"Tak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat orang yang kau cintai,
ragu memilihmu demi seseorang yang paling kau benci.
Dan di antara amarah yang membakar serta air mata yang bengkak,
dua jiwa yang terluka dipaksa melangkah di jalan yang sama...
tanpa sadar, bahaya sebenarnya justru sedang mengintai dari jarak paling dekat"
Bagi Lulu, menjadi sosok culun dan tak kasat mata di kantor adalah hal biasa. Namun, di balik penampilannya yang sederhana, senyum hangat dan ketulusannya justru menjadi "racun" paling mematikan bagi dua pria kelas atas.
Angga, manajer berdingin hati yang membenci kesalahan, mendadak kehilangan fokus tiap kali Lulu berada di dekatnya.
Sementara Riko, CEO angkuh yang awalnya
memandang Lulu sebelah mata, malah terjatuh paling dalam akibat sebuah insiden tak terduga. Ketika dua pria berkuasa ini saling berhadapan demi merebut satu perhatian...
siapakah yang akhirnya memenangkan hati Lulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myz Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 : SALAH PAHAM YANG MANIS
Begitu kakinya melangkah keluar dari ruangan kantor dan menelusuri koridor yang sepi, Angga meremas jemarinya kuat-kuat. Di dalam hatinya, ia tak berhenti mengutuk dirinya sendiri.
"Bodoh, Angga! Kenapa kamu harus seluar biasa itu perhatian padanya?!" batinnya memaki.
Ia tidak bisa membohongi dirinya lagi. Sejak kejadian malam itu, saat ia pertama kali melihat Lulu dibalut gaun cantik yang begitu memikat di pesta ulang tahun adiknya bayangan gadis berkacamata itu seolah terkunci rapat di dalam pikirannya. Paras Lulu yang malam itu bertransformasi begitu anggun terus membayangi Angga, membuat jantungnya tak bisa berhenti berdebar kencang setiap kali mata mereka beradu.
Angga mempercepat langkahnya menuju area parkiran yang agak remang. Ia buru-buru masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin, dan langsung menginjak pedal gas, berharap embusan AC dan deru mesin mobil bisa mendinginkan kepalanya yang kalut. Ia hanya ingin segera pergi dari tempat itu, melarikan diri dari perasaan asing yang kian tak terkendali.
Namun, saat mobilnya merayap mendekati gerbang utama kantor, manik matanya menangkap sosok yang sangat ia kenal.
Lulu sedang berjalan sendirian menuju arah gerbang, diterpa angin malam yang dingin.
Ego Angga berseru keras. Logikanya menyuruhnya untuk bersikap dingin seperti dulu selalu cuek, tidak peduli, dan membiarkan stafnya itu berjalan sendiri mencari tumpangan seperti yang biasa ia lakukan. Tapi malam ini, benteng pertahanannya benar-benar runtuh.
Rasanya ada magnet kuat yang menahan kakinya untuk tidak menginjak gas lebih dalam. Mengabaikan suara logikanya dan memilih mengikuti kata hatinya yang terus bergemuruh, Angga memutar kemudi perlahan. Dengan perasaan campur aduk antara bingung, gugup, dan berdebar hebat. Angga menyejajarkan mobilnya persis di samping Lulu.
"Cuma malam ini..."gumam Angga dalam hati mencoba memberi pembenaran pada aksinya.
"Hanya malam ini saja aku membiarkan diriku menuruti keinginan ini" Jendela mobil pun perlahan diturunkannya, dan pandangan lembut yang tak sanggup lagi ia sembunyikan sepenuhnya itu kembali tertuju pada Lulu.
...****************...
Suara pintu mobil yang tertutup rapat menyisakan aroma parfum Angga yang maskulin dan menenangkan di dalam kabin. Lulu menarik napas pelan, duduk sangat tegak dengan kedua tangan meremas tali tasnya kuat-kuat di pangkuan.
Sikap tegas dan tak mau dibantah dari sang manajer tadi membuatnya mau tidak mau kepatuhan lugunya menang. Namun, begitu mobil mulai membelah jalanan malam, keheningan tebal yang menyiksa langsung menyelimuti mereka.
Lulu dirayapi perasaan canggung yang luar biasa hebat. Kepala cantiknya berputar keras mencari topik obrolan apa saja yang pantas untuk dibuka bersama atasannya ini.
