Pramahita sering menganggap dirinya sebagai gadis yang tak beruntung. Selain sebagai anak tiri yang 'tidak diinginkan', Pramahita juga sering mendapatkan perlakuan semena-mena dari ibu tiri dan kakak tirinya—Loria.
Harapan Pramahita yang selalu ia panjatkan pada sang kuasa hanya satu—agar ia mendapatkan suami yang kelak bisa membuatnya merasa dicintai dan mampu merasakan bagaimana rasanya dihargai kelak oleh belahan jiwanya. Namun alih-alih mendapatkan kebahagiaan dari kesabaran yang ia tabur, Pramahita malah menikah dengan sosok yang bertolak belakang dari apa yang selalu ia harapkan.
Loria, kakak tirinya itu melarikan diri tepat sehari sebelum pernikahan, meninggalkan calon suaminya yang menahan amarah dan juga rasa malu dengan perlakuan yang tidak pantas ia dapatkan. Dengan ancaman serius yang dilontarkan oleh sosok yang seharusnya menjadi kakak iparnya kepada keluarga, Ayah Pramahita memutuskan untuk memilihnya sebagai pengantin pengganti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi dengan siapa?
Hita membuka lemari pakaian yang pagi tadi takut untuk dia sentuh karena larangan Dirga sendiri. Hita menghapus air matanya dengan punggung tangan, kata-kata Dirga yang menghina ibunya terus menghantui, tapi entah mengapa ia tak berani bicara, tak berani melawan. Ia begitu lemah, dan ia mengakui itu.
Hita tak mengerti mengapa Dirga menyuruhnya mengganti pakaian. Jika Dirga hanya ingin mengajaknya membeli pakaian agar tak dicap sebagai suami tak bertanggungjawab, seharusnya biarkan saja Hita pergi dengan kemeja Bram, kenapa ia repot-repot menyuruhnya untuk mengganti pakaian?
Hita menarik sebuah kaus hitam polos dari tumpukan pakaian Dirga yang dilipat dengan rapi. Ia begitu hati-hati, seolah-olah ia bisa merusak pakaian-pakaian mahal itu jika bertindak ceroboh.
Perlahan-lahan namun pasti Hita membuka kancing kemejanya, menggantikan kemeja kebesaran itu dengan kaus milik Dirga. Rasanya nyaman, tentu saja karena bahan dari pakaian itu yang mahal.
Hita melangkah menuju cermin, menatap pantulan tubuhnya saat menggunakan pakaian Dirga. Pakaian itu tampak tak sebesar kemeja Bram, namun tetap saja kebesaran di tubuhnya.
Buru-buru Hita melipat kemeja Bram dengan rapi, berniat mencucinya nanti setelah pulang dari membeli pakaian.
Tak ingin membuat suaminya menunggu, Hita melangkah keluar dari kamar dan menutup pintu rapat-rapat di belakangnya.
"Di mana Kak Pramahita?"
Hita bisa mendengar suara Lian di lantai bawah, senyum tipis terukir di wajahnya saat mendengar sang adik ipar yang menanyakannya.
Tak biasanya Hita dicari seperti itu, karena biasanya keberadaannya tak pernah dianggap oleh siapapun.
"Sedang berganti pakaian." Jawaban dingin Dirga terdengar saat menjawab pertanyaan adiknya.
Sementara itu Hita mulai menuruni tangga, suara langkah kakinya menarik perhatian dua orang yang tengah berbincang di ruang tamu. Lian dan Dirga secara serempak menoleh.
Dirga terpaku sejenak, menatap penampilan Hita dengan kaus miliknya di tubuh gadis itu. Ia tak ingin mengakuinya, tapi jujur saja Dirga lebih nyaman melihat Hita menggunakan kausnya dibandingkan kemeja kakaknya.
"Wah... cantik sekali," puji Lian dengan mata berbinar, segera melangkah mendekat saat Hita menuruni anak tangga terakhir.
Lian menganalisis penampilan Hita sejenak, sebelum kembali berkata. "Tapi ini tidak seperti pakaian milik Kak Bram," katanya, mengelus kain pakaian itu dengan dahi berkerut. "Aku rasa pakaian ini lebih kecil—"
"Itu pakaianku."
