Tujuh belas tahun lalu, Ethan Royce Adler, ketua geng motor DOMINION, menghabiskan satu malam penuh gairah dengan seorang gadis cantik yang bahkan tak ia ketahui namanya.
Kini, di usia 35 tahun, Ethan adalah CEO AdlerTech Industries—dingin, berkuasa, dan masih terikat pada wajah gadis yang dulu memabukkannya.
Sampai takdir mempertemukannya kembali...
Namun sayang... Wanita itu tak mengingatnya.
Keira Althea.
Cerewet, keras kepala, bar-bar.
Dan tanpa sadar, masih memiliki kekuatan yang sama untuk menghancurkan pertahanan Ethan.
“Jangan goda batas sabarku, Keira. Sekali aku ingin, tak ada yang bisa menyelamatkanmu dariku.”_ Ethan.
“Coba saja, Pak Ethan. Lihat siapa yang terbakar lebih dulu.”_ Keira.
Dua karakter keras kepala.
Satu rahasia yang mengikat masa lalu dan masa kini.
Dan cinta yang terlalu liar untuk jinak—bahkan ol
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Api Cemburu
Lampu neon merah-biru berpendar di seluruh ruangan. Musik berdentum keras, mencampur aroma alkohol dan tawa. Di sudut VIP, sekelompok pria duduk santai dengan botol minuman di meja.
Mereka bukan sekadar pengunjung biasa — mereka adalah mantan anggota geng motor Dominion, yang dulu ditakuti di jalanan. Kini sebagian sudah mapan, sebagian masih hidup bebas dengan gaya masing-masing.
Rama—berambut cepak dan bertubuh besar—tertawa keras. “Gila, ya. Siapa sangka dulu kita anak jalanan yang dikejar polisi, sekarang kita balik nongkrong di club elit ini.”
Dante, si playboy casanova, menyeringai sambil menyulut rokok. “Dan yang paling nggak gue nyangka, ketua kita yang paling dingin ini sekarang malah jadi CEO perusahaan mobil paling besar di negeri ini.”
Ia melirik Ethan yang duduk santai di ujung sofa, mengenakan kemeja hitam rapi dan jam tangan mahal di pergelangan tangannya.
Ethan hanya menatap gelasnya, memutar isinya perlahan. “Gue cuma ganti kendaraan. Dulu motor, sekarang kantor,” katanya datar.
Rama tertawa keras. “Hahaha! Tapi gaya lo masih sama, Bro. Dingin kayak freezer, ngomong hemat banget!”
Rowan, yang duduk di samping Ethan, ikut menyahut dengan nada santai. “Emang dari dulu gitu, Ram. Kalau Bos Ethan udah ngomong dua kalimat, berarti itu udah sehari penuh output-nya.”
Dante menyenggol bahu Ethan. “Tapi serius, Bro. Lo tuh udah tiga puluh lima tahun. Masih aja belum nikah? Jangan bilang lo masih nyari cewek yang bisa sabar sama muka datar lo itu?”
Ethan mendongak pelan, menatap Dante dengan ekspresi nyaris datar tapi tajam. “Kenapa? Istri lo aja udah kabur tiga kali, Dan.”
Semua langsung meledak tertawa.
Dante sampai batuk menahan tawa. “Gila! Lo nggak berubah! Masih aja nyolot tapi elegan!”
Rama menepuk pundak Ethan. “Tapi jujur, Bro. Kita semua iri, tahu? Lo paling berhasil di antara kita. Tapi tetap... hidup lo kayak kosong. Lo butuh cewek, Bro. Cewek yang bisa nyairin es di hati lo itu.”
Ethan menatap ke arah lantai dansa dari balik kaca ruang VIP—mata dinginnya sejenak kehilangan fokus, seperti terseret kenangan lama. “Mungkin,” ujarnya singkat.
...----------------...
Musik EDM berdentum makin keras, lampu strobo menari liar di udara. Ethan duduk tenang di sofa, masih dengan segelas whiskey di tangan. Rowan duduk di sebelahnya, sementara Dante dan Rama sudah mulai heboh sendiri, ngobrol dan tertawa keras.
Tiba-tiba, Dante — yang dari tadi matanya jelalatan ke arah lantai dansa — membeku. Bibirnya terbuka lebar. “GILA!” serunya sampai Rama refleks kaget.
“Apaan, Dan?! Lo ngagetin gue aja!”