"Masa nanya cuaca? Atau nanya soal berkas lagi? Nanti disangka kerjaan terus..." batin Lulu panik. Akhirnya, ia memilih diam seribu bahasa, menatap lurus ke arah kaca depan.
Karena tidak tahan, sesekali netra di balik kacamata itu melirik diam-diam ke arah Angga yang sedang fokus memegang kemudi.
"Sret....."
Pada detik yang sama, Angga rupanya juga sedang melirik ke arah Lulu melalui kaca spion tengah. Mata mereka bersitatap secara tidak sengaja! Seperti anak kecil yang tertangkap basah sedang mencuri permen, Lulu langsung membuang pandangannya dengan panik ke luar jendela, sementara Angga refleks meremas lingkar kemudinya lebih erat dengan raut wajah salah tingkah.
"Ekhem..." Angga berdehem pelan, mencoba memecah kekakuan yang makin menghimpit dada.
"Pekerjaan yang tadi... tidak ada kendala, kan?"
"E-eh... tidak ada, Pak. Semua sudah rapi" jawab Lulu singkat, suaranya hampir tenggelam oleh deru mesin.
Keheningan kembali merayap. Jawaban singkat Lulu bukannya mencairkan suasana, justru membuat rasa canggung makin bertambah lipat ganda. Angga merasa lehernya mendadak panas dan gerah. Dengan canggung, jemarinya meraih tombol kontrol di dasbor lalu menaikkan suhu AC agar tidak terlalu dingin dan memutar pemutar musik kendaraan.
Petikan gitar akustik yang lembut dan alunan instrumen musik berirama tenang perlahan mengalir membasahi kabin mobil.
Benar saja, nada-nada merdu yang mengisi keheningan itu secara ajaib mengikis tembok kekakuan di antara mereka. Rasa canggung yang tadi mencekik perlahan mereda. Lulu menaruh kepalanya bersandar tipis di jok mobil, menghela napas lega yang tak terdengar. Untuk pertama kalinya malam ini, ia bisa sedikit rileks menikmati perjalanan.
Dari sudut matanya, Angga menyunggingkan senyum tipis yang amat sangat samar. Paling tidak, alunan musik ini berhasil menyembunyikan suara detak jantungnya yang sejak tadi berdegup jauh lebih kencang dari biasanya.
Alunan musik yang menenangkan perlahan membuat rasa tegang Lulu mengendur. Saat melirik keluar jendela dan menyadari rute jalan yang dilalui, Lulu mendadak teringat sesuatu.
"E-eh, Pak Angga... maaf" potong Lulu pelan namun cekatan.
"Malam ini saya tidak langsung pulang ke kosan. Bisakah Pak Angga menurunkan saya di Rumah Sakit Sehat Sejahtera?"
Angga sedikit terkejut. Alisnya bertaut tajam, matanya melirik Lulu sekilas melalui kaca spion.
"Rumah sakit? Siapa yang sakit, Lulu? Orang tuamu?" tanyanya dengan nada khawatir yang tak sanggup ia tutupi.
"Bukan, Pak. Sahabat dekat saya, Lastri," jawab Lulu jujur.
"Malam ini saya sudah janji mau bergantian menjaga dia di sana."
"Oh... sahabatnya" Mendidihnya rasa penasaran dan keputusasaan Angga sejak tadi siang saat ia dibuat bertanya-tanya mengapa Lulu menghilang terburu-buru di jam istirahat seketika lunas terbayar.
Ada kelegaan dan ketenangan luar biasa yang merayapi dada Angga. Ternyata bukan pria lain atau urusan pribadi yang mencurigakan, melainkan ketulusan Lulu untuk temannya.
"Baiklah, saya antar ke rumah sakit" angguk Angga mantap, memutar arah kendaraannya.
"Terima kasih banyak, Pak. Tapi... kalau boleh, bisa tolong singgah sebentar di minimarket dekat rumah sakit nanti? Saya mau beli sedikit buah dan camilan untuk Lastri," pinta Lulu sopan.
Tanpa banyak bicara, Angga meminggirkan mobilnya di pelataran minimarket berlampu terang tak jauh dari area rumah sakit.
