Hasrat adalah sebuah keinginan. Keinginan dalam apapun. Tapi kata "hasrat" biasanya berkonotasi sedikit negatif. Kata itu selalu disandingkan dengan keinginan untuk bercinta.
Sedangkan bagi Abra Ishan Abinawa dia tidak mengenal kata itu. Dia tidak memiliki keinginan untuk berhubungan dengan wanita di usianya yang sudah tidak muda lagi, yakni 32 tahun. Menurutnya wanita itu sungguh ribet dan menyusahkan. Terlebih sebuah alergi muncul saat dia bersentuhan dengan wanita. Hingga dia bertemu oleh seorang gadis yang memanggilnya "Om".
Gadis cantik berusia 25 tahun bernama Ciara Kamila Prasojo itu selalu membuat Abra naik darah. Ada saja ulah Ciara yang membuat Abra kehabisan akal.
Apakah akan muncul hasrat dari Abra kepada Ciara?
Lalu kira-kira hasrat seperti apa itu?
Dan, bagaimana dengan alergi Abra?
Cerita ini pol ringan ya guys. Nggak akan ada konflik yang berat. So nikmati aja oke.
HAPPY READING
pict. by pinterest
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Presdir Ketus 07
Di dalam ruangannya Ciara menggerutu kesal karena ulah Abra. Betapa tidak, semua gambar yang sebenarnya sudah tinggal finishing itu harus ia ulang dari awal. Padahal dia punya target, 3 hari lagi harus sudah memulai untuk melakukan renovasi lantai itu.
" Sialan memang, dari pertama ketemu emang ngeselin tuh orang. Oh iya, sebaiknya aku list dulu apa yang dia inginkan. ruang istirahat pribadi, mini pantry, meja di didekat pintu, warna dinding netral dan ruang rapat terhubung dengan ruangannya. Ya itu."
Ciara menuliskan apa yang diinginkan Abra. Saat itu dia seketika mendapatkan sebuh ide untuk membuat seperti apa ruangan yang dimau oleh Abra. Ciara langsung membuka lembar kerjanya dan mulai menggoreskan stylus pen di sana. ia sangat fokus dengan pekerjaannya itu.
Abra yang masih berada di ruangan Akhza tampak tersenyum simpul saat mengingat Ciara. Entahlah, baru semalam dia mengira-ira kepan kiranya bisa bertemu dengan gadis itu, dan sekarang malah dia bekerja di perusahaannya.
" Bentar deh, ini ketiga kalinya aku bersentuhan dengan gadis itu. Dan waktu di pantai itu adalah paling lama. Tapi kok aku tidak mengalami reaksi seperti saat bersentuhan dengan wanita-wanita sebelumnya. Saat di pantai, Ciara ya nama wanita itu, memegang tanganku lama. Aku nggak mual tuh, nggak muntah juga?"
Abra merasa sedikit bingung dengan dirinya sendiri. Ini jelas adalah hal yang aneh. Sekeras apapun Abra mencoba menelaah tetap ia tidak bisa mengerti ataupun memahami hal itu. Hingga sebuah cara ia putuskan.
" Sepertinya aku harus memastikan, apakah benar aku sudah tidak lagi merasakan hal itu, atau hanya dengan dia saja."
Abra rupanya akan melakukan eksperimen terhadap drinya sendiri. Tapi jelas ia tahu resiko yang akan di dapat. Paling tidak dia akan tahu jawabannya nanti. Apakah alerginya itu sudah sembuh atau hanya perkiraannya saja. Dan Ciara, hanya sekedar sebuah kelalaian dari alergi yang Abra derita.
Tok! Tok! Tok!
Pintu ruangan Abra di ketuk. Ia tahu itu adalah Wanti. Dan saat ini adalah waktu yang pas bagi dirinya mencoba untuk bereksperimen.
" Pak," ucap Wanti sedikit lebih keras. Karena memang selam ini seperti itu dia memanggil Abra. Jarak pintu ke meja tentu sedikit lebih jauh jadi Wanti harus menggunakan suara ekstranya.
" Sini Wan, bicara lebih dekat ke meja ku," pinta Abra.
Wanti tentu saja sangat terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar. Ini adalah sebuah rekor selama setahun lebih dia bekerja sebagai sekretaris Abra, dia diminta mendekat.
Dengan ragu Wanti berjalan ke arah Abra. Ia sangat gugup. Meskipun begitu ia meyakinkan dirinya untuk terus mendekat.
" Katakan ada apa?" tanya Abra dengan nada suara yang seperti biasa, ketus.
" Soal anak-anak bos, apakah betul harus lembur?" ujar Wanti memastikan.