Dante masih bengong, matanya terpaku ke arah pintu masuk club. “Gila... gila, Bro! Liat tuh cewek! CANTIK banget!”
Refleks, Rama, Rowan dan beberapa anggota geng lainnya ikut menoleh ke arah pandangannya. Hanya Ethan yang tetap menatap gelasnya, malas.
Tapi Rowan tiba-tiba mengerjap cepat, wajahnya berubah antara kaget dan bingung. “Eh… tunggu… itu—itu ‘Bu Keira’, Bos!” katanya spontan sambil nunjuk ke arah lantai dansa.
Ethan langsung mendongak pelan.
Pandangannya mengikuti arah telunjuk Rowan.
Dan seketika dunia seolah berhenti.
Lampu berwarna, dentuman musik, tawa pengunjung—semuanya mendadak buram.
Yang terlihat hanya Keira, dengan dress hitam sederhana namun elegan, rambut tergerai, dan tawa lepasnya yang memantul di dinding kaca club.
Wajah dingin Ethan sempat menegang, tapi hanya sepersekian detik. Ia kembali bersandar tenang, menyamarkan ekspresinya di balik gelasnya.
Namun Rowan tahu — mata itu berubah. Tatapan dingin yang biasanya kosong kini mengeras.
Sementara itu, Rama langsung bersiul. “Buset... yang bener aja! Gila, cantik banget! Aura dia beda banget sama yang lain, men.”
Dante, si casanova sejati, sudah hampir maju berdiri, tangannya menunjuk ke arah Keira yang baru saja berjalan melewati kerumunan. “Ah, lo liat tuh? Cantik, seksi, dan—yah, keliatannya sih goyangannya juga mantep.”
Seketika suasana meja beku.
Rama mendengus pelan, Rowan refleks hampir menyemburkan minumannya, dan Ethan...
menatap Dante dengan mata elang dingin dan tajam seperti pisau.
Satu detik... dua detik...
Ketegangan menggantung di udara.
Rowan, sadar situasi berbahaya, langsung bergerak cepat. Ia merangkul bahu Dante dan tertawa canggung. “Eh—eh, Dan! Bro, lo kayaknya udah mabuk deh. Ngomong lo mulai ngelantur nih.”
Dante berkerut. “Mabuk apaan?! Gue masih sadar banget! Apalagi abis liat yang bening kayak gitu, mana bisa—”
Belum sempat selesai, Rowan langsung menutup mulut Dante dengan tangan. “SSSTT!!”
Dia mendekat, berbisik cepat di telinga Dante sambil melirik Ethan yang masih menatap tajam. “Kalo lo masih pengen hidup, mending mulut lo diem sekarang. Lo nggak liat tuh? Si Bos natap lo kayak mau makan orang!”
Dante menatap Rowan, lalu perlahan melirik ke arah Ethan — dan langsung menegang.
Tatapan Ethan memang luar biasa mematikan, dingin, tanpa sepatah kata pun, tapi jelas menegaskan satu hal: jangan main-main dengan wanita itu.
Dante langsung pura-pura batuk, lalu memegangi kepala. “Aduh... kepala gue pusing banget, sumpah. Kayaknya gue beneran mabuk, Bro...”
Rama ngakak pelan sambil menepuk punggungnya. “Hahaha! Tadi masih mau ngedeketin cewek, sekarang langsung tobat mendadak.”
Rowan cuma menghela napas lega. Ethan kembali meneguk minumannya dengan tenang — tapi matanya tidak lepas dari Keira yang kini sedang tertawa bersama dua temannya di lantai bawah.
Di balik ekspresi datar itu, ada sesuatu yang bergejolak.
Bukan hanya kenangan, tapi juga rasa yang belum padam selama tujuh belas tahun.
...----------------...
Lampu neon menyorot panggung DJ yang ramai. Musik EDM menghentak, memantul ke seluruh ruangan. Semua orang bersorak saat DJ baru naik ke atas panggung — pria muda dengan tubuh atletis dan senyum menggoda, hanya mengenakan celana hitam dan headphone di lehernya.
Begitu kemejanya terlepas, para pengunjung wanita langsung menjerit histeris.
Termasuk tiga orang yang paling berisik di antara mereka — Keira, Livia, dan Nolan.
