan itu. Ada kebahagiaan tipis yang tidak bisa disembunyikan sepenuhnya dari raut wajah perempuan itu.

“Benarkah ummi?” tanya Hanindya pelan dan membuat Ummi Hafizah mengangguk kecil.

“Tadi Abi bilang begitu.”

Hanindya kembali melirik ke arah Ustadz Ilyas. Tatapannya tetap dijaga sopan, namun jelas terlihat kalau perempuan itu senang mendengarnya.

“Kalau begitu semua santri dan santriwati pasti akan senang,” ucap Hanindya dengan lembut dan membuat Ustadz Ilyas tersenyum kecil.

“Memangnya kenapa?”

Pertanyaan itu terdengar ringan namun membuat Hanindya sedikit salah tingkah.

Perempuan itu tersenyum kecil sambil menundukkan pandangannya lagi.

“Karena semua santri dan santriwati di sini selalu suka kalau kajiannya Kak Ilyas yang isi.”

Ustadz Ilyas tampak tersenyum tipis mendengar itu, Namun Hanindya belum selesai bicara. “Mereka bilang cara Kak Ilyas menjelaskan itu mudah dimengerti.”

Ummi Hafizah tersenyum kecil melihat putrinya bicara seperti itu. Sementara Shaka hanya diam dan memperhatikan semuanya.

Entah kenapa suasana di antara Hanindya dan Ustadz Ilyas terasa hangat dengan cara yang sederhana. Tidak berlebihan dan tidak seperti pasangan-pasangan yang biasa Shaka lihat di luar sana yang penuh sentuhan dan kata-kata murahan. Tapi justru karena kesederhanaan itu hubungan mereka terasa jauh lebih dalam.

Dan lagi-lagi Shaka merasa seperti sedang melihat dunia yang sama sekali asing baginya.

Ustadz Ilyas lalu berkata pelan,

“Jangan memujiku terlalu tinggi, hanin. Nanti saya malu.”

Hanindya tersenyum kecil. Senyum yang terlihat sederhana namun lagi-lagi membuat Shaka tanpa sadar memperhatikannya terlalu lama. Cepat-cepat ia mengalihkan pandangannya. Astaga, apa yang sebenarnya terjadi dengannya pagi ini?

Ustadz Ilyas lalu menoleh ke arah mushola ketika beberapa santri mulai masuk lebih cepat. Suara langkah kaki semakin ramai terdengar dan waktu subuh sudah hampir tiba.

“Sepertinya adzan subuh sebentar lagi,” ujar Ustadz Ilyas tenang. Lalu ia kembali menatap Hanindya dan Ummi Hafizah dengan sopan.

“Ummi, Hanindya… lebih baik segera masuk ke dalam mushola.”

Hanindya mengangguk kecil.

“Iya kak Ilyas.”

Ustadz Ilyas kembali berkata,

“Nanti keburu iqamah.”

Nada suara ustadz Ilyas tetap tenang namun terdengar hangat sementara Ummi Hafizah pun mengangguk setuju.

“Ayo Hanin, kita masuk ke dalam.”

Hanindya kembali menundukkan pandangannya dengan sopan sebelum berkata pelan,

“Kalau begitu kami masuk dulu, kak.”

Lalu sebelum benar-benar melangkah pergi, Hanindya sempat melirik sekilas ke arah Ustadz Ilyas lagi. Sangat singkat namun cukup untuk membuat lelaki muda itu tersenyum kecil tanpa sadar. Dan hal kecil itu lagi-lagi tidak luput dari perhatian Shaka. Kini ia benar-benar yakin kalau hubungan mereka jelas bukan hubungan biasa. Shaka memandangi punggung Hanindya yang perlahan berjalan masuk bersama Ummi Hafizah ke area khusus perempuan di mushola. Gamis merah mudanya bergerak pelan tertiup angin subuh. Dan entah kenapa untuk beberapa detik Shaka hanya diam memandang ke arah itu sampai akhirnya suara Ustadz Ilyas membuatnya tersadar kembali.

“Ayo, Shaka kita juga harus masuk ke dalam.” ajak ustadz Ilyas yang membuat Shaka langsung mengalihkan pandangannya cepat-cepat.

“Iya ustadz…”

1
Putri_a_s
pake acara sumpah sumpahan lagi/Drowsy/
Yuni Avita
ozy ibarat musuh dalam selimut.
Yuni Avita
moga aja kamu cepat sadar dengan apa yang kamu lakukan, Ozy.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Biar ganteng Shaka 😁
Suhadi Mulyo
jangan bawa nama tuhan dengan mulut kotormu itu Ozy, nggak usah sok suci lho/Panic/
Suhadi Mulyo
tega banget kamu ozy/Smug/
Suhadi Mulyo
punya salah apa Shaka sama kamu Ozy? sampai kamu tega banget fitnah dia /Scowl/
Khumaira Nur Rahma
jahat banget kamu ozy, udah lempar batu sembunyi tangan, sekarang malah fitnah Shaka /Panic/
Suhadi Mulyo
bagus banget, ada cuplikan ayat Al-Qur'an nya juga, jadi tambah ilmu.
Suhadi Mulyo
ustadz Ilyas beruntung bisa dicintai oleh perempuan seperti Hanin😍
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
bagus Shaka harus move on dong.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Selagi mau berubah, Allah selalu dekatkan dgn org yg baik bukan. Good morning aku sempetin baca sebelum kerja💙
✦͙͙͙*͙❥⃝🅚𝖎𝖐𝖎💋ᶫᵒᵛᵉᵧₒᵤ♫·♪·♬
Jodoh adalah bagian dari takdir Allah, namun ikhtiar menjemputnya tetap menjadi bentuk ketaatan.
Dengan ikhtiar, tawakal dan kesabaran, setiap langkah menuju jodoh bisa menjadi jalan ibadah yang diridhai Allah.
Kondisi dalam hubungan percintaan barangkali tidak akan semulus kelihatannya.
Tentu saja setiap orang akan selalu berharap mendapatkan pasangan yang ia cintai dan mencintai dirinya. Akan tetapi, dalam hidup tentu harus realistis.
Tidak semua yang kita inginkan itu bisa terwujud.
Apa yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut Allah.
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui".
Percayakan kepada Allah yang Maha Mengetahui, Allah Sang Pemilik Hati Manusia. Jodohmu sudah diatur oleh-Nya...🤭
sakura
..
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
oh apakah Hanindiya itu anak ustadz Haidar.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Thor harusnya di tulis jga bawahnya surah mana atau hadis doa mana biar tahu para pembaca gitu.
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: bukan doa kak, tapi sholawat.
total 1 replies
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
tanda hati Shaka mulai terenyuh.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
lagi dakwah kaya gini terus di bawahnya ada iklas dramashot mana tokohnya Hb lagi nggak etis banget ih 🤦
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
apakah ustadz Ilyas tau soal ini🤭
✦͙͙͙*͙❥⃝🅚𝖎𝖐𝖎💋ᶫᵒᵛᵉᵧₒᵤ♫·♪·♬
"Maula ya sholli wasallim daiman abada" adalah adalah sholawat yang termasuk bagian dari Qasidah Burdah.
Sholawat ini diciptakan oleh Imam Bushiri, penyair sekaligus ulama yang tersohor di kalangan umat Muslim.
Kata burdah secara bahasa diartikan sebagai mantel.
Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa burdah berasal dari kata bur’ah yang berarti shifa (kesembuhan).
Sholawat Burdah sendiri merupakan sajak-sajak pujian kepada nabi Muhammad SAW, pesan moral, nilai-nilai spiritual, semangat perjuangan, dan sebagainya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!