"Aku membencimu saat kau menyentuhku!"
"Benarkah? Tapi aku melihat bagaimana respon tubuhmu."
"Hentikan! Jangan sentuh aku!"
"Jika aku tak mau?"
"Kau tidak waras!"
Rodriguez De La Vega Navarro, CEO paling berkuasa di London, kehilangan satu hal yang tak bisa dibeli dengan uang Valeria De Luca.
Dua tahun setelah perpisahan tanpa penjelasan, takdir mempertemukan mereka kembali di toko kue milik Valeria. Satu tatapan cukup untuk membuka luka lama dan membangkitkan perasaan yang seharusnya telah mati.
Cinta berubah menjadi obsesi. Akankah Valeria bertahan.....
atau Rodrigo menghancurkan segalanya demi memilikinya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Quinza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Sengaja!
Pagi di London selalu punya cara sendiri untuk terlihat cantik, bahkan ketika hati seseorang sedang kacau.
Langit kelabu menggantung rendah, jalanan basah oleh sisa hujan semalam. Orang-orang berjalan cepat, membawa kopi panas dan wajah lelah, seperti semua orang sedang mengejar sesuatu yang tak terlihat.
Tapi di dalam toko kue kecil milik Valeria, semuanya tampak hangat. Aroma butter, vanila, dan roti panggang memenuhi ruangan. Lampu-lampu kuning lembut menggantung di langit-langit. Etalase kaca memamerkan croissant berlapis, macaron pastel, tart lemon yang mengilap, dan cake cokelat yang terlihat sangat menggiurkan.
Valeria berdiri di balik kasir. Senyumnya terpasang rapi. Tapi tangannya mengepal pelan di bawah apron. Karena pagi itu, bukan pelanggan biasa yang datang. Bel pintu berbunyi. Dan tubuh Valeria langsung menegang.
Rodrigo masuk terlebih dulu, seperti biasa, pria itu tidak pernah benar-benar “datang”. Ia selalu terasa seperti menguasai ruangan.
Jas hitamnya rapi. Rambutnya basah sedikit karena gerimis. Wajahnya tenang, terlalu tenang, seolah semua masalah dunia tidak punya hak menyentuhnya.
Di sampingnya, Sera. Wanita itu cantik. Rapi. Berkelas.
"Berikan, kue itu pada tunanganku!"
Tangan Valeria bergetar. Rodrigo, pria yang semalam obsesi dengannya, dan kini dihadapannya dengan wanita yang menjadi tunangannya.
Valeria mengangguk singkat.
"Lihatlah Rodrig, mantanmu itu. Dia sangat cantik, tapi tidak lebih cantik dariku, ya kan sayang? Katakan iya!"
Rodrigo tersenyum tipis. Ia mengangguk singkat. Hati Valeria mencelos perih. Bisa sekali pria itu perilakunya berbanding terbalik dengan semalam saat bersamanya. Itulah yang paling ia benci. Ia sangat benci, gadis itu berusaha menahan tangisnya yang hampir pecah. Ntah apa maksud Rodrigo memperlakukannya seperti ini, mungkin karena ia sakit hati dengan perilaku Valeria sebelumnya. Sangat menyebalkan sikapnya, membuat Valeria ingin melempar loyang ke arah kepala Rodrigo
Sera tersenyum manis, seolah ia sedang berkunjung ke toko favoritnya. Valeria tidak cemburu.
Tidak.
Ia hanya, benci. Benci cara Rodrigo membalasnya.
Benci cara pria itu seolah berkata, Lihat. Aku baik-baik saja. Aku bahkan bisa membawa tunanganku ke tempatmu. Dan yang paling menyakitkan? Valeria sudah tahu. Beberapa hari lalu. Dari gosip yang terlalu cepat menyebar di kota itu, Rodrigo bertunangan dengan Sera. Dan ironisnya, Valeria sendiri yang mengantar kue untuk acara kecil mereka.
Valeria menelan ludah, lalu memaksa bibirnya bergerak.
“Selamat pagi.”
Rodrigo menatapnya lama. Terlalu lama. “Pagi,” jawabnya singkat.
Sera melangkah maju, matanya berbinar melihat etalase. “Oh my gosh” bisiknya. “Ini cantik sekali.”
Valeria mengangguk kecil, datar. “Silakan pilih.”
Sera menunjuk satu per satu dengan jari halusnya.
“Aku mau yang itu dan yang itu juga.”
Ia menoleh pada Rodrigo. “Sayang, kau suka yang mana?”
Rodrigo tidak menatap kue. Ia menatap Valeria.
“Apa saja.” Nada suaranya dingin, tapi bukan pada Sera.
Melainkan, pada Valeria. Valeria merasa dadanya seperti ditusuk pelan. Ia menggenggam penjepit kue, lalu bertanya dengan suara yang masih ia paksa lembut.
“Untuk dibungkus?”
Sera tersenyum lebar.
“Ya, tentu saja Valeria! ”
Valeria membeku.
Rodrigo jelas tidak pernah memperkenalkan mereka.
Jadi artinya, Sera tahu dari cerita Rodrigo. Atau dari hal lain.
Valeria mengangguk pelan. "Baiklah."
Sera menatapnya seperti sedang menilai.
Bukan menghina. Tapi juga bukan ramah. Seperti orang yang baru saja menemukan potongan puzzle.
“Aku pernah dengar tentang toko ini,” kata Sera ringan. “Rodrigo bilang… kue di sini yang terbaik di London.”
Valeria hampir tertawa. Rodrigo bilang? Rodrigo?
Pria yang bahkan dulu jarang memuji sesuatu selain dirinya sendiri?
