Asha mengira pernikahan kontrak dengan Arlan, sang Titan industri, adalah jalan keluar dari kemiskinan. Namun, ia salah. Di balik kemewahan Kota Neovault, Asha hanyalah "piala" yang dipamerkan di antara deretan wanita simpanan Arlan. Puncaknya, Arlan membiarkan Asha disiksa oleh selingkuhannya sendiri demi menutupi skandal bisnis. Saat tubuhnya hancur dan janinnya terancam, Asha menyadari bahwa ia tidak sedang menikah, melainkan sedang dikuliti hidup-hidup oleh pria yang ia cintai. Ketika cinta berubah menjadi dendam yang dingin, apakah air mata cukup untuk membayar pengkhianatan yang berdarah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Intelijen dari Balik Bayangan
Cahaya biru dari deretan monitor LED memantul pada permukaan meja kerja yang dipenuhi kabel-kabel hitam yang saling silang. Di dalam apartemen persembunyian yang kedap suara, V duduk tegak dengan pandangan yang tidak pernah lepas dari layar utama. Di sampingnya, seorang pria muda dengan jemari lincah sedang menekan ribuan baris kode per menit ke dalam sistem.
"Apakah kau sudah berhasil menembus enkripsi tingkat tingginya?" tanya V dengan nada rendah yang menuntut kepastian.
Peretas itu menyeka keringat di pelipisnya tanpa menghentikan ketikan pada papan tik mekanik yang berisik. "Keamanan siber Arlan menggunakan protokol militer, tapi ada celah kecil pada pembaruan sistem CCTV-nya semalam. Tunggu sebentar lagi."
Bau khas komponen elektronik yang panas bercampur dengan aroma kopi hitam yang mulai mendingin memenuhi ruangan sempit itu. V bisa merasakan jantungnya berdetak sedikit lebih cepat saat layar di depannya perlahan menampilkan visual jernih dari sebuah aula mewah. Itu adalah penthouse mewah milik Arlan Valeska yang terletak di puncak Menara Neovault.
"Sudah terhubung. Kita masuk ke dalam mata mereka sekarang," gumam peretas itu sambil menyandarkan punggungnya ke kursi.
Layar monitor kini menampilkan suasana pesta yang sangat megah, jauh melampaui standar kemewahan yang pernah V bayangkan. Lampu gantung kristal yang besar membiaskan cahaya keemasan ke seluruh penjuru ruangan yang dipenuhi oleh kaum elit kota. Suara musik klasik yang elegan terdengar lamat-lamat melalui mikrofon tersembunyi yang berhasil disadap.
"Bawa kameranya lebih dekat ke arah balkon utama," perintah V dengan tatapan mata yang semakin menajam dan dingin.
Kamera bergerak dengan halus, mengikuti instruksi digital hingga menangkap sosok Arlan yang sedang berdiri tegak di sana. Arlan mengenakan setelan jas buatan penjahit terbaik, tampak sangat berwibawa sekaligus angkuh di hadapan para tamunya. Di sampingnya, Elena berdiri dengan gaun malam yang berkilauan, memegang gelas sampanye dengan jemari yang lentik.
"Lihat bagaimana mereka tertawa seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa," bisik V dengan nada bicara yang datar namun penuh kebencian.
Arlan mengangkat gelasnya tinggi-tinggi ke arah kerumunan, memancing tepuk tangan meriah dari para kolega bisnis yang hadir. "Malam ini bukan hanya tentang keuntungan perusahaan, tapi tentang perayaan masa depan Neovault yang lebih cerah!" teriak Arlan melalui pengeras suara internal.
Elena kemudian menyandarkan kepalanya ke bahu Arlan, menunjukkan kemesraan yang membuat ulu hati V terasa seperti diremas. "Kamu benar, Sayang. Akhirnya semua beban masa lalu kita benar-benar sudah hilang selamanya," ujar Elena yang suaranya tertangkap jelas oleh sensor audio.
V memejamkan mata sejenak, membiarkan kalimat itu meresap ke dalam ingatannya sebagai bahan bakar dendam yang tak kunjung padam. Di sana, mereka sedang merayakan apa yang mereka sebut sebagai kematian Asha Valeska dengan pesta pora yang menghabiskan biaya jutaan dolar. Arlan terlihat sangat lega, seolah-olah menyingkirkan istrinya ke sungai Rust adalah keberhasilan bisnis terbesarnya.
