Aku Nadia istri dari Mas Afif dan ibu dari Bintang. aku istri yang setia, yang selalu berusaha melayani suamiku dengan baik, menemaninya dari nol. aku juga ibu yang baik untuk anakku Bintang. singkatnya aku berusaha menjadi yang terbaik untuk suami dan anakku.
Namun di saat pernikahanku yang ke tujuh, Mas Afif memberikanku kejutan besar, dia membawa seorang wanita lain ke dalam rumah tangga kami, namanya Laras dan anak tirinya bernama Salsa, yang Bintang selalu bilang kalau anak itu adalah anak tercantik di kelasnya.
cerita perhianatan dan kebangkitan Nadia dari penghianatan suaminya.
happy reading All❤️ bantu support cerita pertama saya ya, trims🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Acaciadri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Kondisiku sudah agak membaik, hingga aku pun memutuskan untuk ke sekolah Bintang dan seperti biasa menunggui anakku sekolah__Bintang sudah merengek dari minggu kemarin ingin di temani olehku, Namun apa boleh buat. Sebab kondisiku yang sakit tak memungkinkan aku ikut dengan Bintang ke sekolah.
Di kehamilanku yang kedua. Hampir setiap pagi aku muntah-muntah dan sangat anti sekali mencium bau perbumbuan dan pilih-pilih makanan. Padahal aku sudah berniat untuk menjadi content creator masak-masak, tapi apa boleh buat. Tampaknya keinginanku itu harus terpending dulu, minimal sampai rasa mual dan anti dengan perbumbuan pun menghilang.
Bukan bermaksud membandingkan, tapi saat mengandung Bintang. Aku bahkan masih sanggup melakukan pekerjaanku sebagai istri. Dari mulai memasak, memberesi rumah sampai mencuci baju dan piring__kehamilan yang ini mah boro-boro, baru mau ke dapur membuat content masak-masam pun, tubuhku sudah sangat lemas tak bertenaga, karena mencium aroma perbumbuan yang entah kenapa, rasanya tidak enak saja di hidungku.
Pertanyaannya, aku makan dengan apa hampir tiga minggu ini? Terpaksa, aku makan dengan bubur tanpa toping, tanpa memakai bawang-bawangan juga, hanya sebuah bubur polos dengan sedikit garam saja dan alhasil bobot tubuhku terasa berkurang. Tapi tidak apa, yang penting hari ini sku bisa mengantar anakku Bintang ke sekolah, aku tak mau anak sulungku itu terus saja murung karena tak bisa di antar olehku.
“Hari ini mama tunggu di mobil, ya. Bin? Gak papa kan?.“Tanyaku sambil sedikit membungkukan tubuh, guna menyamakan tinggiku dengan tinggi tubuhnya, tak lupa dengan senyuman tipis di bibir dan usapan lembut di kepalanya.
“Mama gak mau nungguin Bintang, ya?.“Tanyanya sedih yang membuatku menghela nafas panjang. Ya, beginilah kalau mau anak dua, apa lagi Bintang yang belum dewasa, usianya masihlah 4 tahun dan dia belum mengerti apapun__janin di kandunganku, aku menerimanya seperti kata Mia. Lagi pula mungkin do'a-do'aku yang dulu ku lantunkan sudah di jawab oleh Tuhan, hanya saja aku merasa sedikit kesal dsn sedih. Andai ada Mas Afif, mungkin Bintang takan semanja ini denganku, bikan aku tak mau memanjakan Bintang, hanya aku dalam kondisi yang kurang sehat seperti ini.
“Enggak sayang, bukan gak mau. Cuman mama lagi gak bisa deket-deket sama orang banyak, mama gak suka.“Ucapku sambil berucap pelan dan menatap Bintang penuh kesungguhan.
“Tumben, Ma?.“
“Iya sayang, adek bayinya lagi gak mau ketemu orang banyak.“Ujarku lalu menarik tangan mungil Bintang yang ku arahkan pada perutku yang masih rata. Dengan memberitahunya kalau aku mengandung, aku berharap Bintang mengerti dan paham, kalau aku tidak se-sehat sebelum ketahuan mengandung.
“Adek bayi?.“Tanyanya dengan wajah polosnya, yang membuatku tak tahan untuk tidak mencubit pelan pipinya yang gembil itu.
“Iya, Adek Bintang ada di perut mama?.“
“Bintang bakal punya adek, ma?.“Tanyanya dengan kedua mata berbinar serta senyum tipis di bibirnya, aku mengangguk mengiyakan, lalu anak itu pun memeluk kakiku erat, Bintang bahagia, aku pun harus. Kini bertambahlah motivasi untuk membuat hidupku lebih baik lagi, Bintang dan adiknya. Aku harus bisa bangkit berdiri dan menjadi versi terbaik diriku untuk mereka berdua.