" Iya lah, enak saja nggak lembur. Siapa suruh mereka membohongiku begitu. Kalau mereka protes, suruh mengajukan surat pengunduran diri sekarang juga!" tegas Abra.
Wanti langsung beringsut mundur. Kata-kata Abra yang tajam nan tegas membuktikan bahwa keputusan itu sudah tidak bisa ditawar.
" Ba-baik Pak Bos, ka-kalau begitu saya akan sampaikan pada anak-anak soal ini."
Wanti yang ingin segera pergi kembali di panggil oleh Abra. Dan permintaan Abra, kembali membuat Wanti tercengang.
" Wan bisa kah kamu menolongku? Tanganku ini sangat sakit, bisakah kamu menariknya," pinta Abra.
Dengan sedikit takut Wanti mengangguk dan lalu meraih tangan Abra. Ia tertegun, tangan sang bos sungguh halus. Wanti menela ln saliva nya dengan susah payah, saat hendak menarik tiba-tiba Abra berteriak.
" Wanti STOP! Keluar segera dan ambilkan aku minum. CEPAT!"
Wanti langsung ngibrit ke luar ruangan. Sedangkan Abra juga berlari ke kamar mandi. Perutnya kembali bergejolak dan akhirnya dia mengeluarkan lagi isi perutnya. Beruntung kali ini tidak separah waktu itu.
" Haaah, kenapa gini sih. Kemarin sentuhan tangan bahkan di pegang lama sama Ciara aku nggak masalah. Tadi juga pas sentuhan sama tuh cewek juga oke, kok percobaan ke Wanti sama aja, masih mual juga."
Abra hanya bisa menggerutu saat di kamar mandi, dia kemudian kembali berjalan ke kursinya dnegan sedikit lemas. Wanti kembali masuk tapi oleh Abra hanya di suruh sampai pintu lalu meminta Wanti meletakkan air minum di atas meja dekat pintu.
" Thanks Wan."
" Sama-sama Pak Bos."
Wanti menjadi heran lagi. Dia kembali tidak diperbolehkan untuk masuk. Wanita itu sungguh tidak bisa mengerti jalan pikiran sang bos.
" Keknya tadi pagi tuh orang salah makan deh, atau salah minum obat. Asli sumpah sikapnya pagi ini bener-bener absurd. Ya Allah berilah hamba ini kekuatan dalam menghadapi Sang Bos yang tidak jelas kelakuannya," lirih Wanti.
Wanita itu kembali ingat bahwa dia masih punya sebuah tugas yakni memberitahukan para rekannya untuk lembur. Sungguh rekor, baru kali ini Abra meminta anak buahnya untuk bekerja ekstra.
" Semua dengarkan aku, hari ini mau tidak mau, suka tidak suka kita semua akan lembur. Ingat, pa ayang terjadi hari ini atas dasar kesalahan kalian juga. Aku harap kalian bisa jadikan ini sebagai pelajaran."
Semua peserta rapat yang sudah kebali ke tempat mereka itu hanya bisa diam. Tidak ada yang berani protes. Wanti memang lah seorang sekretaris wanita, tapi dia terkenal begitu tegas dalam bertindak. Semua menaruh hormat kepada Wanti. Wanti juga memanggil seorang karyawan baru yang baru ia lihat tadi.
" Siapa nama kamu?" tanya Wanti.
" Saya Yuli, bu," jawab karyawan baru tersebut.
" Oke Yuli, saya ingin menyampaikan sesuatu hal terhadap kamu. Ini sebuah peraturan yang tidak tertulis. Pertama jangan suka memandangi Pak Abra. Kedua, jangan pernah mendekati Pak Abra dalam arti harfiah adalah jangan berdiri dekat-dekat, jangan mencoba duduk di dekatnya juga, pokoknya jangan dekat. Pak Abra tidak menyukai karyawan yang sok kecentilan dan cari perhatian. Jika kamu tidak percaya, maka coba lakukan itu dan pasti besok kamu akan dipecat. Kamu boleh tanya kepada yang lain Yuli agar saya tidak kamu anggap mengada-ada."
Wanti kemudian bergegas utuk kembali ke tempatnya. Ia bisa melihat ekspresi tidak percaya dari karyawan baru itu. Tapi Wanti bersikap masa bodoh, yang penting dia sudah memeringatkan. Wanita yang bernama Yuli itu mau percaya atau tidak bukan urusan dia.
" Aku yakin itu hanya cara dia mengada-ada. PAsti sekertaris itu suka sama Pak Abra jadinya dia bilang begitu. Pria mana yang tidak tertarik dengan wanita cantik dan seksi," gumam Yuli lirih. benar dugaan Wanti bahwa karyawan baru tersebut tidaklah percaya dengan apa yang dia ucapkan.
TBC