Lian menoleh cepat ke arah Dirga saat kakaknya itu memotong ucapannya, sementara Hita juga turut mendongak dan menatap laki-laki itu.
"Benarkah?" Lian menatap Dirga dengan tatapan skeptis.
Lian sudah mengenal Dirga dengan sangat baik. Laki-laki itu begitu pelit dan membatasi diri, bahkan Lian sendiri tak pernah memasuki kamar Dirga meskipun mereka hidup bersama selama bertahun-tahun.
Sangat berbeda dengan Bram, di mana Lian bahkan sering keluar masuk kamar kakak tertuanya itu seperti kamarnya sendiri.
Dirga tak suka barang pribadinya disentuh, apalagi digunakan oleh orang lain. Tentu saja kecuali Loria, wanita itu memiliki akses ke seluruh barang-barang milik Dirga, mengingat bagaimana Dirga sangat mencintai wanita itu.
Jadi, begitu aneh rasanya jika Dirga memberikan izin pada Hita untuk menggunakan kausnya.
"Aku tidak memaksamu untuk percaya," ucap Dirga datar, wajahnya nyaris tanpa ekspresi saat menjawab adiknya.
Dirga beralih menatap Hita. "Kita pergi sekarang, aku tidak suka membuang-buang waktu." Tangan Dirga terulur, jari-jarinya melingkari pergelangan tangan Hita, menarik perempuan itu ke arahnya.
Hita yang mendapatkan sentuhan tiba-tiba itu tersentak, tak percaya melihat Dirga yang menyentuhnya dan menariknya menjauh Dari Lian.
Namun si bungsu Martadinata itu pintar, menarik tangan Hita yang lainnya hingga Hita terhuyung-huyung.
"Kau ingin mengajak Kak Pramahita kemana?" tanya Lian tajam, melemparkan tatapan permusuhan pada kakaknya sendiri.
Dirga menatap kesal saat Lian menarik Hita, cengkramannya pada pergelangan tangan Hita ikut mengencang, seolah-olah tak ingin melepaskannya.
"kemanapun aku ingin mengajaknya itu bukan urusanmu," balas Dirga dengan nada yang tak santai.
"Oh, tentu saja itu urusanku." Lian tak mau kalah, dagunya terangkat tinggi seolah menantang Dirga. "Aku sudah berjanji untuk mengajak Kak Pramahita membeli pakaian, kau harus mengantri jika ingin mengajaknya pergi, karena aku sudah lebih dulu mengajaknya." Lian menarik tangan Hita sekali lagi, membuat Hita oleng ke arahnya, tapi Dirga masih tak mau kalah dan menarik Hita ke arahnya.
"Begitukah?" Dirga mencoba tetap sabar, rahangnya terkatup rapat menahan emosi. "Aku bisa mengajaknya kemanapun yang aku mau, terlepas dengan janji-janji yang dimilikinya dengan orang lain. Akulah yang membawanya kemari, meskipun aku tak menginginkannya. Tapi tetap saja aku adalah orang yang harus menjadi prioritas."
Hita yang kini berdiri di tengah-tengah kakak beradik yang tengah berdebat itu terlihat kebingungan. Hita menatap Dirga dan Lian secara bergantian, bergerak gugup dan tak tau harus mengatakan apa.
Jika ia memilih untuk ikut dengan Lian, jelas Dirga akan marah, dan jika ia memilih dengan Dirga, mungkin saja Lian akan merajuk dan tak ingin bicara dengannya lagi.
Lian adalah orang pertama yang pernah menanyakan keberadaannya, yang secara tidak langsung peduli padanya.
"Lepaskan tanganmu darinya, Lian." Dirga mencoba sabar saat memerintahkan adiknya yang ia kenal sangat keras kepala.
"Tidak, aku tidak mau," balas Lian keras kepala, mengeratkan tangannya di pergelangan tangan Hita.
Ketegangan berderak diantara keduanya, seakan-akan sedang memperebutkan piala kemenangan.
Saat ketegangan itu berlangsung, tiba-tiba suara teduh yang familiar terdengar menyela.
"Apa yang terjadi di sini?"
Itu adalah suara Nadia—ibu dari Lian dan Dirga.
Nadia menatap kedua anaknya dan menggeleng pelan, diikuti oleh helaan napas. Nadia beralih menatap Hita yang berada di tengah-tengah mereka, menatap kasihan ekspresi kebingungan Hita yang begitu malang.
