NovelToon NovelToon
Cinta 'Terkontrak'

Cinta 'Terkontrak'

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO / Romansa / Slice of Life / Chicklit
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Luckygurl_

Senja Maharani, seorang sekretaris muda yang cerdas, ceroboh, dan penuh warna, di bawah asuhan Sadewa Pangestu, seorang CEO yang dingin dan nyaris tak berperasaan. Hubungan kerja mereka dipenuhi dinamika unik: Maha yang selalu merasa kesal dengan sikap Sadewa yang suka menjahili, dan Sadewa yang diam-diam menikmati melihat Maha kesal.

Di balik sifat dinginnya, Sadewa ternyata memiliki sisi lain—seorang pria yang diam-diam terpesona oleh kecerdasan dan keberanian Maha. Meski ia sering menunjukkan ketidakpedulian, Sadewa sebenarnya menjadikan Maha sebagai pusat hiburannya di tengah kesibukan dunia bisnis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luckygurl_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pria-pria ambisius.

Malam itu, sepulang kerja, Maha merasa tubuhnya begitu lelah. Setiap langkah terasa berat, seakan setiap inci tubuhnya penuh dengan kepenatan. Kenapa aku harus memilih jalan ini? Pikirnya.

Seolah-olah Sadewa sudah mengatur jalan hidupnya, memaksa untuk memilih antara dua pilihan yang tidak pernah ia inginkan. Maha tahu betul, keputusan ini mungkin akan meninggalkan bekas yang sulit dihapus, membawa dampak buruk bagi kehidupannya di masa depan. Namun, di pikirannya, ada satu hal terus mengganggu.

Uang yang menggoda, yang membuatnya tergoda untuk menerima tawaran Sadewa menjadi 'kekasih pura-pura.' Meskipun hatinya memberontak, ia tahu bahwa tanpa uang, kehidupannya di ibu kota akan semakin berat.

Dalam kondisi seperti ini, apakah ada pilihan lain?

Niken, selain menjadi tempat Maha berkeluh kesah mencurahkan segala isi hatinya yang sesak, juga menjadi tempatnya merasakan sedikit pelarian dari tekanan hidup. Namun, ada satu cara lagi yang Maha temukan untuk melampiaskan rasa lelah dan frustasi nya—pole dance.

Seni tari dan olahraga yang menggabungkan kekuatan tubuh dengan gerakan indah ini menjadi opsi kedua yang Maha pilih menghilangkan penat. Setiap kali ia melangkah ke studio tanpa sekat di unitnya, perasaan berat di hatinya sedikit terangkat. Tiang krom vertikal itu seakan menjadi saksi bisu dari segala ketegangan yang Maha rasakan.

Disana, di ruang yang terang dengan cahaya lembut, Maha merasa bisa menjadi dirinya sendiri. Tidak ada tekanan dari dunia luar, hanya ada gerakan tubuhnya yang mengalir bebas, membebaskan dirinya dari segala kecemasan.

Maha mengganti pakaiannya dengan bra sport hitam dan legging pendek senada. Dengan penampilan yang sudah siap, ia pun berdiri di samping tiang vertikal yang kokoh, sebuah alat yang menjadi teman setianya. Sebelum mulai, ia melakukan pemanasan dengan gerakan lentur untuk mempersiapkan tubuhnya.

Sambil memegangi tiang dengan kedua tangannya, Maha terdiam sejenak, matanya menatap kosong ke lantai seolah sedang mengumpulkan energi. Suara alunan lagu Trouble dari Camliyo mulai mengisi studionya, terasa intim dan pribadi. Irama musik yang lembut itu membelai udara, menuntun Maha untuk melupakan sejenak keruwetan pikirannya.

Dengan gerakan gesit, Maha mulai menggerakkan tubuhnya. Setiap gerakannya terasa alami, meski sensualitasnya tak bisa disembunyikan. Tangan dan kaki menopang berat tubuhnya yang berputar perlahan, menari dengan bebas di atas tiang kokoh itu. Gerakan yang terkoordinasi dengan musik itu mengalir begitu indah, memancarkan kekuatan dan kelembutan dalam satu tarian.

Wajah Maha tampak serius. Namun, ada kesan kelegaan yang samar dimatanya. Saat tubuhnya berputar, ia merasa seolah-olah segala beban di pundaknya terangkat sedikit demi sedikit. Tiang itu menjadi tempat untuk melepaskan penat dan untuk bernafas. Di tengah keheningan yang hanya dipecahkan oleh alunan musik, Maha merasakan kedamaian. Di ruang ini, dengan tiang ini. Tariannya lebih dari sekedar olahraga—ini adalah caranya untuk berbicara tanpa kata, untuk menyuarakan perasaan yang terpendam di setiap gerakannya.

