SEASON 1
"DIAM MENAKUTKAN, BERGERAK MEMATIKAN." Semboyan dari sebuah gank remaja SMA Taruma Bangsa.
Orang bilang, masa SMA adalah awal dari sebuah perjuangan. Putih Abu menjadi saksi, pahit manis kehidupan tanah suci pendidikan.
SEASON 2
Bagi Nabila, Zein adalah segala nya. Zein adalah hidup nya.
Bagi Zein, cinta dan ungkapan perasaan itu dua hal yang berbeda. Dia bukan orang yang pandai mengungkapkan perasaan melalui ucapan atau perbuatan.
Bagi inti 'The Eagles' persahabatan adalah segala nya, susah senang kehidupan akan mereka jalani bersama. Menjalani kehidupan dengan tujuan masing-masing? Boleh saja, namun 'The Eagles' tetap menjadi prioritas.
Siap mengikuti kisah percintaan dan persahabatan mereka? Jangan lupa klik favorite untuk mendapat notifikasi saat update.
Akun ig @_lisaautmpri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lisaautmptri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
THE EAGLES OF DEATH 7
"Naik!" Perintah Zein pada Nabila yang masih berdiri di sisi motornya, pemuda yang sudah duduk bertengger diatas motor dengan helm full face dan jaket kebanggaan 'The Eagles Of Death' itu belum menghidupkan mesin motor, masih menunggu Nabila.
Nabila menoleh pada sepedanya yang terparkir di paling ujung, diantara motor-motor butut milik siswa lain.
"Tapi aku bawa sepeda," Nabila menunjuk pada tempat sepedanya terletak. Zein menoleh, lalu membuka helmnya.
"Ndre," Ucapnya singkat, Andre yang sudah duduk diatas motornya mendesah pasrah. Kenapa juga harus menatap Zein diwaktu yang salah, alhasil dirinya yang jadi korban.
"Motor gue gimana coba, ya kali gue naik sepeda. Mau taro dimana muka ganteng gue ini?" Tanya Andre kesal, pemuda itu melepas helm yang tadi sudah dikenakan.
Zein mengedikkan bahu, lalu menoleh lagi pada Nabila yang masih belum naik.
"Sepeda aku jangan di apa-apain ya, itu sepeda kesayangan aku." Ucap Nabila masih menatap sepedanya, tidak rela jika terjadi apa-apa dengan sepeda itu.
Zein berdecak, menunggu Nabila yang masih berdiri di sisi motornya.
Cepetan! Maki Zein, didalam hati tentunya.
"Kenapa aku harus ikut? Aku bisa pulang sendiri." Tanya Nabila bingung, setelah tadi Zein mendeklarasikannya sebagai pacar. Sekarang pemuda itu memaksanya untuk ikut pulang bersama, memang apa hak nya?
Zein berdecak semakin kesal, mata tajamnya menatap semakin tajam pada Nabila.
"Naik aja kalo Zein suruh naik, dia nggak suka ngomong sampai dua kali." Ucap Tito yang malas membuang waktu lama-lama.
Nabila menimbang, apakah harus naik atau tidak. Masih mengkhawatirkan sepedanya. Nabila mengangguk samar, melirik sekali lagi pada sepedanya kemudian mengambil keputusan.
Nabila memegang jok belakang, menatap Zein ragu.
"Nggak bisa naik," cicitnya pelan, namun masih bisa didengar jelas oleh Zein.
Pemuda itu menoleh, lalu melirik pundaknya. Yang berarti menyuruh Nabila berpegangan pada pundaknya. Yang diberi kode tentu tidak mengerti, Nabila mengernyit semakin bingung.
"Pegangan neng geulis," Teriak Kevin, dia saja mengerti maksud Zein. Masa Nabila tidak, gadis itu memang polos atau hanya berpura-pura polos sih?
Melihat Zein yang hanya diam, Nabila memberanikan diri untuk memegang pundaknya. Perlahan namun pasti, Nabila naik keatas motor dan berhasil duduk dengan sempurna.
Tanpa menunggu lama, Zein menghidupkan mesin motornya. Diikuti yang lain pula yang langsung melajukan motor keluar dari area sekolah.
Nabila duduk canggung belakang, merasakan deru angin kencang yang menerpa wajahnya. Melirik spion, wajah Zein yang tertutup kaca helm nampak keren dimatanya.
Laju motor yang kencang membuat Nabila merasa takut, ini pertama kali baginya naik motor bersama orang asing. Seumur-umur, hanya dua kali Nabila naik motor. Saat bersama ayah tirinya dulu, sebelum motor itu dijual untuk bermain judi.
Nabila menoleh ke belakang, rombongan 'The Eagles' yang mengekor dari belakang dengan motor sports mereka masing-masing.
"Nanti sebelum lampu merah belok kiri ya," ucap Nabila pada Zein yang tengah konsentrasi melajukan motor. Pemuda itu melirik spion, memastikan jika memang Nabila bicara padanya.