"Kalian berdua." Nadia menunjuk ke arah Lian dan Dirga dengan tatapan tegas namun suara yang lembut. "Lepaskan Hita sekarang juga," perintahnya, yang anehnya langsung dituruti oleh dua orang keras kepala itu.
Ternyata hanya Nadia yang mampu membuat keduanya tunduk dan menurut.
Nadia melangkah mendekati tiga orang itu, menatap mereka bergantian sebelum berkata, "Apa yang terjadi di sini? Kenapa kalian berdua menarik-narik Hita seperti itu?" tanyanya.
Hita beralih menatap Dirga, menunggu jawaban laki-laki itu. Namun alih-alih, malah Lian yang lebih dulu berucap dengan nada kesal dan sinis.
"Kak Pramahita lupa membawa pakaian, dan tadi pagi aku berjanji untuk mengajaknya keluar untuk membeli beberapa," jelas Lian, melemparkan tatapan kesal ke arah Dirga yang lempeng-lempeng saja. "Tapi saat aku datang, seenaknya saja Kak Dirga ingin membawa Kak Pramahita pergi."
Nadia mengangguk pelan mendengar penjelasan putri bungsunya. "Begitu," ucapnya dengan secercah pemahaman. "Tapi bagaimana caranya kau membelikan Hita pakaian? Bukankah ayah baru saja menyita kartu kreditmu, sayang?"
Sontak Lian terdiam mendengar ucapan ibunya, matanya berkedip-kedip ketika lupa akan kenyataan bahwa kartu kreditnya di sita dan ia yang ingin membelikan Hita pakaian dengan kartu kredit Bram.
"Ahh... Itu..." Lian mengusap tengkuk, rasa percaya dirinya yang sebelumnya menghilang. "Aku meminjam kartu kredit Kak Bram..." ucapnya pelan, nyaris tak terdengar.
Mendengar hal itu, Dirga mengeluarkan dengusan sinis. "Kau ingin membelikan pakaian tapi menggunakan kartu kredit orang lain?" ucapnya sarkas. "Konyol sekali."
"Dirga..." tegur Nadia lembut, seperti sedang melerai anak-anak yang bertengkar.
Dirga melipat tangannya di depan dada, menghela napas dan mengalihkan pandangannya seperti seseorang yang tengah merajuk. "Aku hanya mencoba untuk memenuhi tanggung jawabku. Bagaimana mungkin aku membiarkan Hita berbelanja dengan uang pria lain?" ucapnya, masih membahas tentang tanggung jawab.
Nadia tersenyum tipis mendengar ucapan Dirga, mencoba bertanggungjawab meskipun Hita bukan sosok yang ia cintai dan ingin putranya itu nikahi. Tatapan lembut Nadia beralih pada Hita.
"Baiklah, sepertinya untuk menyelesaikan masalah ini, Hita harus membuat keputusan." Nadia mendekat dan meletakkan tangannya di bahu sang menantu, membuat Hita mendongak dan tersenyum manis ke arahnya.
"Katakan, dengan siapa kau ingin pergi. Dengan Lian atau dengan Dirga?" tanya Nadia, membuat Hita kembali bingung dengan keputusannya.
Ia menatap Lian yang berharap padanya, dan di sisi lain Dirga tampak acuh namun pasti akan melontarkan kata-kata menyakitkan lagi nanti saat tak ada Lian ataupun Nadia diantara mereka. Keputusan apa yang harus Hita buat?
Selama tiga detik penuh Hita berpikir, menatap mata Nadia yang begitu tulus dan sentuhannya yang menenangkan di bahunya.
"Aku..." Hita bergumam, menatap kedua pilihan dan mengangguk yakin.
"Aku ingin pergi dengan mereka berdua."
Bersambung...
aku ko ga rela dia sama Dirga ending nya kata" itu loh menjijikan
Hita kalau udah pergi atau dekat sama orang lain baru terasa ,,Bram boleh juga Thor biar panas
suka cerita nya biarpun Dirga kasar banget sih rada nyesek
i give coffee 4 u
baru baca novel sperti ini CEO ledhoooooooooo ga ketulungan mulutnya pedes luar biasa macam ibu komplek dihhh najis tralala deh kamu Dirga