NovelToon NovelToon
Dosa Di Balik Jas Putih: Mempelai Terbuang Dan Skandal Malam Terlarang

Dosa Di Balik Jas Putih: Mempelai Terbuang Dan Skandal Malam Terlarang

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Single Mom / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:14.2k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Briella hanyalah "sampah" di kediaman megah keluarganya—anak haram yang lahir dari perselingkuhan ibunya. Saat ia nyaris tewas disiksa oleh saudari tirinya, Prilly, sebuah pelarian berdarah membawanya ke pelukan pria asing di sebuah hotel remang-remang. Satu malam panas mengubah segalanya. Pria itu adalah Geovani, dokter bedah jenius berdarah dingin yang ternyata merupakan tunangan Prilly. Kini, Briella kembali bukan sebagai korban, melainkan sebagai wanita yang membawa benih sang dokter. Di bawah bayang-bayang balas dendam, Briella memulai permainan berbahaya: Merebut pria milik musuhnya, meski ia harus mempertaruhkan nyawa di atas meja operasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penurunan Kasta

​Layar televisi di ruang tengah kediaman Adijaya menampilkan grafik merah yang terus menukik tajam. Berita tentang skandal malpraktik di klinik satelit milik ayah Prilly telah menyebar seperti wabah, meracuni kepercayaan pasar dalam hitungan jam. Di tengah kemewahan ruang tamu yang luas, suasana terasa mencekam dan pengap oleh keputusasaan.

​Prilly duduk di sofa beludru dengan tubuh gemetar, memegangi kepalanya yang terasa ingin pecah. Ponselnya terus bergetar, menampilkan rentetan pesan dari teman-teman sosialitanya yang kini mulai menjauh dan melontarkan sindiran halus. Wangi aromaterapi yang biasanya menenangkan kini justru membuatnya mual dan sesak napas.

​"Ini tidak mungkin terjadi. Ayah sudah menyuap semua orang untuk tutup mulut tentang prosedur itu!" teriak Prilly pada ruangan yang kosong.

​Suara langkah kaki ayahnya yang berat terdengar mendekat, wajah pria tua itu tampak pucat pasi dengan keringat dingin di dahi. Ia baru saja selesai melakukan panggilan darurat dengan para pemegang saham utama yang mengancam akan menarik seluruh modal mereka. Satu per satu investor besar melarikan diri sebelum kapal Adijaya benar-benar tenggelam.

​"Seseorang sengaja membocorkan dokumen internal kita, Prilly! Ini bukan sekadar kebetulan, ini adalah sabotase terencana!" bentak ayahnya sambil menghempaskan botol wiski ke atas meja.

​"Siapa yang berani melakukan itu, Ayah? Siapa yang cukup punya kuasa untuk menembus server keamanan klinik kita?" Prilly bertanya dengan suara parau yang nyaris hilang.

​"Aku tidak tahu, tapi pelakunya menggunakan akun anonim yang sangat sulit dilacak. Saham kita turun lima belas persen hari ini dan kemungkinan akan terus merosot!" ayahnya menyugar rambut dengan kasar, terlihat sangat depresi.

​Prilly terdiam, bayangan leher Briella yang penuh tanda kepemilikan dari Geovani kembali menghantui pikirannya. Ia mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres, sebuah konspirasi yang terjadi tepat di bawah hidungnya sendiri. Kecurigaannya mulai menyebar ke segala arah, meracuni pikirannya dengan ketidakpercayaan pada semua orang.

​"Apakah Geovani tahu tentang ini? Kenapa dia tidak mengangkat teleponku sejak pagi tadi?" gumam Prilly dengan tatapan mata yang mulai kosong.

​"Lupakan tunanganmu itu dulu! Dia pasti sedang sibuk menyelamatkan reputasi rumah sakitnya sendiri agar tidak terseret skandal kita!" ayahnya kembali berteriak, suaranya menggema di seluruh koridor mansion.

