"Di depanmu aku tetap buta, tapi di belakangmu aku sedang menggali kuburanmu!"
Gwen, sang pewaris kaya, terbangun dari kebutaannya. Namun, hal pertama yang ia lihat justru suaminya sedang bercumbu dengan sahabatnya sendiri—tepat di samping ranjangnya!
Bukannya melabrak, Gwen memilih tetap berakting buta. Ia menyusun rencana balas dendam yang rapi di bawah hidung mereka.
Keadaan makin panas saat ia menyewa Elang, bodyguard dingin yang menyimpan dendam pada keluarga Gwen. Diam-diam, Elang tahu Gwen hanya berpura-pura.
"Nona, aktingmu hebat. Tapi di depanku, matamu tidak bisa berbohong," bisik Elang.
Bisakah Gwen menghancurkan para pengkhianat itu sebelum rahasianya dibongkar oleh sang bodyguard misterius?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: MALAM DI SARANG SERIGALA
Hujan deras mengguyur kota Jakarta saat mobil SUV hitam yang dikemudikan Elang membelah jalanan pinggiran kota yang sepi. Di kursi penumpang, Gwen menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin. Adrenalin dari rapat direksi tadi pagi perlahan surut, menyisakan keletihan yang luar biasa.
"Kita tidak ke hotel?" tanya Gwen saat menyadari mereka melewati jalan setapak yang dikelilingi pepohonan rimbun.
"Terlalu mudah dilacak," jawab Elang pendek. Matanya tetap fokus pada jalanan di depan yang minim penerangan. "Reno punya koneksi di jaringan perhotelan. Jika Anda ingin selamat malam ini, Anda harus masuk ke teritoriku."
Mobil berhenti di depan sebuah bangunan beton minimalis yang tersembunyi di balik perbukitan kecil. Bangunan itu tampak seperti bunker modern daripada sebuah rumah. Tanpa sepatah kata pun, Elang turun dan membukakan pintu untuk Gwen.
Begitu masuk, Gwen tertegun. Di dalam sana tidak ada kemewahan kristal atau karpet beludru seperti di mansion Adiguna. Ruangan itu luas, dingin, dan dipenuhi oleh layar monitor yang menampilkan berbagai sudut kota serta deretan senjata yang tersusun rapi di balik lemari kaca.
"Ini tempat persembunyianmu?" tanya Gwen, suaranya menggema di ruangan yang sunyi itu.
"Ini tempatku bekerja," sahut Elang. Dia melempar kunci mobil ke atas meja kayu besar dan mulai melepas jas hitamnya, menyisakan kemeja putih yang sedikit ketat, memperlihatkan lekuk otot bahunya yang kokoh. "Duduklah. Aku akan membuatkan sesuatu yang hangat. Anda terlihat seperti mayat hidup."
Gwen duduk di sofa kulit berwarna cokelat tua. Matanya berkeliling hingga terpaku pada sebuah papan besar di sudut ruangan. Di sana, terdapat foto-foto keluarganya, termasuk foto ayahnya yang diberi tanda silang merah besar. Namun, yang membuat jantungnya berhenti berdetak adalah foto kecelakaan mobilnya enam bulan lalu.
Ada banyak coretan teknis dan lingkaran merah pada bagian rem dan kemudi mobil yang hancur itu.
"Kamu... kamu menyelidiki kecelakaanku?" suara Gwen bergetar.
Elang datang membawa dua cangkir kopi hitam pekat. Dia mengikuti arah pandang Gwen dan meletakkan cangkir itu di meja dengan denting pelan.
"Itu bagian dari kontrak awalku dengan klien yang menyewaku sebelum Anda," ucap Elang misterius.
"Siapa yang menyewamu?"
Elang duduk di depan Gwen, menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. "Seseorang yang ingin memastikan Anda benar-benar mati dalam kecelakaan itu. Tapi saat saya melihat Anda di rumah sakit, saya berubah pikiran. Saya ingin melihat apa yang akan dilakukan putri seorang Adiguna jika dia diberi kesempatan kedua."
Gwen merasa dadanya sesak. "Jadi... kamu sudah tahu sejak awal bahwa kecelakaan itu bukan murni kegagalan rem?"
Elang mencondongkan tubuhnya, menatap langsung ke manik mata Gwen. "Rem mobilmu tidak gagal karena usia, Gwen. Seseorang memasang alat pelepas tekanan hidrolik yang dikendalikan jarak jauh. Dan berdasarkan penyelidikanku... perintah itu dikirim dari alamat IP yang terdaftar di kantor Pamanmu, Pratama Adiguna."
Gwen menutup mulutnya dengan tangan. Meskipun dia sudah curiga pada pamannya di Bab 5, mendengar bukti teknis ini tetap terasa seperti hantaman palu godam. "Paman Pratama... dia ingin aku mati?"