Valeria menatap Rodrigo tajam, namun Rodrigo hanya berdiri santai, seolah ini semua hiburan kecil.
Valeria akhirnya berkata, suaranya pelan tapi tajam.
“Ya. Aku memang yang membuatnya.”
Sera terlihat senang. “Wah kau hebat. Kau yang mengantarkan kue ke acara pertunanganku?”
Valeria mengangguk singkat, lalu menutup kotak kue. Tangannya sedikit gemetar. Bukan karena gugup. Tapi karena marah.
Rodrigo melangkah mendekat, jaraknya kini hanya beberapa langkah dari meja kasir. Valeria bisa mencium aroma parfumnya. Maskulin.
Terlalu familiar.
Rodrigo berkata dengan suara rendah, hanya untuk Valeria. “Kau tidak menyapa tunanganku dengan baik.”
Valeria menatapnya, senyum tipis yang sama sekali tidak sampai ke mata. “Aku menyapa pelanggan. Itu cukup.”
Rodrigo menyeringai kecil. “Apa kau cemburu?” bisiknya pelan.
Valeria mengepalkan tangan lebih kuat. “Kau masih suka mengganggu hidup orang.”
Sera menoleh, merasa ada sesuatu yang aneh.
“Rodrigo?” panggilnya lembut. Rodrigo langsung berubah. Dalam satu detik. Ia menoleh pada Sera, suaranya hangat.
“Ya, sayang?”
Valeria nyaris ingin mual mendengar perubahan itu. Sera tersenyum lagi, lalu berkata. “Boleh aku tambah satu? Yang strawberry tart itu kelihatan enak sekali.”
Valeria menatap tart strawberry itu. Dan tiba-tiba, ia teringat. Ia sendiri yang membuat tart itu pagi-pagi sekali. Dengan tangan lelah. Dengan hati yang masih memikirkan Rodrigo, meski ia benci mengakuinya. Valeria mengambil tart itu dan memasukkannya ke kotak.
“Tentu.”
Sera terlihat sangat senang. “Aku suka sekali tempat ini. Kai sendirian yang mengurus semua ini?”
Valeria mengangguk. “Sebagian besar.”
Sera menatap Rodrigo dengan mata berbinar.
“Kau harus sering mengajakku ke sini, Rodrigo.”
Rodrigo tidak menjawab langsung. Ia menatap Valeria. Lalu berkata, pelan namun jelas. “Aku akan—”
Valeria menahan napas. Itu bukan janji untuk Sera.
Itu ancaman untuk Valeria. Valeria mendorong kotak kue ke arah mereka. "Totalnya dua puluh tiga pound.”
Sera mengeluarkan kartu. Rodrigo menahan tangan Sera. “Aku yang bayar.”
Sera tersenyum manis. “Oke.”
Rodrigo menyerahkan kartu. Saat Valeria menerima kartu itu, ujung jarinya menyentuh kulit Rodrigo.
Hanya sedetik. Tapi cukup membuat Valeria ingin menarik tangannya cepat.
Rodrigo tidak menarik tangannya.
Ia justru mendekat sedikit dan berkata pelan, tajam. “Apa kau cemburu?” bisiknya.
Valeria menatap layar mesin EDC, pura-pura fokus. Ia tidak menjawab. Ingin sekali Valeria menampar pria menyebalkan itu.
Rodrigo melanjutkan, suaranya seperti bisikan yang membakar. “Apa kau lupa sesuatu, kau tidak menulis ucapan selamat.”
Valeria akhirnya menatapnya. Tatapan matanya tajam. “Kau mau aku menulis apa? ‘Semoga bahagia’? Untuk pria yang datang ke toko ku setiap minggu hanya untuk membuat hidupku kacau?”
Rodrigo tersenyum tipis. “Setidaknya kau jujur.”
Valeria menahan napas, lalu berkata dingin, “Aku tidak cemburu, Rodrigo.”
Rodrigo menatapnya, mata gelapnya tak berkedip. “Aku tidak bilang kau cemburu.”
Valeria mengerjap. Sera sudah mengambil kotak kue, tidak sadar percakapan tajam itu.
Ia berkata riang, “Terima kasih ya, Valeria! Aku pasti balik lagi.”
Valeria memaksakan senyum.
Rodrigo berjalan terakhir. Saat hampir keluar, ia berhenti di dekat pintu. Bel pintu bergoyang pelan.
Rodrigo menoleh. Menatap Valeria sekali lagi.
Lalu berkata, dengan suara yang membuat dada Valeria sesak.
“Kau tetap di sini.”
Valeria tidak menjawab.
Rodrigo melanjutkan, lebih pelan.
“Tunggu aku nanti malam.”
Setelah itu ia keluar. Pintu menutup. Bel pintu berbunyi sekali lagi. Dan Valeria berdiri kaku.
Beberapa detik. Lalu ia menghembuskan napas.
Tangannya masih mengepal. Bukan karena ingin menangis. Tapi karena ia ingin melempar sesuatu.
Ia menatap etalase, melihat pantulan dirinya sendiri di kaca. Senyumnya masih ada. Tapi matanya
kosong. Valeria berbisik pada dirinya sendiri, suaranya gemetar oleh marah.
“Bajingan!”
Dan di luar sana, Rodrigo berjalan menaiki mobil hitam itu bersama tunangannya. Seolah ia sengaja, menghancurkan pagi seseorang.
"Maafkan aku Valeria, aku sengaja melakukan ini kepadamu. Agar kau tau bagaimana rasanya setelah sikapmu yang manis itu, lalu kau meninggalkan aku begitu saja. Aku masih tetap sama mencintaimu seperti malam itu yang kukatakan."