Gwen Aditya cuma butuh kerja keras dan logika buat sukses. Urusan siapa yang naksir? Itu di luar spreadsheet-nya.
Sialnya, atasannya sendiri gak masuk kalkulasi.
Madoc Rhydian Kane—CEO Kane Group yang bikin ruang rapat sunyi—gak pernah nyangka bisa jatuh gara-gara satu manajer operasional yang rapi, blak-blakan, dan sama sekali gak keder dihadapannya.
Madoc jatuh duluan. Jatuh lebih dalam. Sementara Gwen bahkan gak sadar sedang diperhatikan, sampai seluruh kantor tahu lebih dulu.
Di antara laporan kuartalan, kopi yang selalu "kebetulan" ada di meja, dan satu papan catur, mereka belajar bahwa dua orang paling kompeten pun bisa gagap soal cinta.
Bukan sekadar "aku terima kamu", tapi tentang terus memilih satu sama lain—bahkan setelah semua syarat dan ketentuan terpenuhi.
📌 Workplace romance | Slow burn | Oblivious female lead | CEO x Manager
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergeseran Kecil
Senin pagi, Madoc menemukan dirinya sudah membuka aplikasi kalender kerja sebelum jam delapan, mencari-cari celah untuk memasukkan satu rapat lagi dengan divisi operasional—kebiasaan yang, tiga hari setelah gala, terasa semakin sulit dia hentikan.
Dia menutup laptopnya sebelum jarinya sempat mengetik apa pun, mencoba menahan diri. Sudah cukup. Rapat progress Meridian masih dijadwalkan Rabu, Proyek Sintesis punya sesi review Kamis, dan menambah satu lagi tanpa alasan yang jelas akan mulai terlihat mencolok bahkan bagi orang yang paling tidak curiga sekalipun.
Elias masuk membawa kopi seperti biasa, meletakkannya di meja, dan langsung memperhatikan sesuatu dari cara bosnya duduk—punggung sedikit tegang, mata menatap layar tanpa benar-benar membaca apa pun.
"Pagi, Pak."
"Pagi."
"Kalender kosong hari ini, kecuali rapat board jam dua." Elias melirik layar laptop yang masih terbuka di halaman kalender. "Bapak mau nambah sesuatu?"
Madoc menoleh cepat, menutup laptopnya lebih rapat dari yang perlu. "Enggak."
"Yakin? Saya liat tadi Bapak lagi buka kalender operasional."
"Cuma cek jadwal Meridian."
Elias tidak membantah, tapi senyum kecil yang muncul di sudut bibirnya cukup untuk membuat Madoc tahu bahwa alasannya barusan tidak sepenuhnya berhasil meyakinkan siapa pun.
---
Perubahan itu kecil, hampir tidak terlihat kalau tidak diperhatikan dengan seksama, tapi Gwen mulai menyadarinya sejak beberapa hari setelah gala—cara Madoc bicara padanya sekarang terasa berbeda dari cara dia bicara ke anggota tim lain.
Bukan soal isi percakapan yang berubah drastis—mereka masih membahas hal yang sama, laporan progress, strategi menghadapi Aditama, detail teknis Proyek Sintesis. Tapi nadanya lebih santai, jedanya lebih panjang, dan sesekali muncul komentar kecil yang terasa lebih personal dari yang biasa dia dengar dari atasannya.
"Lo udah makan siang?" tanyanya, suatu hari, waktu Gwen masih di mejanya jam satu siang, sibuk menyelesaikan revisi dashboard sebelum deadline sore itu.
Gwen mendongak, agak kaget dengan pertanyaan itu—biasanya, kalau Madoc lewat, dia langsung ke topik kerja tanpa basa-basi soal hal personal semacam ini. "Belum, Pak. Lagi kejar deadline."
"Jangan sampe lupa makan. Deadline gak akan lebih penting dari kesehatan lo."
Kalimat itu keluar begitu saja, ringan, tapi cukup untuk membuat Gwen berhenti sejenak dari pekerjaannya.
"Iya, Pak," katanya, tersenyum kecil. "Nanti saya sempetin."
Dia kembali fokus ke layar, tidak menganggap kejadian itu lebih dari sekadar perhatian atasan yang baik—tapi sesuatu di kepalanya mulai mencatat pola yang belum sepenuhnya dia sadari maknanya: Madoc tidak pernah bicara seperti itu ke Bas, atau ke anggota tim lain yang juga sering lembur mengejar deadline.
---
"Bas," katanya, sore itu, waktu mereka berdua istirahat sebentar dari layar laptop masing-masing, "menurut lo, Pak Kane lebih santai ke gue dibanding ke tim lain, gak sih?"
Bas menatapnya, alis terangkat. "Baru sadar?"
"Maksud lo?"
"Ya, dia emang beda kalau ngomong ke lo. Lebih... gimana, ya, lebih personal aja. Ke gue paling cuma nanya progress kerjaan doang, gak pernah nanya udah makan apa belum."
Gwen berpikir sebentar, mempertimbangkan itu dari sudut yang logis. "Mungkin karena gue PIC dua proyek besar sekaligus. Dia jadi lebih sering interaksi sama gue, jadi otomatis lebih santai."
"Bisa jadi," kata Bas, mengangkat bahu, tidak berniat mendorong lebih jauh setelah pengalamannya sendiri dengan tugas tambahan aneh beberapa minggu lalu—dia sudah cukup yakin dengan teorinya sendiri, tapi memilih untuk tidak lagi membuang energi meyakinkan Gwen soal itu.
"Ya udah lah," kata Gwen, kembali fokus ke layarnya. "Yang penting kerjaan lancar."