​Prilly merasa dunianya sedang diruntuhkan sepotong demi sepotong oleh kekuatan yang tidak terlihat. Ia merasa seperti pecundang di dalam istananya sendiri, dikelilingi oleh harta yang kini mulai terasa tidak berharga. Rasa depresi mulai menyelinap masuk ke dalam relung hatinya, membuat setiap tarikan napas terasa berat.

​"Semua ini gara-gara anak sialan itu! Sejak Briella muncul kembali, semuanya menjadi kacau!" Prilly menuduh dengan suara penuh kebencian.

​"Briella hanya seorang mahasiswi miskin yang menumpang di rumah dokter. Dia tidak punya kekuatan untuk melakukan ini, Prilly. Berhentilah bersikap tidak masuk akal!" sanggah ayahnya dengan nada meremehkan.

​Prilly tidak menanggapi, ia justru mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Geovani untuk kesekian kalinya. Ia membutuhkan suara pria itu untuk meyakinkan dirinya bahwa segalanya akan baik-baik saja. Namun, seperti sebelumnya, panggilan itu dialihkan ke kotak suara tanpa ada jawaban sedikit pun.

​"Mas Geovani, tolong angkat. Aku butuh kau di sini. Keluargaku sedang hancur, kau seharusnya melindungiku!" Prilly berbisik pada ponselnya sambil menangis tersedu-sedu.

​Ia tidak menyadari bahwa di saat yang sama, Geovani sedang berada di kantornya, menyesap anggur mahal sambil mengamati grafik kehancuran keluarga Adijaya. Pria itu bahkan tidak melirik ponselnya yang terus berkedip menampilkan nama Prilly. Di sampingnya, Briella berdiri dengan tatapan dingin, menikmati pemandangan di layar monitor.

​"Investor kelima baru saja menarik diri. Mereka mulai mencari pelabuhan baru untuk uang mereka," ujar Geovani dengan suara yang terdengar sangat puas.

​"Ini adalah hukuman bagi mereka yang membangun kerajaan di atas penderitaan orang lain, Dokter," sahut Briella sambil melipat tangan di dada.

​Kembali di kediaman Adijaya, Prilly mulai kehilangan akal sehatnya akibat tekanan yang bertubi-tubi. Ia berjalan menuju kamarnya dan mulai melemparkan barang-barang koleksi tas mahalnya ke lantai. Ia merasa dikhianati oleh takdir, dikhianati oleh semua orang yang dulu memuja-muja namanya sebagai putri mahkota.

​"Kalian semua pengkhianat! Kalian hanya mencintaiku saat aku berada di atas!" teriak Prilly sambil mencabik bantal sutranya hingga bulu-bulunya berhamburan.

​Ibunya masuk ke kamar dengan wajah cemas, mencoba menenangkan putrinya yang mulai menunjukkan tanda-tanda ketidakstabilan mental. Namun, Prilly justru mendorong ibunya menjauh, matanya berkilat penuh amarah dan kecurigaan yang sangat mendalam. Ia merasa tidak ada lagi tempat yang aman bagi dirinya di dunia ini.

​"Jangan sentuh aku! Apakah Ibu juga menyembunyikan sesuatu dariku? Apakah semua orang di rumah ini bekerja sama untuk menjatuhkanku?" tanya Prilly dengan nada menuduh.

​"Prilly, tenangkan dirimu! Kami adalah orang tuamu, kami sedang berusaha memperbaiki keadaan!" ibunya mencoba meraih tangan Prilly yang gemetar.

​"Bohong! Kalian semua membiarkan Briella masuk ke dalam hidup kita lagi! Kalian membiarkannya merebut Geovani dariku!" Prilly terus berteriak, suaranya terdengar sangat histeris dan memilukan.

