NovelToon NovelToon
Takdir Didunia Sihir

Takdir Didunia Sihir

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi
Popularitas:583
Nilai: 5
Nama Author: (Rahu)l

Haruto Kazehara hanyalah remaja biasa yang tak pernah bermimpi menjadi seseorang yang istimewa—sampai takdir mengubah segalanya secara tiba-tiba lewat sebuah kecelakaan. Saat ia membuka mata kembali, ia mendapati dirinya terbangun di dunia yang tak pernah ia bayangkan: sebuah negeri yang dipenuhi cahaya sihir, hutan berbahaya, monster purba, naga yang menguasai langit, dan kerajaan kuno yang menyimpan ribuan rahasia.

Penuh harap ia menyambut kekuatan baru sebagai pahlawan yang legendaris. Namun kenyataan berbalik mengecewakan: sihir yang ia miliki justru berjenis aneh, tak terduga, dan seringkali gagal total di saat-saat paling krusial. Alih-alih tampil gagah dan memukau, Haruto malah kerap menjadi bahan tertawaan teman-temannya—belum lagi tingkah laku slime rakus bernama Pochi yang selalu mengikutinya ke mana saja dan tak segan membuat kekacauan di mana pun mereka berada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33 – AKHIR PERTARUNGAN

Keheningan menyelimuti lembah. Hanya suara aliran sungai yang terus mengalir tenang, membelah bebatuan bagai tak terganggu oleh apa pun. Kael berdiri diam, tubuhnya masih sedikit gemetar, namun tatapan matanya yang semula penuh amarah kini perlahan berubah—seolah kabut tebal yang menyelimuti hatinya selama puluhan tahun akhirnya tersibak.

Pesan yang disampaikan Haruto, serta cahaya lembut yang terpancar dari tubuh Pochi, seolah meluluhkan dinding keangkuhan yang ia bangun dengan darah dan keringat. Ajaran Orde Air Kuno yang selalu menekankan kekuatan mutlak, kepatuhan buta, dan keunggulan kekuasaan... kini terasa begitu sempit dan kering.

"Air... untuk memberi kehidupan..." bisik Kael pelan, seolah mencoba mencerna setiap kata yang baru saja ia dengar. Ia menatap telapak tangannya yang kini kosong, tempat pedang air yang begitu tangguh tadi lenyap tanpa jejak. "Selama ini... aku salah paham."

Haruto tetap berdiri di tempatnya, tidak mendekat, juga tidak mengangkat tangan untuk menyerang. Wajahnya tenang, matanya memancarkan ketulusan yang membuat Kael tak sanggup memalingkan wajah.

"Kekuatan bukan berarti menaklukkan semua yang ada di hadapanmu," ujar Haruto lembut. "Melainkan menjaga agar segala sesuatu tetap mengalir sebagaimana mestinya. Seperti air yang memberi minum tanah, bukan menenggelamkannya."

Kael menunduk dalam. Bahu yang tegap kini merosot perlahan. Perlahan-lahan, lututnya menyentuh tanah yang lembap di tepi sungai. Ia tidak lagi memegang senjata. Ia tidak lagi memancarkan aura permusuhan.

"Maafkan aku..." suaranya terdengar parau namun tulus. "Aku telah dibutakan oleh ajaran yang menuntut kekuasaan di atas segalanya. Aku pikir kekuatan sejati adalah menaklukkan siapa pun yang dianggap mengganggu ketertiban kami. Padahal... yang aku lakukan hanyalah menciptakan ketakutan."

Di tepi sungai, Mizuna menatap pemandangan itu dengan mata berkaca-kaca. Daichi menepuk pelan bahunya, ikut terharu. Sementara Ryuusen tersenyum penuh makna, matanya menatap Haruto dengan pandangan yang semakin dalam.

"Pemimpin kalian salah," kata Haruto pelan namun tegas, memecah keheningan. "Kekuatan yang ia kejar bukanlah kekuatan air yang sejati. Ia hanya memaksakan kehendaknya pada arus yang seharusnya bebas mengalir."

Kael mendongak perlahan.