“Yeyy, Bintang punya adek.“
“Seneng sayang?.“Tanyaku yang seraya menundukan pandanganku, dan Bintang melepas pelukannya lalu wajahnya mendongak, dan kami bertatapan cukup intens. Hingga Bintang pun menganggukan kepalanya dengan masih tersenyum sumringah.
“Yaudah, mama anter sampai depan kelas, ya? Tapi mama gak nungguin Bintang.“
“Iya mama.“
Ku raih tangan mungilnya lalu ku genggam erat, ku rasakan hangatnya tangan anakku ketika kami berpegangan tangan begini, sesekali aku melirik ke arah tubuh anak sulungku yang masih sebatas pinggang, dia benar-benar terlihat bahagia sekali mendengar kalau dirinya akan menjadi seorang kakak. Ya Tuhan, sebentar lagi anggota keluarga kami akan bertambah dan kebahagiaan kami pun akan bertambah, meski tanpa Mas Afif, tapi aku yakin bisa mengurus kedua anakku dengan baik.
“Belajar yang bener, ya?.“Ucapku dan di balas dengan anggukan kecil oleh Bintang.
“Iya mama, sayang mama.“Ucapnya sambil memintaku berjongkok, saat ku turuti, kedua mataku membelalak tatkala begitu saja Bintang memberiku kecupan di pipinya.
Ya Tuhan, So sweet sekali anakku itu.
*********
Masih ada waktu satu jam lagi sebelum Bintang pulang, untuk membunuh waktu, aku pun memilih untuk menonton drama korea saja. Oh ya, bisa di bilang aku itu cukup suka dengan drama korea, karena menurutku selain jalan ceritanya bagus, juga aktor-aktor yang ber-akting di dalamnya sangat totalitas sekali dan yang paling membuatku tertarik. Karena drama korea itu episodenya juga tidak panjang-panjang, jadi tidak membuatku jenuh.
Drama yang ku tonton adalah drama kolosan yang berjudul Bon Appetit Your Majesty. Di mana pemeran utamanya adalah salah satu member girl's band sana yang bernama SNSD, dia di pasangkan dengan brondong yang jarak usianya sepuluh tahun. Dan anehnya justru chemistry mereka sangat klop, perbedaan usia sepuluh tahun itu seolah tidak ada. Hahhh.. memang keren sih mereka, aku yang nonton pun sampai di buat baper dan seolah lupa dengan semua masalahku, ya. Walaupun sebentar, tapi lumayan, aku jadi punya waktu untuk healing dengan nonton drama tersebut.
TOK TOK
Kaca mobil di ketut dan sukses membuat atensiku teralih, kedua mataku membulat sempurna tatkala ku temukan tubuh Mas Afif yang menjulang di dekat pintu mobil dengan sorot matanya yang tajam, ada apa? Aku merasa tidak melakukan kesalahan apapun kok. Bahkan ide bodoh yang ku cetuskan pun, aku mengikutinya. Aku bahkan tak peduli para orang tua murid menganggapku menyedihkan karena tidak pernah memperlihatkan siapa suamiku. Mungkin mereka mengira kalau suamiku layaknya bang Toyib yang tak pulang-pulang, atau mungkin menikah lagi dan aku di campakan__bodo amat, aku benar-benar sudah tak mau mengurusi hal-hal yang tidak penting seperti itu kok.
“Buka pintunya, Nad!.“Ujarnya, setelah menghela nafas panjang, aku pun membuka pintu dan Mas Afif segera masuk dan duduk di kursi di sampingku.
“Ada apa, Mas?.“Tanyaku to the point, saking aku sudah benar-benar tak peduli dan memilih mematikan perasaanku padanya. Tidak ada sedikit pun terbersit rasa rindu seperti sebelum-sebelumnya, aku bahkan tidak mengiriminya chat ataupun mencoba menghubunginya selama ini, kecuali dia duluan, itu pun aku sengaja slow respon.
Aku memang tidak akan meminta cerai padanya dalam waktu dekat. Tapi bukan berarti aku juga akan bertahan dengan pernikahan yang sudak tidak sehat ini, hanya menunggu waktu dan sambil menunggu waktu, aku akan mundur perlahan-lahan, sampai Mas Afif pun seolah tak membutuhkanku lagi.
Lagi pula sudah ada istri barunya, ya kan? Yang bahkan dia rela sebulan tidak pulang ke rumah, tidak mencemaskanku dan anaknya, tidak juga merindukan kami. Kalau sudah begitu, apa yang mau di pertahankan? Ya, aku tahu. Kecuali hanya uangnya, saat ini aku masih merintis, dan aku tidak mau gegabah untuk memutuskan segalanya.
Karena hidup tidak memakan cinta dan karena hidup juga butuh sebuah taktik. Ya, cinta dalam hidupku sudah ku lenyapkan dan terbawa oleh mendiang kedua orang tuaku, aku hidup hanya berdasar sebuah realiatis saja.