Di sebuah dunia yang damai, tempat berbagai ras hidup berdampingan, seorang gadis ras campuran menjalani kehidupan normalnya yang tampak biasa.
Namun, perlahan sesuatu yang terasa asing menghampiri. Mimpi yang terasa nyata.
Aroma kematian yang menyusup. Dan sesuatu yang mengincarnya dari balik kegelapan.
Rahasia masa lalu, makhluk terkutuk, dan gerbang yang seharusnya tetap tertutup perlahan bergerak menuju satu titik temu.
Tak semua yang melindungi berniat baik. Tak semua mimpi ingin dilupakan.
Ketika kebenaran akhirnya menuntut harga, hanya satu pertanyaan yang tersisa:
apa sebenarnya yang ada dibalik dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amateurss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
latihan refleks
“Ayo cepat! Kumpul! Baris!” teriak Instruktur Dornus nyaris marah. Memang selalu seperti itu. Para murid segera berkumpul dan membentuk barisan. Luce muncul dari gerbang timur tepat waktu, dengan cekatan ia menanggalkan jubahnya dan menyelinap masuk ke dalam barisan.
Matahari siang menggantung tinggi, panasnya menekan, namun tak satu pun berani mengeluh. Di hadapan mereka, Instruktur Dornus berdiri tegak dengan tangan bersedekap di dada. Ia mengamati mereka satu per satu. Tatapan mata hitamnya galak, berpadu dengan tubuh besar penuh bekas luka dan otot-otot keras. Ia tetap tampak mengintimidasi meski raga manusianya mulai menua dan sebagian rambutnya memutih.
"Bagus. Kalian datang tepat waktu, itu berarti kalian masih punya rasa takut," buka Instruktur Dornus. "Dan rasa takut adalah bahan dari latihan kita hari ini. Ada yang ingat hari ini kita akan latihan apa?" tanyanya tegas.
"Refleks, Instruktur..." jawab beberapa murid pelan.
"Hei! Kalian tuli?!" bentak Instruktur Dornus. "Jawab pertanyaanku, hari ini kita latihan apa?!"
"Refleks!" jawab para murid serempak, tegang.
"Bagus..." ujar Instruktur Dornus datar sambil melangkah perlahan di depan barisan.
Instruktur Dornus kemudian berjalan menjauh ke tengah area lapang. Tiba-tiba, ia menghentakkan kedua telapak tangannya ke tanah dan mulai merapal mantra dengan suara berat:
"Batu yang patuh, roh yang terikat,
Bangkit dari sunyi, dengar perintahku.
Empat penjuru, kunci persegi,
Serang tanpa membunuh, hajar tanpa mengakhiri.
Muncullah, Spirora!"
Tanah di hadapannya bersinar merah dengan api yang muncul menyambar, bergetar kemudian merekah, membentuk rune persegi yang berpendar redup. Retakan menjalar, lalu dari setiap sudut persegi itu muncul tiang batu setinggi satu setengah meter. Permukaannya dilapisi cairan biru lengket yang bergerak perlahan, seolah hidup.
Para murid menatap dengan penasaran, campuran takjub dan cemas.
Instruktur Dornus berbalik menghadap mereka.
"Pasang telinga kalian. Dengarkan aku baik-baik," katanya dingin.
Ia melangkah maju. Sepatu besinya menghantam tanah kering dengan dentuman yang tegas. “Refleks bukan sekadar gerak cepat.” Ia mengetuk pelipisnya dengan satu jari. “Refleks adalah keputusan yang lahir sebelum pikiran kalian sempat berdebat.”
Dornus mulai berjalan menyusuri barisan, mengintimidasi setiap pasang mata yang ia lewati. “Di medan tempur, tidak ada kemewahan untuk berpikir panjang. Pedang tidak akan menunggu kalian siap. Serangan sihir tidak peduli pada keraguan kalian. Di titik itulah, refleks adalah pembeda antara hidup dan mati.”
Ia berhenti sejenak, menatap wajah-wajah muda yang tegang di hadapannya. “Dari mana refleks lahir?”
Keheningan pecah oleh gumaman pelan para siswa.
"Ketangkasan," jawab seorang siswi manusia dengan ragu.
"Bukan," tukas Dornus sambil terus berlalu.
"Bakat," sahut Luce dari barisan belakang.
"Bodoh," desis Dornus. Lirikan tajamnya membuat Luce bergidik di tempatnya.
"Kebiasaan," jawab Ursha’el.
Dornus menghentikan langkah dan menatap Ursha’el. "Kebiasaan melatih refleks, tapi bukan itu yang aku tanyakan. Aku bertanya, apa bahan dasar dari refleks?"
Para siswa saling pandang, mencoba mencerna maksud dari sang instruktur.
"Rasa takut," ujar seorang siswa bertelinga kucing dengan rambut putih.
Dornus menoleh dan menunjuk ke arahnya. "Tepat sekali, Rota. Rasa takut."
Dornus kembali melangkah, suaranya datar, nyaris tanpa emosi. “Takut terluka. Takut mati. Tubuh kalian dirancang secara alami untuk merespons rasa takut itu. Jantung berdegup lebih cepat, napas memendek, otot menegang. Itu bukan kelemahan. Itu adalah bahan mentah.”
Ia berhenti tepat di depan barisan.
“Masalahnya, kebanyakan orang membiarkan rasa takut melumpuhkan mereka. Kaki membeku, pikiran kosong. Itulah yang membunuh mereka.”
Ia menegakkan badan. “Latihan ini akan memaksa kalian terbiasa dengan rasa takut. Tujuannya bukan untuk menghilangkannya, melainkan untuk mengenalinya, menerima kehadirannya, dan tetap bergerak di bawah tekanannya.”