Zein membuka kaca helm, lalu sedikit menoleh ke samping untuk menajamkan pendengaran.
"Nanti, sebelum lampu merah belok kiri. Aku turun disana aja," ucap Nabila mengulangi kata-katanya. Zein hanya mengangguk, lalu menambah kecepatan motornya.
Sampai disebuah persimpangan jalan yang dimaksud, Zein menepikan motornya.
"Dimana?" Tanya nya dingin, seperti biasanya.
"Masih disana sih," Nabila menunjuk ujung jalan yang terlihat ramai. "Tapi aku turun disini aja nggak papa," Ucapnya bergerak hendak turun dari motor.
"Aaaaa!" Nabila berteriak keras saat hampir terjungkal kebelakang karena Zein yang tiba-tiba melajukan motor. Tangannya reflex memegang erat pinggang pemuda itu.
"Aku berhenti disini aja!" Ucap Nabila lagi, Zein tidak perduli dan terus melajukan motornya.
Tepat didepan sebuah café yang terlihat ramai, Zein melepas helm full face nya saat Nabila sudah turun.
"Makasih yah udah mau nganterin, lain kali nggak usah repot-repot." Kata Nabila sembari tersenyum lebar, Zein mengernyit. Baru menyadari, untuk apa juga dirinya repot-repot mengantar gadis ini? Tanya Zein pada diri sendiri.
Suara deru motor yang berhenti dibelakang mereka membuat Nabila dan Zein ikut menoleh, dibelakang sana Aric, Kevin, Pandu, Tito, dan Rian ikut menghentikan motor. Kecuali Andre yang entah bagaimana nasibnya, mungkin tertinggal jauh dibelakang sana mengendarai sepeda ditengah terik matahari dan kemacetan jalan.
"Kaya nya nongki disini enak juga weh, banyak cewek cantiknya." Celetuk Kevin saat melihat beberapa gadis berseliweran didepan mereka.
"Asli, boleh juga nih di jadiin tempat nongki." Lima pemuda yang masih mengenakan atribut sekolah lengkap itu masuk kedalam cafe, disusul Nabila setelah sekali lagi berterimakasih pada Zein.
Nabila masuk ke ruang belakang, mengganti pakaian sekolahnya dengan segaram kerja seperti karyawan lain. Keriuan terdengar setelah rombongan 'The Eagles' masuk kedalam café, membuat beberapa karyawan dan juga pengunjung berbisik mengagumi ketampanan enam pemuda itu.
"Waah, makin suka gue disini. Selain pengunjungnya, karyawan nya juga cantik-cantik man!" Seru Kevin semangat, dibalas anggukan kepala oleh Aric dan Rian. Sedangkan Zein dan Tito hanya angkat bahu cuek.
"Kalian mau pesan apa?" Tanya Nabila membawa buku menu, dengan pakaian yang sudah berganti. Rambut hitam panjangnya di ikat tinggi kebelakang. Kevin dan Aric sempat tertegun melihat penampilan gadis itu.
"Mau pesan hati kamu, paket komplit ya. Pakai kasih sayang, kesetiaan. Gak pakai pengkhianatan juga," Ucap Kevin semangat, berlagak membolak-balik buku menu.
"Jus pare,"
Ucapan Zein membuat semua menoleh, terlebih Nabila yang membelalakkan mata mendengar ucapan pemuda itu.
"Lo dari dulu nggak pernah berubah, heran gue. Segini banyak minuman yang enak tapi lo pesen itu," Seru Aric tak percaya, saat pertama kali bertemu mereka pun kaget saat mengetahui minuman favorite Zein yang satu ini.
Mungkin hanya beberapa orang dari sekian juta umat dimuka bumi ini yang menyukai jenis minuman itu dan Zein adalah salah satunya.
"Beneran mau pesan itu?" Tanya Nabila tak percaya, masih belum menuliskan pesanan mereka.
"Kata babang Zein sih, pahitnya kehidupan belum tentu lebih pahit dari jus pare." Ucap Pandu mengutip kalimat Zein yang mempunyai arti mendalam.
Setelah semua pesanan dicatat, Nabila kembali kebelakang. Disambut dengan rasa antusias oleh teman-teman karyawannya.
"Itu yang muka nya unyu-unyu siapa sih, ya ampun cute bangeet." Ujar Dewi histeris, menunjuk pada Kevin yang duduk disamping Zein.
"Yang itu lebih mantep, cool dan misterius banget gaya nya. Gila sih, temen sekolah lo keren semua ya." Yang itu suara Luna, gadis bertubuh tambun dengan rambut keriting di kepang dua.
Nabila hanya mengedikkan bahu acuh, memang sih mereka tampan-tampan. Tapi sikapnya menyebalkan, apalagi saat dikelas. Membuat konsentrasi belajar terbuyarkan.
🌺
🌺
🌺
mau tanya Thor , novel kisahnya anaknya si Zein ada gak ☺️
Apalagi ada cerita tentang nabi