Lulu segera turun, diikuti oleh Angga yang melangkah di belakangnya.
Sebenarnya, alasan Angga ikut masuk sangat sederhana yaitu tenggorokannya mendadak terasa teramat kering. Padahal AC mobilnya dingin menusuk, namun berada di dekat Lulu dengan segenap gejolak perasaan yang ia tahan berhasil membuat tenggorokannya terbakar oleh rasa haus yang aneh.
Saat mengamati Lulu yang sibuk memilih beberapa apel, pisang, dan camilan sehat di rak makanan, hati Angga kembali tersentuh. Dengan inisiatif sendiri, Angga bergerak menelusuri lorong minimarket. Ia mengambil beberapa bungkus roti lembut gandum, buah-buahan segar kualitas terbaik, hingga susu nutrisi. Semua itu bukan hanya diniatkannya untuk Lastri, melainkan khusus untuk Lulu agar stamina gadis bersahaja itu tetap terjaga saat bergadang malam ini dan tidak kelelahan bekerja esok hari.
Ketika sampai di meja kasir, Lulu mulai mengeluarkan barang pilihannya satu per satu. Namun, tiba-tiba Angga meletakkan tumpukan belanjaan tambahan yang cukup banyak di samping belanjaan Lulu.
Lulu membelalak. Pikirannya langsung melayang.
"Astaga... apa Pak Angga mau saya yang bayarkan belanjaannya? Mungkinkah ini sebagai ganti rugi karena beliau sudah bersedia mengantar saya?" batin Lulu, kepalanya sibuk berhitung cemas.
Ketakutan Lulu makin menjadi saat petugas kasir selesai memindai seluruh barang.
"Totalnya jadi lima ratus dua puluh ribu rupiah ya, Kak," ucap kasir dengan ramah.
Lulu tertegun kaku di tempatnya. Jantungnya serasa berhenti berdetak seketika. Anggaran belanjaan yang biasanya hanya sekitar dua ratus lima puluh ribu rupiah kini membengkak menjadi dua kali lipat!
Dengan jemari gemetar, Lulu hendak merogoh dompetnya untuk menutupi kekurangan uang tunai. Namun, sebelum tangan Lulu sempat menyentuh dompetnya, sebuah lengan kokoh terulur dari sampingnya.
Dengan gerakan sangat sigap dan tenang, Angga mengeluarkan kartu ATM miliknya dari dompet kulitnya lalu menyerahkannya langsung kepada sang kasir.
"Pakai ini saja, Mbak. Sekalian di debit" potong Angga singkat namun penuh wibawa.
Lulu ternganga, matanya membulat sempurna menatap kartu hitam di tangan kasir lalu beralih menatap wajah tajam Angga dari samping. Rasa terkesima yang luar biasa membuncah di dadanya, bercampur aduk dengan rasa malu yang membakar pipinya. Betapa picik pikirannya tadi yang sempat salah paham dan mengira sang manajer memanfaatkannya!
Wajah Lulu memerah padam, ia menunduk dalam-dalam, tak sanggup menatap Angga yang kini menoleh padanya dengan senyum tipis yang sarat akan arti.
Mobil Angga akhirnya berhenti tepat di area drop-off Rumah Sakit Sehat Sejahtera. Tanpa menunggu, Angga langsung turun dan membukakan pintu untuk Lulu, lalu dengan sigap mengambil alih beberapa kantong belanjaan yang cukup berat dari tangan gadis itu.
"Pak Angga, jangan... biar saya saja yang bawa" cegah Lulu panik, menyuarakan rasa keberatan yang amat sangat atas sikap manis bosnya itu.
Lulu bukan sekadar sungkan, tapi ia diliputi ketakutan besar. Rumah sakit ini adalah tempat umum dan ia sangat khawatir jika ada rekan kerja atau kenalan yang melihat mereka berdua malam-malam begini. Lulu tak ingin ada rumor tak sedap yang beredar di kantor dan di atas segalanya. Ia ingin melindungi reputasi sang manajer dari terpaan gosip miring.
Angga sempat hendak menolak dan bersikeras mengantar Lulu hingga ke dalam koridor. Namun, menatap raut cemas dan gelisah di wajah Lulu, Angga akhirnya mengalah. Ia mencoba memahami situasi dan menghargai ketakutan bawahannya itu.