​Ia jatuh terduduk di tumpukan tas dan gaun desainer yang kini tampak seperti sampah di matanya. Penurunan kasta ini terjadi begitu cepat hingga ia tidak sempat mempersiapkan diri untuk menjadi orang biasa. Identitasnya sebagai kasta tertinggi di Upper-Chrome sedang menguap bersama dengan nilai saham keluarganya.

​"Aku akan membunuhnya. Aku akan memastikan Briella lenyap selamanya jika dia benar-benar terlibat dalam semua ini," desis Prilly di tengah isak tangisnya yang mulai mereda menjadi kemarahan yang dingin.

​Di luar mansion, awan mendung mulai menutupi langit, mencerminkan kegelapan yang sedang menyelimuti keluarga Adijaya. Para pelayan di rumah itu mulai berbisik-bisik, beberapa di antaranya sudah mulai mengemasi barang-barang mereka karena takut tidak akan dibayar bulan depan. Loyalitas mereka ternyata serapuh kasta yang mereka layani.

​"Tuan, apakah kita harus menjual beberapa aset di luar negeri untuk menutupi kerugian di bursa?" tanya asisten pribadi ayah Prilly yang baru saja tiba.

​"Lakukan apa saja! Jual rumah di Paris, jual kapal pesiar di Bali! Aku tidak mau namaku tertulis sebagai orang pailit di koran besok pagi!" jawab ayah Prilly dengan suara yang terdengar sangat putus asa.

​Keluarga Adijaya kini berada di ambang kehancuran total, sebuah titik balik yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Prilly, sang predator kampus yang dulu sangat ditakuti, kini hanyalah seorang gadis depresi yang bersembunyi di balik pintu kamarnya. Ia tidak menyadari bahwa musuh yang sesungguhnya sedang berada dalam pelukan tunangannya sendiri.

​"Mas Geovani... kenapa kau melakukan ini padaku?" bisik Prilly sambil menatap foto pertunangan mereka yang ada di nakas.

​Ia masih tidak mau percaya bahwa pria yang ia cintai adalah arsitek di balik penderitaannya. Baginya, Geovani adalah penyelamat, satu-satunya pegangan yang tersisa di tengah badai ini. Namun, kenyataannya jauh lebih pahit daripada racun mana pun yang pernah ia temui di laboratorium kedokteran.

​"Semua orang akan membayar. Semua orang yang meremehkanku hari ini akan merangkak memohon ampun padaku suatu hari nanti!" Prilly bangkit kembali, meski kakinya terasa lemas.

​Ia mengambil sebotol pil penenang dari laci dan menelannya sekaligus tanpa air. Ia butuh mematikan rasa sakit ini, butuh menghentikan kebisingan di dalam kepalanya yang terus meneriakkan kegagalan. Penurunan kasta ini baru saja dimulai, dan dampaknya akan jauh lebih menghancurkan daripada yang bisa ia bayangkan.

​"Nikmatilah kemenangan sementaramu, Briella. Karena saat aku bangkit, aku akan menghancurkanmu sampai tidak ada satu sel pun darimu yang tersisa," gumam Prilly sebelum akhirnya tertidur karena pengaruh obat.

​Di tempat lain, Geovani mematikan televisi dan menatap Briella yang tampak sangat tenang. "Fase pertama selesai. Keluarga Adijaya sudah mulai kehilangan taringnya. Apakah kau siap untuk fase berikutnya, Briella?"

​"Aku sudah siap sejak sepuluh tahun yang lalu, Dokter. Mari kita tunjukkan pada mereka bagaimana rasanya hidup di bawah tanah yang sebenarnya," jawab Briella dengan senyuman yang sangat mematikan.

1
Aku April
harusnya Nama adijaya nya dibuang aja
𝐀⃝🥀Weny
secangkir kopi untuk mu thor
𝐀⃝🥀Weny: sama²🤗
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
kutunggu next episodenya thor
𝐀⃝🥀Weny
waah... kebetulan yang sangat bagus😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!