"Mereka menuangkan sampanye mahal seharga gaji tahunan buruh pabrik hanya untuk merayakan pembunuhan," komentar si peretas dengan nada skeptis.
V kembali menatap layar, kali ini memperhatikan ekspresi wajah Arlan yang sedang membisikkan sesuatu ke telinga Elena. "Arlan sangat menyukai panggung. Dia pikir dia adalah sutradara yang sudah menulis akhir cerita yang sempurna bagi istrinya sendiri."
"Apakah Anda ingin saya menyalin data dari server pribadi di ruang kerjanya juga?" tanya peretas itu, kembali fokus pada tugasnya.
V mengangguk pelan tanpa melepaskan pandangan dari visual pesta yang memuakkan tersebut. "Ambil semua yang bisa kau temukan. Aku ingin tahu siapa saja yang mendukungnya malam ini dan kontrak apa yang sedang mereka bicarakan."
Jari-jari peretas kembali menari, membongkar brankas digital Arlan sementara si pemilik sedang asyik berdansa dengan kekasih barunya. V melihat bagaimana Elena tertawa lepas saat Arlan mencium tangannya di depan semua orang, sebuah pemandangan yang menunjukkan betapa tidak berartinya masa lalu bagi pria itu. Kesetiaan bertahun-tahun yang Asha berikan dibalas dengan perayaan di atas duka yang dipalsukan.
"Kenapa mereka harus merayakannya secara publik seperti ini?" tanya peretas itu sambil terus mengunduh data besar.
V menyandarkan punggungnya, membiarkan kegelapan ruangan menelan siluet tubuhnya yang kaku. "Bagi Arlan, ini adalah cara untuk menunjukkan pada dunia bahwa dia sudah menang total. Dia ingin memastikan tidak ada lagi spekulasi tentang menghilangnya istrinya."
"Tapi bukankah itu justru terlihat mencurigakan bagi sebagian orang?" peretas itu mengerutkan keningnya, tidak memahami logika Arlan.
V menggeleng kecil, matanya berkilat di bawah cahaya monitor yang remang-remang. "Di dunia mereka, kekayaan bisa membungkam kecurigaan. Jika kau cukup kaya untuk mengadakan pesta seperti ini, orang-orang akan memilih untuk percaya pada apa pun yang kau katakan."
Ia melihat melalui layar bagaimana Arlan memeluk pinggang Elena dengan penuh kepemilikan, seolah-olah ia sedang memamerkan trofi kemenangan. Pesta itu terus berlanjut dengan gelak tawa dan obrolan kosong tentang saham, sementara V duduk di sini, merencanakan kehancuran mereka. Bau pengkhianatan itu terasa begitu nyata baginya, bahkan melalui sambungan digital sekalipun.
"Unduhan selesai. Saya sudah memiliki semua log aktivitas, jadwal logistik, dan daftar tamu privat mereka," lapor peretas itu dengan penuh percaya diri.
V berdiri dari kursinya, merapikan pakaian hitamnya yang tampak kontras dengan suasana pesta di layar. "Bagus. Simpan semuanya di dalam drive terpisah. Aku akan mempelajari titik lemah logistik mereka dari data ini."
"Apa yang akan Anda lakukan dengan rekaman pesta ini?" tanya pria muda itu sambil menunjuk ke arah visual Arlan yang sedang bersulang.
V menatap wajah Arlan untuk terakhir kalinya sebelum memerintahkan sistem untuk dimatikan. "Simpan sebagai pengingat. Aku ingin melihat rekaman ini setiap kali aku merasa ragu untuk menghancurkan hidupnya sampai ke akar-akarnya."
Monitor-monitor itu seketika menjadi hitam, meninggalkan ruangan dalam keheningan yang sangat menekan. V berjalan menuju jendela apartemen, menatap ke arah Menara Neovault yang lampunya masih menyala terang benderang di kejauhan. Di sana, pesta mungkin belum berakhir, tapi bagi V, babak baru penyerangannya baru saja dimulai.