"Kalau begitu... apa yang harus kulakukan?" tanyanya. Nada suaranya kini bukan lagi suara musuh, melainkan suara seseorang yang tengah mencari jalan keluar dari kebingungan panjang.

Haruto melangkah mendekat, lalu berhenti beberapa langkah di hadapan Kael. Ia mengulurkan tangan.

"Kembalilah. Katakan pada mereka apa yang kau lihat dan kau rasakan di sini. Jika pemimpinmu benar-benar memperjuangkan kebenaran, ia tidak akan takut mendengar kebenaran dari mulutmu."

Kael menatap tangan itu lama sekali. Kemudian perlahan ia bangkit, menatap lurus ke mata Haruto.

"Aku mengerti," ucapnya mantap. "Aku akan kembali. Dan aku akan menyampaikan semuanya—meskipun nyawaku menjadi taruhannya."

Ia menarik napas panjang, lalu membungkukkan tubuhnya sebagai tanda penghormatan yang tulus.

"Terima kasih, Haruto Kazehara. Kau telah membuka mataku yang selama ini tertutup."

Setelah itu, Kael berbalik perlahan. Tanpa menoleh lagi, ia melangkah pergi meninggalkan tepi sungai, menghilang di balik rimbunan pepohonan yang masih menyisakan sisa-sisa kehebatan sihir yang sempat dipancarkan.

Haruto menghela napas panjang, lalu merasakan tubuhnya tiba-tiba terasa lelah seketika. Lututnya melemah, namun sebelum ia jatuh, sebuah tubuh kenyal berwarna biru melesat cepat dan mendarat tepat di dadanya.

"Pyoo!"

Pochi mengeluarkan cahaya lembut yang menyelimuti tubuh Haruto, memulihkan tenaganya yang terkuras habis. Haruto tersenyum lemah, lalu mengusap kepala kecil temannya itu.

"Terima kasih, Pochi..."

Tak lama kemudian, Mizuna, Daichi, dan Ryuusen pun tiba di sisinya. Mizuna segera memeriksa kondisi Haruto dengan wajah penuh kekhawatiran.

"Kau baik-baik saja?" tanyanya lembut.

"Ya... hanya sedikit lelah," jawab Haruto sambil tersenyum.

Ryuusen menatapnya dengan pandangan yang penuh kekaguman.

"Kau tidak hanya mengalahkan musuhmu, Haruto. Kau mengalahkan kebencian yang tertanam dalam hatinya. Itu adalah kemenangan yang jauh lebih berharga daripada sekadar memenangkan pertarungan."

Haruto menunduk malu.

"Aku hanya berkata apa yang kurasa benar."

"Itulah sebabnya kekuatanmu begitu istimewa," gumam Ryuusen pelan. "Kau memahami air lebih dalam daripada siapa pun yang pernah kukenal."

Matahari mulai condong ke barat, menyisakan semburat jingga yang memantul di permukaan sungai yang tenang. Pertarungan telah usai. Namun Haruto tahu... perjalanan mereka belum selesai. Kata-kata Kael, ancaman dari pemimpin Orde Air Kuno, serta rahasia di balik kekuatan Pochi dan dirinya sendiri... semuanya baru saja dimulai.

...****************...

Jauh di kedalaman pegunungan, di dalam gua raksasa yang dindingnya berkilau seperti kristal es abadi—Markas Besar Orde Air Kuno—udara terasa dingin hingga menusuk tulang. Di tengah ruangan luas itu, duduk sesosok wanita berjubah biru tua yang berhias motif tetesan air berwarna emas; wajahnya cantik namun kaku, matanya tajam bagaikan belati yang tak pernah mengenal belas kasih. Namanya Selena, Penguasa Tertinggi Orde Air Kuno.

Kael melangkah masuk dengan langkah berat, kepala tertunduk, sisa kekuatan hampir habis. Ia mengumpulkan sisa keberaniannya, lalu menceritakan segalanya—tentang pertarungan di tepi sungai, tentang cara Haruto bertarung bukan untuk membunuh melainkan memahami hakikat air, tentang Slime Legendaris yang seharusnya punah, tentang ketulusan yang meluluhkan amarahnya sendiri.