Livia langsung memekik sambil menepuk bahu Keira. “KEIRA! ASTAGA! LIAT ITU PERUTNYA! BISA NYETIR MOBIL DI SANA, SUMPAAAH!”
Keira ngakak, matanya berbinar liar. “Gila! Itu perut apa ubin kamar mandi?! Kotaknya rapi amat!”
Sementara Nolan — si banci flamboyan dengan kemeja transparan sama celana ketat warna perak — langsung menjerit paling kencang. “MASYAALLAAAHHHH! COWOK BEGINI NIH YANG BIKIN HIDUP AKU BERGUNA! DJ ABANG SAYANG—AKU MAU TOMBOL PLAY DI HATIMUUU!”
Livia sudah mulai joget liar, Keira ikut tertawa sampai air matanya keluar. Mereka bertiga benar-benar on fire, apalagi saat DJ itu sengaja menunduk sambil menyapa penonton, memperlihatkan dada bidang dan otot perutnya yang sempurna.
Keira, dalam kondisi sudah mulai mabuk, tiba-tiba nekat maju ke depan panggung. “WOY ABANG DJ!” teriaknya dengan tawa ngakak. “KALO ADA PERTANDINGAN PERUT TERKOTAK-KOTAK, KAMU JUARANYA!”
Semua orang di sekitar ikut tertawa. DJ itu nyengir, menunduk sedikit ke arah Keira sambil memainkan musik makin cepat.
Livia berseru, “Pegang dikit, Kei! Biar tau itu otot beneran apa cetak tiga dimensi!”
“YAHAHAAA!” Nolan langsung maju, tanpa dosa, menepuk dada sang DJ. “IH PANAS! OTOT ASLI, SAY! AKU CAIR NIH!”
Keira dan Livia langsung ikut teriak geli, ikut nyenggol-nyenggol dada si DJ sambil ngakak bareng.
Adegan itu benar-benar absurd, campuran bar-bar dan heboh — khas mereka bertiga.
[Lantai VIP – Geng Dominion]
Dari atas, Ethan menatap ke bawah.
Tatapan dinginnya berubah tajam. Rahangnya mengeras, jarinya mengetuk gelas berkali-kali.
Rowan yang duduk di sebelahnya memperhatikan arah pandang bosnya, lalu mendecak pelan. “Hmm… Kayaknya ada yang nggak terlalu nikmatin pertunjukan nih.”
Ethan tidak menjawab. Tapi matanya menatap tajam ke arah Keira yang sekarang tertawa keras sambil memegang lengan DJ bertelanjang dada itu.
Seketika api cemburu berkobar di dalam dadanya.
Rowan meneguk minumannya, lalu dengan wajah setengah geli setengah nekat, ia sengaja memanas-manasi suasana. “Wah, DJ-nya beruntung banget, Bos. Dipegang tiga-tiganya sekaligus. Lihat tuh, Bu Keira kayaknya seneng banget.”
Ethan menoleh perlahan ke arah Rowan — tatapan dingin, membunuh, tapi masih tenang. “Lo mau gue kubur di parkiran belakang sekarang, Rowan?”
Rowan langsung nyengir kaku. “Eh—nggak, Bos. Maksud gue, dia emang... eh... interaktif banget sama crowd. Profesional, gitu.”
Dante dan Rama yang duduk di sisi lain malah ngakak.
“Hahaha! Wih, ceweknya enerjik banget tuh. Gue suka yang model gitu!” kata Dante sambil mencondongkan badan.
Rowan buru-buru menendang kaki Dante di bawah meja. “WOY! Mau mati lo?! Liat tuh mata si Bos udah kayak petir sebelum badai!”
Dante langsung mingkem. Ethan memutar gelasnya perlahan, lalu meneguk isinya dalam diam.
Tapi sorot matanya tak pernah lepas dari Keira yang masih tertawa di bawah sana —tawa yang sama seperti tujuh belas tahun lalu, tawa yang dulu sempat membuatnya jatuh.
Rowan melirik lagi, kali ini lebih hati-hati. “Bos…” katanya pelan, “mau gue panggilin satpam buat nyuruh tuh DJ pake baju, nggak?”
Ethan hanya menjawab datar. “Nggak perlu.”
Lalu ia berdiri, menegakkan tubuh dengan tenang. “Gue sendiri yang turun.”
...****************...
tutur bahasanya rapi halus tegas jarang tipo atau mungkin belum ada
semangat tor 💪💪💪