"Bersenang-senanglah selagi kau bisa, Arlan," bisik V dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Ia bisa merasakan kepuasan yang dingin saat menyadari bahwa Arlan sama sekali tidak sadar sedang diawasi. Intelijen yang ia dapatkan malam ini adalah kunci untuk meruntuhkan kerajaan logistik yang selama ini menjadi kebanggaan pria itu. Arlan terlalu sombong untuk menyadari bahwa tembok pertahanannya sudah mulai retak dari dalam.
"Paman, siapkan operasional untuk besok pagi," perintah V kepada nelayan tua yang baru saja masuk ke ruangan.
Nelayan itu mengangguk paham, melihat ketegasan yang luar biasa di mata V. "Data dari peretas tadi sudah cukup untuk memulai sabotase?"
V berjalan menuju meja strateginya, mulai menyusun urutan prioritas berdasarkan informasi intelijen yang baru saja ia curi. "Lebih dari cukup. Arlan sudah memberikan semua kunci gudangnya kepadaku tanpa dia sadari melalui pesta konyol ini."
"Hati-hati, V. Dia mungkin akan menyadari celah di sistem keamanannya setelah pesta ini usai," nelayan itu memperingatkan dengan bijak.
V tidak peduli dengan risiko itu, karena baginya, tidak ada yang lebih berbahaya daripada membiarkan Arlan tetap berada di puncak. Setiap tawa Elena dan setiap senyum Arlan di layar tadi adalah cambuk yang memacu adrenalinnya untuk bergerak lebih cepat. Ia tidak akan membiarkan fajar menyingsing tanpa ada satu masalah besar yang menimpa perusahaan Arlan.
"Biarkan dia merayakan kematianku malam ini," gumam V sambil mengepalkan tangannya di atas peta kota.
Keheningan di distrik Rust seolah mendukung rencana gelap yang sedang disusun di dalam ruangan itu. V tahu bahwa intelijen dari balik bayangan ini adalah langkah krusial untuk memastikan serangan fisiknya nanti tidak meleset. Ia tidak hanya ingin Arlan rugi secara materi, tapi ia ingin Arlan merasakan bagaimana rasanya dikhianati oleh sistem yang ia percayai.
"V, kau harus istirahat sebentar sebelum eksekusi logistik besok," saran si nelayan tua sambil menepuk bahu V.
V melepaskan tangan nelayan itu dengan halus, matanya tetap terpaku pada target yang sudah ia tentukan. "Aku tidak butuh istirahat, Paman. Aku butuh hasil. Arlan harus bangun besok pagi dengan berita yang akan menghapus senyum di wajahnya."
Ia kembali ke meja kerja, memeriksa kembali daftar aset logistik Arlan yang kini sudah berada di bawah kendali informasinya. Setiap kontainer, setiap truk, dan setiap gudang di Neovault kini adalah sasaran empuk bagi sabotase yang sudah ia rencanakan. Pesta di penthouse tadi hanyalah kembang api sebelum ledakan besar yang sesungguhnya terjadi.
"Lakukan pembersihan jejak siber sekarang juga. Aku tidak ingin ada satu bit pun data yang tertinggal di server mereka," perintah V kepada peretasnya.
Pria muda itu segera mengeksekusi perintah terakhir, memastikan bahwa kunjungan virtual mereka malam ini tidak meninggalkan bekas apa pun. V berdiri dalam diam, menatap kegelapan yang menyelimuti distrik Rust dengan perasaan yang jauh lebih kuat dari sebelumnya. Intelijen ini telah memberinya segalanya yang ia butuhkan untuk memulai perang yang sesungguhnya.
"Masa depan Neovault memang akan cerah, Arlan. Tapi bukan karena kepemimpinanmu, melainkan karena api yang akan kubakar di sana," batin V dengan penuh dendam.
Ia mengambil jaketnya dan bersiap untuk meninggalkan pusat komando itu, melangkah menuju kegelapan malam yang dingin. Pesta pora di atas penderitaan Asha telah usai di matanya, dan kini saatnya realitas yang pahit menghantam pintu depan Menara Neovault. Sang predator telah selesai mengamati, dan mangsanya masih terlalu mabuk untuk menyadari maut sedang mengintai.