"Haruto tidak melukai saya, Yang Mulia..." suara Kael bergetar namun jujur. "Ia mengajarkan bahwa air bukanlah senjata untuk menaklukkan, melainkan sumber kehidupan. Kekuatan kami selama ini... kami salah mengartikannya. Kekerasan hanya menciptakan permusuhan tanpa akhir..."

Keheningan mencekam menyelimuti ruangan. Tak ada satu pun pengawal yang berani menarik napas keras. Selena tetap diam, menatap Kael tanpa kedip—tatapan bukan pada pengikut setianya, melainkan pada benda yang sudah tak berguna lagi.

Perlahan Selena bangkit dari singgasana. Di telapak tangannya muncul sebilah pisau kecil yang terbuat dari air yang dipadatkan sekeras intan, tajam berkilau dingin. Kael tiba-tiba merasakan sesuatu yang mengerikan: tubuhnya kaku mendadak, lutut tak bisa menekuk, tangan tak bisa terangkat, bahkan jari pun tak bisa bergerak sedikit pun. Darah yang mengalir di pembuluhnya seolah ditahan, dikendalikan sepenuhnya oleh kehendak wanita itu. Ia terperangkap dalam tubuhnya sendiri, tak berdaya sedikit pun.

Selena berjalan perlahan mendekat, langkahnya tenang namun membawa kengerian murni. Ia berhenti tepat di depan Kael, lalu mengangkat pisau air itu perlahan.

"Kebenaran lemah..." bisiknya dingin, tanpa setitik pun rasa bersalah. "Hanya kekuatan mutlak yang berhak bertahan."

CROTT!

Suara tajam menusuk daging terdengar jelas di ruang sunyi itu. Pisau air menembus dada Kael tepat di jantungnya. Mata Kael membelalak lebar, rasa sakit luar biasa menyergap seluruh tubuhnya, napas tersendat hebat. Selena mendekatkan bibirnya tepat di telinga Kael, berbisik pelan dan dingin bagaikan angin musim dingin yang mematikan:

"Yang lemah harus disingkirkan."

Kekuatan penahan tubuhnya perlahan dilepaskan—namun terlambat. Tubuh Kael jatuh terguling ke lantai batu yang dingin, mata terbuka lebar menatap langit-langit gua yang tinggi, napas terakhirnya lenyap bersama butiran darah yang perlahan meleleh menjadi air jernih.

Selena berdiri tegak kembali, menghapus sisa tetesan darah di ujung bilah airnya yang lalu lenyap begitu saja. Ia memandang tubuh tak bernyawa itu tanpa rasa pedih, hanya dingin dan penuh tekad gelap.

"Teknik terlarang: Pengendalian Aliran Darah..." gumamnya pelan pada diri sendiri, nada suaranya puas. "Sihir yang memanipulasi cairan kehidupan itu sendiri—itulah kekuatan air sejati yang sesungguhnya. Bukan omong kosong memberi kehidupan, melainkan kuasa mutlak memberi dan mencabut nyawa sesuka hati."

Ia berbalik menghadap barisan pengawal yang gemetar ketakutan di sepanjang dinding gua, suaranya meninggi bergema menggetarkan dinding kristal:

"Kael telah gila dan lemah! Ia terperdaya kata-kata manis yang tak berdasar! Ingatlah baik-baik: siapa pun yang meragukan kekuasaan mutlak, siapa pun yang menjadi lemah hati... akan bernasib sama persis dengannya!"

Selena mengepalkan tangan, seolah memeras cairan udara di sekelilingnya. Cahaya biru gelap berdenyut mengancam dari tubuhnya—ia sudah lama melanggar batas terlarang, mempelajari sihir yang memutarbalikkan hakikat air menjadi kekuatan penindasan dan pembunuhan.

"Anak muda bernama Haruto dan Slime berharga itu..." senyum kejam terukir di bibirnya. "Mereka memiliki apa yang sangat aku butuhkan. Aku tidak akan membiarkan mereka merusak rencana agungku. Aku akan datang sendiri, dan aku akan memaksa mereka tunduk pada kekuasaan mutlak—hidup atau mati."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!