Saat tubuhnya menikuk digerakkan yang cukup intens, pikirannya melayang pada ucapan Sadewa yang terus terngiang-ngiang.

“Jika kamu menerima tawaran saya, ada bayaran setimpal yang bisa kamu dapatkan. Bagaimana?”

Kata-kata itu kembali menghantuinya. Tawaran yang terasa seperti godaan, membuat Maha kehilangan keseimbangannya. Ia terjatuh, tubuhnya terhempas ke lantai, dan rasa sakit menyebar di bagian bokongnya. Namun, rasa sakit fisik hanya sekejap.

Maha tak menangis karena rasa sakit itu. Bukan itu yang membuat matanya berlinang. Air matanya jatuh begitu saja, lebih karena amarah yang membakar hatinya. Marah pada Sadewa, yang seolah-olah memegang kendali penuh atas hidupnya. Marah karena terjebak dalam pilihan yang tidak pernah ia inginkan, namun harus ia jalani karena uang.

“Mungkin jika segala sesuatu di dunia ini tidak membutuhkan uang, aku juga tidak akan menerima kontrak itu.” gumam Maha dengan suara serak, isakan halus menggetarkan dadanya.

Tapi Maha tahu, kata-katanya itu hanya sebuah alasan. Kenyataannya, ia menerima tawaran Sadewa bukan karena takut gajinya dipotong, tetapi karena dirinya tergiur dengan angka yang tertera di kontrak itu. Dua ratus juta dalam satu bulan—itu lebih dari cukup untuk membuat hidupnya lebih mudah dan lebih nyaman, meski harus mengorbankan harga dirinya.

Maha mengusap wajahnya. Ia merasa bingung dengan dirinya sendiri. “Kenapa aku jadi begitu mudah tunduk pada tawaran seperti itu? Padahal selama ini aku tidak pernah tertarik dengan pria yang menawarkan kemewahan seperti Sadewa.”

Sadewa memang seorang pria yang sangat pintar untuk bernegosiasi. Dia tahu persis bagaimana caranya mempengaruhi orang, bagaimana bertransaksi dengan cara yang halus dan penuh perhitungan. Tanpa menekan atau memaksa kehendaknya, dia bisa membuat orang merasa seolah-olah mendapatkan keuntungan, padahal semuanya sudah direncanakan.

Maha tidak bisa menahan diri untuk tidak mengagumi kepiawaian Sadewa dalam permainan ini—kemampuan untuk membuat segala sesuatu tampak mudah, begitu terkontrol, hanya dalam sekali tepukan tangan.

...****************...

Kepulan asap cerutu memenuhi ruangan VIP di sebuah klub malam, Megamendung. Menciptakan kabut tipis yang bercampur dengan aroma alkohol dengan parfum mahal. Ruangan itu tanpa sekat, menampilkan interior berkelas dengan sofa kulit hitam yang memeluk tubuh para tamu istimewa.

Gelak tawa menggema, bercampur dengan alunan musik elektronik yang mengguncang lantai. Gemerlap lampu-lampu neon memantulkan kilauan di gelas-gelas kristal, menciptakan suasana yang memabukkan. Para pria berjas bercengkrama dengan ditemani para wanita-wanita cantik bergaun mini, gerakan mereka lentur seiring dengan dentuman musik yang memenuhi udara.

Disalah satu sudut, ada Sadewa yang duduk dengan santai, tubuhnya bersandar pada sofa. Sementara jarinya memegang cerutu mahal yang sesekali ia hisap, mengepulkan asap tebal ke udara. Bibirnya melengkung dalam senyuman dingin yang mencerminkan rasa puas yang sulit untuk disembunyikan. Sorot matanya tajam, seperti baru saja mengamankan tender bernilai milyaran. Sebuah kemenangan yang membuatnya merasa dunia berada di bawah kendalinya.

Sesekali, seorang pelayan berseragam hitam datang menawarkan segelas minuman baru. Namun, Sadewa hanya melambaikan tangan, menolak dengan elegan. Ia hanya ingin menikmati momen ini sepenuhnya—kesempatan untuk bersantai di tengah kemewahan, dikelilingi oleh mereka yang ingin mendekatinya, baik karena hormat maupun kepentingan. Meski dikelilingi tawa dan canda, Sadewa tetap menjadi pusat gravitasi di ruangan itu. Diam, namun tetap memancarkan wibawa yang tak terbantahkan.