Angga juga menyadari jika sikap impulsifnya malam ini bisa saja memicu kabar burung yang akan merugikan mereka berdua, terutama Lulu.
"Baiklah, sampai di sini saja" ucap Angga pelan.
Lulu menghela napas lega. Ia berpamitan dengan sangat sopan dan tak lupa mengutarakan rasa terima kasih yang mendalam atas tumpangan dan kebaikan Angga.
Awalnya, Lulu mengira salah satu kantong belanjaan besar yang berisi roti gandum, susu, dan buah-buahan segar tadi akan dibawa pulang oleh Angga untuk dirinya sendiri.
Namun, sangkaannya lagi-lagi keliru.
Dengan lembut dan tatapan mata yang sarat akan kehangatan, Angga menyodorkan kedua kantong belanjaan itu seluruhnya ke tangan Lulu.
"Ini semua untuk kamu dan sahabatmu. Jangan lupa dimakan, supaya kamu tidak sakit karena bergadang"
Deg!
Jantung Lulu serasa berhenti berdetak. Sentuhan perhatian yang begitu manis dan tak terduga itu merambat bak racun yang menjalar cepat ke seluruh pembuluh darahnya. Angga secara tak sengaja kembali membuatnya jatuh ke dalam salah paham yang teramat besar.
Perhatian kecil itu benar-benar menyiksa batin Lulu, membuat dadanya berdebar begitu hebat hingga ia tak lagi sanggup menatap langsung ke dalam manik mata Angga.
Di sisi lain, Angga sadar betul bahwa sikapnya ini sudah sangat keterlaluan dan melewati batas profesionalisme. Namun, apalah daya... hatinya telah kalah. Entah sejak kapan, logikanya tak lagi mampu mengendalikan reaksi tubuh dan perasaannya setiap kali berhadapan dengan gadis berkacamata ini.
Sebenarnya Angga hanya ingin kehidupan mereka berjalan normal di jalurnya masing-masing. Tapi malam ini, Angga memberanikan diri menuruti kata hatinya untuk melenceng keluar jalur walau hanya sebentar.
Ada rasa bersalah yang menusuk dadanya karena telah memberikan perhatian sejauh ini dan Angga hanya bisa berharap dalam hati agar Lulu menganggap semua ini sebagai kebaikan atasan yang biasa, tidak lebih.
"Saya pulang dulu, Lulu. Hati-hati di dalam," pamit Angga lembut.
Setelah berpisah, Angga melangkah masuk ke mobilnya dan melaju perlahan. Sementara itu, Lulu masih berdiri mematung di pelataran rumah sakit. Ia menatap lekat-lekat mobil hitam itu hingga perlahan-lahan menghilang ditelan remang malam, barulah Lulu mengumpulkan keberanian untuk membalikkan badan dan melangkah masuk ke dalam rumah sakit.
Dari balik kemudi, Angga mengendarai mobilnya dengan kecepatan rendah. Sesekali matanya melirik ke kaca spion luar, menatap bayangan Lulu yang masih berdiri terpaku melepas kepergiannya.
Rasa bersalah kembali menggerogoti benak Angga. Namun, ia juga tak bisa membohongi kenyataan bahwa perasaannya kian hari kian aneh. Hatinya tak pernah tenang jika berada di dekat Lulu. Entah sejak kapan, pikiran dan hatinya tak lagi berjalan searah.
Angga termangu di balik kemudi, sibuk dengan perang batinnya sendiri namun berusaha tetap fokus menatap jalanan. Karena kepalanya kini dipenuhi oleh bayangan Lulu yang menari-nari tanpa permisi, Angga sama sekali tidak menyadari...
Dari arah berlawanan di trotoar jalan tak jauh dari pintu masuk rumah sakit, tampak sosok wanita yang selama ini selalu ia rindukan dan begitu ia cintai yaitu Anna sang pujaan hatinya sedang berjalan melintas.
Wanita yang dulu mengisi seluruh rongga dadanya kini berada begitu dekat, namun pikiran Angga yang sedang terdistraksi sepenuhnya oleh Lulu membuat momen persimpangan itu berlalu begitu saja tanpa ia sadari.
semangat thor
jadi penasaran nih lanjut baca..