"Orang bilang cinta itu membebaskan. Tapi bagi kami, cinta adalah rantai. Dan aku tidak akan pernah melepaskannya."
Elara Vance telah kehilangan segalanya—keluarga, masa depan, dan harga diri. Dibuang oleh kerabatnya yang kaya raya, dia bertahan hidup di selokan kota, menolak untuk mati dalam diam. Hingga satu malam yang berdarah, takdir menyeretnya kembali ke hadapan Ciarán Vane.
Ciarán bukan pangeran penyelamat. Dia adalah raja bisnis yang dingin, kalkulatif, dan tak punya hati. Dia tidak menawarkan cinta; dia menawarkan kepemilikan. Dia membawa Elara masuk ke dalam sangkar emasnya, memberinya makan, dan membalut lukanya dengan sutra mahal.
Namun, Ciarán melakukan satu kesalahan perhitungan: dia mengira dia memelihara seekor domba yang lemah.
Ini bukan kisah tentang penyembuhan. Ini adalah kisah tentang dua jiwa rusak yang memutuskan bahwa neraka terasa lebih nyaman jika dinikmati berdua.
Mereka busuk. Mereka hancur. Dan mereka sempurna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gang Sempit
Kota ini tidak peduli padaku.
Itulah kesimpulan yang kudapat setelah berjalan selama dua jam tanpa tujuan, membiarkan kakiku yang lecet membawaku semakin jauh dari panti asuhan, menjauh dari wajah Lily yang basah oleh air mata, dan menjauh dari sisa harga diriku yang hancur.
Langit di atas kepalaku mulai berubah warna. Warna biru pucat sore hari perlahan digantikan oleh ungu lebam yang memar, menandakan malam akan segera datang. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, menciptakan pulau-pulau cahaya kuning di trotoar beton yang dingin.
Aku berjalan melewati distrik pertokoan.
Di sebelah kananku, sebuah etalase kaca besar dari toko roti artisan memamerkan isinya dengan sombong. Di balik kaca yang bersih itu, berjejer kue-kue cokelat yang mengkilap, croissant yang mengembang sempurna dengan lapisan mentega keemasan, dan roti-roti hangat yang uapnya seolah bisa menembus kaca.
Aroma manis vanila dan ragi yang dipanggang menyusup keluar dari ventilasi toko, menyerang hidungku.
Perutku berkerut, sakitnya tajam. Rasa lapar yang tadi sempat terlupakan oleh amarah kini kembali dengan kekuatan penuh. Aku menelan ludah, merasakan kerongkonganku yang kering. Roti di balik kaca itu mungkin harganya sama dengan gaji mingguanku di minimarket.
Aku memalingkan wajah, memaksa kakiku terus melangkah.
Di sebelah kiri, butik pakaian memajang manekin-manekin tak bernyawa. Mereka mengenakan mantel musim dingin berbahan wol tebal, syal cashmere lembut, dan sepatu bot kulit yang kokoh. Manekin-manekin itu terlihat lebih hangat dan lebih manusiawi daripada aku.
Aku menarik jaket tipisku lebih rapat. Ritsletingnya yang rusak tidak bisa menutup sempurna, membiarkan angin malam yang mulai menajam menusuk dada.
"Lihat, Sayang! Bagus kan?"
Suara tawa seorang wanita membuatku menoleh. Sepasang kekasih berjalan melewatiku. Si wanita, cantik dan wangi, sedang menunjuk gaun di etalase. Pria di sampingnya merangkul bahunya erat, mencium pelipisnya, lalu tertawa. "Apapun untukmu."
Mereka melewatinya begitu saja. Mereka melewatinya seolah aku tidak ada. Seolah aku hanyalah bayangan hantu atau noda kotor di trotoar yang tidak layak dilirik.
Dunia ini tidak adil.
Kenapa mereka bisa tertawa? Kenapa mereka bisa makan kenyang dan tidur di kasur empuk, sementara aku dan Lily harus bertengkar demi sepotong roti basi? Apa dosaku? Apa karena aku lahir dari rahim yang salah? Apa karena ayahku penjudi?
Rasa benci itu membakar di dadaku, panas dan menyesakkan. Aku membenci mereka semua. Aku membenci kebahagiaan mereka yang dangkal.
Tanpa sadar, aku telah berjalan terlalu jauh. Cahaya lampu toko yang terang mulai menipis, digantikan oleh lampu jalan yang remang-remang. Gedung-gedung kaca berganti menjadi bangunan bata tua yang kusam.
Aku berada di pinggiran kota. Tempat di mana bayangan lebih panjang dan udara terasa lebih berbahaya.
Dingin malam mulai menggigit kulit. Aku menggigil hebat. Kakiku sakit, jempolku yang menyembul dari sepatu berlubang terasa baal karena dingin.
Aku harus pulang. Lily pasti khawatir. Kemarahanku mulai surut, digantikan oleh rasa lelah dan penyesalan. Aku seharusnya tidak meninggalkannya sendirian di panti gelap itu.
Aku berbalik, berniat mencari jalan pintas untuk kembali. Dan saat itulah aku melihat sebuah gang sempit di antara dua gedung gudang tua. Jalan potong yang biasa kulewati saat siang.
Tapi ini bukan siang. Dan kegelapan di dalam gang itu tampak lebih pekat dari biasanya, seolah sedang menunggu untuk menelan siapa pun yang cukup bodoh untuk memasukinya.