"Dia butuh kematianmu agar Reno bisa menjadi pewaris sah melalui pernikahan kalian, dan kemudian dia bisa mengendalikan Reno sepenuhnya," Elang menjelaskan dengan nada dingin, seolah sedang membicarakan cuaca. "Namun, ada satu hal lagi yang belum Anda tahu."
Elang berdiri dan mengambil sebuah folder dari bawah monitor utama. Dia menyerahkannya kepada Gwen.
"Hari itu, seharusnya bukan Anda yang menyetir mobil itu sendirian. Ayah Anda seharusnya ada di sana untuk menjemput Anda, bukan?"
Gwen mengangguk pelan. "Iya, tapi tiba-tiba Ayah bilang ada rapat mendadak dan menyuruhku pulang duluan dengan sopir, tapi aku memilih menyetir sendiri."
"Rapat mendadak itu palsu," Elang menyilangkan tangan di depan dadanya. "Ayah Anda sedang dijebak. Seseorang memberitahu Ayah Anda bahwa Anda diculik. Dia mengejar ke arah yang salah, sementara Anda 'dibuang' di jalanan perbukitan itu. Orang yang memberikan informasi palsu pada Ayah Anda adalah... Reno."
Gwen merasa mual. Suaminya dan pamannya bekerja sama untuk melenyapkannya dan ayahnya di hari yang sama.
"Kenapa kamu memberitahuku sekarang?" tanya Gwen dengan suara parau.
"Karena malam ini, Reno dan Pratama sudah tahu bahwa mereka tidak bisa lagi mengendalikanmu lewat hukum," Elang melangkah mendekat, auranya mendadak terasa sangat protektif sekaligus mengintimidasi. "Mereka akan menggunakan cara terakhir: Kekerasan."
Tiba-tiba, salah satu layar monitor di dinding berkedip merah. Suara alarm kecil berbunyi. Elang segera berbalik ke arah monitor.
"Sial. Mereka lebih cepat dari dugaanku," gumam Elang.
Di layar CCTV, terlihat tiga mobil hitam berhenti di depan gerbang properti itu. Sekelompok pria berpakaian hitam dengan senjata api keluar dari mobil. Di tengah-tengah mereka, Reno berdiri dengan wajah yang penuh amarah.
"Gwen! Aku tahu kamu di dalam bersama anjingmu itu!" suara Reno terdengar dari pengeras suara eksternal yang dipasang di gerbang. "Keluar sekarang dan serahkan dokumen saham itu, atau aku akan meratakan tempat ini!"
Gwen berdiri dengan panik. "Apa yang harus kita lakukan? Mereka membawa senjata!"
Elang berbalik, wajahnya justru terlihat sangat tenang—hampir seperti sedang menikmati situasi ini. Dia berjalan ke arah lemari senjata, mengambil dua buah pistol semi-otomatis, dan memeriksanya dengan gerakan yang sangat lihai.
"Nona, ingat apa yang kukatakan di kantor? Bahwa aku adalah bayanganmu?" Elang berjalan mendekati Gwen, memberikan salah satu pistol kecil ke tangan wanita itu. "Pegang ini. Jika ada yang masuk melalui pintu belakang, jangan ragu untuk menarik pelatuknya."
"Elang, aku tidak bisa—"
"Anda bisa," potong Elang dengan tegas. Dia memegang bahu Gwen, memaksa wanita itu menatap matanya. "Jika Anda ingin menjadi ratu, Anda tidak boleh takut berlumuran darah. Reno bukan lagi suamimu. Dia adalah binatang yang ingin memangsamu."
Elang menarik napas dalam, lalu tiba-tiba dia menarik Gwen ke dalam pelukannya. Ciuman singkat namun sangat dalam mendarat di dahi Gwen. "Tetap di belakangku. Aku akan menunjukkan padamu bagaimana seorang predator sebenarnya berpesta."
Elang mematikan seluruh lampu di dalam bunker tersebut. Kegelapan total menyelimuti mereka. Gwen bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berpacu kencang, disusul suara pintu depan yang didobrak paksa.
DOR!
Suara tembakan pertama memecah kesunyian malam.
Gwen berjongkok di balik meja kayu besar, menggenggam pistol di tangannya. Dia bisa melihat siluet Elang yang bergerak seperti hantu di dalam kegelapan. Setiap kali senjata Elang memuntahkan api, satu teriakan kesakitan terdengar dari luar.
Namun, di tengah kekacauan itu, suara langkah kaki terdengar dari arah ventilasi di atas kepala Gwen.
"Dapatkan wanita itu! Jangan sampai dia lolos!" teriak suara yang sangat Gwen kenal. Itu suara Reno.
Gwen mendongak. Di sana, di bawah cahaya kilat yang menyambar dari luar, dia melihat wajah Reno yang tampak gila sedang merangkak masuk melalui jendela kecil di bagian atas.
"Ketemu kamu, Istriku sayang..." gumam Reno sambil mengarahkan moncong senjatanya tepat ke arah Gwen.
masih saja dikhianati atau mungkin sejak awal tujuan Reno memang bukan membentuk keluarga yang bahagia