Baginya, kesimpulan itu sudah cukup masuk akal—hubungan kerja yang lebih santai justru bagus untuk produktivitas, dan dia tidak melihat alasan untuk mempertanyakannya lebih jauh dari itu.
---
Kamis sore, setelah sesi review Proyek Sintesis selesai, Madoc kembali ke ruangannya dengan perasaan yang sulit dia jelaskan—campuran antara puas karena diskusi tadi berjalan produktif, dan gelisah karena, sekali lagi, dia menemukan dirinya menunggu-nunggu momen berikutnya untuk bertemu Gwen tanpa alasan yang jelas.
Elias masuk membawa dokumen yang perlu ditandatangani, dan menemukan bosnya duduk diam, menatap laptop yang masih terbuka di halaman dokumen Proyek Sintesis, tidak benar-benar membacanya.
"Pak?"
Madoc mendongak, sedikit tersentak. "Ya?"
"Ada yang mau diomongin?"
Madoc menatapnya sejenak, mempertimbangkan apakah akan menceritakan apa yang sedang berputar di kepalanya. Sejak gala, dia mulai merasa semakin sulit menyembunyikan hal ini sendirian—bebannya terasa lebih ringan setiap kali dia berbagi sedikit dengan Elias, meski dia masih belum siap mengakui sepenuhnya seberapa dalam perasaan itu sudah tumbuh.
"Elias," katanya, akhirnya, "lo pernah gak, ngerasa udah nyoba nahan sesuatu selama berbulan-bulan, tapi makin lama makin susah?"
Elias duduk di kursi seberang meja, memilih untuk tidak buru-buru menjawab, memberi ruang bagi Madoc untuk melanjutkan.
"Saya kira," lanjut Madoc, "kalau saya cukup sibuk sama kerjaan, perasaan ini bakal mereda sendiri. Tapi malah makin—" dia berhenti, mencari kata yang tepat, "—makin susah dikontrol."
"Sejak kapan makin susah, Pak?"
"Sejak gala."
Elias mengangguk, tidak terkejut, karena dia sendiri sudah menyaksikan langsung apa yang terjadi malam itu. "Kejadian sama pria dari Cakra Mandiri itu?"
"Bukan cuma itu." Madoc menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap langit-langit ruangan. "Waktu di teras, saya hampir bilang sesuatu. Beneran hampir."
"Terus?"
"Terus keinterupsi. Ada masalah parkir yang butuh keputusan saya."
Elias diam sejenak, membiarkan cerita itu mengendap sebelum akhirnya berkomentar. "Sayang banget, Pak."
"Iya." Madoc menghela napas panjang. "Sayang banget."
---
Elias tidak menawarkan saran langsung soal harus bagaimana—dia sudah cukup lama kerja untuk Madoc untuk tahu bahwa bosnya bukan tipe yang suka didorong terlalu keras untuk mengambil keputusan besar sebelum dia sendiri siap.
Tapi mulai hari itu, tanpa diberi tahu, tanpa diminta, Elias mulai menemukan cara-cara kecil untuk membuka lebih banyak kesempatan bagi Madoc dan Gwen untuk bertemu—bukan dengan cara yang mencolok, tapi lewat penyesuaian kecil yang, kalau ditanya, akan dia sebut sebagai bagian normal dari pekerjaannya sebagai asisten pribadi.
Waktu menyusun jadwal rapat mingguan, dia mulai menempatkan sesi Proyek Sintesis tepat sebelum jam makan siang, memberi celah alami untuk keduanya melanjutkan diskusi sambil makan kalau memang topiknya belum selesai. Waktu ada undangan acara networking eksternal yang membutuhkan perwakilan dari divisi operasional, dia memastikan nama Gwen selalu masuk dalam daftar rekomendasi yang dia sodorkan ke Madoc, meski secara teknis ada beberapa nama lain yang juga cukup relevan untuk hadir.
Dia tidak pernah bilang apa pun soal ini ke Madoc—cukup melakukannya diam-diam, seperti seorang wingman yang bekerja dari balik layar, membuka jalan tanpa perlu memberitahu siapa yang sebenarnya dia bantu.
"Jadwal Jumat," katanya, suatu sore, menyodorkan agenda mingguan ke meja Madoc, "sesi review Proyek Sintesis saya geser ke jam sebelas, biar bisa lanjut makan siang kalau diskusinya belum selesai."
Madoc membaca jadwal itu, mengangguk tanpa curiga. "Oke, bagus."
Dia tidak sepenuhnya sadar betapa banyaknya penyesuaian kecil yang mulai muncul dalam jadwalnya minggu-minggu terakhir, semuanya terlihat wajar di permukaan, semuanya punya alasan logis yang masuk akal—tapi kalau ditelusuri lebih jauh, semuanya mengarah ke satu tujuan yang sama: memberi lebih banyak ruang bagi dua orang yang, sejak gala, mulai bergerak menuju sesuatu yang bahkan mereka sendiri belum sepenuhnya berani akui.
Gwen sendiri, di lantai dua puluh tiga, tidak menyadari perubahan kecil dalam jadwalnya sendiri—hanya merasa senang karena rapat-rapat penting sekarang terasa lebih fleksibel, lebih longgar, memberi ruang lebih untuk diskusi mendalam tanpa terburu-buru dikejar jadwal berikutnya.
Dia menganggap itu sebagai bukti lain dari betapa profesionalnya cara kerja tim eksekutif Kane Group—tidak menyadari bahwa di balik kelonggaran jadwal itu, ada satu orang yang bekerja diam-diam, dengan kesabaran seorang penonton yang sudah lama menunggu dua karakter utama dalam ceritanya sendiri akhirnya menyadari apa yang sudah lama terlihat jelas bagi semua orang di sekitar mereka.