Beberapa siswa menelan ludah.
“Ingat baik-baik,” Dornus menyapu seluruh barisan dengan tatapan tajam. “Pemberani bukanlah mereka yang tidak memiliki rasa takut.”
Ia menjeda kalimatnya, membiarkan keheningan lapangan memperkuat pesannya.
“Pemberani adalah mereka yang merasa takut, namun tetap memilih untuk melangkah maju.”
Dornus berbalik, menunjuk rune persegi di tengah lapangan, tempat tiang-tiang batu berlapis lendir biru itu berdiri diam namun terasa mengancam.
"Ini adalah Spirora yang kupelihara. Di dalamnya terikat ratusan roh slime jahil yang sudah kujinakkan dan patuh padaku. Nanti kalian akan masuk satu per satu ke dalam persegi. Keempat tiang ini akan menyerang kalian secara acak sebanyak tujuh kali, menggunakan padatan energi."
Nada suaranya mengeras. "Penilaiannya sederhana. Setiap serangan yang berhasil kalian hindari atau tangkis, sepuluh poin. Serangan yang gagal dihindari namun kalian tetap bertahan dalam persegi, tiga poin."
Ia berhenti sejenak, menatap tajam barisan murid. "Jika kalian terjatuh, atau keluar dari persegi, nilai nol. Paham?!"
"Paham, Instruktur!" jawab para murid serempak, dengan getar dan kecemasan samar dalam suara mereka.
"Baik, ayo segera mulai sesuai barisan! Ursha, maju! Beri kawan-kawanmu contoh bagaimana cara melakukannya," seru Dornus lantang. Ia menunjuk Ursha'el yang berada di barisan paling depan dengan tatapan yakin.
"Baik, instruktur," Ursha’el mengangguk, ia melangkah mantap, memasuki rune persegi di tengah arena. Lendir biru muda pada tiang-tiang batunya beriak, terdengar seperti suara tawa, seakan mengejek. Para murid segera memusatkan perhatian padanya. Ursha’el memang salah satu murid terbaik dalam pelajaran ini, dan mereka tahu itu.
“Siap?” tanya Dornus.
Ursha’el berdiri tepat di tengah rune. Ia menarik napas dalam-dalam. Telinga runcingnya menegang. Setelah menghembuskan napas perlahan, ia menatap Dornus mantap. Mengangguk. “Siap.”
“Baik. Mulai!”
Ursha’el segera memusatkan seluruh fokusnya. Kuda-kuda terpasang, seluruh indranya menajam.
Tiba-tiba, Whoos!
Padatan energi berwarna biru muda memancar dari tiang batu di depannya. Ursha’el melompat ke samping, menghindar dengan sempurna, lalu segera kembali ke kuda-kudanya.
Wusss!
Serangan kedua datang dari kanan. Dengan sigap, Ursha'el melayangkan pukulan keras. Bugh! Padatan energi itu pecah berantakan.
Belum sempat bernapas, Wusss! Wusss! Dua serangan datang bersamaan dari sisi kanan dan kiri. Ursha'el mengangkat kakinya, lalu dengan satu gerakan memutar cepat, Brak! Brak! Kedua serangan itu berhasil dipatahkan.
Namun, belum sempat ia kembali ke posisi kuda-kuda awalnya, Whoos! Whoos! Whoos!
Tiga serangan melesat bersamaan, mengepungnya dari depan, belakang, dan kiri. Mustahil untuk menghindar, terlalu berisiko untuk menangkis. Dalam sepersekian detik, Ursha'el mengambil keputusan cepat. Ia menghentakkan kakinya ke tanah, melompat tinggi, dan menjadikan tiang batu di kanannya sebagai tumpuan.
Dengan satu lentingan ke belakang, ia melampaui ketiga serangan tersebut. Dug!, Ursha'el mendarat dengan mulus tepat di tengah rune, kembali ke posisi kuda-kudanya.
Hening singkat menyelimuti area latihan. Napasnya yang sempat memburu perlahan menenang, telinganya tak lagi tegang. Keringat menetes tipis di pelipisnya. Cairan biru lengket di permukaan tiang batu beriak pelan, seolah kecewa gagal mengenainya.
“Bagus, Ursha’el,” ujar Dornus datar. “Seperti biasanya. Sempurna. Tujuh bersih, tujuh puluh poin. Cukup. Istirahat.”
Ursha’el menarik napas panjang lalu menunduk hormat.
“Terima kasih, Instruktur.” Ia melangkah keluar dari rune, menuju bayangan pohon di tepi lapangan, lalu duduk untuk beristirahat.
Para murid memandang dari barisan dengan kagum. Gumam samar terdengar di antara mereka.
“Ah, nggak kaget sih kalau Ursha.”
“Memang benar-benar monster hijau.”
Dornus berbalik menghadap barisan. “Kalian lihat?”
Para murid menelan ludah. Beberapa mengangguk cepat, yang lain masih terpaku.
“Dia tidak panik. Tidak memaksakan tangkisan,” lanjut Dornus. “Saat posisi buruk, ganti bidang. Lompat. Gunakan lingkungan. Itu refleks yang benar.”
Ia berhenti sejenak, menatap tajam.
“Jangan salah paham. Ursha’el bukan standar. Dia contoh. Kalian tidak harus sebaik itu, kalian hanya tidak boleh bodoh.”
Beberapa murid meringis.
“Selanjutnya,” ujar Dornus sambil mengisyaratkan giliran berikutnya.
Satu per satu murid maju. Tak lama kemudian, suara lenguhan sakit dan remukan padatan energi kembali terdengar. Pelajaran berlanjut.