Abimana, sahabat Sadewa, duduk di seberang sofa sambil menyesap minumannya. Senyum kecil menghiasi wajahnya, menyiratkan rasa penasaran. Sebab, sejak tadi ia mengamati Sadewa yang terlihat begitu menikmati malam ini, seolah dunia berputar sesuai keinginannya.

“Sepertinya, kamu sedang dalam suasana hati yang sangat baik, Wa?” cetus Abimana, membuka percakapan. “Apakah misi mu berhasil?” Imbuhnya.

Sadewa melirik Abimana dari balik kepulan asap cerutu nya. Sebuah senyum tipis penuh arti menghiasi bibirnya. Ia memiringkan kepala sedikit, menunjukkan ekspresi santai namun penuh percaya diri. “Maha sudah berada ditangan saya, Mana,” jawabnya tenang, namun nada kebanggaannya tak bisa disembunyikan.

“Jaminan apa yang kamu berikan pada sekertaris mu itu?” Tanya Abimana, matanya tajam memeriksa setiap gerak-gerik Sadewa.

“Uang,” jawab Sadewa santai, ia menghembuskan asap cerutunya dengan sebuah seringai tipis yang menghiasi bibirnya. “Apalagi? Segalanya, di dunia ini bisa kita selesaikan dengan uang,” lanjutnya sambil menyandarkan punggungnya ke sofa.

“Kamu memang gila, Sadewa,” Abimana terkikik pelan, ia menggelengkan kepala dengan ekspresi kagum dan juga heran. “Tapi bagaimana kalau Maha tahu, bahwa semua ini hanyalah taruhan gila mu dengan Saka? Apa yang akan kamu lakukan?” tanyanya sambil mengetuk-ngetuk jarinya ke sisi gelas.

“Peduli apa saya?” Sadewa mengangkat bahunya, tak menunjukkan tanda-tanda terganggu. “Yang penting harga diri saya tidak jatuh di tangan Saka. Dan di depan Maha, saya tetap terlihat seperti bosnya yang tidak tergoyahkan,” balasnya dingin sembari memutar cerutunya dengan jari-jari rampingnya.

“Kamu memang gemar sekali bermain apa, Wa,” balas Abimana, menatap Sadewa dengan campuran rasa hormat dan keraguan.

“Hidup ini memang soal bermain api, Mana. Kalau kamu tidak berani terbakar, kamu tidak akan pernah menang,” Sadewa tertawa kecil, akan tetapi tawa itu tak menyiratkan kehangatan.

“Aku paham betul bagaimana dirimu yang selalu menjunjung tinggi kehormatan, apalagi menghadapi seseorang seperti Saka yang sombongnya setinggi langit. Mungkin, dengan berhasil mendapatkan Maha karena taruhan itu, harga diri Saka akan hancur. Dia pasti ciut.” ujar Abimana sambil terkekeh. Matanya berkilat, menyiratkan hiburan dari percakapan itu.

Sadewa tertawa kecil, ia meraih gelas wine dari meja di depannya, mengangkatnya sejenak sebelum menyesap cairan merah itu perlahan. Di balik setiap tegukan, ada kepuasan yang terpancar di wajah Sadewa. Seolah wine itu bukan sekadar minuman, melainkan vitamin yang menyuplai egonya.

“Orang seperti Saka memang harus dibungkam dengan fakta. Fakta bahwa Sadewa Pangestu adalah seseorang yang tidak pernah menyerah hanya karena tantangan kecil seperti itu.” ujar Sadewa sambil memutar gelas wine di tangannya. “Mendapatkan wanita seperti Maha?” lanjut Sadewa dengan terkekeh kecil, kepalanya sedikit terangkat. “Itu semudah membalikkan telapak tangan.” ia pun menyandarkan tubuhnya kembali di sofa, matanya menyipit penuh arogansi.

Abimana, ia mengenal Sadewa dengan baik—pria yang hidup untuk membuktikan dirinya di hadapan siapa pun yang meragukan kemampuannya. Namun, ada sesuatu dalam caranya bicara yang membuatnya bertanya-tanya, apakah ego itu akan menjadi penyelamat atau justru penghancurnya? Ia yang sedari tadi menyimak Sadewa berceloteh dengan nada penuh percaya diri, pun tersenyum kecil. Ada sesuatu yang menggelitik di benaknya—sebuah ironi yang tak bisa diabaikan.

Pria bersuara berat dengan vokal husky itu menyesap minumannya pelan, seolah memberi jeda sebelum menanggapi. “Jadi, kapan rencanamu akan berjalan? Kapan kamu akan membawa Maha di depan Saka?” tanya Abimana akhirnya.