***
Aku melangkah masuk.
Seketika, suara bising kota di belakangku meredup, tergantikan oleh keheningan yang lembap. Udara di dalam gang ini stagnan, berbau campuran sampah busuk, genangan air kotor, dan aroma tajam amonia bekas air seni tikus atau mungkin manusia.
Aku mempercepat langkahku. Sepatu kanvasku yang tipis tidak meredam suara, menciptakan bunyi tap-tap-tap yang menggema memantul di dinding bata merah yang tinggi di kiri kananku.
Firasatku berteriak: Lari.
Tapi aku terlalu lelah untuk berlari.
Beberapa meter di depan, satu-satunya lampu jalan yang ada berkedip-kedip sekarat, memancarkan cahaya oranye remang yang justru membuat bayangan di sudut-sudut terlihat lebih hidup.
Kring.
Suara kaleng ditendang.
Bukan dari arah depan. Dari belakangku.
Jantungku berhenti sedetik, lalu berpacu liar. Aku tidak menoleh. Aku tahu aturan jalanan: jangan menoleh, jangan terlihat takut, terus berjalan. Aku mencengkeram kerah jaketku lebih erat, menundukkan kepala, dan memaksa kakiku bergerak lebih cepat.
"Hei, Nona..."
Suara itu berat, serak, dan basah. Suara seorang perokok berat yang paru-parunya sudah separuh hangus.
"Jalan sendirian malam-malam begini? Bahaya lho..."
Suara tawa kecil menyusul. Bukan tawa bahagia. Itu tawa predator yang melihat kelinci pincang.
Aku masih tidak menjawab. Mataku fokus pada ujung gang yang masih berjarak lima puluh meter lagi. Sedikit lagi. Sedikit lagi sampai ke jalan besar.
Langkah kaki di belakangku bertambah. Satu pasang... dua pasang... tiga.
Mereka tidak lagi mengendap-endap. Mereka sengaja menghentakkan kaki, menikmati teror yang mereka ciptakan.
"Sombong sekali," celetuk suara lain, lebih cempreng. "Dia tidak dengar kita, Bos. Mungkin telinganya tersumbat."
"Atau mungkin dia butuh ditemani," sahut yang pertama.
Tiba-tiba, sebuah tangan kasar mencengkeram bahuku.
Aku tersentak, memutar tubuh refleks untuk menepisnya. "Jangan sentuh aku!"
Aku berhadapan dengan tiga orang pria. Mereka berbau alkohol murah dan keringat basi. Pria yang mencengkeramku bertubuh besar, memakai jaket kulit imitasi yang sudah mengelupas. Matanya merah dan berkabut, menatapku dengan nafsu yang telanjang dan menjijikkan.
Di belakangnya, dua pria lain yang lebih kurus menyeringai, memamerkan gigi kuning mereka. Salah satunya memainkan pisau lipat kecil, membukanya dan menutupnya. Klik. Klik.
"Wow, galak," kata si pria besar, menyeringai lebar hingga gusi hitamnya terlihat. Dia tidak melepaskan cengkeramannya di bahuku. Jari-jarinya yang gemuk meremas tulangku sakit sekali. "Aku suka yang galak. Lebih menantang."
"Lepaskan!" teriakku, suaraku pecah karena panik. Aku mencoba mundur, tapi punggungku menabrak dinding bata yang dingin dan kasar.
Aku terpojok.
"Kami cuma mau kenalan, Nona Manis," kata si pria pisau, melangkah maju menutup jalan keluar. Dia menjilat bibirnya yang pecah-pecah. "Kau terlihat kedinginan. Jaketmu tipis sekali. Mau kami hangatkan?"
"Minggir!" Aku mencoba menerobos celah di antara mereka, tapi si pria besar mendorongku kembali ke dinding dengan mudah.
Kepalaku membentur bata keras. Pandanganku berkunang-kunang sejenak. Rasa sakit menjalar di tengkorak belakangku.
"Jangan kasar-kasar," kekeh pria ketiga. "Nanti cantiknya rusak."
Mereka mulai mendekat, mempersempit jarak. Bau napas mereka membuat perutku mual. Aku melihat sekeliling dengan putus asa. Gang ini sepi. Tidak ada jendela yang terbuka. Tidak ada polisi yang lewat.
Aku sendirian.
Duniaku menyempit menjadi wajah-wajah menyeringai di depanku dan dinding dingin di punggungku. Rasa takut yang murni, dingin, dan melumpuhkan merayap naik dari perut ke tenggorokan.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menyesal telah menjadi wanita. Aku menyesal telah menjadi lemah. Dan yang paling parah, aku menyesal tidak menerima tawaran Eleanor tadi siang. Setidaknya di sana, aku akan menjadi peliharaan yang aman.
Di sini, aku hanyalah daging segar.
"Tolong..." bisikku, harga diriku runtuh sepenuhnya. "Aku tidak punya uang. Ambil saja jaketku. Tapi biarkan aku pergi."
Si pria besar tertawa, suara yang menggema mengerikan di lorong sempit itu. "Uang? Siapa yang butuh uang recehmu, Sayang? Kami mau bayaran yang lain."
Tangannya bergerak turun, menuju ritsleting jaketku.
Aku memejamkan mata, menjerit dalam hati memanggil siapa saja. Tuhan. Ayah. Bahkan... Ciarán.