Seorang gadis berusia 23 tahun yang dipaksa menikah dengan ayahnya karna perjodohan, gadis itu bernama Raisa.
Raisa terpaksa menerima perjodohan itu sebab dia tidak bisa menolak keinginan papanya, dia dijodohkan dengan seorang pemuda berusia 29 tahun anak dari sahabat papanya.
pemuda itu bernama Billy, pemuda yang sama sekali belom pernah dia kenal bahkan melihatnya, namun kini akan menjadi suaminya.
pernikahan karna perjodohan tanpa adanya cinta diantara mereka berdua.
Apakah yang akan terjadi dirumah tangga mereka??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ani Suaharani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perdebatan.
Mama Raisa sedang menonton acata televisi, Raisa segera menghampiri mamanya dan memeluk mamanya dari belakang.
"Ma, Mama tidak tidur siang" ucap Raisa kepada Mamanya sambil mememeluk Mama.
"Tidak nak Mama belum ngantuk, kemarilah" sahut Mama Raisa.
Raisa berbaring disebelah mamanya, lalu dia menyandarkan kepala dipaha mamanya yang sedang duduk dikursi depan televisi, mamapun mengelur-ngelus kepala raisa dengan lembut, sembari menikmati acara televisi.
"Anggun mana sayang?" tanya mama.
"Dia pulang ma! nanti mau kesini lagi katanya" ucap Raisa.
Merekapun kembali menikmati acara televisi dan tidak lama kemuadian papa pulang dari tempat kerja, papa memberi salam dan membuka pintu.
"Asslamamualaikum..." ucap papanya, Mama langsung menyambut kedatangan papa, begitupun dengan papa, Raisa juga menyambut papanya yang baru pulang dari kerja lalu mencium punggung tangan papanya.
"Kamu tadi sampai dirumah jam berapa nak" ucap Papa.
"Jam sembilan Pa, aku pulang bersama dengan Anggun juga" balas Raisa.
"Anggun juga ikut pulang!" kata papa lagi.
"Iya pa" jawab Raisa.
"Papa ganti pakaian dulua ya, nanti kita bicara sebentar setelah itu papa mau pergi lagi" ucap Papa
"Baik Pa" balas Raisa sambil mengngguk kan kepalanya.
Papa memasuki kamarnya untuk berganti pakaian dan aku bersama Ibu kembali lagi duduk ruang televisi.
"Ma apa papa akan pergi mengurus pernikahan ku!" tanya Raisa ke Mamanya.
"Nanti juga kamu tau sayang" jawab Mamanya.
Raisa mengerutkan dahinya, lalu terdiam, tidak menyambung lagi pertanyaan untuk Mamanya.
Tidak lama kemudian, Papanya datang menghampiri mereka diruang keluarga dan duduk disamping Mama, Papa membuka pembicaraan.
"Raisa bagaimana dengan jawaban kamu atas permintaan papa! kamu mau mengabulkan permintaan Papa kan nak" ucap Papa kepada putrinya.
"Maafkan Raisa pa, Raisa memang bukan anak ya g nurut sama papa dan mama tapi masalah pernikahan ini Raisa begitu keberatan pa, Raisa tidak mencintai Billy". Jawab Raisa dengan wajah bersedih, dan mata berkaca-kaca, memang ini adalah pilihan yang sangat berat untuknya dengan segala jurus Raisa berusaha menolak permintan papanya.
"Papa tidak mau tau, kamu harus menerimanya nak, ingat keluarga Pak Handoyo adalah sahabat papa, jangan sekali kali kamu buat malu papa, cukup kamu membangkang papa dari kamu yang berkerja dan kuliah di Jakarta" ucap Papa nya.
"Besok pernikahan kalian akan dilaksanakan dihotel, kamu tenang saja acaranya tertutup tidak ada pesta" ucap kembali Papanya.
"Mama" rengek Raisa kepada Mamanya.
"Sudahlah nak turuti saja apa mau Papamu, ini adalag pilihan yang terbaik" bujuk Mama Raisa sembari menyandarkan kepala anaknya pada bahunya.
"Tapi ma, mama kan tau Raisa suka dengan Raihan ma, bukan dengan Billy, ma pa tolong lah, masalah perasaan jangan lah dipaksa, Raisa yakin Billy juga tidak mencintai Raisa" kata Raisa yang mencari cari alasan.
"Itu bukan alasana, dulu papa dan mama juga menikah karna perjodohan, itu tidak akan berdampak buruk, setelah pernikahan mama dan papa saling mencintai" kata Papa.
"Pa, ini bukan zaman situ nur baya ataupun zaman mak lampir mengapa harus dijodohkan, laki laki banyak pa, kanapa harus Billy, pokoknya Raisa nggak mau titik" kata Raisa yang langsung meninggalkan orang tuanya dan masuk kedalam kamar dengan menutup pintu dengan sangat keras.
"Yasudah Mama, papa pergi dulu untuk bertemu dengan pak Handoyo, kamu bujuk anak kita" ucap Papa.
"Baiklah Pa" jawab mama.
Papa mulai pergi dan mengeluaru rumah, sedangkan Raisa terus menangis didalam kamarnya tepat disamping ranjang, mama mendekati Raisa.
"Sayang!" panggilan mama yang telah berada didekat Raisa.
"Diem ma, Raisa sedang tidak mau berbicara!" kata Raisa dengan linangan air mata.
"Sayang mama tau ini berat buat kamu, tapi ini sudah jalannya sayang" kata Mama.
"Jalannya apa ma? ini sebuah paksaan, Raisa tidak suka dengan Billy dan Billy tidak juga suka dngan Raisa, bukan kah mama tau Billy memiliki kekasih seorang artis terkenal, kemesraan mereka sudah terpampang dimedia mah, apa kata orang orang nanti, dan Raisa tidak menyukainya, mama tau kan Raisa menyukai teman Raisa, Raihan!" jawab Raisa panjang lebar.
"Mama tau nak, tpi perjodohan kalian sudah ada sebelum kamu lahir dan saat Billy berumur 3 tahun" kata mama lagi.
"Lalu kenapa ma? apa alasannya! Raisa tidak mau mah, Raisa mohon jangan mah! izinkan Raisa menikah dengan pria pilihan Raisa sendiri!" kata Raisa.
"Maafin mama sayang, percaya lah nak, Billy itu anak yang baik, dan kamu akan hidup bahagia bersamanya, pilihan ini adalah yang terbaij untuk kamu dan keluarga kita" kata mama.
"Mama apa apa an sih, Raisa enggak mau ma, mama bilang ini yang terbaik, enggak ma! mama salah ini adalah hal buruk untuk hidup Raisa, andai ada kak Raihan disini dia pasti belain Raisa! mama aja kehilangan kak Raihan dan sekarang mama mau buang Raisa dengan cara seperti ini, ma Raisa ini anak mama sama papa, Raisa pokoknya gk mau ma enggak!" kata Raisa lagi dan lalu beranjak pergi dari mama nya.
Setelah kepeegian Raisa mama menangis, mama sangat tahu apa yang dirasakan oleh putrinya dan betapa sakit rasa nyatapi dirinya tidak bisa berbuat apa apa, itu adalah warisan sekaligus perjanjian antara hubungan persahabatan suaminya.
"Maafkan mama sayang maafkan mama" gerutu mama ketika Raisa sudah pergi.