“Segera, saya hanya menunggu waktu yang tepat. Ketika semuanya sudah diatur dengan sempurna, saya akan membuat Saka tidak mempunyai pilihan selain menelan kekalahannya.” jawabnya singkat. Sementara, jemarinya mengetuk perlahan di tepi gelas wine yang masih setengah penuh.

“Kamu memang selalu seperti itu, Sadewa. Tidak pernah terburu-buru, tapi selalu memastikan langkahmu tepat sasaran. Kurasa, Saka, akan kehabisan akal kali ini.” ucap Abimana dengan nada setengah bercanda.

Sadewa menyandarkan kepalanya pada sofa empuk di ruang VIP itu, senyumnya samar, nyaris tidak terlihat di bawah pencahayaan remang. Matanya terpejam, tetapi pikirannya berkelana kembali ke malam itu, pada ucapan Saka yang masih terngiang jelas di telinganya.

“Aston Martin Vanquish, Bugatti La Voiture Noire, Range Rover, tiga puluh persen saham Dirgantara Company, dan uang tunai lima miliar. Itu semua akan jadi milikmu... jika Maha bisa ada di pelukanmu. Bagaimana, Sadewa? Apa kamu mampu?”

Waktu itu Saka melontarkan kalimat itu dengan nada menantang, seolah yakin dirinya sedang memegang kendali. Namun bagi Sadewa, ucapan itu lebih terdengar sebagai bahan lelucon. Saat ini, ia tergelitik hanya dengan mengingatnya. Tawaran itu, dengan semua kemewahan yang terbungkus di dalamnya, tidak lebih dari bumbu manis untuk ego Saka yang terlalu besar.

Mobil mewah, saham, bahkan uang miliaran rupiah—semua itu bukan sesuatu yang terlalu berharga bagi Sadewa. Namun, soal harga diri? Itu cerita lain. Tantangan Saka bukan sekadar tentang siapa yang memiliki lebih banyak harta, melainkan siapa yang memiliki kekuatan untuk menaklukkan. Sadewa menerima tantangan itu, bukan demi hadiah, tetapi demi membuktikan siapa yang lebih unggul.

Alunan musik dari lantai dansa semakin menggelegar, membaur dengan gelak tawa di sekitarnya. Sadewa membuka matanya, tatapannya tajam namun penuh dengan kepuasan. Sesekali, ia memainkan gelas wine di tangannya, memutar-mutar cairan merah itu dengan pelan sebelum menyesapnya perlahan.

Bagaimana nantinya reaksi Saka saat tahu saya telah memenangkan taruhannya? Batin Sadewa. Ia terkekeh kecil, menikmati kemenangan yang sudah ada di genggaman nya bahkan sebelum diumumkan.

Bagi Sadewa, ini lebih dari sekadar kemenangan. Ini adalah pengingat bagi orang-orang seperti Saka bahwa Sadewa Pangestu tidak pernah kalah dalam permainan apa pun. Dan ketika Maha akhirnya berdiri di sisinya, itu bukan hanya tentang taruhan. Itu adalah pernyataan bahwa ia memiliki kendali penuh atas situasi—atas hidupnya, atas dunia yang ia bangun dengan ambisinya.

Lantas, apa bedanya Sadewa dengan Saka? Sebenarnya nyaris tidak ada. Keduanya adalah pria ambisius yang haus akan pengakuan, selalu berusaha menonjolkan sisi unggul mereka di depan khalayak. Bagi mereka, kemapanan bukan hanya sebuah pencapaian, tapi simbol kekuasaan—lambang kesuksesan yang membedakan mereka dari orang lain. Namun, untuk mencapai itu, mereka tak segan menggunakan cara-cara kotor, mengabaikan perasaan atau harga diri orang-orang di sekitar mereka.

1
Bunda Mimi
thor bab 21 dan 22 nya kok sudah tidak ada ya
Bunda Mimi: ok siap thor
Lucky ᯓ★: terimakasih atas dukungannya kak, dan mohon maaf jika nanti update ulang dengan isi yang sama. aku revisi karena biar lebih nyaman untuk dibaca, juga ini saran dari editor saya
total 4 replies
Wayan Sucani
Luar biasa
Wayan Sucani
Rasanya berat bgt
catalina trujillo
Bikin ketawa sampe perut sakit.
Lửa
Ngakak sampai sakit perut 😂
Kiyo Takamine and Zatch Bell
Asiknya baca cerita ini bisa buat aku lupa waktu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!